Sword From Legend

Sword From Legend
Episode 8 : KEINGINAN


__ADS_3

Saat aku sudah bias memanggil pedang yang aku maksudkan Kurusu sangat heran dengan


pedang yang aku panggil ini, karena Kurusu bilang pedang ini hanyalah sebuah


mitos. Kebenaran pedang ini masih belum banyak yang mengetahuinya. Soalnya kata


Kurusu orang yang mengetahui pedang ini sudah mati dan hanya ada satu orang


yang masih hidup yaitu ayahku, namun sampai sekarangpun ayahku tidak pernah


menceritakan tentang pedang itu.


“Nona Ismelda apa anda melihat atau ingat wajah orang yang memberikan pedang itu?”


Tanya Kurusu dengan sangat penuh rasa semangat.


“Maaf aku tidak bias melihat atau mengingatpu apapun tentang orang yang


memberikannya.” Jawabku sambil menunduk.


“Itu bukan salahmu nona, soalnya kalau berhubungan dengan mimpi susah untuk


diingat.”


“Apa Kurusu punya informasi apapun tentang pedang ini?” Tanyaku kembali sembari


melihat pedang yang aku panggil.


“Yang tertulis di sini, seharusnya ada dua pedang yang satu untuk menghisap serangan


apapun dan yang satunya untuk mengeluarkan apa yang dihisap oleh pedang yang


satunya.” Jelas Kurusu.


“Kalau begitu, apa kau hanya diberi hanya sebilah pedang?” Tanya Lusi dengan memirngkan


kepalanya.


“Iya hanya sebilah saja namun aku juga belum mengetahui kekuatan dari pedang ini.”


Ucapku sembari menghilangkan pedang yang sedang kupegang ini.


“Yah mungkin saja kau akan mendaatkan secara sendirinya. Dan mungkin saja itu tidak diberikan


namun pedang versimu sendiri.” Ujar Lusi yang mulai berjalan mendekati kursi.


“Yah mungkin saja aku akan mendapatkannya seperti apa yang kau ucapkan. Dan


aku akan mencoba kekuatan pedang ini nanti saja jika tubuhku sudah benar-benar


pulih.”


“Benar itu jika kamu sampai melakukan hal yang berat saat ini malah akan


menambah beban kepada tubuhmu. Sebaiknya kau istirahat atau berjalan-jalan


saja, oh iya nanti siang Alex dan Ari akan datatng ke sini. Aku dan Kurusu


masih ada urusan jadi kami pergi dulu!” Ucap Lusi yang mulai berdiri dan


berjalan keluar kamar.


“Iya, hati-hati! Sampai jumpa!!” Seruku sambil melambai kearah Lusi.


Setelah Lusi dan Kurusu pergi meninggalkan aku sendiri aku mulai melatih


kontrolku lagi, dan tanpa sadar Alex dan Ari datang ke kamarku sambil membawa


makanan.


“Ismelda kami membawakan kamu makanan, kau pasti lapar kan?”


“Kalian tau aja aku belum makan dari kemarin, tolong siapkan juga ya.”


Pintaku ke Alex yang membawa makanannya.


“Iya tunggu sebentar, aku akan menyiapkannya.” Kata Alex yang mau


mentiapkan makanannya.


“Hei, bagaimana pedang yang kamu ceritakan kemarin? Apa sudah kau tunjukan


kepada Lusi dan Kurusu?” Tanya Ari sembari mendekat ke kursi.


“Sudah aku tunjukan kepada mereka berdua, soalnya mereka kan datangnya


lebih dulu daripada kalian.” Jelasku sambil berusaha duduk.


“Ini Ismelda makanannya, sekarang kau makan dahulu!” Suruh Alex sambil


menyerahkan makanannya.


Setelah itu aku makan makanan itu kurang lebih 5 menitan dan kami bertiga


melanjutkan perbincangan kami. Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk


berjalan-jalan seperti kemarin.


“Kalian berdua bisa temani aku jalan-jalan lagi? Aku bosen di kamar terus.”


Mintaku kepada mereka berdua.


“Iya kami berdua mau mengantarmu jalan-jalan, kebetulan latihan kami


diliburkan dulu karena Paman Tendro sedang ada urusan.”  Jelas Ari sambil meyenggol sikut Alex.


“Iya, kami akan mengantarmu jalan-jalan, kami juga sedang tidak ada


kerjaan.” Sahut Alex.

__ADS_1


“Oke, tunggu sebentar ya, aku mau ke kamar mandi dan ganti pakaian dulu.”


“Iya tapi jangan lama-lama nanti malah kesiangan dan malah kepanasan.”


Pinta Ari supaya aku tidak lama-lama dari kamar mandi.


Setelah aku keluar dari kamar mandi kami langsung pergi keluar untuk


jalan-jalan di sekitar kediaman keluarga Grace. Dan akhirnya jalan-jalan


kami berakhir di tempat yang sama.


“Hei bagiaman latihan kalian? Apa kalian sudah memiliki kemampuan atau


kemahiran tertentu?” Tanyaku kepada mereka berdua setelah kami duduk di daerah


taman.


“Aku baru bisa mengumpulkan energi di suatu titik atau tempat  tertentu dan membuat energi itu sebagai


senjataku, dan mengurangi pemakaian energi meskipun energi yang aku keluarkan


terlihat banyak.” Ucap Ari sambil mau menunjukan apa yang dia bisa.


“Wah, hebat sekali kau Ari!! Bagaimana denganmu Alex?” Tanyaku sambil


melihat Alex.


“Kalau aku baru bisa menciptakan hewan energi dan mengendalikan mereka.”


Jelas Alex.


“Wah kalian hebat sekali baru lima hari sudah bisa semua itu!!” Seruku


sambil terkesan.


“Itu bukan apa-apa dibandingkan denganmu yang baru sehari malah sudah


melewati kemampuan Lusi.” Kata Ari menyindir aku.


“Hahahaha, bisa saja kalian. Kalian ini kan teman-temanku jadi pastikan


kita akan menjadi pendekar pedang paling hebat bersama!!” Seruku sambil menepuk


pundak mereka berdua bersamaan.


“Siap kalau begitu kamu masih mau beristirahat apa mau berlatih? Kalau kau


mau aku bisa mengatakan kepada paman Tendro.” Tanya Ari sembari berdiri.


“Kalau kau tanya aku, tentu saja aku mau namun tubuhku masih belum


memungkinkan. Mungkin besok jika badanku sudah pulih dengan benar.” Jelasku


dengan mulai berdiri.


“Oh iya, aku lupa jika badanmu masih belum pulih benar. Baiklah aku akan


“Ya sudah, sekarang kembali ke kamarmu, ini sudah siang dan kau harus


banyak istirahat supaya badanmu bisa pulih dengan cepat. Dan kita bisa berlatih


bersama lagi.” Kata Alex sembari mengajak aku kembali ke kamarku.


Setelah itu aku kembali ke kamar sendiri, soalnya saat mau beranjak ke


kamar. Alex dan Ari dipanggil oleh seseorang yang aku tidak kenal. Akhirnya


mereka memintaku untuk kembali ke kamarku sendiri. Lalu aku melhat sesuatu yang


menarik.


“Wahhhh, hebat sekali bagaimana dia bisa begitu, ya?” Gumamku sembari


melihat seseorang berlatih energi.


“Kamu sedang melihat apa?” Ada suara yang mengejutkanku dari belakang.


“Ehhh, paman Saint. Tidak aku hanya melihat rang itu sedang melatih


energinya.” Sembari menunjuk ke arah orang yang sedang berlatih.


“Ohh itu, kalau kau mau bisa sehebat itu, cobalah kamu berlatih bersama


dengan Tendro, kamu pasti bisa sehebat dia karena yang pertama melatihnya


ayahmu.”


“Iya? Ayahku? Bagaimana bisa?” Tanyaku dengan wajah heran dan penasran,


bingung dan bertanya-tanya.


“Iya, ayahmu itu adalah seorang yang hebat karena ia selalu berpetualang


dan kembali ke sini jika persediaannya sudah habis atau sudah mendapatkan apa


yang diinginkan.” Jelas paman Saint.


“Oh begitu ya? Terima kasih paman mau menceritakan tentang ayahku.” Kataku dengan


nada senang.


“Ya sudah kembali ke kamarmu sana, kamu kan belum pulih dengan benar.”


“Baiklah paman aku kembali dulu ya. Sampai jumpa lagi paman Saint.” Sambil aku


berjalan aku juga melambaikan tanganku.


Setelah itu aku langsung kembali ke kamar tanpa melihat sekelilingku. Saat aku

__ADS_1


sudah ada di kamarku ternyata ada Lusi yang duduk di kursi dan kelhatannya


sudah lama menunggu.


“Eh, ada Lusi! Ada apa sampai datang ke sini?” Tanyaku sembari aku masuk ke


kamar.


“Tidak ada apa-apa aku hanya ingin berbicara saja denganmu.” Ucap Lusi


dengan gemetar.


“Memangnya ada masalah yang berhubungan dengan aku? Sampai kamu gemetar


begitu.” Aku kembali bertanya kepada Lusi yang sedang gemetaran.


“Bisakah kamu memanggil pedang itu lagi?” Pinta Lusi kepadaku.


“Bisa saja tetapi aku masih belum bisa fokus, jadi tolong kau yang


memasukannya ya?” Menyetujui kemauan Lusi.


“Iya tenang saja kalau masalah itu.”


Setelah itu aku bersiap untuk menerima energi yang akan dimasukan oleh Lusi


ke dalam tubuhku.


“Wahai Pedang Datanglah Ke Sini” Setelah Lusi


selesai memasukan energi ke dalam tubuhku aku langsung memanggil pedang itu.


“Ini Lusi kamu bisa memegangnya dan aku juga bisa mengendalikannya supaya


tidak hilang saat dipegang orang lain sesukaku.” Kataku sembari memberikan


pedangny kepada Lusi.


“Wah, benar ini aku bisa memegangnya?” Tanya Lusi dengan tidak percaya.


“Ya benarlah!” Seruku dengan memastikan pertanyaan Lusi.


Dan saat pedang itu dipegang oleh Lusi. Dia langsung kelihatan lelah.


“Hei Lusi, kau baik-baik saja? Kau kelihatannya sangat lelah?” Tanyaku yang


khawatir dengan keadaan Lusi.


“Tidak apa-apa, ini ku kembalikan pedangmu.” Jawabnya sambil mengembalikan


pedang itu.


“Baiklah sini, aku hilangkan dulu supaya energiku tidak berkurang lebih


banyak.”


WUSH... Saat sudah aku pegang pedang itu langsung aku hilangkan dan saat


hilang seperti banyak energi yang masuk ke dalam diriku.


“ismelda, pedang itu adalah ‘Pedang Ilusi’ yang bisa menghisap seluruh


serangan. Karena tadi aku mencoba menyerangnya saat aku pegang, dan malah


berujung aku yang kelelahan.” Jelas Lusi kepadaku.


“Wah, pantas saja saat aku hilangkan tadi tiba-tiba ada energi yang masuk


ke dalam tubuhku. Seolah energi itu memang milikku dan sepertinya itu adalah


energi yang diserap oleh pedang ilusi darimu.” Ucapku dengan sedikit menduga.


“Sepertinya begitu, dan aku juga punya dugaan. Jika pedang itu menyerap


serangan dan serangan itu tidak kamu keluarkan dalam bentuk serangan maka


kekuatan itu akan diubah menjadi energimu ketika pedangnya dihilangkan.” Jelas


Lusi dengan banyak gerakan yang aku tidak mengetahui maksudnya.


“Iya, sepertinya memang begitu. Besok akan aku coba lagi dengan kekuatan


Alex dan Ari. Hari ini aku mau  banyak


istirahat supaya besok sudah pulih dengan benar dan bisa beraktivitas seperti


biasa.”


“Wah benar itu, untuk hari ini maaf aku memaksamu menggunakan energi yang


banyak seperti ini.” Ucap Lusi dengan rasa menyesal danmeminta maaf.


“Tidak apa-apa inikan gunanya punya sahabat, jadi bisa saling membantu. Kan


kamu juga sudah banyak membantuku dalam banyak hal.” Jelasku sambil menepuk


pundak Lusi.


“Iya iya, sekarang aku mau pergi dulu, kau jangan banyak bergerak.” Pinta


Lusi sambil beranjak pergi dari kamarku.


“Baik, Tuan Putri.” Sahutku dengan mengejek Lusi.


“Dasar, ibu kecil banyak masalah. Sampau jumpa.” Jawab Lusi sebelum pergi


dengan membalas ejekanku.


Setelah itu kamarku benaar-benar hening. Dan keheningan itu pecah ketika ada

__ADS_1


seseorang yang keluar dari kamar mandi.


TO BE CONTINUED


__ADS_2