
Saat aku sudah bias memanggil pedang yang aku maksudkan Kurusu sangat heran dengan
pedang yang aku panggil ini, karena Kurusu bilang pedang ini hanyalah sebuah
mitos. Kebenaran pedang ini masih belum banyak yang mengetahuinya. Soalnya kata
Kurusu orang yang mengetahui pedang ini sudah mati dan hanya ada satu orang
yang masih hidup yaitu ayahku, namun sampai sekarangpun ayahku tidak pernah
menceritakan tentang pedang itu.
“Nona Ismelda apa anda melihat atau ingat wajah orang yang memberikan pedang itu?”
Tanya Kurusu dengan sangat penuh rasa semangat.
“Maaf aku tidak bias melihat atau mengingatpu apapun tentang orang yang
memberikannya.” Jawabku sambil menunduk.
“Itu bukan salahmu nona, soalnya kalau berhubungan dengan mimpi susah untuk
diingat.”
“Apa Kurusu punya informasi apapun tentang pedang ini?” Tanyaku kembali sembari
melihat pedang yang aku panggil.
“Yang tertulis di sini, seharusnya ada dua pedang yang satu untuk menghisap serangan
apapun dan yang satunya untuk mengeluarkan apa yang dihisap oleh pedang yang
satunya.” Jelas Kurusu.
“Kalau begitu, apa kau hanya diberi hanya sebilah pedang?” Tanya Lusi dengan memirngkan
kepalanya.
“Iya hanya sebilah saja namun aku juga belum mengetahui kekuatan dari pedang ini.”
Ucapku sembari menghilangkan pedang yang sedang kupegang ini.
“Yah mungkin saja kau akan mendaatkan secara sendirinya. Dan mungkin saja itu tidak diberikan
namun pedang versimu sendiri.” Ujar Lusi yang mulai berjalan mendekati kursi.
“Yah mungkin saja aku akan mendapatkannya seperti apa yang kau ucapkan. Dan
aku akan mencoba kekuatan pedang ini nanti saja jika tubuhku sudah benar-benar
pulih.”
“Benar itu jika kamu sampai melakukan hal yang berat saat ini malah akan
menambah beban kepada tubuhmu. Sebaiknya kau istirahat atau berjalan-jalan
saja, oh iya nanti siang Alex dan Ari akan datatng ke sini. Aku dan Kurusu
masih ada urusan jadi kami pergi dulu!” Ucap Lusi yang mulai berdiri dan
berjalan keluar kamar.
“Iya, hati-hati! Sampai jumpa!!” Seruku sambil melambai kearah Lusi.
Setelah Lusi dan Kurusu pergi meninggalkan aku sendiri aku mulai melatih
kontrolku lagi, dan tanpa sadar Alex dan Ari datang ke kamarku sambil membawa
makanan.
“Ismelda kami membawakan kamu makanan, kau pasti lapar kan?”
“Kalian tau aja aku belum makan dari kemarin, tolong siapkan juga ya.”
Pintaku ke Alex yang membawa makanannya.
“Iya tunggu sebentar, aku akan menyiapkannya.” Kata Alex yang mau
mentiapkan makanannya.
“Hei, bagaimana pedang yang kamu ceritakan kemarin? Apa sudah kau tunjukan
kepada Lusi dan Kurusu?” Tanya Ari sembari mendekat ke kursi.
“Sudah aku tunjukan kepada mereka berdua, soalnya mereka kan datangnya
lebih dulu daripada kalian.” Jelasku sambil berusaha duduk.
“Ini Ismelda makanannya, sekarang kau makan dahulu!” Suruh Alex sambil
menyerahkan makanannya.
Setelah itu aku makan makanan itu kurang lebih 5 menitan dan kami bertiga
melanjutkan perbincangan kami. Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk
berjalan-jalan seperti kemarin.
“Kalian berdua bisa temani aku jalan-jalan lagi? Aku bosen di kamar terus.”
Mintaku kepada mereka berdua.
“Iya kami berdua mau mengantarmu jalan-jalan, kebetulan latihan kami
diliburkan dulu karena Paman Tendro sedang ada urusan.” Jelas Ari sambil meyenggol sikut Alex.
“Iya, kami akan mengantarmu jalan-jalan, kami juga sedang tidak ada
kerjaan.” Sahut Alex.
__ADS_1
“Oke, tunggu sebentar ya, aku mau ke kamar mandi dan ganti pakaian dulu.”
“Iya tapi jangan lama-lama nanti malah kesiangan dan malah kepanasan.”
Pinta Ari supaya aku tidak lama-lama dari kamar mandi.
Setelah aku keluar dari kamar mandi kami langsung pergi keluar untuk
jalan-jalan di sekitar kediaman keluarga Grace. Dan akhirnya jalan-jalan
kami berakhir di tempat yang sama.
“Hei bagiaman latihan kalian? Apa kalian sudah memiliki kemampuan atau
kemahiran tertentu?” Tanyaku kepada mereka berdua setelah kami duduk di daerah
taman.
“Aku baru bisa mengumpulkan energi di suatu titik atau tempat tertentu dan membuat energi itu sebagai
senjataku, dan mengurangi pemakaian energi meskipun energi yang aku keluarkan
terlihat banyak.” Ucap Ari sambil mau menunjukan apa yang dia bisa.
“Wah, hebat sekali kau Ari!! Bagaimana denganmu Alex?” Tanyaku sambil
melihat Alex.
“Kalau aku baru bisa menciptakan hewan energi dan mengendalikan mereka.”
Jelas Alex.
“Wah kalian hebat sekali baru lima hari sudah bisa semua itu!!” Seruku
sambil terkesan.
“Itu bukan apa-apa dibandingkan denganmu yang baru sehari malah sudah
melewati kemampuan Lusi.” Kata Ari menyindir aku.
“Hahahaha, bisa saja kalian. Kalian ini kan teman-temanku jadi pastikan
kita akan menjadi pendekar pedang paling hebat bersama!!” Seruku sambil menepuk
pundak mereka berdua bersamaan.
“Siap kalau begitu kamu masih mau beristirahat apa mau berlatih? Kalau kau
mau aku bisa mengatakan kepada paman Tendro.” Tanya Ari sembari berdiri.
“Kalau kau tanya aku, tentu saja aku mau namun tubuhku masih belum
memungkinkan. Mungkin besok jika badanku sudah pulih dengan benar.” Jelasku
dengan mulai berdiri.
“Oh iya, aku lupa jika badanmu masih belum pulih benar. Baiklah aku akan
“Ya sudah, sekarang kembali ke kamarmu, ini sudah siang dan kau harus
banyak istirahat supaya badanmu bisa pulih dengan cepat. Dan kita bisa berlatih
bersama lagi.” Kata Alex sembari mengajak aku kembali ke kamarku.
Setelah itu aku kembali ke kamar sendiri, soalnya saat mau beranjak ke
kamar. Alex dan Ari dipanggil oleh seseorang yang aku tidak kenal. Akhirnya
mereka memintaku untuk kembali ke kamarku sendiri. Lalu aku melhat sesuatu yang
menarik.
“Wahhhh, hebat sekali bagaimana dia bisa begitu, ya?” Gumamku sembari
melihat seseorang berlatih energi.
“Kamu sedang melihat apa?” Ada suara yang mengejutkanku dari belakang.
“Ehhh, paman Saint. Tidak aku hanya melihat rang itu sedang melatih
energinya.” Sembari menunjuk ke arah orang yang sedang berlatih.
“Ohh itu, kalau kau mau bisa sehebat itu, cobalah kamu berlatih bersama
dengan Tendro, kamu pasti bisa sehebat dia karena yang pertama melatihnya
ayahmu.”
“Iya? Ayahku? Bagaimana bisa?” Tanyaku dengan wajah heran dan penasran,
bingung dan bertanya-tanya.
“Iya, ayahmu itu adalah seorang yang hebat karena ia selalu berpetualang
dan kembali ke sini jika persediaannya sudah habis atau sudah mendapatkan apa
yang diinginkan.” Jelas paman Saint.
“Oh begitu ya? Terima kasih paman mau menceritakan tentang ayahku.” Kataku dengan
nada senang.
“Ya sudah kembali ke kamarmu sana, kamu kan belum pulih dengan benar.”
“Baiklah paman aku kembali dulu ya. Sampai jumpa lagi paman Saint.” Sambil aku
berjalan aku juga melambaikan tanganku.
Setelah itu aku langsung kembali ke kamar tanpa melihat sekelilingku. Saat aku
__ADS_1
sudah ada di kamarku ternyata ada Lusi yang duduk di kursi dan kelhatannya
sudah lama menunggu.
“Eh, ada Lusi! Ada apa sampai datang ke sini?” Tanyaku sembari aku masuk ke
kamar.
“Tidak ada apa-apa aku hanya ingin berbicara saja denganmu.” Ucap Lusi
dengan gemetar.
“Memangnya ada masalah yang berhubungan dengan aku? Sampai kamu gemetar
begitu.” Aku kembali bertanya kepada Lusi yang sedang gemetaran.
“Bisakah kamu memanggil pedang itu lagi?” Pinta Lusi kepadaku.
“Bisa saja tetapi aku masih belum bisa fokus, jadi tolong kau yang
memasukannya ya?” Menyetujui kemauan Lusi.
“Iya tenang saja kalau masalah itu.”
Setelah itu aku bersiap untuk menerima energi yang akan dimasukan oleh Lusi
ke dalam tubuhku.
“Wahai Pedang Datanglah Ke Sini” Setelah Lusi
selesai memasukan energi ke dalam tubuhku aku langsung memanggil pedang itu.
“Ini Lusi kamu bisa memegangnya dan aku juga bisa mengendalikannya supaya
tidak hilang saat dipegang orang lain sesukaku.” Kataku sembari memberikan
pedangny kepada Lusi.
“Wah, benar ini aku bisa memegangnya?” Tanya Lusi dengan tidak percaya.
“Ya benarlah!” Seruku dengan memastikan pertanyaan Lusi.
Dan saat pedang itu dipegang oleh Lusi. Dia langsung kelihatan lelah.
“Hei Lusi, kau baik-baik saja? Kau kelihatannya sangat lelah?” Tanyaku yang
khawatir dengan keadaan Lusi.
“Tidak apa-apa, ini ku kembalikan pedangmu.” Jawabnya sambil mengembalikan
pedang itu.
“Baiklah sini, aku hilangkan dulu supaya energiku tidak berkurang lebih
banyak.”
WUSH... Saat sudah aku pegang pedang itu langsung aku hilangkan dan saat
hilang seperti banyak energi yang masuk ke dalam diriku.
“ismelda, pedang itu adalah ‘Pedang Ilusi’ yang bisa menghisap seluruh
serangan. Karena tadi aku mencoba menyerangnya saat aku pegang, dan malah
berujung aku yang kelelahan.” Jelas Lusi kepadaku.
“Wah, pantas saja saat aku hilangkan tadi tiba-tiba ada energi yang masuk
ke dalam tubuhku. Seolah energi itu memang milikku dan sepertinya itu adalah
energi yang diserap oleh pedang ilusi darimu.” Ucapku dengan sedikit menduga.
“Sepertinya begitu, dan aku juga punya dugaan. Jika pedang itu menyerap
serangan dan serangan itu tidak kamu keluarkan dalam bentuk serangan maka
kekuatan itu akan diubah menjadi energimu ketika pedangnya dihilangkan.” Jelas
Lusi dengan banyak gerakan yang aku tidak mengetahui maksudnya.
“Iya, sepertinya memang begitu. Besok akan aku coba lagi dengan kekuatan
Alex dan Ari. Hari ini aku mau banyak
istirahat supaya besok sudah pulih dengan benar dan bisa beraktivitas seperti
biasa.”
“Wah benar itu, untuk hari ini maaf aku memaksamu menggunakan energi yang
banyak seperti ini.” Ucap Lusi dengan rasa menyesal danmeminta maaf.
“Tidak apa-apa inikan gunanya punya sahabat, jadi bisa saling membantu. Kan
kamu juga sudah banyak membantuku dalam banyak hal.” Jelasku sambil menepuk
pundak Lusi.
“Iya iya, sekarang aku mau pergi dulu, kau jangan banyak bergerak.” Pinta
Lusi sambil beranjak pergi dari kamarku.
“Baik, Tuan Putri.” Sahutku dengan mengejek Lusi.
“Dasar, ibu kecil banyak masalah. Sampau jumpa.” Jawab Lusi sebelum pergi
dengan membalas ejekanku.
Setelah itu kamarku benaar-benar hening. Dan keheningan itu pecah ketika ada
__ADS_1
seseorang yang keluar dari kamar mandi.
TO BE CONTINUED