
Saat kami sudah siap untuk bertarung, aku menanyai Ari dengan nada mengejek.
“Hei, Ari apakah kau sudah siap untuk kalah dariku?” Tanyaku dengan mengejek sembari
berdiri setelah mengumpulkan energi.
“Heh aku sudah siap, namun bukan untuk kalah tetapi untuk menang!!” Ari membalas
ejekanku sembari ia berdiri.
“Pelindung Energi” langsung aku ciptakan pelindung energi
seperti yang aku lakukan di awal tadi. Dan kami berduapun masuk untuk mulai
bertarung.
“Pembatas Lepas” sesaat
kami berdua masuk ke dalam pelindung aku langsung masuk ke dalam mode pedang,
dan langsung bersiap untuk menyerang Ari dengan gerakkan-ku yang cepat.
Tiba-tiba saja terdengar suara ”Pembatas Lepas” , yang suara itu berasal
dari Ari yang bersiap menggunakan pedangnya.
“Wah kau juga bisa memakainya? Lalu sampai mana kau sudah menguasai kekuatan itu?”
Ucapku dengan tetap mengejke Ari.
“Uwow, baikah aku akan tunjukan kekuatanku yang baru kepadamu, Ismelda!” Seru Ari
sambil bergerak maju untuk memulai serangan.
“Wah kau langsung maju sepertiku di awal tadi,ya?!” Seruku dengan bersiap untuk maju.“Fast
Speed” . Setelah aku mengatakan itu aku langsung menuju Ari dengan
kecepatanku yang sudah meningkat dan Ari berhenti maju lalu mengamati
sekitarnya.
“Bagaimana, Ari kecepatanku ini? Apa kau bisa menentukan kapan dan di mana aku akan
menyerang?!” Seruku sambil terus bergerak mengitarinya.
Saat aku sudah mengetahui celah, aku langsung menyerang dan ternyat Ari bisa
menangkisnya.
“Nah, sekarang kau tahukan sudah sejauh mana aku berkembang!!” Teriak Ari saat
menangkis seranganku.
“Cukup hebat juga kau Ari, baiklah kalau begitu aku akan menambah kecepatanku lagi!!”
Teriaku sambil menambah kecepatan gerakku mengitari Ari. Sampai pada akhirnya
mulutku tiba-tiba mengucapkan “Lebih Cepat”. Hanya dengan mengucapkan
itu kecepatan gerakku jadi meningkat drastis, dan hal itu terlihat karena Ari
seperti sudah kebingungan mengikutiku.
“Sekarang bagaimana, Ari?!” Tanyaku lagi sembari terus bergerak dengan cepat.
“Lumayan, kau mampu menignkatkan kekuatanmu seta__” Belum sempat Ari menyelesaikan
ucapannya aku langsung maju untuk mengakhiri pertarungan ini dan Ari menyerah
karena tidak bisa berkutik lagi.
“Hebat sekali kau Ismelda, hanya berjarak beberapa hari kau bisa secepat itu!!” Seru
Ari kegirangan karena mengetahui temannya sudah berkembang jauh.
*“Pengahalang Hilang”....**.*
“Itu tidak ada apa-apa, aku hanya menggunakan kekuatanku untuk membuat kalian lebih
berkembang lagi, jadi kalian bisa mengoreksi kekurangan kalian dan juga ini
menjadi pengajaran untukku.” Jelasku sambil terduduk lelah.
“Terima kasih Ismelda karena sudah mau bertarung
dengan kami berdua!” Seru Ari dan juga Alex yang sudah ada.
“Tidak apa-apa, toh kalau kalian berkembang kan kita bisa menjadi teman yang bisa
__ADS_1
melindungi teman-teman kita, dan orang paling berharga untuk kita dan aku juga
akan menjadi pendekar pedang terhebat!! Ahhh, lelahnya.” Saat aku selesai
berbicara aku langsung tertidur.
Setelah itu aku tertidur selama kurang lebih satu jam-an. Dan saat aku bangun tempat
kembali sepi dan tidak ada siapa-siapa, lalu aku melihat sekitar dan melihat
seseorang yang ternyata itu Alfonso yang sedang melihat keluar.
“Eh, kak ismelda sudah bangun!!” Teriak Alsfonso saat menoleh ke dalam dan melihat aku
yang sudah bangun.
“Wah, kau masih di sini menungguku? Aku tadi diangat oleh temnku, ya? Seingatku tadi aku
tertidur di tengah sana?” Tanyaku kepada Alfonso sambil menunjuk bagian tengah
bangunan.
“Iya, tadi salah satu teman kakak, mengangkat kakak ke sini.” Jelas Alfonso.
“Yang mana yang mengangkatku, yang tinggi atau yang sedikit pendek?” Tanyaku lagi kepada
Alfonso.
“Yang sedikit pendek, yang kakak lawan tadi!” Seru Alfonso.
“Oh, dia namanya Ari dan yang lebih tinggi itu Alex. Jadi kalau kau bertemu mereka di
jalan atau mau mencari mereka lebih mudah karena sudah tahu nama mereka!”
Jelasku dengan mengusap wajah.
“Terima kasih kak. Jadi kakak masih mau bertarung denganku?” Tanya Al dengan malu-malu.
“Tentu saja aku masih mau bertarung denganmu, tapi sebelum itu kita harus menunggu
teman-temanku terlebih dahulu.” Jelasku dengan halus.
“Baiklah kak, sekali lagi terima kasih karna kakak mau bertarung dengan aku yang bukan
siapa-siapa kakak.” Ucap Al dengan merendahkan diri.
dengan memegang pundaknya.
“Iya kak, sekarang aku akan menjadi temanmu!!”Balasnya dengan ucapan yang sangat senang.
Lalu kami berdua menunggu sampai ada orang yang ke sini. Selang beberapa saat setelah
kami selesai berbincang, akhirnya datang Alex dan Ari sambil bergurau.
“Hei, Alex Ari ke sini!!” Teriakku sambil melambaikan tanganku ke arah mereka.
“Ada apa? Dan kenapa kau masih di sini?” Tanya Ari sambil erjalan mendekat kepadaku.
“Begini aku masih punya janji dengan Al, maukah kalian menjadi juri dan kau Ari kalau kau
bisa melepas pembatas kau pasti bisa membuat penghalang, kan?!” Seruku dengan
meminta mereka berdua sebagai juri.
“Iya iya, aku paham maksudmu menanyakan itu. Aku akan membuatkan penghalang bagi kalian
berdua bertanding.” Jawab Ari sambil memaingkan muka.
“Iya, kami berdua mau tetapi kau jangan sampai kelepasan dengan kekuatanmu itu!!” Pinta
Alex kepadaku dengan serius.
“Akan aku usahakan agar kemampuanku tidak mengendalikan aku lagi! Dan juga terima kasih
kalian mau membantuku!” Seruku dengan kegirangan.
“Tidak apa-apa, ini masih tidak ada apa-apanya dengan apa yang kamu lakukan kepada
kami agar bisa menjadi seperti ini.” Sambil menepuk pundakku Alex juga
merendahkan diri.
“YOSS, Al ayo kita bersiap di tengah tempat ini. Kamu bisa memakai semua kekuatanmu kalau
kamu mau?!” Seruku dengan memersilakkan Al untuk menggunakan kekuatan penuhnya.
“Baiklah kak, aku akan menggunakan kekuatan penuhku.” Ucapnya dengan penuh rasa senang.
Setelah itu aku langsung melepaskan pembatasanku untuk memasuki mode bertarungku. Dan Al
__ADS_1
juga hampir melakukan hal yang sama.
“Cakar Api Tingkat Terakhir” Saat Al
mau menyerang ia mengeluarkan senjata yang sangat unik dan tiba-tiba terjadi
hal yang tidak di inginkan oleh Alex. Tiba-tiba saja tubuhku serasa dikendalikan
oleh pedangku sendiri setelah melihat senjata dari Al.
“DASAR KAU AKAN AKU BUNUH KAU!!!” Tanpa aku sadari aku berteriak dan langsung
melepaskan hampir seluruh pembatas kekuatan yang sudah aku bentuk dan latih
selama ini. Lalu setelah melepaskannya aku yang dikendalikan mengeluarkan
serangan yang baru.
“Pedang Tak Terhingga : Serang!!!”
Sesaat setelah aku mengucapkan kata itu aku langsung kembali tersadar, dan melihat Al
yang ketakutan karena melihat apa yang aku lakukan di depannya. Sontak saat pedang
yang aku ciptakan akan menuju ke Al.
SRING....
Aku langsung menempatkan diriku sebagai tameng di depan Al persis. Pada akhirnya aku terluka
kembali karena senjata ataupun kekuatanku sendiri. Saat semua pedang yang
menuju ke Al sudah berhenti aku masih bisa bertahan agar tidak pingsan.
“K_kau tid_dak apa-a_pa kan\, Al?” tanyaku dengan terpatah-patah.
“Kak ismelda kenapa? Kenapa kau melindungiku?” Tanyanya dengan sangat ketakutan.
“Kita ini kan teman, jadi harus saling membantu satu sama lain. Dan ini salahku juga jadi
aku harus menanggung akibat dari perbuatanku.” Ucapku sambil berputar dan
menghadap ke arah Alex dan Ari.
“Maafkan aku Alex Ari, aku tidak bisa menepati janjiku, yang tidak akan sampai dikendalikan
lagi.” Aku yang terpincang-pincang berjalan ke arah mereka berdua dan merekapun
mendekatiku.
“Alex kau bantu dia, aku akan bantu ismelda!” Perintah Ari untuk Alex.
“Hmm, oke!!” Seru Alex menuju Al sambil menganggukan kepalanya.
“Hei, Ismelda kau tidak apa-apa?” Tanya Ari kepadku yang masih sadar.
“Bantu Alfonso terle__” Tanpa aku selesaikan ucapanku aku langsung pingsan karena sudah
kehilangan banyak darah.
Saat aku terbangun aku sudah ada di kamarku, namun kepalaku sangat pusing sehingga aku
melihat sekitar-pun buram. Tak lama kemudian, aku mendengar seseorang membuka
pintu kamarku dan masuk.
“Eh, Ismelda kau sudah sadar?” Tanya orang yang masih belum bisa kulihat wajahnya dengan
jelas.
“Iya , sudah berapa lama aku pingsan?” Tanyaku dengan lirih kepada orang yang masuk dan
sekarang sudah ada di sampingku.
“Kira-kira sudah hampir seminggu ini kau pingsan, karena kau kehilangan banyak darah.”
Jelas orang tersebut.
Setelah aku memperhatikan wajahnya ternyata dia adalah Paman Viole.
“Paman Viole?” Tanyaku sambil berusaha duduk.
“Iya ini aku Viole, tapi kau jangan duduk dahulu kau masih baru bangun jangan memaksakan
dirimu.” Pinta paman Viole.
“Baiklah paman.” Jawabku dengan mengurungkan niat untuk duduk.
TO BE CONTINUED
__ADS_1