
Setelah itu kamarku benaar-benar hening. Dan keheningan itu pecah ketika
ada seseorang yang keluar dari kamar mandi. Dan ternyata itu adalah.......
“Paman Viole? Kenapa kau bisa ada di sini?” Tanyaku dengan sopan kepada
paman Viole.
“Sebenarnya aku sudah ada di sini lama, tetapi kau tidak ada di sini jadi
aku berniat menunggu, namun aku malah lama di kamar mandi. Hehehe.” Jawab paman
Viole sembari berjalan mendekati kursi yang ada di dekat tempat tidurku.
“Memangnya ada keperluan apa paman? Sampai mau menunggu aku yang sedang
keluar.” Kembali aku bertanya dengan penasaran.
“Sebenarnya tidak ada apa-apa aku hanya ingin melihat orang yang sudah
mengalahkanku.”
“Ahh, itu cuman kebetulan dan paman kan saat itu menyerah jadi bukan
kemenanganku sepenuhnya. Oh iya, bagaimana paman tahu aku ada di sini kan kita
belum bernah bertemu lagi setelah hari itu?” Setelah menjawab pertanyaan paman
Viole aku malah bertanya lagi.
"Ehmmm, sebenarnya aku termasuk dari pengawal di sini, jadi aku bisa
tahu siapa yang memasuki kediaman ini.”
“Oh begitu, pantas saja dulu waktu meihat paman pertama kali saat itu
terlihat sangat garang dan gagah. Aku hanya menebak kalau paman itu seorang
pengawal atau orang militer, dan ternyata benar.” Ucapku sambil kagum dengan
paman Viole.
“Yah, aku bisa di sini karena bantuan ayahmu yang mencarikan aku tempat di
kediaman ini dan menjadikanku pengawal di sini.”
“Wah, jadi paman di sini sudah berapa lama?”
“Yah kira-kira dua puluh lima tahun aku sudah di sini, dan juga bagaimana
kemampuan kamu? Sudah berkembang jauh? Atau masih sama saja?” Paman Viole
bertanya sambil menggesek dagunya dengan memasang muka penasaran.
“Kalau itu, jangan ditanyakan lagi. Pastinya aku sudah berkembang sejak
pertarungan kita pertama kali dulu.” Jawabku dengan sedikit sombong.
“Hohoho, kalau begitu mau mencoba melawanku lagi?” Tanya paman dengna wajah
yang cengar-cengir sombong.
“Aku sebenarnya mau saja tetapi tubuhku belum memungkinkan, aku baru saja
kehilangan kesadaranku lima hari. Jadi paman harus menunggu, ya?”
“OKE, kalau begitu besok aku akan berkunjng ke sini lagi, aku masih ada
pekerjaan yang belum selesai.” Paman yang akan pergi keluar sambil mengacungkan
jari jempolnya.
“Siap paman Viole, hati-hati dan sampai jumpa.”
Setelah paman Viole pergi kamarku jadi hening lagi, dan seperti sebelumnya
kalau kamarku sepi aku akan melatih kontrol energiku. Dan tanpa aku sadari hari
sudah mulai sore, dan keheningan itu kembali pecah karena ada yang mengetuk
pintu kamarku.
TokTokTokTok.....
“Ismelda kau sedang apa?” Tanya seseorang yang ada di depan kamarku.
“Masuk saja pintunya tidak aku kunci!!” Seruku dari dalam mempersilakan
orang itu masuk.
“Ini aku membawakan makanan untukmu.” Ucap orang yang baru saja masuk.
“Oh ternyata kamu Alex, aku kira siapa. Tolong kamu siapkan makanannya, ya?
Aku mau ke kamar mandi dahulu.” Pintaku sambil aku menuju ke kamar mandi.
“Oke!!” Ucap Alex sambil menyiapkan makanan yang ia bawa.
Setelah aku sedikit lama di kamar mandi dan keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
“Alex, di mana Ari biasanya kaliankan selalu bersama?” Tanyaku dengan
berjalan ke arah meja kecil yang sudah ada makanannya.
“Ari sedang tidur di kamar, kelihatannya dia kelelahan karena latihan tadi. Makananmu sudah siap makan dulu sana!”
Suruh Alex sambil menunjuk meja yang sudah ada makanan.
Setelah itu aku langsung menghabiskan makanan yang dibawa oleh Alex. Dan selepas
aku makan aku dan juga Alex menyambung perbincangan kami tadi yang terhenti.
“Bagaimana keadaanmu? Apa sudah mendingan?” Tanya Alex sambil meminum air
yang ia siapkan tadi ketika aku makan.
“Ya begitulah, badanku kelihatannya memang sudah pulih, namun tubuh bagian
dalamku belum pulih benar. Mungkin saja besok aku sudah bisa melakukan
pelatihan yang biasa aku lakukan setiap hari.” Jawabku dengan berangan-angan
apa yang akan aku lakukan besok.
“WEH, kalau memang besok badanmu sudah pulih betul maukah kamu latih tarung
dengan aku dan Ari?” Tanyanya dengan muka penuh harapan.
“Tentu saja aku mau, karna aku juga mau mengetahui sudah sejauh mana
teman-temanku berkembang.” Ucapku dengan sedikit tertawa.
“Baiklah, akan aku tunggu besok. Untuk sekarang kau istirahat saja. Aku akan
pergi setelah membersihkan sampah makanan kita.”
“Oke, sekali lagi terima kasih telah membawakan makanan untukku, ya?” Ucapku
dengan rasa terima kasih.
Setelah Alex selesai membersihkan kotoran sisa makanan kami berdua dia
langsung beranjak keluar.
“Sampai jumpa Ismelda, istirahatlah yang banyak!!” Seru Alex tepat sebelum meninggalkan
kamarku.
“Sampai jumpa Alex!!” Seruku membalas salam dari Alex.
Setelah itu aku melanjutkan apa yang aku lakukan dari siang, sampai
aku langsung bersiap untuk tidur supaya besok pagi tubuhku sudah pulih dengan
benar.
Saat pagi sudah menjelang aku terbangun lebih awal dari biasanya. Aku langsung
mencoba untuk latihan mengumpulkan energi lalu melanjutkan dengan latihan
menahan mode berpedang. Dan setelah aku melakukankedua hal itu tanpa aku sadari
Lusi sudah ada di kamarku.
“Hei Ismelda, kau sudah pulih ya?” Ucap Lusi dengan senyum yang sangat
lebar.
SRINGG.... saat aku mendengar suara itu aku langsung melepaskan mode
berpedang.
“Eh, Lusi sejak kapan kau ada di sini? Kenapa kau tidak mengetuk pintu
terlebih dahulu?” Tanyaku dengan mendekati Lusi.
“Yah, aku teringat kemarin kau tidak mengunci pintu kamarmu. Jadi aku
langsung menebak sekarang pintu kamarmu ini tidak kau kunci dan benar saja.” Jelas
Lusi dengan menunjuk pintu.
“Ya, kalau itu memang benar aku tidak suka mengunci-ngunci sesuatu, jadi
aku biarkan pintunya tidak terkunci. Dan apa tujuanmu ke sini pagi-pagi sekali?”
Tanyaku kepada Lusi.
“Sebenarnya tidak ada apa-apa aku Cuma ingin melihat apa yang kau lakukan
di pagi hari seperti ini, dan juga sebenarnya setiap hari aku ke sini.” Jelas
Lusi dengan baik.
“Apa?? Setiap hari, bagaimana mungkin kenapa aku tidak tahu?”
“Karena kamu itu belum bangun.”
“Ya sudah keluar sana aku akan keluar nanti saja.”
__ADS_1
“Oke oke, aku akan keluar sekarang.” Jawab Lusi sambil beranjak keluar.
Setelah itu aku langsung ke kamar mandi untuk mandi dan untuk mengganti
pakaian. Selesai mengganti pakaian dan keluar kamar mandi terlihat ada
seseorang yang sedang duduk di kursi dekat tempat tidurku.
“Paman Viole?” Seruku dari depan kamar mandi.
“EH, Ismelda ternyata ada di kamar mandi. Maaf aku masuk tanpa permisi,
soalnya tadi saat aku mengetuk tidak ada yang menjawab.”
“Maaf paman, di kamar mandi aku tidak mendengar apapun. Apa paman mau
bertanya badanku sudah pulih betul, kan?” Kataku sambil menebak alasan paman
Viole datang ke kamarku.
“EH, kamu kok tau paman ke sini mau bertanya tentang itu.” Seru paman
dengan keheranan.
“Ya pasti dong paman aku mengetahuinya, soalnya kemarinkan paman mau latih
tarung dengan aku.” Ucapku dengan santai dan berjalan mendekat ke tempat tidur.
“Ohh, rupanya kamu masih ingat, jadi bagaimana keadaanmu sudah pulih benar.
Apa kita sudah bisa latih tarung.”
“Aku sudah pulih kok paman jadi nanti kita bisa latih tarung, tetapi aku
masih ada janji dengan teman-temanku. Tidak apa-apa kan paman Viole?” Kataku
dengan penuh rasa tidak enak.
“Tidak apa-apa, aku sampai siang ini juga ada kerjaan jadi kemungkin aku punya
waktu saat sore saja.” Ucap paman Viole dengan mengijinkan aku untuk melakukan
latih tarung dengan Alex dan juga Ari.
“Ya sudah, terima kasih paman Viole.” Kataku dengan penuh rasa senang.
“Iya, tidak apa-apa, sekarang aku mau pergi dahulu.” Ucap paman Viole
sambil bersiap untuk pergi.
“Iya paman, hati-hati, ya!” Seruku dengan semangat.
Lalu setelah paman Viole keluar, aku langsung bersiap untuk keluar dan
jalan-jalan sebentar. Sebelum aku keluar aku menemukan roti yang lumayan untuk
sarapan, jadi aku makan saja sebagai ganjal perut.
Setelah menghabiskan roti yang aku temukan, aku bergegas keluar dari kamar
dan langsung dipanggil oleh seseorang. Ternyata yang memanggilku adalah kedua
temanku.
“Ismelda!!” Teriak Alex dan Ari.
“Oh hei, Alex Ari, apa kabar kalian?” Tanyaku sambil membalas teguran mereka.
Saat sudah dekat mereka malah memukul pundakku.
“Hei, seharusnya yang bertanya seperti itu kami bukannya kami!!” Kata Ari
setelah memukul pundakku.
“Iya iya maaf, aku baik-baik saja. Jadi kalian masih mau latih tarung?”
Tanyaku dengan sedikit mengejek mereka.
“Oke, aku mau minta ijin kepada paman Tendro supanya mau menjadi juri dan
menyiapkan tempatnya.” Ucap Alex sambil mulai berlari menjauh dari kami berdua.
“Ari ayo kita ke taman saja selagi menunggu Alex menyiapkannya.” Ajakku
untuk pergi ke taman dengan Ari.
“Ayo, aku juga mau ke sana. Eh bagaimana dengan energi di tubuhmu itu?”
Tanya Ari dengan sedikit malu. Dan kami berdua mulai berjalan ke taman.
“Tidak apa-apa, memang untuk sekarang masih belum banyak. Mungkin nanti
saat di taman atau sudah di tempat latih tarung kita, aku akan mengumpulkan
energi untuk kekuatanku.” Jelasku dengan senang.
Setelah kami sampai di taman, aku langsung berkonsentrasi untuk mengumpulkan
energi dan mengisi energi yang sudah tersisa sedikit di dalam tubuhku.
__ADS_1
TO BE CONTINUED