
\Beberapa saat Lusi masuk ke kamar mandi dan aku mulai menurunkan barnag-barang yang aku
bawa di meja, aku membuka jendela dan melihat keluar dan melihat matahari yang
mulai terbenam. Lalu aku melamunkan tentang kekuatan apa yang aku miliki
sebenarnya, apakah ini berbahaya atau tidak. Selang beberapa saat aku melamun,
aku dikejutkan oleh Lusi yang sudah selesai mandi.
“Hayo, kau sedang melamunkan apa Ismelda?”
Tanya Lusi kepadaku yang mulai berbalik badan.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya memikirkan apa yang akan kita temui besok.”
“Ohhh masalah itu kau tidak perlu risau, aku menjamin kita akan bertemu dengan
sesuatu yang menarik.”
“Hmmm, benar juga apa katamu semakin kita menikmati petualangan kita semakin seru dan
menarik juga apa yang kita akan temui.”
“Iya, itu adalah hal yang sudah pasti. Nah sekarang giliramu untuk mandi baumu sudah
tidak wangi lagi.” Suruh Lusi dengan tertawa.
“Iya iya, dasar orang yang selalu wangi hahaha.” Jawabku dengan membalas ejekannya itu.”
“Sebenarnya kau siapa Lusiandra Grace?” Gumamku sambil menuju kamar mandi.
Saat aku selesai mandi aku mendengar ada orang yang mengetuk pintu kamar kami dan Lusi
menyuruhnya masuk. Mereka juga sedang berbicara di dalam kamar.
“Lusi siapa yang datang?” Tanyaku sambil membuka pintu kamar mandi dan mengeringkan rambut.
“Oh, ternyata hanya Alex. Hei Alex di mana Ari ?”
“Ari ada di kamar dia sedang mengasah pedangnya dan dia juga tidak mau diganggu jadi aku
putuskan untuk pergi kesini.”
“Hmmm, lalu mengapa kau tidak mengasah pedangmu?” Tanya lusi sambil beranjak dari kursi
untuk mengambilkan Alex minum.
“Kami berdua hanya membawa satu alat untuk mengasah pedang kami. Jadi jika Ari sedang
mengasah pedangnya aku jadi menganggur.”
“Ini minumannya Alex silakan diminum. Ismelda kalau kau mau minum ambil sendiri ya?”
“Iya iya tuan putri, kau kira kita ada di mana? Kok aku ditawari segala seperti tamu?”
Jawabku sambil bergurau.
“Hei jangan panggil aku tuan putri aku ini bukan putri.” Jawab Lusi dengan wajah yang mulai
memerah karena malu di panggil “Tuan Putri”.
Setelah selesai berpakain aku membuat teh hangat dan muali bergabung ke obrolan Lusi
dan Alex.
“Jadi ada yang mau kau bicarakan, Alex? Sampai kau mau menungguku berpakaian.”
“Sebenarnya aku mau bertanya tentang pingsanmu ketika selesai bertarung.”
“Ohh, soal hal itu, aku juga belum ada sama sekali mengetahui tentang kekuatanku ini.”
“Jadi begitu ya Ismelda.” Sahut Alex dengan nada sedikit kecewa.
“Biar kutebak dari mana kau belajar kata-kata itu.” Timbrung Lusi.
“Kau pasti belajar dari sebuah buku peninggalan ayahmu, kan?” Lanjut Lusi.
“Benar sekali, bagaimana kau mengetahui itu?, bahkan aku belum mengatakan hal itu
kepadnya.” Ucapku dengan keheranan.
“Ya pasti tahulah, soalnya aku juga bisa melakukan hal itu namun aku belajar dari buku
peninggalan ayahku. Akan aku tunjukan apa yang bisa kulakukan sekarang.”
“wahai batasan lepaskan pembatasku dan buatlah objek ini mengilang.”
Itulah kata yang diucapkan Lusi.
SRINGGGGGGG......
“Wah beneran bisa menghilang, memangsih aku pernah melihat kata yang kauucapkan di buku
yang ditinggalkan ayahku.” Ucapku dengan nada terkejut dan membuat Lusi
bingung.
“Bagaimana bisa di dalam keluarga Gra__ ettt, benar juga kan ada Alex.” Ucapan Lusi
terhenti karena sadar masih ada Alex di sampingnya.
“Tidak apa-apa lanjutkan saja, Alex bisa menjaga rahasia kok.” Pintaku kepada Lusi
untuk melanjutkan ucapannya.
“Baiklah, dan juga sekali lagi Alex perkenalkan aku ini adalah Lusiandra Grace. Bisa
dibilang aku dan Ismelda bersaudara ayahku adik dari ayahnya Ismelda.” Lusi
memperkenalkan lagi dirinya kepada Alex yang kelihatannya masih belum paham
benar situasi yang dihadapinya.
“J-ja-jad-jadi kalian bersaudara?” Tanyanya sambil keheranan.
“Iya kami ini bersaudara.” Aku dan Lusi mengangguk bersamaan.
“Baiklah akan aku lanjut perkataanku tadi, sebenarnya setiap keluarga Grace memiliki
satu keunikan yang akan diwariskan kepada anaknya. Dan ayahku mewariskan mantra
penghilang benda yang kutargetkan menghilang, dan akan muncul ketika aku
mengucapkan mantra supaya benda tersebut mucul.” Sambung Lusi dengan jelas.
Akhirnya aku dan juga Alex paham dengan apa yang diucapkan Lusi kami menyambung dengan
obrolan biasa, tanpa sadar kami berbincang malam sudah sangat larut. Akhirnya
kami menyuruh Alex untuk kembali ke kamarnya dan lekas istirahat supaya besok
bisa bangun padi dan segera berangkat ke desa yang lebih besar yaitu Desa Reca.
__ADS_1
Kami berduapun memutuskan untuk segera tidur juga.
*****
Setelah pagi menjelang aku pun bangun lebih awal dari Lusi. Setelah cuci muka aku memilih untuk melatih kemampuanku mengendalikan kekuatan baruku ini. Aku akan berusaha lebih lama menggunakan
mode ini.
“yoshhh, wahai batasan lepaskan batasan kekuatanku dan beri aku sedikit kekuatanmu untuk
mengalahkan musuhku.” Jringgg. Aku yang hanya membawa sebuah sapu memeasuki
mode pedang dan aku berusaha lebih lama dalam mode ini untuk tidak pingsan
setelah satu kali tebasan.
Setelah aku menahan mode ini sekitar 1 jam, Lusi yang tadi tertidur lelap akhirnya
terbangun dan aku juga sudah tidak kuat lagi menahan mode ini, dan terduduk
lelah.
“Ismelda, apa kau tadi melakukan hal itu??” tanya Lusi yang masih belum terkumpul semua
nyawanya setelah bangun tidur.
“Iya aku melakukan itu, aku hanya berharap semakin lama aku bisa menahan mode ini aku
jadi tidak akan pingsan setelah menebas satu kali, karena aku tidak mau
mengecewakanmu yang telah mau memiihku dan temanku untuk menjadi pengawal
pribadimu.” Jawabku sambil terengah-engah.
“Ohh begitu, tapi jangan terlalu memaksakan diri sendiri, jika kau kenapa-kenapa aku jugakan
yang repot.”
“Iya, aku mengerti aku tidak akan memaksakan diri kalau soal latihan. Sekarang aku mau
mandi dahulu kau kumpulkan saja nyawamu dulu, tuan putri.” Aku mengejek Lusi
dengan memanggilnya “Tuan Putri”, lalu sebelum dia menceramahiku aku langsung
bergegas lari masuk kamar mandi.
“Heii Ismelda, sudah aku bil__, ah dia sudah masuk ke kamar mandi ya?”
Setelah aku madni. Aku keluar dan menuruh lusi untuk segera mandi, karena masih ada air
hangat.
“Hei Lusi, cepat mandi sana di sini ada air hangatnya lo, cepat nanti keburu jadi air
dingin lagi.” Suruhku seperti seorang ibu menyuruh anaknya untuk segera mandi.
“Iya iya dasar ibu kecil.” Jawab Lusi sambil mengejek aku.
*****
Setelah kami berdua mandi.....
“Hei Ismelda kamu belum makan dari kemarinkan?” Tanya Lusi kepadaku.
“Iyanih, dari kemarin hanya minum saja tidak makan apapun. Bagaimana kalau kita keluar
sebentar mencari makan di luar penginapan.”
“Tidak usah biar aku saja yang keluar, kau latihan saja cara mengendalikan kekuatanmu itu.
aku miliki.” Suruh Lusi dengan dirinya beranjak dari kasur dan mulai memakai
jaket untuk keluar.
“baiklah, jika tuan putri berkata seperti itu aku hanya bisa menurut saja, hahahaha.”
“Sudah aku bilang aku ini bukan putri, jadi panggil saja Lusi seperti biasanya. Oh iya kau
mau sarapan apa?” Tanya Lusi saat berada di depan pintu.
“Kalau aku terserah kamu saja, aku mau apa saja yang kau belikan ataupun sama dengan
punyamu saja.” Sahutku yang bernjak dari kasur dan menggapai sapu yang ada di
samping tempat tidur.
“OH, oke baiklah ibu.” Ucapnya sambil menutup pintu dan langsung lari.
Saat Lusi sudah keluar aku melanjutkan latihanku tadi dengan menghadap ke jendela. Kurang
dari 1 jam Lusi, kembali dengan membawa makanan yang lumayan banyak dan
Lusi menyuruhku.“Ismelda ini kan makanannya banyak, mungkin kita tidak bisa menghabiskanya sendiri, jadi
panggil Alex dan Ari kemari untuk sarapan.” Suruh Lusi sambil meletakan
makanannya di meja.
“Baiklah aku akan mencoba mengajak mereka berdua sarapan.”
Setelah itu, aku pun keluar dan kamar kami itu berhadapan jadi setelah keluar kamar langsung
bisa mengetuk kamar mereka. Saat aku mengetuk pintu kamar mereka sepertinya
mereka sudah bangun karena terdengar dari luar kalau sedang bergurau.
“Ari, Alex?” Ucapku saat mengetuk pintu.
Tak lama pintu pun dibuka oleh Ari.
“Eh, Ismelda ada apa?”
Tanya Ari dengan terengah-engah karena lelah tertawa.
“Itu Lusi tadi membeli sarapan banyak jadi dia menyuruhmu dan Alex untuk sarapan
bersama.”
“Iya, sebentar. Hei Alex ayo kita sarapan bersama.” Teriak Ari dari pintu kamar.
“Nggak mau pasti sama kamu saja kan?” terdengar jawaban dari dalam yaitu Alex.
“Nggak sarapannya bersama Lusi dan juga Ismelda, mau nggak?”
“Oh kalau begitu mau tunggu sebentar aku meletakan pedangku.”
Setelah 5 menit aku menunggu akhirnya Alex keluar juga.
“Ayo ke kamarku Lusi pasti sudah menunggu.” Suruhku untuk cepat kepada mereka berdua.
“Iya ayo.” Jawab Ari dengan semangat.
“Lusi aku kembali.” Sambil aku membuka pintu dan masuk.
__ADS_1
“Oh, sini masuklah, aku sudah menyiapkan sarapannya.”
“Wah kelihatannya enak ini.” Seru Alex yang dari semalam tidak makan.
Setelah itu pun kami sarapan. Setelah sarapan aku dan Lusi pun bersiap untuk melanjutkan
perjalanan, sedangkan Alex dan Ari hanya perlu mengambil pedang dan tasnya
saja, jadi mereka bisa membantu kami mengangkat barang-barang yang harus dibawa
untuk berdagang di kamar kami. Setelah itu kami berempat pergi ke luar untuk
menaikan barang ke kereta.
“Hari ini kita akan pergi ke Desa Portris yang berada di arah barat desa ini, di sana
kita akan menginap satu malam lalu keesokan harinya kita langsung berangkat
lagi.” Jelas Lusi kepada kami berempat.
“Oke.” Jawab kami berempat.
Lalu kamipun memulai perjalanan. Setelah kami melewati gerbang barat, dan berjalan kurang
lebih 20 menit. Seperti pada umumnya kami bertemu dengan bandit lagi. Seperti
biasa juga Alex dan Ari aku suruh untuk menghadapinya,dan aku yang menjaga
Lusi. aku pun mengalami sebuah keganjilan, yaitu mengapa mereka menyerang
bagian depan kami tidak dari belakang juga, lalu aku mengeceknya dan benar.
“Wah ada perempuan juga di kelompok pedagang ini, dari kemarin hanya ada laki-laki
semua.” Teriak salah seorang bandit.
“Hmmm, kalian sepertinya percaya diri sekali terhadap kekuatan kalian. Akan aku
tunjukan apa yang bisa dilakukan oleh perempuan sepertiku.” Langusng saja aku
mengucapkan mantraku tanpa pikir panjang.
“Wahai batasan lepaskan pembatasku dan berikan aku sedikit kekuatanmu untuk
mengalahkan musuh-musuhu.” Gumamku sehingga para bandit itu tidak akan
mendengarnya.
Dan aku melakukannya lagi seperti yang sudah terjadi sebelumnya. Aku hanya menebaskan
sebatang kayu yang sebenarnya pedang. Dan mereka pingsan semua, setelah itu aku
melepaskan mode pedangku dan kembali ke depan kereta. Dan di sana terlihat Alex
dan Ari mulai kewalahan untuk menghadapi para bandit.
“Ismelda tolong bantu kami, kami sudah kewalahan untung menghadapii mereka.” Seru Ari
dengan tetap menahan serangan bandit.
“Baiklah tapi tolong ulur waktu sebentar.” Aku langsung mengucapkan kata-kata itu lagi
tanpa selang istirahat.
ZRASSSS...
Setelah aku menebaskan kayuku ini aku terjatuh pingsan dan hidungku mulai mengeluarkan
darah. Ismelda yang melihat hal itu terjadi langsung turun untuk membantu aku
yang tergeletak pingsan di depan kereta kuda.
“Hei, Ari Alex cepat sini bantu aku mengangkat Ismelda.” Ucap Lusi sambil membersihkan
darah yang ada di hidungku.
“Mengapa hal ini bisa terjadi?” Tanya Alex kepada Lusi.
“Aku juga tidak mengetahui ini, karena Desa Portris sudah dekat kita segera kesana saja
untuk membiarkan Ismelda beristirahat.” Seru Lusi yang berusaha mengangkat
tubuhku dan memasukkannya ke dalam kereta.
Setelah kurang lebih aku pingsan 10 menit aku terbangun. Dan melihat Lusi yang sedang
mengendarai kereta.
“Hei Lusi mengapa kita terburu-buru seperti ini?” Tanyaku kepada Lusi dengan kepala yang
sedikit sempoyongan.
“Kau sudah bangun ya? Hei Alex Ari kita berhenti sebentar.” Seru Lusi untuk memberhentikan
Alex dan Ari.
Akupun keluar dari kereta dan duduk di dekat pohon di luar kereta. Aku pun mulai
bertanya kepada Lusi dan hal itu terjadi.
“Lusi mengapa kau pingsan ta__ (Huuk).” Aku batuk dan disertai darah, mereka bertiga
pun kaget melihat aku yang batuk dengan darah.
“Hei Ismelda kau tidak apa=apa?” Tanya Lusi kepadaku.
“Tidak ap__(Huuk).” Lagi-lagi aku pun batuk lagi.
“Aku tidak apa-apa kok tenang saja.” Ucapku yang sambil membersihkan darah di tangan ku
menggunakan sapu tangan.
“Maafkan kami Ismelda seharusnya kami lebih kuat lagi agar kau tidak jadi seperti ini.”
Alex dan Ari meminta maaf kepadaku dengan rasa ketakutan yang hebat.
“Memangnya kenapa?” Tanya Lusi yang kebingungan sendiri.
“Aku tadi memakai kekuat___.” Dan aku pingsan kembali\, akhirnya mereka bertiga memutuskan
untuk segera ke Desa Portris untuk mengistirahatkan aku di penginapan di sana.
Setelah sampai di sebuah penginapan. Aku yang tidak bisa melakukan apa-apa, akhirnya
hanya beristirahat di kamar dan Alex dan Ari bergantian menjagaku dan salah
satunya ikut Lusi untuk membeli barang-barang yang akan di dagangkan. Aku juga
memutuskan untuk beristirahat semalaman karena tubuhku juga sudah sangat lemas
karena tadi siang menggunakan kekuatan itu 2x dan aku juga mengeluarkan darah
yang lumayan banyak saat aku batuk tadi.
__ADS_1
TO BE CONTINUED