
Saat aku terbangun sudah pagi dan aku berada di kamar sebuah penginapan di Desa Portris.
Yang kulihat pertama kali hanyalah Lusi yang tidur di sebelahku, aku yang mau
beranjak dari tempat tidur tanpa membangunkan Lusi malah membangunkannya.
“Ismelda apakah kau sudah baik-baik saja?” Tanya Lusi sambil mencoba untuk bangun.
“Iya aku sudah tidak apa-apa, setelah berisitirahat semalaman. Aku mau ke kamar mandi
dulu.” Sambil aku berjalan ke kamar mandi.
*****
“Kenapa ya kemarin aku bisa pingsan dan mengeluarkan banyak darah, ya?”
Gumamku sambil menatap wajahku di cermin.
“Apakah itu efek samping dari kekuatan yang aku pakai?, tapi yasudahlah hal yang sudah
terjadi biarkan terjadi untuk menjadi pembelajaran untuk diriku sendiri agar
lebih kuat.”
Setelah aku berfikir seperti itu, aku mandi agar menyejukkan badan dan pikiran.
*****
“Hei Lusi, ada yang aku mau tanyakan masalah kekuatan ku ini.” Sambil aku berjalan
keluar dari kamar mandi. Dan ternyata.....
“Yahh, dia malah tidur lagi, aku kira sudah bangun. Yasudahlah biarkan dia tidur lagi
ini kan juga masih terlalu pagi, mungkin dia kelelahan karena semalam
merawatku.” Aku yang merasa sedikit bersalah karena membebani Lusi, Alex dan
juga Ari.
Setelah aku meletakan handuk ini dan mengganti pakaian. Aku akan mencoba melatih mode
itu. Pikirku sambil berjalan.
“Wahai batasan lepaskan pembatas kekuatanku dari apa yang membatasinya dan berikan aku
kekuatan untuk mengalahkan musuhku.” Saat itu juga setelah mengucapkan kata itu
aku terhempas hingga menabrak kursi yang ada di belakangku. Sehingga
membangunkan Lusi yang sedang tertidur.
“Hei, Ismelda ada apa? Mengapa kau gaduh-gaduh?” Terbangun sambil terkejut sekaligus.
“Aku tidak apa-apa aku hanya terhempas saat aku mengucapkan kata yang biasa aku
ucapkan untuk memasuki mode pedang.” Aku yang berusaha berdiri.
“Apakah itu terjadi karena dirimu belum pulih sepenuhnya? Apakah ada sesuatu terjadi
pada tubuhmu?” Ucap Lusi yang berjalan mendekati aku yang duduk di kursi aku
terhempas tadi.
“Mungkin saja ada yang terjadi ketika aku menggunakan kekuatanku lebih dari satu kali
kemarin? Apakah kamu punya kekuatan untuk menganalisa tubuh seseorang?” Tanya
ku kepada Lusi yang sudah berada di depanku.
“Ada sih yang bisa kugunakan untuk mengecek tubuh seseorang tapi mungkin belum bisa
sepenuhnya mengetahui apa yang terjadi kepada tubuh yang aku cek.”
“Tidak apa-apa yang penting kita coba dahulu.” Pintaku kepada Lusi.
“wahai pembatas berikan aku kekuatanmu untuk menganalisa apa yang terjadi pada tubuh
yang menjadi objekku.” Gumam Lusi.
“Bagaimana? Apa yang ada salah pada tubuhku?” Tanyaku dengan gelisah.
“Sebenarnya tidak apa-apa yang terjadi pada tubuhmu. Mungkin hal itu terjadi karena tubuhmu
belum pulih sepenuhnya karena menggunakan kekuatanmu saja. Jadi istirahatlah
lebih lama dan jangan mencoba untuk melatih mode itu terlebih dahulu.” Suruh
Lusi sambil sedikit memarahiku.
“Baiklah aku akan beristirahat terlebih dahulu sampai tubuhku pulih betul.”
“Yasudah, sekarang kamu istirahat saja dan jangan melatih mode itu.” Suruh Lusi kepadaku.
*****
Setelah matahari terbit, Lusi terbangun lagi dan melihatku yang sedang duduk menatap ke
arah matahari. Lusi seperti melihat suatu energi memusat kepadaku dan
memanggilku yang sedang berkonsentrasi.
“Ismelda hentikan itu sekarang.” Teriak Lusi dari tempat tidur.
“Hah? memangnya kenapa? Kenapa aku harus menghentikannya?” Tanyaku kepada Lusi dengan
beruntun. Aku yang masih lelah setelah mengumpulkan energi mulai berdiri dari
dudukku.
“Bukannya ada apa-apa, aku hanya melihat sesuatu yang berkumpul di sekitarmu dan energi
itu seperti mau mengusaaimu sepenuhnya. Sekarang kamu coba melakukan hal itu
lagi dan aku akan melihat dengan kemampuan yang aku miliki.” Pinta dengan Lusi
sambil mulai duduk di belakangku.
“Baiklah, aku akan melakukannya lagi tapi sebentar aku mau ke kamar mandi sebentar.”
Ucapku yang menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
“Iya, akan aku tunggu.”
5 menit aku di kamar mandi. Dan kembali ke depan Lusi yang sedang duduk.
“Baiklah aku siap untuk melakukannya lagi.”
“Oke, sekarang kamu lakukan sekaang, aku akan mengawasimu dan jika terjadi sesuatu
aku akan melakukan hal yang aku bisa.” Pinta Lusi.
Saat aku melakukan pengumpulan energi sekitar 5 menit Lusi melakukan sesuatu kepada
tubuhku. Seketika tubuhku merasa seperti ada sesuatu yang masuk secara langsung.
“Ismelda sekarang kamu coba menggunakan mode pedang itu.”
“Bukannya kamu menyuruhku tidak melakukan mode itu, tetapi sekarang kamu menyuruhku
menggunakan mode itu?” Tanyaku sambil menghadap wajah Lusi.
“Itu hal yang aku suruh tadi dan sekarang aku menyuruhmu untuk memakai mode itu jadi
gunakan sekarang.” Suruh Lusi dengan sedikit memaksa.
“Baiklah aku akan melakukannya sekarang.”
“Wahai batasan lepaskan pembatas kekuatanku dari apa yang membatasinya dan berikan aku
kekuatan untuk mengalahkan musuhku.”
Setelah aku mengucapkan kata itu seperti biasa aku akan menahan mode itu selama
mungkin. Dan setelah apa yang dilakukan Lusi kepada tubuhku kekuatan dari mode
itu seperti lebih mudah aku kendalikan dan tidak terhempas seperti tadi pagi.
Dan saat itu juga aku melepaskan mode ini.
“Berarti perkiraanku tadi memang benar jika kamu tidak memasukan energi yang kau
kumpulkan seperti tadi ke dalam tubuhmu maka tubuhmu tidak akan menahan
kekuatan yang di keluarkan tubuhmu saat memasuki mode itu.” Jelas Lusi yang membingungkanku.
“Apa kamu tidak bisa menjelaskan lebih mudah aku mengerti, karena penjelasanmu terlalu
rumit untuk aku pahami.” Ucapku yang mulai menggaruk-garuk kepala karena
kebingungan.
“Lebih mudahnya seperti ini, batrei jika di dalam batrei itu tidak ada energi maka
apapun yang dilakukan kepada batrei itu tidak akan terjadi apa-apa, karena dari
itu prinsip tubuhmu seperti itu jika kamu tidak mengisi energi ke dalam tubuhmu
maka apapun yang kamu lakukan tubuhmu tidak akan terjadi apa-apa dan malah menjadi
penolakan terhadap tubuhmu.” Jelas Lusi.
“OHHH begitu aku paham-paham jadi setiap aku menggunakan mode itu aku harus mengisi
“Iya, jika lebih mudahnya lagi seperti itu kamu harus mengisi kembali energi yang
telah kamu keluarkan.” Jelas Lusi lagi sambil beranjak berdiri.
“Hmmm Lusi, bisa kamu mengajari aku untuk memasukan energi, aku tidak mengetahui
teknik itu.” Pintaku dengan berdiri mendekati Lusi.
“Baiklah aku akan mengajarkan teknik itu dan kata-kata apa yang harus kamu katakan, tapi
sebelum itu kamu mandi dulu kamu sudah banyak berkeringat jadi bau.”
“Baiklah guru, tapi setelah itu ajari aku cara memasukkan energi ke dalam tubuh.”
“Iya, iya segera mandi sana.”
*****
Setelah aku mandi aku keluar dari kamar mandi. Aku mencari Lusi tapi tidak ada seorangpun di dalam kamar.
“Mungkin Lusi mencari sarapan seperti bisanya. Aku akan mengganti pakaian dulu saja,
mungkin setelah berpakaian Lusi sudah pulang.” Pikirku sambil berjalan mengambil
pakaian dan memakainya.
Saat aku selesai memakai pakaian, benar saja Lusi sudah kembali.
“Ismelda aku kembali, maaf aku tadi pergi keluar tanpa bilang pada kamu. Soalnya aku
tadi sudah bilang kamu tidak menjawab ucapanku jadi aku pikir kamu tidak mendengar
jadi aku langsung pergi.” Jelas Lusi saat meletakan makanan yang dia beli di
atas meja.
“Tidak apa-apa, tumben kamu beli sarapannya sedikit tidak membelikan untuk Alex dan
Ari?” Tanyaku saat aku sudah duduk di kursi dekat meja Lusi meletakan makanan.
“Aku tidak membelikan mereka karena aku tadi melihat mereka kembali ke penginapan
membawa makanan dan mereka bertanya bagaimana keadaanmu, dan mungkin sebentar
lagi mereka berdua ke sini. Sudah, ayo makan supaya ketika mereka datang kita
selesai makan.” Ucap Lusi yang membuka bagian makanannya.
Setelah aku dan Lusi selesai makan seketika ada yang mengetuk pintu kamar kami.
Ternyata itu Alex dan Ari yang datang.
“Masuklah kalian berdua sudah ditunggu olehnya.” Ucap Lusi kepada Alex dan Ari.
“Hei, Alex Ari bagaimana kabar kalian? Kalian mau minum apa?” Tanyaku sambil membuat
minum.
“Aku minta teh manis saja.” Jawab serentak bersamaan Alex dan Ari.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan membuatkannya jadi bersabarlah.” Sahutku yang sedang membuat teh.
*****
“Oh iya, ismelda bagaimana keadaanmu?” Tanya Alex kepadaku yang berjalan membawa teh ke
meja.
“Baik-baik saja buktinya sekarang aku bisa berjalan seperti biasa, kan.” Jawabku sambil
menyajikan teh kepada mereka berdua dan juga Lusi yang aku lupa menanyakan apa
yang mau diminumnya.
“Maaf ya Lusi aku tadi lupa menanyaimu mau minum apa, dan aku langsung membuat teh untuk
kita semua.”
“Tidak apa-apa, aku juga lagi mau minum teh saja kan ini masih pagi hari.” Sambil
meminum teh yang aku sajikan.
“Bagaimana hal kemarin bisa terjadi?” Tanya Ari kepadaku.
“Kalau aku yang jelaskan kalian pasti tidak mengerti, jadi Lusi tolong jelaskan kepada
mereka.” Pintaku kepada Lusi yang ada di sampingku.
“Hmmm, baiklah aku akan menjelaskan apa yang terjadi kepada Ismelda kemarin. Secara
mudahnya tubuh Ismelda itu istemewa karena kekuatannya sebenarnya tidak
terbatas, tetapi batas jumlah penggunaan jika Ismelda memaksimalkan penggunaan
kekuatan yang besar. Maka dari itu setiap kejadian itu terjadi atau saat
Ismelda merasa sesuatu terjadi kepada tubuhnya dia harus mengisi ulangenergi
yang dikeluarkannya.” Jelas Lusi kepada Alex dan juga Ari.
“Secara lebih mudahnya tubuhku seperti batrei, harus di isi ulang ketika energinya
habis.” Sambungku untuk mempermudah penjelasan Lusi.
“Ohh ya jadi begitu, apakah tubuh seperti itu hanya terjadi kepada semuanya atau hanya
terjadi kepada beberapa orang saja?“ Lanjut pertanyaan Ari.
“Aku belum mengetahui dan mungkin saja hal ini terjadi kepada keluarganya Ismelda.
Dan mungkin saja ini di turunkan kepada Ismelda dari ayahnya.” Jawab Lusi.
“Kalau boleh tahu siapa namanya-nya? Mungkin aku mengetahuinya ketika aku dulu menjadi
seorang pesuruh.” Tanya Ari kepadaku yang sambil minum teh.
“Nama ayahku adalah Renaldi Grace. Apa kau mengetahui sesuatu?”
“Sepertinya aku pernah mendengarnya dulu, dan aku dulu juga pernah mendengar dia bekerja di
mana tapi, aku lupa hal itu. Maaf ya Ismelda.”
“Tidak apa-apa Ari. Sudahlah kenapa kita mengobrol sesuatu yang tegang seperti ini ayo
kita membicarakan tentang hal lain.”
Akhirnya kami berbincang sampiai tak terasa sudah siang dan Lusi belum mencari
barang-barang. Setelah kami berbincang lama aku dan Lusi keluar untuk mencari
barang-barang, Alex dan Ari keluar juga untuk mencari makanan untuk kami
berempat.
*****
Setelah sekitar 1 jam berjalan-jalan untuk mencari barang aku dan Lusi memutuskan untuk kembali ke penginapan.
“Huft, akhirnya sampai di kamar yang nyaman ini, di luar tadi panas sekali, ya
Ismelda?” Ucap Lusi ke aku yang meletakan barang di samping tempat tidur.
“Iya panas sekali, Oh iya Lusi besok kita akan pergi ke mana?” Tanyaku saat
melepaskan jaket yang ku kenakan.
“Besok kita akan pergi ke kerajaan Rosenwood. Kemungkinan di sana kita akan bertemu
dengan orang-orang dari keluarga Grace, jadi persiapkan mentalmu, oke.” Jelas Lusi.
“Hmm, Lusi kau bilang di sini banyak toko yang menjual pedang kan?” Tanyaku sambil
duduk di tempat tidur.
“Iya, di sini memang banyak toko yang menjual pedang. Memangnya kau mau membeli?” Tanya
Lusi kepadaku.
“Iya, tapi kelihatannya uangku kurang tolong tambahin ya Lusi.” Pintaku dengan
memelas kepada Lusi.
“Iya aku akan tambahkan uangku untuk membantumu membeli pedang. Dan sebenarnya aku juga
mau membelikanmu pedang.” Lanjut Lusi.
“Hore terima kasih ya Lusi, kamu memang yang paling baik.”
“Ya sudah ayo kita berangkat untuk membeli pedang yang kau inginkan. Sebelum hari menjadi
semakin Sore.” Lanjut Lusi.
Setelah lama mencari pedang yang aku inginkan, aku dan lusi kembali ke penginapan. Hari juga
sudah menjelang malam. Aku dan Lusi jugah sudah makan, jadi sampai penginapan
kami hanya minum teh dan mengobrol santai lalu tidur agar besok bisa bangun
pagi-pagi sekali.
TO BE CONTINUED
__ADS_1