
Saat aku tersadar entah sudah berapa lama aku pingsan, yang kulihat hanyalah sebuah
ruangan lengkap dengan alat-alat seperti yang ada di tempat dokter kemarin. Apa
aku dibawa kembali kesana? Apa hanya tempat yang mirip.
“Hei Ismelda kau sudah sadar? Hei Lusi cepat kemari Ismelda sudah sadar!” Teriak seorang
pria yang aku tidak bisa melihat wajahnya.
“Ismelda kamu baik-baik saja?” Tanya seorang pria tadi dan setelah aku lihat dengan
seksama pria itu adalah Alex.
“Di mana ini? Kenapa aku bisa sampai di sini?” banyak pertanya yang aku tanyakan kepada
Alex.
Selang beberapa saat ada yang datang dan itu adalah Ari, Lusi, dan Kurusu.
“Ismelda bagaimana perasaanmu?” Lusi yang baru sampai langsung bertanya demikian.
“Iya aku tidak apa-apa, tetapi mengapa aku ada di sini? dan bagaimana bisa ada mereka
berdua?” Aku melontarkan pertanyaan lain sembari aku berusaha untuk duduk.
“Kau ada di tempat pengobatan milik keluarga, jadi tenanglah. Dua orang ini nona Lusi yang
membawa mereka.” Jelas Kurusu dengan formal.
“Oh begitu, lalu aku sudah di sini berapa lama?” aku kembali bertanya pertanyaan yang sama
seperti saat aku baru bangun tadi.
“Ya, nona Ismelda sudah sekitar lima hari kehilangan kesadara setelah kejadian itu.”
“ya, lima hari kemarin keadaanmu sangat kritis dan bisa dibilang dalam ambang kematian,
dan mereka berdualah yang menunggumu secara bergantian. namun ada sebuah keajaiban tadi pagi
keadaanmu mulai membaik.” Timpa Lusi setelah Kurusu selesa berbicara.
“Jadi begitu terima kasih telah membawaku ke sini Lusi dan Ku. Dan untuk kalian berdua
terima kasih juga telah menjagaku selama lima hari kemarin.”
“Sudahlah Ismelda kita inikan teman baik, jadi tidak perlu sampai terima kasih, ini kan
hal yang sduah biasa kita lakukan ketika salah seorang dari kita bertiga ada
yang sakit.” Ucap Alex sambil tersenyum senang.
“Iya Ismelda kami sebenarnya sudah lama mengkhawatirkanmu soalnya seminggu kemarin kami di
bebaskan oleh Lusi dan dia langsung pergi entah kemana, dan saat melihat
kamarmu kamu juga tidak ada.” Ucap Ari Sambil memegang tanganku dan hampir
menangis.
“Ehmm, Lusi? aku ada permintaan?” aku yang sedang mengusap pundak Ari dan bertanya kepada
Lusi.
“Memangnya apa yang mau kau minta? Minta saja.” Lusi yang sedang duduk memperbolehkan aku
bertanya.
“Begini, tadi sebelum bangun aku seperti sedang diberi pedang oleh seseorang entah itu
asli atau tidak, tapi bisakah kau untuk memberikan aku sedikit energi untuk aku
mencoba memanggil pedang itu.” Pitntaku kepada Lusi.
“Tentu saja, tidak boleh kau ini baru saja bangun dari koma, jangan paksakan dirimu. Jika
memang mau besok saja aku akan mengabulkan permintaanmu itu, mau?”
“Yahh, baiklah kalau begitu aku tunggu besok saja, jadi sekarang ada yang mau mengajak
aku berkeliling? Aku bosan ada di sini.”
“Baiklah, mungkin Ari dan Alex saja, aku dan Kurusu masih ada urusan.” Sembari berjalan
keluar dari kamar.
“Apakah kalian mau? Ari Alex.” Tanyaku ke mereka berdua yang sedang berdiri sambil
menundukan kepala.
“Kami mau menemanimu berkeliling kan, Alex?” Ucap Ari sembari menyenggol Alex dengan
sikut.
“Sebenarnya kami mau saja tetapi kami ada latihan bersama paman Tendro yang sejak awal kami
ke sini beliau mengajak aku dan Ari untuk diajari oleh beliau, tapi untuk hari
ini kami akan ijin terlebih dahulu jadi kau bersabarlah dahulu, ya?” Jelas Alex
sambil mengangkat kepalanya dan memandang aku.
“Iya iya, aku akan menunggu kalian berdua. Tetapi jangan lama-lama!” pintaku ke mereka.
Setelah menunggu sekitar 10 menit akhirnya mereka kembali ke sini lagi dan aku belum
siap-siap karena aku juga tidak bisa bangun sendiri dari tempat tidurku ini.
“Hei kalian berdua lama sekali? Tolong bantu aku berjalan ke sana aku!” Pintaku sambil
menunjuk ke arah kamar mandi.
“Maaf kalau kamu menunggu lama kami harus mencari beliau dahulu.” Ucap Ari yang berjalan
mennuju ke bagian kananku.
“Sudahlah ayo kita bantu Ismelda saja, supaya dia bisa cepat jalan-jalan!”
Saat kami bertiga sudah di depan pintu kamar mandi......
“Eitsss, kalian tunggu di luar!!”
__ADS_1
“Memangnya kenapa? Kan kamu masih belum bisa berjalan dengan baik.” Tanya Alex.
“Hooii, kamu lupa ya? Meskipun kita sudah berteman lama Ismelda itu perempuan. Kita juga
harus tahu tempat kalau mau menolongnya.” Sahut Ari sambil memukul pundak Alex.
“Benar kata Ari, meskipun kalian ini sudah ku anggap keluarga aku ini perempuan dan kalian
itu laki-laki!!!”
“Iya iya, maafkan aku gitu aja sudah diceramahi oleh dua orang paling cerewet.” Gumamm
Alex sambil membuang muka karena malu.
“APA KATAMU ALEX?” Ucapku dengan Ari yang merasa kesal di bilang cerewet oleh Alex.
“Eh eh eh, bukan apa-apa cepat sana masuk, mau berkeliing tidak?”
“Oh iya, aku lupa kalau kita mau berkeliling, kalian berdua tunggu di sana dulu.” Suruhku
untuk mereka menunggu di kursi dekat tempat tidurku.
“Baiklah jangan lama-lama di kamar mandi, nanti keburu siang.”
Setelah aku di kamar mandi kurang lebih lima menit.
“Tolong bantu aku berjalan ke sana.”
“Iya, tunggu sebentar.”
Saat berada di depan pintu kamar.....
“Mau kemana terlebih dahulu? Kanan? Atau kiri?” Tanya Alex yang membopongku sambil menunjuk
kanan dan kiri.
“Mulai mana saja deh aku ikut kalian saja, kan kalian yang paling tahu tempat ini daripada
aku.”
Akhirnya kami bertiga pergi ke kiri dahulu dan berhenti ke sebuah taman yang sangat
bagus, karena mereka dipanggil guru mereka. Dan mereka kembali kepadaku bersama
dengan guru mereka.
“Ismelda ini guru kami.” Ucap Alex sambil menunjuk dengan sopan ke arah beliau.
“Perkenalkan namaku Ismelda Grace putri dari Renaldi Grace.”
“Hoho, jadi kamu putri dari Tuan muda Renaldi Grace?”
“Iya memangnya kenapa paman tendro?” Tanyaku kembali ke paman Tendro.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya terkesan bisa bertemu dengan putri dari Tuan muda Renaldi
Grace karena ia yang paling bisa membuatku terkesan dari pada siapapun. Dan
juga jangan panggil aku paman dong panggil saja Tendro.”
“Baiklah, lalu aku akan bertanya sesuatu.”
“Tanyakan saja apapun yang kamu mau.”
“Aku tidak mengetahui banyak tentang ayahmu, namun aku punya buku yang dia tulis sendiri
untuk menjadi buku bahan pengajaranku.”
“Terima kasih Tendro, dan apakah Tendro masih mempunyai buku itu?” Tanyaku kembali
dengan muka penasaran.
“Sebenarnya masih ada namun jika kamu mau pinjam saja punya mereka berdua, mereka berdua
punya masing-masing satu buku yang lebih lengkap daripada yang biasanya.”
Sembari menunjuk Alex dan Ari.
“Hehe kalau kau mau pinjam saja punyaku.” Ucap Alex sambil sedikit menyengir.
“Dasar kalain berdua kenapa tidak memberitahuku di kamar tadi atau saat berjalan-jalan
tadi, HA?” Sembari membuat wajah kesal dan menghadap Alex dan Ari.
“Maafkan kami lupa, jika kamu itu gila latihan. Hehehe.”
“Ya sudah saya masih harus melatih murid lagi, sampai jumpa nona Ismelda.” Ucap Tendro
sambil berjalan menjauh dari kami bertiga.
Setelah itu Alex dan Ari mengantarkan aku ke kamarku. Karena mereka juga mau berlatih
karena latihan juga baru dimulai sebentar. Setelah mengantar aku mereka
langsung pergi ke tempat latihan.
“Wah aku di sini akan belajar banyak, dan mungkin bisa mencari informasi tentang ayah.”
Gumamku sendiri sambil melihat-lihat sekitarku.
“Kontrol Energi” Aku hanya bisa membuat bentuk benda dengan energi di telapak tanganku sambil mengisi
waktu luangku dan memulihkan tubuhku.
Setelah aku melakukan hal itu selama satu jam ada seorang laki-laki datang ke kamarku.
“Permisi apa saya boleh masuk?” Ucap seseorang yang ada di depan pintu.
“Boleh, masuk saja tidak dikunci!” Seruku sambil menghadap ke arah pintu.
“Perkenalkan namaku Saint Grace ayah dari Lusiandra Grace.”
“Wahhh, ayahnya Lusi. Mohon maaf tadi aku tidak sopan karena aku tidak mengetahui siapa
yang akan datang!” Aku yang menahan malu langsung minta maaf karena spontannya
malah menggunakan bahasa yang formal.
“Tidak apa-apa, itu bukan salahmu sepenuhnya. Aku mau bertanya kepadamu sesuatu.”
“Memangnya anda mau bertanya apa, mungkin aku bisa menjawabnya.” Ucapku sembari
__ADS_1
mempersilakan ayahnya Lusi bertanya.
“Apa warna energi yang biasa kau keluarka?” Tanyanya sembari duduk di sampingku.
“Iyaa??” Aku yang tidak mengerti apa maksud pertanyaan dari paman Saint.
“Ahhh maaf, aku bertanya pertanyaan yang sulit. Lebih mudahnya begini kau kan bisa
mengeluarkan kekuatan yang berhubungan dengan energi, kan?” Tanya dari Paman
Saint dengan memperjelas pertanyaannya.
“Oh kalau begitu aku bisa menjawabnya, ya aku bisa mengeluarkannya. Memangnya kenapa?”
“Berarti kau bisa melihat warna apa yang terpancarkan dari energi itu, soalnya setiap
anggota keluarga warna yang mereka keluarkan berbeda-beda. Contohnya saja aku
memiliki warna putih dan ayahmu itu berwarna merah.”
“Hm kalau itu aku tidak bisa menjelaskan kalau dengan kata-kata saja akan aku tunjukan
saja.”“Kontrol Energi” . Aku menunjukan dengan seperti yang aku
laukan tadi.
“Wah warna itu bagaimana bisa? Bagaimana bisa warna energimu berbeda jauh dari ayahmu?
Seharusnya warna energi dari ayah dan anak seharusnya tidak beda jauh.”
“Aku juga tidak tahu, aku baru menyadarinya sekarang.”
“Ya sudah tidak apa-apa, sekarang aku harus pergi. Mungkin aku akan bertemu dengan kamu
lagi. Sampai jumpa.” Ucap Paman Saint sembari beranjak keluar dari kamarku.
“Samapai jumpa Paman Saint semoga sehat selalu!”
Setelah itu aku berfikir tentang banyak hal sampai membuatku tertidur sampai sore. Saat
sore aku terbangun dan mulai berfikir tentang ayah dan ibu, bagaimana keadaan
mereka kalau ibu pasti baik-baik saja tetapi ayah bagaimana?. Sampai ada
seseorang yang menghentikan lamunanku.
“Ismelda bagaimana keadaanmu ini aku bawakan buku yang tadi siang kamu minta.” Ucap
orang yang langsung masuk ke kamarku tanpa permisi.
“Hei bisakah kamu mengetuk pintu dulu kalau masuk ke kamar orang lain terutama ini kamar
perempuan tahu!!” Seruku sambil merasa kesal kepada Alex.
“Iya iya maaf, ini bukunya.” Sambil meminta maaf dan menyodorkan buku yang dibawanya.
“Terima kasih ya Alex. Kamu tahu tidak tadi ayahnya Lusi datang ke sini tahu.” Ucapku
sambil sedikit memamerkan apa yang aku alami.
“Heh biasa saja, kemarin aku pertama kali datang ke sini juga di sambut oleh Paman Saint,
jadi jangan sok pamer, ya!”
Setelah itu kami berdua bergurau dengan apa yang sudah dialami oleh Alex dan juga Ari
selama aku tidak sadarkan. Dan tak terasa kami bergurau sampai tak terasa hari
sudah malam. Sebelum aku menyuruh Alex kembali ke kamarku aku meminta Alex
mengantarku ke kamar mandi. Lalu setelah itu aku menyuruh Alex kembali, setelah
Alex keluar aku langsung mencoba tidur.
Keesokanharinya saat aku terbangun badanku juga sudah lebih baik dan bugar. Dan kakiku akhirnya
sudah bisa digunakan untuk berjalan meski sedikit pincang. Aku sudah bisa
berjalan sendiri ya walaupun lama.
Tidak lama setelah aku keluar dari kamar mandi Lusi dan
Kurusu akhirnya datang.
“Wah kau sudah bisa jalan sendiri!! Apa kau sudah siap?” Tanya Lusi sembari duduk di
dekatku.
“Iya aku sudah siap betul.” Jawabku dengan semangat yang menggebu-gebu.
“Baiklah sekarang berbaliklah aku akan memasukkan energi secukupnya.”
“Iya aku percaya kepadamu Lusi.”
Lusi memasukkan energi membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit.
“Nah sekarang cobalah untuk melakukan pemanggilan pedang yang kau maksud itu!”
Perintah Lusi.
“Baiklah aku akan mencoba memanggilnya.”
Setelah itu, aku kembali mencoba fokus kembali agar bisa memanggil pedang itu.
“Datanglah Ke sini wahai pedang!!” Seruku dan saat
bersamaan tanganku bergerak sendiri seperti memegang sebuah pedang.
“Tunggu pedang itukan!!! TIDAK MUNGKIN KENAPA BISA ADA?? SEHARUSNYA PEDANG INI TIDAK
ADA!!” Seru dari Kurusu sambil keheranan dengan pedang yang aku panggil dan
sekarang aku pegang.
“Memangnya kenapa?” Tanya Lusi kepada Kurusu.
“Karena pedang ini diberi julukan ‘PEDANG ILUSI’ dan hanya ada beberapa orang yang
mengetahui tentang kebenaran pedang ini!!” Sambung dari penjelasan Kurusu yang
dipotong oleh pertanyaan Lusi.
__ADS_1
TO BE CONTINUED