Sword From Legend

Sword From Legend
Episode 5 : KEJUTAN


__ADS_3

Keesokan harinya aku bangun lebih dulu daripada Lusi. lalu aku berjalan menuju kamar


mandi untuk membasuh muka, setelah aku selesai membasuh muka aku ingin mencoba


menggunakan kekuatanku dengan menggunakan pedang asli bukan yang lain.


*****


Tidak lama aku keluar dari kamar mandi aku bersiap untuk menggunakan kekuatanku. Sambil


aku mengambil pedang yang ada di samping tempat tidr.


Saat aku sudah siap, aku bergegas mengucapkan kata pelepas pembatas dan mencobanya.


“Wahai pembatas lepasakan batasan kekuatanku dan berikan sedikit kekuatanmu untuk


mengalahkan musuhku.” Setelah aku mengucapkannya aku memasuki mode pedang aku


berusaha menahannya selama mungkin.


Aku menahan mode pedang ini sampai Lusi bangun dan mengagetkanku.


“Ismelda. Sudah berapa lama kau melakukan itu!?” Seru Lusi.


“Huf, sekitar 2 sampai 3 jam aku sudah menahan mode ini. Dan sekarang aku kelelahan.”


Jawabku sesaat sudah melepaskan mode pedang.


“Wah lama juga kamu bisa menahan mode itu.”


“Oh iya Lusi kau melupakan janjimu kemarin!” Seruku sambil berdiri.


“Janji? Apa? Kok aku lupa ya.”


“Kau mau mengajariku bagaimana memasukan energi yang telah kukumpulkan di sekitar


tubuhku.”


“Oh iya aku lupa. Baiklah aku akan mengajarimu sekarang, caranya gampang, kamu harus fokus


untuk memindahkan energi yang sudah kau kumpulkan di sekitar tubuhmu dan


memindahkannya ke dalam tubuhmu. Bisakah kau melakukannya?” Jelas sekaligus


tanya Lusi kepadaku.


“Oh begitu? Aku akan mencobanya.”


“Ya sana cobalah, aku mau ke kamar mandi dahulu.”


Sesudah Lusi masuk ke kamar mandi aku pun duduk kembali dan mencoba apa yang dijelaskan Lusi


tadi kepadaku.


”Hal yang penting di sini ialah fokus, fokus , fokus” pikirku sambil mencoba mengumpulkan


energi di sekitar tubuhku.


Dan pada akhirnya aku berhasil dan ketika Lusi keluar kamar mandi dan terkejut, akupun


selesai memindahkan energi ke dalam tubuhku.


“Ismelda bagaimana? Kau bisa melakukannya?”


“Tentu saja bisa, sekarang coba kau analisa dengan kemampuanmu.” Pintaku kepada Lusi.


“Iya, aku akan duduk di belakangmu. wahai pembatas berikan aku kekuatanmu untuk


menganalisa apa yang terjadi pada tubuh yang menjadi objekku.” Gumam Lusi.


Setelah 5 menit Lusi menganalisa tubuhku Lusi mulai berbicara.


“Wah kau benar-benar bisa melakukannya ya? Aku tidak menyangka kau bisa memasukan energi


ke dalam tubuhmu dalam jumlah sebanyak ini.”


“Sebanyak ini? Memangnya dulu energiku sedikit ya?” tanyaku kepada Lusi.


“Bukannya sedikit tapi kau memasukan energi melebihi batas yang bisa orang lain masukan


ketika pertama kali mencoba. Kamu yang baru pertama kali melakukan sudah bisa


memindahkan energi sekaligus meningkatkan penyimpanan energi di dalam tubuhmu,


bahkan aku yang sekarang belum bisa melakukan seperti dirimu.” Jelas Lusi


sambil berdiri dan menuju sofa yang ada di dekat kami.


“Wah bagaimana bisa? Padahal aku Cuma melakukan dengan fokus yang tinggi saja .


apakah fokus seseorang dalam memindahkan energi itu penting?”


“Mungkin saja, soalnya meskipun aku mencoba fokus aku malah kehilangan keseimbangan


untuk memindahkan energi dan malah bisa berakibat fatal.”


“Oh jadi begitu, terima kasih telah mengajariku cara melakukannya. Sekarang tubuhku juga


sudah pulih sepenuhnya.”


“Baguslah kalau begitu, jadi nanti ketika sudah siang sedikit aku bisa lebih tenang


karena pengawalku bangkit satu.” Ucap Lusi sambil tertawa.


“Hmmm, sudahlah Lusi kamu mandi dahulu saja aku mau berlatih lagi.”


“Oke, aku mandi dahulu ya Ismelda.”


*****


Setelah kami bergantian mandi Lusi pergi mencari sarapan untukku dan juga untuknya. Dan Lusi


kembali membawa sarapan kami berdua sarapan sambil mengobrol. Setelah kami


sarapan kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan, saat kami keluar penginapan


di sana sudah ada Alex dan Ari yang sedang mengobrol. Lalu kami meletakan


barang yang kami bawa dan melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Rosenwood.


Saat sudah setengah perjalanan kami mengalami hal yang sudah biasa, yaitu dihadang oleh


para bandit. Dan seperti biasanya mereka menyergap kami depan dan belakang,


Alex dan Ari mengatasi bandit yang ada di depan dan aku mengatasi bandit yang


ada di belakang.

__ADS_1


“Hei lihat di sini ada seorang gadis yang kelihatannya mau mengalahkan kita!” Seru seorang


bandit yang berada paling depan.


Pada saat yang sama.....


“Wahai pembatas lepasakan batasan kekuatanku dan berikan sedikit kekuatanmu untuk


mengalahkan musuhku.” Gumamku tanpa mengiraukan ucapan para bandit.


Setelah mengucapkannya aku bergerak cepat dan menghabisi para bandit dan hanya tersisa


bandit yang ada di barisan terdepan, dia kelihatannya terkejut pada apa yang


aku lakukan pada anak buahnya.


“Hah, apa yang dia lakukan kenapa aku tidak bisa melihatnya bergerak. Ahh msa bodoh sini


kau gadis keparat.” Seru bandit yang tersisa.


Mendengar ucapan bandit itu aku langsung menuju kehadapannya dan mengarahkan pedangku


tepat pada lehernya.


“Coba ucapkan sekali lagi supaya aku bisa mendengarnya dengan jelas, aku tadi aku


tidak mendengarnya dengan jelas karena aku berlari menuju kesini.” Bisikku ke


telinga si bandit.


“...... Ampuni a-a-ak-aku tolong beri ampuni nyawaku.” Pinta si bandit sambil merengek.


“Baiklah kali ini aku ampuni dirimu, dan jangan sampai aku melihatmu merampok lagi. Jika kau


merampok lagi dan aku mengetahuinya kau akan tahu akibatnya.” Bisikku sambil


aku berjalan mundur.


Dan si bandit mau menikamku dari belakang karena dia pikir aku tidak mengetahuinya


saat aku berjalan menjahuinya. Aku berputar sambil menghunuskan pedangku dan


hanya tergores ssedikit di bagian pipi, dan dia pun jatuh pingsan mungkin


karena ketakutan akan kehilangan nyawanya. Setelah itu aku menuju ke depan


kereta dan melihat Alex dan Ari kesusahan lagi dalam mengalahkan bandit-bandit


itu. Langsung saja aku membantu mereka seperti yang aku lakukan di belakang


tadi. Saat aku selesai Alex dan Ari terkejut aku melakukan hal tersebut.


“Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan ini, Ismelda?” Tanya Ari sambil menyarungkan


kembali pedangnya.


“Kau kira setelah kejadian itu aku mau mengalaminya lagi? Tentu tidak aku telah belajar


banyak dari Lusi.” Jelasku sambil berjalan menuju kereta.


“Memangnya kau belajar apa? Kok sampai bisa seperti ini padahal sebelumnya kau hanya bisa


menebaskan pedang sekali saja?” tanya Ari ke aku.


“Wah, benar juga ya kau kan dulu tidak ikut Alex saat di peginapan Desa Portris. Padahal di


Setelah itu kamipun melanjutkan perjalanan kami untuk pergi ke kerajaan Rosenwood, karena


sudah setengah perjalanan tinggal melanjutkan sebentar kamipun sudah sampai di


gerbang kerajaan Rosenwood.


“Lusi kita sudah sampai di gerbang kerajaan, dan di depan ada pos pengecekan bisa kau


tangani?”


“Baiklah, kita tukar tempat sekarang, biarkan aku yang menanganinya!” Serunya.


Setelah kami melewati pos pengecekan, kami sekarang sudah masuk di kerajaan Rosenwood.


Secepat mungkin kami mencari penginapan terdekat, untuk meletakan barang bawaan


kami dan bisa mulai berkeliling.


“Hei Lusi! di depan ada penginapan, apa kita mau menginap di sana atau tidak?” Tanyaku.


“Sepertinya di sana biaya menginapnya murah sementara kita akan menginap di


sana saja.” Jawabnya sembari mempersiapkan diri.


Ketika kami sampai di penginapan itu kami disambut oleh seorang penerima tamu.


“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya si penerima tamu.


“Apa masih ada dua kamar yang tersisa untuk kami berempat?” Jawab Lusi.


“Tentu saja masih ada, tetapi tunggu dulu anda ini bukannya Lusiandra Grace?!” Seru si


penerima tamu seperti orang yang menemukan harta karun. “Ya, aku adalah


Lusiandra Grace memangnya ada apa?” Lusi kembali bertanya pada si penerima tamu


itu.


“Kenapa tidak bilang dari awal, kami akan menyediakan kamar terbaik untuk anda dan juga


teman-teman anda.” Ucap si penerima tamu sembari memberikan dua kunci kamar.


“Terima kasih.” Jawab Lusi saat mengambil kunci yang diberikan oleh si penerima tamu.


Saat kami berjalan menjau dari meja penerima tamu, aku melirik kebelakang dan melihat si


penerima tamu itu pergi meninggalka tempatnya entah kemana, aku berfikir ‘ah


mungkin hanya pikiranku saja’.


“Sekarang kamar kita bersebelahan lagi.” Ucap Alex yang ada di depanku.


“Iya jadi kita bisa berbincang dengan mudah.” Jawab Lusi sembari memberikan kunci kamar


milik Alex dan juga Ari.


Saat kami sudah sampai di dalam kamar kami masing-masing kami melepas letih


masing-masing, sehingga nanti sore bisa berkeliling untuk menjual barang yang


kami bawa.

__ADS_1


*****


Ketika sore menjelang kami sudah beristirahat yang cukup sehingga kami bisa segera pergi


berkeliling. Saat kami berkeliling kami menjadi dua kelompok yaitu aku bersama


Lusi dan Alex bersama Ari. Aku dan Lusi berkeliling menawarkan barang bawaan


kami ke sejumlah toko, pada akhirnya banyak yang mau membeli barang kami. Saat aku


dan Lusi akan kembali ke penginapan kami berpapasan dengan anggota keluarga


Grace yang kemarin dibicarakan oleh Lusi.


“Wah tak kusangka aku dapat bertemu dengan anda tuan putri!” Seru seorang pria yang


berjalan menghampiri kami dari arah depan.


“Yah benarkan Ismelda apa yang kubilang ini akan terjadi, jangan bicara ketika aku


tidak mengijinkan kamu bicara aku tidak menginginkan hal buruk terjadi.” Suruh Lusi


sembari dia melambaikan tanganya untuk menyapa pria tadi.


“Bagaimana kabar anda tuan putri?” tanyanya.


“Aku baik-baik saja, bagaimana dengan keadaanmu, Ku?” Lusi kembali bertanya kepadanya.


“Aku baik-baik saja, oh iya aku sampai lupa. Siapa perempuan yang ada di sampingmu


itu tuan putri?” Tanyanya lagi.


“Oh kenalkan ini Ismelda Grace, Ismelda ini Kurusu Grace.”


“Salam kenal Ismelda, panggil saja aku ‘KU’, boleh aku ta__” pertanyaanya belum selesai dan


Lusi menarikku untuk pergi meninggalkan Ku.


“Sampai bertemu kembali Ku, sampai jumpa!” Seru Lusi sambil menarik tanganku dan berlari.


“Memangnya kau siapa berani sekalii menggunakan nama keluarga ‘Grace’ dengan se’enaknya,


Ismelda?” Gumam Ku dari kejauhan dan hanya kulihat mulutnya bergerak dari


kejahuan.


“Memangnya kenapa Lusi? kenapa kita meninggalkan dia begitu saja? Kenapa?” tanyaku sambil


berlari.


“Nanti saja aku jelaskan saat di kamar nanti!, untuk sekarang kita pergi dahulu ke


penginapan!.” Seru Lusi.


*****


Setelah kami berlari sekitar dua puluh menit, akhirnya kami sampai di kamar penginapan,


sesaat setelah masuk ke kamar aku pun kembali menanyakan pertanyaanku


sebelumnya.


“Kenapa tadi kita meniggalkan Ku begitu saja? Memangnya kenapa?” kembali kutanyakan


pertanyaan itu ke Lusi.


“Dia semakin lama bersama orang baru ia akan menggali informasi dan tanpa sadar kau akan


mengucapkan semua yang ditanyakan olehnya.” Jelas Lusi sembari duduk di tempat


tidur.


“Oh jadi begitu, baiklah kalau begitu aku mau mandi terlebih dahulu.” Ucapku sambil berjalan ke


kamar mandi.


“sana mandilah, aku mau beristirahat dahulu.”


Saat aku berada di kamar mandi...


“Kok aku kepikiran sama orang tadi ya, dia menatapku sangat sinis dan penuh dengan


kebencian, sebenarnya mau kutanyakan kepada Lusi tetapi aku kok menjadi tidak


enak menanyakan hal tersebut.” Bicaraku kepada cermin yang ada di hadapanku.


Setelah aku mandi dan keluar dari kamar mandi aku melihat sesosok orang yang sedang


berbicara dengan Lusi dan saat mereka sadar aku sudah selesai sesosok orang


yang berbicara dengan Lusi langsung menghilang.


“Tadi itu siapa?” Tanyaku penasaran sembari memakai pakaian.


“Bukan siapa-siapa dia hanya seorang pelayan dari keluarga. Jadi jangan takut.”


“Hah? tapi baiklah jika kamu berkata demikian. Mau minum apa biar aku buatkan?” Tanyaku


sambil bersiap membuat minuman.


“Buatkan teh manis saja, lagi mau minum teh manis.”


“Oke.”


Setelah aku selesai membuat teh, aku tetap berfikiran buruk terhadap seseorang tadi. Dan kami


berbincang sampai larut malam dan tidur.


Dan benar saja saat tengah malam aku mendengar kebisingan dari kamar Alex dan Ari yang


berada tepat di sebelah kamar kami, saat aku bangun sepenuhnya Lusi juga tidak


ada. Dan di dinding tertulis “Pergilah ke gedung pinggiran kerajaan bagian


selatan jika kamu masuh mau melihat teman-temanmu”.


“Benar-benar!! siapa yang telah melakukan hal ini aku akan membunuhnya, dan jika sampai siapapun


menghalangiku dia akan merasakan akibatnya meskipun itu adalah temaku sendiri!!!” Seruku sambil mengambil


pedangku.


“Pembatas Lepas!! DETEKSI : LUSI!! TAMBAH KECEPATAN!!!”  SERUKU SAMBIL BERSIAP UNTUK PERGI.


Tunggu aku Lusi, Alex, Ari aku akan datang menyelamatkan kalian semua, jadi tunggulah aku.


“BERTAHANLAH TEMAN-TEMAN AKU AKAN DATANG.”

__ADS_1


TO BE CONTINUED


__ADS_2