
Yuna kini berlari, mengejar Kei setelah dia benar benar diabaikan tadi.
"Ugh.... Kenapa dia bisa sangat cepat seperti ini? Aku tidak tahu kalau kakak bisa berlari. Tidak. Dia memang tidak bisa berlari, tapi sepertinya akhir akhir ini dia agak berbeda." kata Yuna sambil masih terus berusaha berlari memaksakan diri.
Dia merasa lelah, tapi tetap memaksakan diri untuk berlari, hingga dia tersandung sebuah batu
""Ughh!!!"" terdengar dua suara yang saling tumpang tindih antara suara kecil Yuna dan suara orang lain yang lebih berat.
"Hei hei hei! Adik kecil. Kau tidak boleh terburu-buru seperti itu, kau tahu?" seseorang muncul tiba tiba dari sebelah orang yang bertabrakan dengan Yuna.
Dia menangkap tangan Yuna, membuat badan Yuna sedikit terangkat.
Beberapa orang lain segera muncul, mengelilingi Yuna. Jumlah dari mereka ada 4, yang segera menyudutkan dan membawa Yuna ke pinggir trotoar yang agak tertutup.
Satu berbadan besar, satu lagi menggunakan bandana, dan dua lainnya menggunakan kaus hijau dan merah.
"E-eh! Saya minta maaf, tapi tolong lepaskan saya!" jawab Yuna setengah berteriak. Dia berjinjit untuk mengikuti tangannya yang ditarik ke atas.
"O o oh!! Jangan terburu buru. Kenapa anak muda jaman sekarang sangat terburu buru?"
"Itu benar. Kau harus meminta maaf dengan benar. Bagaimana? Apakah kau tahu bagaimana cara meminta maaf dengan benar?" tanya salah satu pemuda dengan bandana di kepalanya.
Dia menyentuh pelan leher Yuna, lalu merambat ke belakang Yuna.
Yuna terkejut, dan dengan refleks menyikut perut orang itu sekuat tenaga.
"Siall!!" orang itu tertunduk menahan sakit di bagian perutnya.
3 orang lainnya menengok, dan tertawa keras menertawakan kebodohan orang itu. Tapi tetap, orang berbadan besar segera menanyakan apakah orang yang disikut itu baik baik saja.
Dengan segera Yuna tahu, bahwa mereka bukanlah orang baik baik. Jika dia tidak segera pergi, dia akan dalam bahaya.
Oleh karena itu, Yuna tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk lari. Dia menarik tangannya yang dipegang salah satu pria. Tapi karena pria itu lebih kuat, dia justru mengangkat tubuhnya sendiri. Namun itu tidak menghentikan Yuna.
Yuna dengan cepat berputar, dan bercokol di pundak pria yang memegang tangannya.
Dia mengapit kepala orang itu dengan paha nya, dan berputar putar sesaat. Sebelum akhirnya membanting tubuh pria itu dengan keras ke tanah dengan suara berdebam.
"A-apa?" orang berbandana yang Yuna pukul menggunakan siku barusan terkejut, sama seperti yang lainnya.
"A-apa yang kalian lakukan? Ce-cepat tangkap dia!!" teriak pria berbandana itu.
Dengan begitu, pria dengan kasus merah dan hijau segera bergerak ke arah Yuna. Tapi Yuna mengelak, dan berlari melewati mereka dengan mudah. Badan kecilnya justru dia jadikan keuntungan melawan mereka.
__ADS_1
"Hrahhh!!!" Yuna sedikit berteriak ketika memukul pria berbandana dengan pukulan terbuka, bertujuan untuk melempar pria itu terbang menjauh.
Tidak berhenti sampai disitu, dia segera melayani kedua orang sisanya dengan beberapa tendangan di bagian dada dan perut. Itu membuat mereka berdua berlutut seketika. Yuna tidak melepaskan celah itu.
Dia segera memberi beberapa serangan kuat dengan kakinya kepada mereka, sebelum akhirnya mereka berdua meringis kesakitan dengan beberapa darah muncul dari mulut mereka.
Itu semua gerakan yang sangat bagus, tapi pukulan dengan jangan terbuka Yuna bukanlah pilihan yang baik. Pria berbandana itu tidak terluka parah, dan segera bangun, dan berusaha menyerang Yuna.
Yuna menyadari itu, dan dengan cepat menendang selangkangannya. Itu benar benar pukulan telak.
"Aku bisa bela diri, kau tahu? Masih berani macam macam, hah?" tanya Yuna sambil masih memasang kuda kuda dengan baik.
Tapi itulah manusia. Jika mereka ada di atas angin, meraka akan lengah.
Dan...
"Tertangkap kau!!" kata salah orang pertama yang menarik tangan Yuna dari belakang. Fisiknya jauh lebih kuat dari Yuna, dan dia menariknya ke sebuah gang kecil yang lebih gelap.
Sebenarnya tempat itu tidak begitu sepi, tapi karena orang orang ini pintar menutupi badan Yuna yang kecil, serta orang orang yang begitu sibuk dengan urusan masing masing membuat tidak ada satupun yang menyadari ini.
Benar benar masyarakat yang menyedihkan.
Orang itu mencekik Yuna di bagian leher dengan lengan besarnya, sambil menyeretnya. Itu membuat Yuna sedikit kehabisan nafas, sambil terus berusaha melepaskan cekikan.
Kedua orang lainnya segera sigap untuk menangkap kaki Yuna, mencegahnya berontak lebih jauh.
"Uhuk ugh...." Yuna sedikit terbatuk ketika lehernya sudah terbebas dari cekikan orang berbadan besar tadi.
Kesadaran nya sedikit memudar ketika dia tidak bisa bernafas, tapi dia segera merangkak perlahan menjauhi orang orang itu, kemanapun itu walaupun itu membawanya lebih dalam ke gang gelap itu.
"Apa yang akan kau lakukan?!!" tanya salah seorang pria itu sambil menendang Yuna.
Seketika, Yuna tersungkur dari posisi merangkaknya, dan pipinya sedikit tergores karena itu. Tapi justru karena luka gores itu, membuat Yuna kembali sadar dan bisa berdiri.
"Apapun yang kalian lakukan, aku tidak akan goyah! Aku akan lapor polisi!!" kata Yuna sambil kembali memasang kuda-kudanya.
"Kau masih mau bertarung, hah?!!" tanya orang yang berkaus hijau sambil berusaha memukul Yuna.
Yuna dengan sigap menghindari pukulan itu, dan berniat untuk membalas, tapi pria berbadan besar dengan segera menghentikan nya, lalu menyapu kakinya hingga Yuna terpelanting ke samping. Pria berbaju merah segera menambah dengan tendangan di perut Yuna, membuat Yuna kembali terbatuk batuk.
"Kau pikir itu lucu untuk menendang biji ku, hah? Itu sakit, tahu!! Aku akan membalasmu!!" orang pengguna bandana berjalan ke arah Yuna sedikit pincang, dengan penuh amarah.
"Aku tidak peduli kalian akan memukuli ku separah apapun, itu tidak akan menggoyahkan ku!!" teriak Yuna dengan penuh semangat.
__ADS_1
Dia berusaha untuk bangun lagi, tapi segera ditampar oleh pria ber-bandana tadi.
"Kau masih ingin dipukuli? Apakah kau Masokhis?" tanya pria itu sambil mengambil wajah Yuna dan memegang nya dengan kasar di bagian pipi.
"Dasar bangsat." kata Yuna pelan ketika berhadapan wajah dengan pria tadi.
Pria tersebut lanjut menampar bagian lain pipi Yuna, membuatnya terlihat memerah. Ada banyak luka di tubuh Yuna, tapi yang paling mencolok adalah luka di pipi yang sedikit memberi gambar di wajah cantik Yuna.
"Kau masih bisa banyak omong ya?!" lanjut pria itu.
"Aku punya banyak kata untuk ku ucapkan padamu. Silakan pukul aku sesukamu, aku tidak akan memberi hormat padamu." jawab Yuna tegas. Itu jelas membuat pria di depannya naik pitam.
"Apakah dengan begini!!" pria itu mulai menggerakkan tangannya, mengambil kemeja depan Yuna.
Dia menyobek bagian depan kancing nya, membuat "belahan" yang tadinya tertutup kemeja terlihat.
"Eh?" pekik Yuna pelan tidak menyangka.
"Hei kalian! Ambil tali!!!" teriak pria dengan bandana itu. Yang lainnya segera bergerak sesuai yang dikatakan pria itu, sedangkan dia sendiri menduduki paha Yuna sambil menahan kedua tangan nya, menekannya ke bawah.
"Kau tahu? Aku suka menghancurkan anak anak sepertimu. Anak anak yang memiliki harga diri tinggi seperti mu."
"Aku suka ketika melihat ekspresi putus asa mereka. Terutama yang awalnya pura pura kuat, tapi dia akan menjadi lebih baik dengan wajah memohon yang menyenangkan. Baiklah. Menurutmu kau yang mana?" tanya pria itu.
Dia mulai mengikat tangan Yuna, dan kakinya juga ditahan oleh berat badannya.
Tangannya juga mulai meraba bagian kulit halus nanti putih dari perut Yuna, dan mulai naik sedikit demi sedikit. Yuna hanya diam sambil memejamkan mata, takut.
Tapi tangan itu tidak berhenti sampai disitu. Itu mulai naik, ke tempat di mana sesuatu disembunyikan dengan benda berenda indah. Sementara itu, Yuna tidak sanggup lagi menahan, dan mulai menangis.
"Tolong... Apapun selain itu. Tolong jangan lakukan itu padaku." kata Yuna berderai air mata.
"Bwa ha ha!! Cepat sekali kau berubah pikiran? Bukankah kau bilang tadi kau tidak akan menghormatiku apapun yang terjadi? Tapi apa sekarang? Bahkan kau memohon padaku!!" teriak pria itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Yang lainnya juga hanya tersenyum sinis, sambil menatap Yuna dengan tatapan buas.
***
"Jadi, itu benar benar terjadi, kah?" tanya Kei pelan. Dia baru saja diberitahu oleh Yuki bahwa Yuna dalam bahaya, tepat saat Yuna diseret mulai melawan orang orang itu.
"Tapi mau bagaimana lagi, aku harus menyelamatkan ibu. Ini adalah keputusan yang harus diambil." kata Kei sambil berbalik.
"Kita sedang dihadapkan pilihan antara nyawa ibu dan jiwa adikku. Kalau dipikir pikir, kita jelas tahu akan memilih yang mana, bukan? Yahh, mau bagaimana lagi." kata Kei sambil mempercepat langkahnya ke arah Stasiun Shinjuku.
__ADS_1
"Kita bermain dengan nyawa. Aku tidak akan ragu lagi. Hidup adalah pilihan." kata kata Kei seperti menghibur dirinya sendiri yang tidak bisa menerima itu.
"YA!! MAU BAGAIMANA LAGI!!!" teriak Kei.