
(Sudah pasti dia adalah Player!)
Suara tidak senang Yuki terdengar di pikiran Kei. Dia jelas tidak menyukai nya, bagaimana dia menjebak Kei dalam keadaan seperti ini.
Orang tadi masih bertepuk tangan, sambil tersenyum lembut dan berjalan mendekat. Tapi di dalam matanya terpancar kelicikan yang bahkan tidak dapat terbaca dari wajah lembutnya.
Kei mengamati orang itu dengan seksama.
Tampang lembut, dengan rambut hitam yang tertata rapi, ditambah pakaian semi-formal yang dia gunakan. Dia terlihat bukan seperti Player, tapi lebih terlihat seperti pebisnis muda.
Tapi setelah Kei mengamatinya lagi, dia merasa pernah melihat orang itu.
"Kerja bagus, Nana! Setelah sekian lama, akhirnya kau berguna juga! Selain itu, mangsa yang kau dapat adalah pemula yang digosipkan itu, ya? Bagus! Bagus!!" kata pria itu.
("Nana? Jangan bilang?!") segera, Kei menoleh ke arah anak kecil tadi, hanya untuk mendapati tidak ada siapapun di belakangnya. Kei terkejut, dan berbalik segera.
(Master....) Yuki berkata dengan suara rendah.
"Ya." balas Kei dengan geram yang terselubung dalam suaranya.
"Pantas saja aku sering mendengar nada suara itu. Sejak awal semuanya sudah jelas, ya?" tanya Kei pelan sambil menatap Nana, yang sekarang berada di sisi orang dengan pakaian semi-formal tadi.
Intonasi suara Nana, itu adalah intonasi suara yang sering digunakan Sistem. Intonasi suara mekanis yang di dalamnya ada beberapa karakteristik yang berbeda, mewakili Masternya.
Pria itu melihat Kei sebentar, dan terlihat matanya sedikit bercahaya biru. Dahi Kei mengkerut, menyadari itu.
(Master. Dia sedang menilai Status Master. Maafkan saya, Master. Karena total status dia lebih tinggi, saya tidak bisa menangkal penilaian itu.) kata Yuki dengan nada menyesal.
("Tidak apa, Yuki. Ngomong ngomong, apa kau tahu cara bagaimana menghindari PvP ini? Seperti cara berhenti?") pikir Kei.
("Ada fitur untuk menyerah di tengah pertandingan. Itu akan mengurangi poin Master, tapi...)
("Jangan pedulikan itu sekarang!!! Aku tidak peduli dengan poin. Perasaan ku mengatakan aku sedang berhadapan dengan sesuatu yang berbahaya!")
Saat Kei sedang berkutat dengan Yuki, tiba tiba orang itu menyela.
"Jangan kau terpikir untuk menyerah. Walau kau menyerah, aku akan tetap membunuhmu. Kenapa? Karena jelas, jika aku membunuh Player, aku bisa mendapat semua poin nya, bukan?" kata orang itu sambil tertawa.
Kei tidak bisa berkata kata, hanya diam sambil terbelalak. Dalam benaknya, dia bertanya apakah Yuki punya sebuah rencana?
"Selain itu, kau terlihat kuat dari pemula yang lain. Mungkin sebagai penghormatan, aku setidaknya menanyakan namamu. Aku akan sedikit memberikan uang asuransi ketika kau mati." lanjut pria itu sambil terkikik senang.
__ADS_1
"Wahh, kau baik sekali, apa kau pikir aku akan bilang seperti itu? Kau tahu tata krama, bukan? Sebutkan namamu sebelum menanyakan nama orang lain!' kata Kei dengan tenang. Walau begitu, badan dan kakinya tetap bergetar, seperti tak mampu untuk berdiri.
(Bagus sekali anda bisa tenang, Master. Walau badanmu tidak.) kata Yuki sedikit menyindir Kei.
("Diam!! Mentalku memang sudah mulai terbiasa dengan kejadian yang mengancam nyawa, tapi tetap tubuhku tidak! Aku tidak bisa mengendalikan itu!!") teriak Kei dalam hatinya.
"Ahh, maafkan atas ketidaksopanan saya. Perkenalkan, nama saya Sato Hiroaki. Senang bertemu denganmu." kata pria itu, Sato sambil sedikit membungkuk.
Mendengar nama itu, Kei mengerutkan dahi. Pasalnya, nama itu adalah nama yang cukup terkenal.
"Sato Hiroaki, seorang pebisnis muda yang sukses tiba tiba dalam waktu kurang dari 3 bulan. Tidak diketahui apa bisnisnya sekarang, tapi diperkirakan dia adalah pengusaha minyak. Dia sering disebut anak dewa keberuntungan, karena usahanya yang semakin lama semakin maju, membuat dia sekarang salah satu yang terkaya di negara ini, kah?" Kei sedikit menghembuskan nafas.
(Master.... Bagaimana kau bisa tahu tentangnya begitu banyak?! Apa jangan jangan Master.... Stalker?!!) cela Yuki dalam pikiran Kei.
("BUKAN!!!) sekarang Kei mendapat konflik dengan Yuki yang menggodanya dalam pikirannya sendiri!
"Hoo. Kau cukup banyak tahu, bukan?" Sato mulai mendekati Nana, menyentuh bagian belakang lehernya.
"Aku hanya sering membaca beberapa majalah. Tidak mungkin aku tidak tahu nama "anak dewa keberuntungan" di zaman ini. Tapi berkat bertemu denganmu hari ini, aku jadi mengerti semua keberuntungan itu."
"Keberuntungan yang kau miliki adalah sistem. Itu berarti usahamu yang sebenarnya hanya memanfaatkan sistem. Itu benar benar menggelikan." kata Kei
Selain itu, sifat sombong yang ditunjukkan Sato membuat Kei yakin bahwa dia akan lengah saat melawan Kei. Dan Kei bermaksud memanfaatkan itu.
"Bwa ha ha ha!"
?!!
"Bwa ha ha ha ha ha!!!" tawa Sato terdengar menggema di kota yang kosong itu. Hal itu jelas membuat Kei bingung sekaligus lebih waspada.
"Kau benar. Aku hanya memanfaatkan sistem!"
"Sistem hanya ada untuk menuruti keinginan kita. Sistem mengatakan bahwa mereka mengendalikan kita, padahal nyatanya kita yang mengendalikan mereka. Lihatlah Nana! Dia benar benar tidak berguna, bukan?!! Dia beruntung, karena skill milikku, aku harus mengevolusikannya." teriak Sato.
("Skill? Yang mengharuskan untuk mengupgrade Sistem? Apakah ada sesuatu yang seperti itu?") tanya Kei pada hatinya.
(Master. Semua skill yang dimiliki Player berhubungan dengan level evolusi Sistem nya. Tapi anda juga bisa menaikkan level skill Master sendiri, tapi ada batasan pada level skill itu. Dengan kata lain, mengevolusikan Sistem membuat Master membuka pembatas itu dan memberi satu poin skill secara gratis.) jelas Yuki panjang lebar.
("A-ahh.... Ascending kah?") pikir Kei mengingat salah satu istilah dalam Game.
"Dan ngomong ngomong soal beruntung, sepertinya aku memang benar bener beruntung!" Sato melanjutkan perkataan nya sambil mulai bergerak ke belakang Nana.
__ADS_1
Nana hanya diam, berwajah datar, ketika Sato berjalan ke belakangnya dan memegang kedua bahunya.
"Aku sangat beruntung ketika aku menemukan catatan tentang cara masuk dan mendapatkan sistem di sebuah catatan tua. Aku sangat beruntung bahwa aku yang terpilih untuk bisa memasuki seleksi." dari tangan Sato, mulai muncul petir putih yang menyelimuti tangannya.
"Aku sangat beruntung aku bisa menyiapkan beberapa peledak dan membawanya saat seleksi. Aku sangat beruntung ketika tidak sengaja meledakkan seekor monster. Aku sangat beruntung ketika aku mendapat skill." lanjut Sato sambil tersenyum licik.
Petir putih di tangannya mulai bertambah besar, kini mulai menyelimuti seluruh tubuh Nana! Kei yang melihat itu mau tak mau hanya menganga, antara kagum dan takut.
"Dan skill yang aku dapatkan adalah!!!" Sato berteriak lantang.
Bersamaan dengan itu keberadaan Nana menghilang, ditambah dengan petir putih yang datang saling menyambut berasal dari Sato.
("Aku sudah merasakan hal hal buruk, dan sekarang aku yakin firasatku benar!!")
(...)
Kei hanya mematung, sedangkan Yuki tidak bereaksi sama sekali. Apapun itu, mereka mengamati perubahan Sato. Itu tidak terjadi lama, sampai akhirnya Sato sendiri terbungkus petir putih itu.
(Master, LARI!!) teriak Yuki.
Mendengar itu, tanpa pikir panjang Kei segera berbalik, bersiap untuk mengambil langkah seribu, tapi...
BAMMM!!!
Sebuah ledakan besar terjadi dari belakang Kei. Atau bisa dibilang berasal dari tempat dimana Sato berada.
Ledakan itu memberikan gelombang kejut yang menghancurkan jalanan, beberapa tembok bangunan terdekat, dan bahkan tiang listrik juga berhasil dihempaskan tanpa ada masalah yang berarti!
Tentu, gelombang itu juga menghempaskan Kei yang sudah berlari beserta trotoar yang dia pijak. Itu membuat Kei mau tak mau tergulung bersama dengan batuan dan tanah yang terlempar bersamaan.
BAM BAM BAM BAM!!!!
Suara itu terdengar seperti drum yang mengiringi Kei ke kematian, karena sejatinya itu adalah suara ledakan yang terjadi di sekeliling Kei.
"Ughh......" Kei mengaduh sesaat ketika dia berusaha keluar dari puing puing yang mengubur tubuhnya.
(Master! Master!! Keii!!! Apa kau baik baik saja?!!) teriakan Yuki terdengar samar di dalam pikiran Kei. Hanya ada suara mendenging yang terdengar di telinga Kei.
Kei juga sedikit menoleh ke sekeliling, tapi pandangannya juga kabur. Yang bisa dia rasakan dengan jelas hanya satu, getaran yang terasa semakin besar, seperti langkah kaki yang datang mendekatinya.
(Kei! Kei! Kei!! Cepat sadarkan dirimu! Kalau tidak, kalau tidak dia akan datang!!)
__ADS_1