System: Death Game!

System: Death Game!
Bab 3: Game!


__ADS_3

"Hufft. Ini benar benar melelahkan. Untuk bisa naik setinggi ini, aku benar benar membutuhkan tenaga banyak. Baiklah sepertinya..." belum selesai Kei berbicara, tubuhnya sudah tidak bisa digerakkan.


Dia baru saja naik ke atas gedung, tapi tiba tiba dunia hitam putih kembali mengelilingi nya, dan di wajahnya terpampang peta kota ini.


??


("Ada dua titik berbeda di gedung ini? Tidak, tunggu. Titik milikku bertindihan dengan salah satu dari mereka. Jadi belum tentu mereka mengetahui posisiku. Dan dengan begitu, jelas salah satu dari mereka sedang berada di atas atau bawahku!!") batin Kei.


Kei mendengus pelan melihat itu. Dia sangat yakin, dia yang pertama kali naik ke atas gedung ini, jadi tidak mungkin ada orang di atas.


("Mereka pasti ada di bawah. Semoga tidak ada satupun yang ke atas...") Kei berdoa, masih di dunia hitam putihnya.


Selain itu, titik oranye tinggal tersisa 7. Itu berarti ada 6 orang lain yang masih harus disingkirkan Kei.


Yahh, walaupun dia bisa hanya melihat dan menunggu yang lain untuk mati, karena posisi yang dia ambil sekarang menguntungkan nya.


Setelah satu menit, waktu pun berjalan kembali ke normal. Kei segera mengambil monster bola yang dia ikat dari bawah, dan berjalan mendekati pinggir, melongok ke bawah.


Saat melakukan itu, dia melihat lagi ke hadapannya.


Kota yang hancur, dan tidak terlihat tanda tanda kehidupan. Hanya ada monster yang berkeliaran, bahkan hewan hewan pun tidak ada. Dari sini dia bisa melihat ke sekeliling kota.


"Ini benar benar dunia lain, ya?" tanya Kei.


TRANG!!!


Terdengar suara seperti besi yang beradu. Kei segera menyembunyikan diri, dan beringsut ke pinggir gedung.


"Mereka sedang bertempur? Dan lagi, bagaimana mereka bisa mendapatkan pedang?" gumam Kei sambil mengamati pertarungan mereka.


?!!


DOR DOR DOR!!


Suara itu mengejutkan Kei, dan membuatnya menyembunyikan diri.


"Itu... Itu pistol, bukan?" tanya Kei sedikit gemetar.


Salah satu dari mereka membawa pistol yang selama ini dia sembunyikan, padahal tadi beradu pisau dan pedang. Sepertinya itu memang rencananya, karena dia tersenyum puas setelah menembakkan pistol tadi.


"Aku tidak akan bisa menang dengan itu!!!" Kei merinding sambil sedikit meremas monster bola di tangannya.


Tapi seketika dia memiliki ide aneh.


"Humm, kalau dia lengah aku bisa melempar ini, bukan?" tanya Kei sambil tersenyum jahat.


"Ups! Aku berubah menjadi seorang Villain!!" Kei setengah bercanda mengangkat tangan dan sedikit tertawa. Dia mengambil bola monster. Monster itu sedikit meronta-ronta ketika diangkat, tapi karena monster itu lemah, itu tidak bisa melakukan apa apa.


Kei sedikit mengukur jarak, ketika pembawa pistol mendekati yang satunya. Dia sepertinya mengatakan sesuatu, karena orang yang dia tembak barusan sekarat.


"OII TOLOLLLL!!!!" Kei berteriak, ketika si pemegang pistol bersikap menghabisi musuhnya.


Kedua orang itu mendongak ke atas, mencoba mencari sumber suara. Mereka melihat Kei yang sedang melambaikan tangan dengan wajah bingung.

__ADS_1


"AKU KIRIMKAN HADIAH SANTA PADAMU!! JANGAN LUPA BERTERIMA KASIH!!" teriak Kei sebelum melemparkan 3 monster bola berurutan.


Kedua orang yang di bawah bingung, dan menatap monster itu jatuh.


Tahu bahwa dia dilempar benda, pemegang pistol hanya menghindari tempat jatuh monster itu, tanpa tahu bahwa-


BOMMMM!!!


Ledakan terjadi. Itu cukup besar hingga membuat tanah bergetar. Kei sedikit khawatir apakah gedung ini bisa bertahan.


"Hufft. Aku belum menerima ungkapan Terima kasih darinya, tapi dia sudah menghilang." ucap Kei sambil sedikit membenarkan rambutnya, bergaya.


"Tapi memikirkan hal itu sekali lagi terdengar mengerikan, jadi lebih baik tidak perlu." lanjutnya ketika melihat tanah yang berlubang, bahkan sisa sisa pakaian dari mereka tidak lagi terlihat.


[Anda mengalahkan 2 orang Player!! Mendapat barang barang musuh!]


Lagi lagi pengumuman bergema di kepala Kei.


Kemudian, muncul sebuah pistol dan pedang panjang yang dibawa kedua orang barusan. Itu muncul tiba tiba, seperti teleport yang membawanya kesana.


Setelah semua yang terjadi, Kei sudah mulai terbiasa dan tidak lagi terkejut.


Tangannya mengambil pistol itu pelan, dan menggenggam nya kuat.


"Tidak. Aku tidak ingin terbiasa dengan ini. Barusan aku membunuh orang dengan mudah? Itu gila! Pasti ada yang aneh denganku!!" kata Kei sambil bergetar memegang pistol di tangannya.


Kei mengingat kejadian tadi, ketika dia meledakkan mereka berdua. Semakin mengingatnya, semakin dia merasa tidak nyaman.


"Ini mengerikan. Aku harus membunuh orang lain. Dan aku sudah membunuh dua orang bahkan tanpa memikirkan apapun." Kei meringis. Hatinya sebenarnya sakit, mendengar bahwa dia sudah membunuh orang.


"Ini adalah Death Game. Aku akan hidup. Tidak! Aku harus hidup! Setidaknya sampai aku bisa merasakan kelembutan seorang wanita!!" kata Kei yakin.


Mungkin memang agak bodoh mendengar apa yang membuatnya semangat, tapi itu benar.


Kei memasukkan pistol di pinggang, menyelipkan itu diantara celana kolor nya. Mau bagaimana lagi, dia terteleport kemari hanya membawa handphone dengan celana kolor dan baju seadanya.


Handphone nya masih ada di kantongnya saja sudah beruntung.


[Sisa Player: 3! Posisi setiap Player akan selalu ditandai di peta.]


Lagi lagi pengumuman terjadi. Kei sedikit mendongak, dan mengetahui ada sesuatu di bagian sebelah kiri. Itu adalah peta kecil yang menggambarkan keadaan kota.


"Ini mirip dengan Game. Tapi sial. Jika posisi ku diketahui, aku tidak bisa menyerang secara diam diam." kata Kei pelan.


Dia memutuskan untuk berdiam diri, dan memandang seluruh kota. Dia juga melihat peta sesekali. Dan benar saja, dia melihat pergerakan di titik yang ditandai di peta.


DORR!!


Sekarang suaranya lebih keras dari sebelumnya. Itu menggema di seluruh kota, sedikit membuat gedung itu bergetar.


Sedetik kemudian, muncul ledakan besar di tempat yang barusan diawasi Kei.


Kei terkejut, dan menoleh ke samping.

__ADS_1


("Dia ada di gedung sebelahku?!! Tapi yang lebih penting, apakah itu berhasil?! Akan mudah jika itu berhasil, tapi~") batin Kei sambil mengawasi tempat yang sekarang menjadi tempat berkumpul debu.


Dia berpikir bahwa serangan tadi pasti menghabisi musuh, tapi...


("Titik oranye masih ada?!") tanya Kei setengah tidak percaya.


Kei sedikit menelisik ke gedung di sebelahnya, dan menemukan orang yang menembak barusan. Dia membawa senjata seperti sniper, dan masih mengamati tempat yang dia tembak dari.


Dia sedikit tidak percaya melihat itu, tapi dia berusaha menembak lagi.


Kei sebenarnya diuntungkan dengan orang yang fokus untuk menembak musuh yang jauh. Tapi dia berpikir, bahwa orang yang ada di bawah harus dikalahkan lebih dahulu. Dia bahkan masih selamat dari tembakan pertama!!


DORRR!!!


Tembakan dilepaskan. Tapi orang yang dibawah mengetahui itu, dan mengarahkan pedang panjang itu ke arah penembak.


Dan kembali, ledakan besar terjadi. Kei terus mengamati peta, tapi tidak ada perubahan sama sekali.


Ketika debu menghilang, terlihat orang itu masih berdiri kukuh, tanpa goyah sedikitpun. Bahkan baju gaun yang digunakan wanita itu tidak terkena noda atau tergores sedikitpun.


"Tidak mungkin!!" kata Kei pelan.


Begitu juga dengan pria yang membawa senjata sniper disana, dia segera bergegas mengisi senjatanya, dan menembak lagi, lagi, lagi, dan lagi.


Satu persatu tembakan terus dilepaskan. Dan suara tembakan seperti musik yang saling bersahutan dengan suara ledakan di tempat yang ditargetkan. Selain itu, dentingan selongsong peluru yang mulai kosong juga menambah perasaan mengerikan.


Tapi wanita bergaun itu tidak bergerak, dan hanya diam sambil menatap pria penembak.


Tentu, dengan semua tembakan yang menabrak sesuatu, seperti penghalang tidak terlihat. Tapi, begitu si penembak mengisi ulang senjatanya, wanita itu segera berlari, menuju bawah gedung.


"Kemana dia?!" Kei segera mengamati peta, dan tahu bahwa dia masuk ke gedung itu.


Sama seperti Kei, pria itu juga menyadarinya. Dia segera berjaga di tangga, menunggu wanita itu untuk masuk. Dia juga sudah membawa pistol, dan mengarahkan sambil menyiagakan jari di pelatuk.


Kei juga terus mengamati dari gedung sebelah. Tak lupa, pistol yang ada di tangannya dia arahkan ke pria tadi. Dia juga berjaga untuk melempar monster bom ke arahnya.


Saat suasana bertambah mencekam karena keheningan yang melanda. Bahkan Kei bisa mendengar suara detak jantung nya yang semakin keras.


Pria yang membawa pistol itu perlahan bergerak menuju pinggir tanpa suara untuk mengecoh wanita yang dari bawah.


"ARRRGGGHHH!!!" sebuah teriakt terdengar dari pria itu, sebelum dia terjatuh ke lantai. Di bawahnya, sudah tercipta sebuah genangan darah yang mengalir dari kakinya. Dengan kata lain, kaki bagian bawahnya sudah terlepas dari lututnya!!


Kei terkejut, dan sedikit terjatuh ketika melihat itu. Dia baru menyadari bahwa ada sebuah pedang berdarah di ujung kaki pria itu.


("Orang itu, dia mengerikan! Bahkan aku tidak melihat atau merasakan apapun tadi.") batin Kei berteriak.


Dia kemudian sadar, bahwa jika wanita itu membunuh pria pembawa senjata api, maka senjata pria itu akan menjadi milik wanita itu. Dia tidak bisa membayangkan betapa mengerikan wanita itu.


"Kalau sudah begini!!" Kei berteriak, dan dia menyiapkan monster bola yang ada di tangannya.


Dia mencengkeram erat monster itu, dan melemparnya sekuat tenaga ke arah kedua orang yang sedang berkutat untuk memperebutkan hidup masing masing.


Wanita itu sadar, dan dengan cepat membelah monster itu. Tapi itu adalah pilihan yang salah karena monster itu dengan segera meledak.

__ADS_1


Dia terkejut, tapi memiliki reflek yang bagus dan melompat ke samping dengan cepat, menghindari ledakan itu.


[Anda mengalahkan 1 Player! Tersisa 2 Player!!]


__ADS_2