
"Aku asal bicara karena terlalu melamun! Jadi, apa yang harus aku beli? Aku tidak ada hal khusus yang harus aku beli di Shibuya. Bagaimana ini?" tanya Yuna sambil berkeliling di kamarnya.
Dia mengambil handphone, lalu membuka beberapa hal, mencari di mesin pencarian beberapa hal yang menurutnya bisa dibuat alasan.
"Ahh, kafe? Humm menu baru. Ya! Mari kita buat itu sebagai alasan!" kata Yuna.
Yuja mengganti baju, dan mengambil tas kecil miliknya. Itu berisi uang dan beberapa benda lain seperti handphone dan beberapa benda yang tidak akan diketahui pria.
"Kak! Belikan aku parfait di kafe ini!" kata Yuna ketika bertemu dengan Kei yang sudah menunggunya di bawah.
"Heh? Parfait? Kenapa kita harus pergi sekarang? Apakah itu edisi terbatas? Bisakah kita pergi besok?" tanya Kei dengan wajah yang bingung.
Kei melongok, melihat handphone milik Yuna yang menampilkan sebuah Parfait dengan beberapa topping yang terlihat enak. Selain itu, penampilan yang lucu juga salah satu saya tarik parfait itu.
"Humm? Kita tidak jadi berangkat? Apakah ada masalah?" tanya Yuna.
Walau begitu, mimik wajahnya berubah, dan Kei menyadari itu. Melihat adiknya yang terlihat sedih, Kei tidak bisa merasa berat karenanya.
"Y-ya, bisa dibilang semacam itu..." Kei tersenyum aneh.
"Hehh... Apa itu dengan Myan? Itu benar benar mengganggu. Tapi kalau begitu mau bagaimana lagi. Kau tidak pernah berjanji untuk mentraktir ku, jadi aku akan pergi sendiri." jawab Yuna.
Itu membuat Kei membelalakkan mata segera. Awalnya, dia ingin membujuk Yuna untuk tidak berangkat hari ini, menghindari hukuman Quest.
Tapi ternyata ini tidak bisa dihentikan dengan mudah.
"Baiklah, Yuna. Aku ikut! Biarkan aku ikut. A-ahh, itu... Ya!! Kau tahu, ini adalah hari Minggu, dan di Shibuya pasti akan sangat ramai. Dan kau mengenal kakakmu. Aku tidak tahan di tempat ramai." kata Kei nyengir sambil mencari alasan.
"Tapi anggap saja itu bayaran untuk yang tadi, jadi itu tidak apa." lanjut Kei sambil mengacungkan jempol.
Itu membuat Yuna seketika berwajah cerah.
(Yahh, tidak akan ada sesuatu yang terjadi jika kita menghindari jalan jalan yang aneh, atau beberapa flag yang memicu hal buruk terjadi.") pikir Kei.
Dengan begitu, mereka berangkat ke kafe yang menjual Parfait edisi terbatas itu.
("Aku tidak paham kenapa wanita menyukai makanan manis seperti Parfait. Hanya saja, kau tahu? Parfait cukup mahal. Selain itu, itu banyak mengandung gula, yang pasti akan membuatmu gendut. Bukankah apa wanita takut mereka akan menjadi gendut?") tanya Kei dalam hati.
__ADS_1
(Kau tidak mengerti, Master. Wanita selalu punya tempat khusus untuk makanan manis. Dan jangan katakan kata gendut pada wanita! Itu adalah kata terlarang.) Yuki yang menjawabnya.
"Ngomong ngomong, Yuki. Apakah kau tahu dimana itu akan terjadi?" tanya Kei berbisik.
(Saya tidak tahu, Master. Saya hanya bisa bilang, tolong berhati-hati.) jawab Yuki.
"Sepertinya sudah lama kita tidak pergi bersama. Rasanya agak aneh ketika sekarang kita akan pergi ke sebuah kafe bersama." Yuna berusaha untuk memulai pembicaraan.
"Yahh, mungkin memang benar. Kau tidak mengajak ku untuk pergi, kau tahu? Kau sering keluar menonton film, tapi kau tidak pernah mengajak ku sekalipun. Jadi siapa yang salah disini?" jawab Kei sambil menyilangkan tangan.
"Siapa yang tahu kakak suka hal seperti itu? Aku kira kakak hanya menyukai hal hal seperti novel dan Game!!" jawab Yuna.
Mereka berdua berhenti di halte bus. Tentu ini adalah halte bus yang tidak terlupakan oleh Kei, karena hal hal gaib yang dia alami selama ini dimulai dari sini.
Kei lagi lagi melihat jam di smartphone nya. Itu menunjukkan pukul 07:26.
Setelah menunggu beberapa menit, bus yang ditunggu pun sampai. Mereka hanya berbicara tidak terlalu banyak satu sama lain. Di sisi Kei, dia sangat fokus untuk menjaga Yuna, sehingga dia mengawasi gerak gerik setiap orang yang ada di bus.
Dan disisi lain, Yuna merasa agak gugup, karena dia jarang pergi dengan kakaknya.
"Yuki. Ini benar benar aman. Aku tidak tahu apakah ancaman itu akan benar benar datang. Selain itu, ini adalah tempat umum. Tidak mungkin akan ada orang yang berani macam macam, bukan?" bisik Kei.
Kei memasang wajah bingung sekarang. Tapi tetap dia mengawasi sekeliling dengan teliti.
"Kak? Kau bicara dengan siapa? Teman khayalan?" tanya Yuna tiba tiba.
"Yahh, seperti itulah." jawab Kei mudah. Itu membuat Yuna sedikit tertawa, dan Yuki protes karena dia bukanlah sekedar khayalan belaka.
[Quest Darurat! Cegah Lina Kanata untuk naik kereta di stasiun Shinjuku! Batas waktu: 08:00. Tingkat kesulitan: A. Poin: 40. Hukuman jika gagal: Kematian Lina Kanata.]
Itu bagaikan petir yang menyambar Kei di teriknya matahari. Dia serasa kehilangan kekuatannya, menatap kosong ke arah Yuna.
"Yuki... Apa aku tidak salah dengar?"
(Tidak, Master) jawab Yuki berat.
"Apakah Lina Kanata yang dimaksud Quest itu adalah ibuku?" tanya Kei lagi.
__ADS_1
(Tidak ada keraguan, Master. Saya juga sudah mendapat informasi tentang Quest ini. Menurut informasi, kereta itu akan dibajak oleh seseorang, dan dia mengambil sandera. Dan sandera itu adalah Lina Kanata, ibu Master.) jawab Yuki, memperjelas semuanya.
"Sial!!" Kei berteriak marah, lalu berlari ke arah pintu bus dengan cepat. Dia bahkan lupa dia sedang bersama Yuna sekarang.
"Kak! Kau mau kemana?!!" Yuna segera menghentikan kakaknya.
"Pak, maaf. Tapi saya harus turun disini. Ini keadaan darurat!" izin Kei ke supir yang ada di depan. Supir itu memandangnya bingung, tapi menurut karena melihat wajah Kei yang khawatir.
Bus itu menurunkan Kei dan Yuna di trotoar, depan sebuah toko kecil yang tidak terlalu ramai. Bisa dibilang, itu sepi.
"Hei hei hei! Ada apa tiba tiba? Kenapa kau tiba tiba turun dan mengumpat kesal seperti itu? Apakah ada sesuatu yang darurat? Kalau ada, katakan padaku!!" teriak Yuna. Dia melihat ke arah Kei, yang terlihat terburu-buru.
("Yuna memang luar biasa. Dia bisa tahu ada apa hanya dengan melihat wajahku. Tapi bagaimanapun dia tidak akan percaya jika aku menceritakannya. Bagaimana mengatakannya...")
"Kau tidak akan mengerti, Yuna." kata Kei lantas berlari meninggalkan Yuna yang memandang Kei pergi, mematung.
Yuna melamun beberapa saat, sampai akhirnya Kei hilang dari pandangannya. Setelah itu, dia baru sadar bahwa dia ditinggal lari kakaknya.
"Heh?! Apa maksudnya aku tidak akan mengerti? Memang ada urusan apa? Ahhh!! Aku benar benar tidak mengerti!! Ada baiknya aku mengejarnya!! Dengan stamina kakak, dia pasti belum jauh!!" teriak Yuna sambil menyiapkan tangan, lalu bersiap untuk berlari mengejar Kei.
Tapi nyatanya, Kei terus berlari tanpa mengenal lelah, justru bertambah cepat setiap kali dia menengok ke handphone nya, mengecek jam berapa.
"Yuki! Coba ulangi detail Quest!" teriak Kei sambil berlari.
(Baik. Quest mengatakan untuk mencegah Lina Kanata untuk naik kereta. Batas waktu sam-)
"Cukup, terima kasih. Berarti, yang harus kita lakukan hanya perlu mencegah ibu untuk masuk kereta itu, bukan? Kita tidak membuat ibu membatalkan perjalanan?" sela Kei.
(Anda benar Master. Tapi...)
"Ya. Ibu adalah orang yang sangat pekerja keras. Dia tidak ingin masuk terlambat kerja sekalipun dalam hidupnya. Dia pasti tidak akan mau jika aku membujuknya menggunakan transportasi lain. Bagaimana, Yuki. Apa kau ada ide?!" tanya Kei pada Yuki.
Mereka berdua seperti saling membaca pikiran satu sama lain, dan bisa bekerja sama dengan baik, seperti memang sudah mengenal sangat lama.
Itulah kenapa Kei meminta saran Yuki.
(Saya ada beberapa cara, Master. Tapi itu cukup beresiko. Selain itu....) Yuki terdengar ragu.
__ADS_1
(Sepertinya deskripsi dari Quest pertama mulai terjadi sekarang, Master.) kata Yuki. Itu langsung membuat Kei berhenti, dan membelalakkan mata, terkejut.
"Yuna!!!" teriaknya.