
Kei yang sudah menghabisi semua orang yang ada di gang itu segera berlari keluar. Dia tak lupa menghilangkan jejak yang bisa berbahaya untuknya di lain hari.
"Yuki. Dimana Yuna sekarang?" tanya Kei.
(Di depan gedung perbelanjaan, Master. Lurus saja, dan Master akan melihatnya.) jawab Yuki. Kei menurut, dan berlari lurus sampai akhirnya dia melihat seorang wanita yang menunggunya di pinggir jalan.
Tak disangkanya, itu adalah pusat perbelanjaan yang sering mereka datangi. Kei bahkan tidak tahu bahwa gedung itu memiliki atap terbuka.
Apapun itu, Kei segera menghampiri Yuna, dan menggandeng nya cepat.
"Yuna! Terima kasih. Sekarang masuklah, tunggu aku di restoran keluarga yang biasa. Aku ada urusan sebentar, jadi tolong jangan ikuti aku!" kata Kei cepat.
Walaupun Yuna benar benar tidak mengerti, dia hanya mengangguk.
07:56
Mall itu adalah tempat yang sering Kei kunjungi untuk membeli beberapa bahan makanan. Terkadang Yuna juga ikut bersamanya, dan mampir sebentar di sebuah restoran keluarga. Jadi, Yuna tahu restoran mana yang dimaksud Kei.
Sementara itu, Kei berlari ke arah lift, ingin segera ke atas atap.
(Master. Lift akan lama. Saya punya ide lain.)
"Kau benar. Apa itu? Tangga?"
(Master benar. Tapi saya ada saran agar Master bisa cepat naik ke atas.) kata Yuki lagi. Kei tampak berpikir sesaat, tapi segera menggeleng dan berlari ke arah tangga darurat.
"Apapun itu, aku mengandalkan mu, Yuki!!" kata Kei lagi.
Dia dengan cepat menemukan tangga darurat. Tapi itu akan membutuhkan waktu lama untuk bisa naik ke atas. Kei melihat itu menghela nafas sesaat, menguatkan diri.
(Master. Jangan berlari. Lompat saja.)
"Haaahh??!!!"
(Ya, Master. Loncat dari bawah ke setiap tangga di atas. Dengan kekuatan Master sekarang, Master bisa melakukannya dengan mudah.) kata Yuki.
Kei sedikit tidak percaya, tapi dia tahu ini bukan waktunya untuk ragu.
Dia menaiki pagar pembatas yang terbuat dari besi, dan bersiap melompat. Kei berdoa sesaat sebelum melakukan ini, dan ketika dia melakukannya, dia agak menahan teriakannya.
?!!
Kei terkejut ketika tangannya berhasil menggapai benda dingin yang panjang.
"Aku berhasil mencapainya?" tanya Kei keheranan.
(Aku sudah bilang, Master. Tetap lakukan itu sampai atas. Kalau Master mau, Master bisa melakukannya lebih cepat.) jawab Yuki.
"Baiklah! Maaf aku meragukanmu, Yuki!!" kata Kei.
Dia mulai melompat secara silang, dari lantai satu ke lantai lainnya.
Jika dilihat, dia seperti sedang melakukan parkour. Itu memang bisa dilakukan oleh orang biasa, tapi dengan latihan bertahun tahun. Untuk bisa dilakukan orang seperti Kei, itu membuktikan perubahan besar yang dialami Kei.
07:58
__ADS_1
"Entah bagaimana aku berhasil sampai sini." kata Kei sedikit kelelahan.
(Master. Apa yang ingin anda lakukan?) tanya Yuki.
"Entahlah. Yang bisa aku pikirkan hanya menembakkan peluru AWM dari sini. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Mungkin terdengar bodoh ketika aku mengatakan ini."
"Tapi aku benar benar bergantung padamu untuk menemukan sesuatu yang bisa aku lakukan. Apakah aneh untukku terlalu percaya padamu?" tanya Kei.
Dia membisikkan Inventory, dan mengambil senjata sniper, AWM miliknya.
Sementara itu, terdengar suara senang dari Yuki. Walau Kei tidak bisa melihat wajah Yuki, dia tahu bahwa Yuki sedang tersenyum.
(Tidak salah untuk mengandalkan ku, Master. Justru aku senang karena diandalkan Master.) jawab Yuki.
Kei menutup mata, senang dengan jawaban Yuki. Tapi dia segera fokus ke senjata di tangan nya, mengaturnya dan duduk dengan menggunakan siku tangan sebagai penyangga. Dengan kata lain, dia sudah dalam posisi untuk menembakkan peluru.
Tapi Kei benar benar tidak tahu harus menembak ke bagian mana, dan hanya bisa berdoa.
(Master. Gunakan Soul Eater secara terbalik kepada peluru Master. Itu akan menambah kekuatan peluru itu.) Yuki tiba tiba menyela Kei sebelum dia mulai menembak.
"Hah? [Soul Eater] terbalik? Aku-" kata kata Kei terhenti, tapi dia mengangguk dengan wajah yakin.
"Baiklah! [Reverse Soul Eater]!!" teriak Kei sambil mengeluarkan satu peluru dari AWM miliknya, dan menggunakannya untuk menyalurkan skill miliknya.
Kei merengkuh pelan ketika dadanya terasa sakit dan mulai terasa kosong, tapi dia menahannya sambil membuka status miliknya.
07:59
Kei berhenti menyalurkan Soul Point miliknya ketika itu mencapai angka 100, dan menilai peluru di tangannya.
Kei tersenyum melihat penjelasan dari peluru yang terlihat kehijauan di tangannya. Itu mengeluarkan aura tidak mengenakkan, tapi itu bagaikan sebuah harapan untuk Kei.
"Baiklah. Yuki! Beritahu aku gerbong yang kosong!" tanya Kei.
(Gerbong bagian dapur kosong, Master!)
"Oke! Death Bullet! Hancurkan gerbong dapur!! Sekalian, hancurkan rel dan beberapa gedung yang kosong! Minimal kan korban, hancurkan benda yang tak hidup disana!!" perintah Kei.
Suara klik terdengar, dan beberapa detik kemudian, Kei menarik pelatuk senjata itu.
....
Terjadi jeda sesaat, sebelum akhirnya~
BLAAAZZTTTT!!!!
Sebuah cahaya hijau keluar dari ujung senapan Kei, tapi itu tidak berjalan lurus begitu saja, justru terbang ke atas, dan menari sesaat. Walau begitu, itu tetap terbang ke arah yang sudah ditentukan Kei.
08:00
BOM BOM BOM BOM BOM!!!!
Peluru itu jatuh tidak hanya satu, tapi seperti membelah diri dan menjadi beberapa bagian yang mengincar tempat yang berbeda!
__ADS_1
Ledakan beruntun terjadi di stasiun Shinjuku, yang membuat alarm keamanan berbunyi. Suasana menjadi panik, dan semua orang dengan cepat berhambur keluar. Beberapa sirine polisi juga dengan cepat terdengar.
Sedikit kepanikan terjadi. Kereta yang sedang berhenti juga dengan segera mengeluarkan semua penumpangnya. Dan tentu, calon penumpang juga segera diamankan.
Polisi yang berjaga juga bergerak cepat, mengamankan lokasi kejadian dan mengevakuasi warga, juga menenangkan warga yang panik agar tidak terjadi kerusuhan yang lebih besar.
Kei terduduk melihat itu, sedikit tidak percaya apa yang dia lakukan barusan.
[Quest Darurat selesai! Anda menerima 40 Poin!!!]
Terdengar suara pengumuman di kepala Kei. Itu membuat Kei dengan segera jatuh telentang, merasa lega setelah itu semua.
"Yuki, apakah kita berhasil?" tanya Kei pelan.
(Ya. Master berhasil.) jawab Yuki. Itu membuat air mata Kei sedikit menetes.
"Terima kasih. Terima kasih, Yuki! Kalau tidak ada kau, aku tidak akan bisa melakukan ini semua! Terima kasih!" kata Kei sambil mengelap air matanya yang keluar karena bahagia, dan mulai bangun. Dia tahu bahwa dia berhasil menyelamatkan kedua orang terpenting di hidupnya.
(Saya sejatinya adalah bagian dari Master. Jadi ini adalah pencapaian Master.) jawab Yuki.
"Jangan terlalu formal padaku. Dan juga, kalau kau bilang begitu, aku merasa seperti memiliki dua kepribadian, kau tahu?" ucap Kei sambil memasukkan kembali senjata AWM miliknya ke Inventory.
"Kakak!!" terdengar suara teriakan seorang wanita dari belakang Kei.
Itu adalah Yuna yang berlari ke atas gedung, karena dia takut akan suara ledakan barusan. Tampaknya kejadian tadi masih membuat emosi Yuna tidak stabil dan membuatnya jadi trauma?!
Kei tersenyum sedikit, dan berdiri, berjalan perlahan menghampiri Yuna.
"Kak! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku-"
"Yunaa!!" Kei yang berjalan pelan itu sekarang sampai di depan Yuna, dan memeluknya erat Yuna untuk mendekapnya di dadanya. Itu sedikit membuat Yuna terkejut, tapi dia merasakan air mata kakaknya di kepalanya.
"Syukurlah! Syukurlah kau baik baik saja!!" kata Kei sambil memeluk Yuna semakin erat.
Yuna yang mendengar itu tak kuasa menahan tangis. Dia membalas pelukan Kei, dan menangis mengingat kejadian tadi. Dia benar benar bersyukur, kakaknya tidak meninggalkan nya atau apapun. Dia benar benar takut, sesuatu yang buruk terjadi.
"Ehh, sepertinya sudah cukup sesi menangis nya. Ayo kita beli parfait. Sepertinya aku butuh asupan gula." kata Kei berusaha menjauhkan Yuna.
Kei juga berusaha terlihat lucu dan seperti tidak ada apapun yang terjadi, tapi dia menyembunyikan semuanya.
"Tidak." Yuna menggeleng pelan.
"Biarkan aku seperti ini sedikit lebih lama." lanjut Yuna seraya memeluk Kei lebih erat.
"A-ahh, baiklah....." jawab Kei tersenyum. Dia juga sedikit mengelus kepala Yuna, karena bagaimanapun, itu adalah hal yang berat baginya.
("Yuki. Kau tahu siapa Yuna, bukan? Apakah aku sudah menjadi kakak yang baik?") tanya Kei dalam hati.
(Ya, saya tahu, Master. Mari kita berdoa agar Yuna tidak tahu dan terus menganggap Master seperti itu. Itu juga akan baik untuknya. Untuk Master, sepertinya Master bukan kakak yang baik.) jawab Yuki.
("Hehh?! Apa maksudmu?!")
(Master sempat akan meninggalkan nya.)
("Ayolah... Aku hanya bimbang saat itu. Kau tahu, aku harus bertaruh dengan nyawa orang lain selain nyawaku disini.") elak Kei.
__ADS_1
Yuki mendengar itu hanya tertawa dalam pikiran Kei, sementara Kei tersenyum pahit.