System: Death Game!

System: Death Game!
Bab 13: Toko!


__ADS_3

"Ahhh, ini melelahkan."


(Betul sekali.)


"Tunggu. Yang melakukan semua ini adalah aku. Kenapa kau juga meras ma capek? Apa yang sebenarnya kau lakukan?" tanya Kei menanggapi pernyataan Yuki.


(Master.... Aku lelah berfikir. Aku juga memproses beberapa informasi bersamaan, itu melelahkan.) jawab Yuki.


Kei tidak protes dengan itu, dan hanya tengkurap, mencium bantalnya.


"Kau benar. Aku entah bagaimana bisa menyelamatkan mereka berdua."


"Tapi bersamaan dengan itu, aku sadar. Bahwa jika tidak ada aku dengan Quest itu, aku mereka tidak akan mengalami bahaya seperti itu. Jadi jelas, ini semua adalah salahku." ucap Kei pelan sambil memeluk bantalnya semakin erat.


Tidak ada suara apapun, karena memang di rumah hanya ada Yuna dan Kei. Itu pun Yuna berada di bawah, menonton televisi. Sedangkan Kei di dalam kamarnya, di atas.


(Kurasa itu agak kurang tepat, Master.)


(Apapun yang Master pilih, apapun yang terjadi, hal hal yang ada dalam Quest akan selalu terjadi. Kami para System hanya mempercepat terjadinya hal itu.) kata Yuki.


"Kalian bisa melakukan itu?" tanya Kei cepat.


(Ya. Jadi, walaupun Master mati saat di kecelakaan itu, kejadian seperti barusan akan tetap terjadi. Master harusnya bersyukur, karena Master memilih untuk hidup, setidaknya berhasil mencegah hal buruk itu pada mereka.) kata Yuki panjang lebar.


Kei tersenyum mendengar itu, lalu berkata. "Kau adalah partner yang luar biasa. Kau menghiburku, bukan? Yuki. Terima kasih." kata Kei pelan.


DRIINGGGG!!!


Smartphone Kei berbunyi.


Kei sedikit cemberut, dan dengan malas beringsut mengambil smartphone nya yang dia taruh di meja yang ada di seberang.


"Siapa ini? Dan pesan Line? Aku kira aku mendapat notifikasi dari System lagi." kata Kei seraya menghela nafas.


Myan: Kei, kita putus.


Seketika, Kei terkejut setengah mati mendengar itu. Dia segera membaca pesan itu sekali lagi, dan benar.


Kei: Kenapa?!!


Myan: Kau masih tanya kenapa? Dasar orang bodoh! Apa kau tolol? Apakah otak mu masih ada pada tempatnya?


Kei: Apa maksudmu?!!

__ADS_1


Myan: Kau tidak pernah mengajak aku pergi atau apapun! Percuma aku berpacaran denganmu jika kau tidak pernah membelanjakan ku sesuatu!


Kei: Aku pernah mengajakmu. Bukankah kemarin aku mengajakmu pergi? Dan juga, waktu itu beberapa hari lalu aku juga mengajakmu jalan, tapi kau menolak karena alasan sekolah. Aku minta maaf, tapi bukankah jangan buru buru putus seperti ini?


Seketika, itu menjadi balas membalas pesan antara Kei dengan pacarnya.


Yahh, walau dibilang dia pacarnya, tapi di benar benar tidak dianggap. Dia banyak permintaan, sedangkan Dia sendiri tidak mau untuk diajak pergi.


Myan: Persetan dengan itu! Kita putus.


Dengan begitu, nomor Kei pun di blok....


"APA SALAHKU SIALANNN?!!!" Kei berteriak kerasa setelah itu semua terjadi.


Kei sedikit meringkuk, menghela nafas.


(Tenanglah, Master. Ada Yuna dibawah yang mendengar mu setiap saat. Selain itu, kenapa Master mau bersama perempuan seperti dia?) tanya Yuki.


Mendengar itu, Kei hanya menarik nafas, seperti dunia nha sudah hancur karena percakapan barusan. Tapi tetap, dia tampak akan menceritakan nya.


"Kau tahu? Kami beda sekolah, tapi dia sangat populer di sekolahnya. Dan saat dia mengunjungi sekolah ku untuk sebuah acara, disanalah kami bertemu. Dan entah kenapa aku menembaknya, dan dia mengatakan ya. Itu semua terjadi 2 Minggu lalu..."


"Itu semua terasa nostalgia..." lanjut Kei.


(Kau tahu, Master? Aku adalah system. Aku tidak peduli dengan itu. Dan lagian, Master baru bersamanya 2 Minggu, bukan? Itu bukanlah hal yang sulit untuk melupakan nya!) kata kata Yuki berkebalikan dengan nada bicara nya yang terdengar kesal.


(Hei hei hei! Berhentilah menjadi Sad Boy! Master tidak harus memikirkan hal itu, bukan?) Yuki dengan cepat menanggapi itu.


"Hufft. Kau benar, Yuki. Ini mungkin yang terbaik. Lagipula aku mungkin tidak akan bertahan hingga tahun depan."


"Tapiii!!! Aku juga ingin merasakan jatuh cinta dan dicintai oleh orang lain juga!! Setidaknya.... Setidaknya sebelum aku mati!!!" kata Kei setengah berteriak seperti orang tolol.


(Jangan teriakkan pikiran anehmu keras keras. Master bisa mencemari pikiran Yuna.)


(Lebih baik, Master berusaha untuk mencintaiku. Karena apapun yang terjadi, kita akan sampai akhir bersama, dan mati bersama. Walaupun yang mati hanya Master, dan aku tidak. Tapi setidaknya kita bersama sampai akhir!!) kata Yuki.


"Yahh kalau itu sudah jelas..."


(Eh? Ahh.. Umm. Benar.....)Yuki tiba tiba menjadi gagal setelah mendengar itu.


Suasana menjadi hening lagi, dan Kei yang sedikit tidak bersemangat melempar smartphone nya ke kasur, dan sekalian membanting dirinya ke tempat yang sama. Dia kembali memeluk bantal, sambil sedikit berbicara tidak jelas.


Yuki hanya diam, tidak memberikan tanggapan apapun. Sepertinya dia sedang mencari cara untuk mengalihkan perhatian Kei.

__ADS_1


(Oh ya, Master! Master punya banyak hadiah yang belum Master buka. Bukanlah Master mengatakan akan membukanya sekarang?) tanya Yuki.


Seketika, mata Kei membuka lebar. Dia dengan segera melompat dan berganti posisi menjadi duduk dengan kaki bersila.


"Kau benar. Aku lupa."


"Kalau begitu, bagaimana caraku membuka itu semua, Yuki? Apakah ada hal khusus yang harus aku lakukan?" sambung Kei.


(Bidang penglihatan Master sekarang pasti sudah berubah, bukan? Di sana ada sebuah tanda berbentuk surat, bukan? Itu pasti ada titik merah. Jika Master memfokuskan kesadaran Master ke sana, maka Master bisa membuka hal selanjutnya. Itu juga berfungsi sama untuk yang lainnya.)


Kei yang mendengar itu mengangguk pelan, lalu melaksanakan apa yang Yuki katakan.


Dengan memikirkan untuk membuka pesan, itu benar benar terbuka, lalu beberapa log misi terlihat di depan wajah Kei. Dia sudah tidak terkejut lagi, karena Kei sudah terbiasa.


Beruntung untuk Kei, karena dia sudah sering memainkan beberapa game dengan jenis seperti ini. Jadi dia sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


Dia meng-klaim semua hadiah yang ada di kotak surat itu, dan menelitinya lagi.


"Ugh, Yuki. Aku sudah mengambil semuanya. Tapi kenapa aku merasa tidak ada yang berubah pada diriku? Maksudku, rasanya semuanya biasa saja." kata Kei.


(Semua itu masuk ke inventory, Master. Dan poin sudah masuk. Total Poin: 250) jawab Yuki.


"Humm. Jadi begitu. Eh, ngomong ngomong, aku hanya mengerjakan 2 Quest. Yang pertama, Quest Yuna, dan Quest darurat. Quest Yuna aku menerima 20, dan Quest Darurat aku menerima 40. Lalu bagaimana dengan 190 lainnya?" tanya Kei mengernyitkan dahi nya.


(Hadehh... Apakah Master benar benar membaca semua surat tadi?) Yuki terdengar lelah.


(Master mendapat hadiah 50 poin karena lolos dalam tes kelayakan menjadi Player. Dan 140 sisanya, berasa dari 4 Quest tersembunyi lainnya.) jawab Yuki.


Kei membuka pesan lagi, kali ini membacanya dengan cermat. Lalu dia menemukan apa yang dimaksud Yuki.


"Humm. Kau benar, Yuki. Jadi aku bisa menukarkan poin ini ke Shop, lalu...." Kei menutup pesan di depan wajahnya, dan mencoba mencari tombol menu, dan masuk ke bagian Shop. Kei penasaran apa yang ada di dalam shop System ini.


Setidaknya, Kei berdoa semoga tidak ada benda benda aneh yang dijual disini.


Saat Kei membukanya, Kei terkejut. Ada banyak benda yang dijual di sana, beberapa hal khusus adalah sebuah material, ada juga perlengkapan, dan tentu saja, ada senjata di sana. Tapi yang menarik perhatian Kei bukan itu.


"Poin ini bisa ditukarkan dengan uang?!!" kata Kei setengah berteriak. Dia berusaha menahan teriakannya, agar tidak terdengar siapapun.


Dia mengamati lagi, dan menemukan bahwa itu benar seperti yang dia duga.


"Tertulis disini bahwa setiap poin nya dapat ditukar menjadi 10.000 Yen, maka jika semua poin yang ada aku tukar menjadi uang, maka aku akan memiliki 2.000.000 Yen!" teriak Kei kegirangan.


Note: 10.000 Yen\= 1,4 juta Rupiah. 2.000.000 Yen\= 280.000.000 juta Rupiah :)

__ADS_1


Dia tidak bisa membayangkan apa yang dia bisa lakukan dengan uang sebanyak itu. Padahal, itu bukanlah yang yang sangat besar untuk seseorang yang tinggal di Tokyo. Maklum, dia hanyalah orang biasa yang kurang baik dalam ekonomi.


"Gajiku jika bekerja di toko sekitar 1000 Yen per jam. Kalau aku sehari bekerja 8 jam, dibandingkan dengan Quest terkecil ku yang mendapat 20 Point, itu sangat timpang. Walaupun aku yakin, tidak setiap hari aku mendapat Quest, tapi hanya segini saja sudah cukup untuk kami semua!!" kata Kei dengan senang.


__ADS_2