
[PvP selesai! Pemenang, Kei Kanata!!]
Terdengar suara mekanis yanga familiar di telinga Kei. Dengan itu, Kei merasakan sekelilingnya terdistorsi, sama seperti pertama kali dia dibawa saat tes kelayakan dulu. Bedanya, kini dia dalam keadaan sadar.
Tapi, perasaaan terdistorsi itu benar bener memuakkan bagi Kei, membuatnya jatuh berlutut sampai proses itu selesai.
Setelah terjadi cukup lama, akhirnya distorsi ruang itu berhenti, menyisakan Kei yang memegang kepalanya, mencoba mempertahankan kesadarannya
"Kuhh. Dimana aku sekarang? Sepertinya aku tidak berubah posisi terlalu jauh, bukan?" tanya Kei pelan pada dirinya sendiri.
(Master. Sepertinya anda kembali ke dunia anda. Untuk tempatnya, ini ada di dalam sekolah Yuna.) jelas Yuki segera.
Itu menyadarkan Kei, membuatnya menoleh cepat ke kanan dan kiri untuk mengecek keadaan sekitar. Setelah yakin bahwa di sekelilingnya tidak ada orang, Kei menghembuskan nafas lega.
Dia sedikit terkejut ketika menemukan dirinya dikelilingi barang-barang yang dia keluarkan saat bertarung dengan Sato. Dari seragam yang compang camping, senjata yang dia gunakan, sampai tas sekolah yang bahkan Kei sendiri lupa akan keberadaanya.
"Ahh, aku pikir aku sudah kehilangan ini!!" entah kenapa Kei bergegas mengambil dan memeluk AWM nya. Tidak hanya itu, dia juga segera mengobrak-abrik isi tas nya, memastikan apakah ada sesuatu yang hilang atau tertinggal.
"Humm... Sepertinya tidak ada yang tertinggal. Apa dunia itu memang benar benar harus kosong dari benda dunia ini? Untuk mayat Sato, aku yakin dia "di hapus" oleh sistem jadi tidak apa." bisik Kei.
Tapi begitu dia melihat tangannya, itu bergetar. Badannya juga menggigil, termasuk mulutnya.
"Apa apaan perasaan ini?"
"Kenapa aku takut?" Kei meringkuk, dan dia merasakan air matanya mulai mengalir. Dia yang menyadari itu hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Apa aku, merasa bersalah karena membunuh orang?" lanjut Kei.
Tidak ada jawaban dari Yuki, mungkin membiarkan Kei untuk menjawab pertanyaannya sendiri. Namun Kei tidak terlihat baik, justru dia terlihat jatuh. Berbeda dengan saat di tempat seleksi dan saat menyelamatkan Yuna, kali ini tempatnya adalah kota yang dia sebut rumah.
Memang sempat Sato hancurkan saat itu, tapi penampilan di siang hari masih sama persis dengan sebelumnya. Itu seperti mengingatkan Kei lagi bahwa ini adalah kenyataan.
Bagaimanapun, Kei juga hanyalah siswa SMA biasa sampai beberapa hari yang lalu, jadi tubuhnya juga belum terbiasa dengan ini.
(Master....) Yuki juga merasakan apa yang Kei rasakan, berusaha menghibur. Tapi Kei tidak bergeming karena sisi naif miliknya sekarang mengambil alih dirinya. Karena bagaimanapun, manusia selalu memiliki sisi ini.
(Master, tidak. Kei. Mungkin aku tidak berhak mengatakan ini, tapi dunia memang tempat seperti itu. Hukum alam selalu berlaku dimanapun, dimana yang kuat selalu memakan yang lemah. Jika yang lemah tidak melakukan sesuatu, itu sama seperti hanya menunggu ajal menjemput!)
(Tidak berbeda dengan membunuh orang, dunia ini juga sama kejamnya. Orang yang lebih berkuasa menggigit yang tidak! Yang kaya bertambah kaya, dan yang miskin bertambah miskin. Itu tidak akan berubah!)
__ADS_1
(Aku pikir ini justru lebih baik, karena memberikan akhir yang lebih cepat, daripada dunia nyata yang memberikan hasil akhir yang sama, tapi dengan cara yang bertele-tele.) lanjut Yuki lagi.
Merupakan pernyataan yang mengerikan, tapi itu semua memang benar adanya.
Kei yang mendengar itu sedikit tersentak, ketika dia mengingat sesuatu di masa lalu. Itu hanya membuatnya tersenyum pahit.
"Sejauh mana kau menggali ingatan ku?" tanya Kei.
(Sejauh yang bisa kau ingat, Kei. Lagipula aku harus menjadi lebih dekat dengan Master ku, jadi aku juga harus mengerti tentangnya!) jawab Yuki dengan semangat.
Kei menghela nafas pelan, lalu mengangguk.
"Ya. Bukannya aku tidak pernah melakukan ini. Bagaimana mengatakannya...... Mari lakukan seperti dulu." kata Kei lagi.
Jika ada orang, pasti mereka akan bertanya, apa maksudnya lakukan seperti dulu?! Tapi tidak ada orang disini, dan lagipula Kei tidak akan menjawab pertanyaan itu.
Apa yang sebenarnya ada di masa lalu Kei? Tidak ada yang tahu.
Kei mengambil smartphone nya, dan melihat jam.
"Gawat! Sudah sebegini siang?! Mana pakaianku rusak semua! Tidak, tunggu. Aku ada jersey olahraga hari ini, jadi lebih baik aku pakai dulu. Di sekolah aku akan membeli pakaian baru!" teriaknya.
(Hufft, Master. Tenanglah sedikit. Tidak ada hal baik jika kau terburu buru.) tanggap Yuki.
Tapi Kei yang sempat bertanya pada penjaga sekolah membuatnya bingung. Kenapa ada anak SMA di sini? Dan lagi, kenapa pakaiannya compang camping seperti itu?
Namun Kei sudah tidak memperdulikan itu.
***
Itu adalah sebuah kamar yang terlihat mewah, dengan kasur king size dan kelambu yang mengelilinginya. Juga, kamar yang luasnya sekitar 8 × 8 meter, dengan lemari besar dan kamar mandi yang berbeda lagi.
Ada seperangkat barang elektronik, seperti PC yang disambungkan ke handphone, lengkap dengan meja dan kursi yang juga terlihat mahal.
Di atas kursi itu ada seseorang yang duduk dengan menggunakan headphone di kepalanya, sambil tersenyum menatap monitor yang menyala.
"Kei Kanata. Humm. Nama yang bagus. Selain itu, avatar nya juga lucu! Coba tebak, siapa dia. Sepertinya dia adalah murid SMA. Berarti dia lebih muda dari aku? Itu menyenangkan!" terdengar suara manis yang sedang berbicara sendiri.
Tidak, karena dia menggunakan perlengkapan headphone dan tanda profil di komputernya, dia sedang berbicara dengan seseorang. Dan dari suaranya, terdengar bahwa dia adalah seorang wanita
__ADS_1
"Dia juga berhasil mengalahkan si Rookie Killer itu, berarti dia cukup hebat. Aku malas untuk berhadapan dengan robot itu lagi nyannn...." lanjutnya dengan meniru suara kucing.
"Aku tidak peduli dengan keinginan anehmu, aku hanya peduli dengan poin. Jadi sesuai perjanjian, aku memberimu informasi, dan kau memberiku poin." suara lawan bicaranya terdengar setelah lama diam.
Suaranya tidak jelas, tidak terdengar seperti suara aslinya. Bisa dibilang, dia menggunakan perangkat pengubah suara untuk menghindari suara asli nya terdengar.
"Baiklah baiklah! Kau memang tidak sabaran!" seorang wanita yang menggunakan Headphone tadi mengambil handphone nya, melakukan sesuatu. Tak lama, di seberang sana terdengar sebuah nada dering biasa, membuat dia juga segera mengecek handphone nya.
"Tapi, bagaimana kau bisa memenangkan seleksi? Aku cukup penasaran dengan skill dan Sistem milikmu." katanya lagi.
Terdengar suara nafas yang dalam dari seberang, tapi dia akhirnya menjawab.
"Oke. Karena kau memberi lebih, anggap saja ini bayarannya. Aku bisa lolos dari seleksi, dan bisa mengetahui pertarungan PvP tadi karena skill dan Sistem ku. Bahkan aku juga tahu kelemahan beberapa player, termasuk kau." katanya tajam.
"Itu yang kau sebut informasi? Dan juga, apakah kau menjual informasi tentang kelemahan ku?" tanya wanita itu lagi.
"Tergantung. Karena ini informasi tentang player tingkat A, belum ada yang mau menawarnya. Dan aku juga sedikit menaruh harga yang sangat tinggi. Aku juga jelas mempertaruhkan nyawa disini." jelasnya.
"Hehh..." wanita itu berkata tenang.
Walau terdengar tenang, hatinya tidak. Dia bertanya tanya tentang apa, kapan, dimana, dan bagaimana cara orang ini untuk mencari kelemahannya, tapi itu tidak terpikirkan bagaimanapun caranya.
"Sudah kuduga, aku tidak ingin menjadi musuh mu! Kau adalah player yang sudah ada dan bertahan hidup sejak lama. Seharusnya kau bisa naik ke tingkat S, bukan?" tanya wanita itu sambil tertawa kecil, mencoba menenangkan hatinya.
"Hah! Seperti itu menyenangkan? Tidak. Aku hanya mendapat tambahan poin, dan aku tidak membutuhkan itu. Selain itu...." lawan bicaranya berhenti sesaat.
"Orang orang di tingkat S semuanya adalah monster, kau tahu?" lanjutnya. Giginya sedikit gemertak, mungkin mengingat masa lalu.
Terjadi hening sesaat, karena suasana yang tiba tiba menjadi berat.
"Oke. Aku juga akan menahan diri untuk tidak masuk tingkat S kalau begitu. Dan juga, jika ada sesuatu tentang Kei Kanata ini lagi, segera beritahu aku. Dan jangan jual informasinya pada siapapun sebelum aku. Aku akan memberimu harga tinggi!" kata wanita itu dengan gembira.
"Yah yah yah. Aku tidak mengerti kenapa kau begitu tertarik dengan pemula ini, tapi tanpa kau minta, aku akan mencari tahu tentangnya." jawab orang yang ada di seberang sambil sedikit mengetik sesuatu.
"Dia adalah orang yang mampu mengalahkan Rookie Killer di PvP pertamanya. Dia mungkin orang yang menarik!" lanjutnya lagi.
"Hei hei! Jangan letakkan tanganmu padanya lho!" protes wanita itu dengan nada nakal.
"Aku tidak akan maju jika itu mengganggumu. Kalau begitu," terdengar nada telepon yang diputus, bersamaan setelah orang yang menggunakan pengubah suara berhenti bicara.
__ADS_1
Wanita itu tertawa kecil, sebelum menaruh headphone nya. Dia lantas menyandarkan tubuh ke kursi, melihat ke atas.
"Kei Kanata, aku akan menantikan pertemuan kita!!" katanya.