
"Ini?" Kei terbangun ketika dia menyadari sekeliling nya berubah.
Dia menemukan dirinya berada di sebuah taman. Taman dimana dia merasa sering melihatnya dari atas. Kei terus mengamati sekeliling. Kanan, kiri, dan akhirnya menatap lurus, melihat sebuah gedung tinggi yang seperti dia kenal.
Di sebelahnya juga ada sebuah gedung yang berdekatan. Kei mengamati pagar yang ada di bawah, seketika dia menyadari.
"Itu gedung yang tadi!!" teriaknya sambil segera bangun.
Kei masih merasa ngeri ketika melihat gedung itu. Pasalnya, itu adalah gedung tempatnya bertarung, saling membunuh dan melihat beberapa kenyataan kejam barusan.
Apapun itu, dia masih berusaha bangun untuk memastikannya lagi.
Tapi rasa sakit segera menimpa seluruh tubuhnya. Kei sedikit berlutut karena itu, merasakan nyeri di perut dan kepalanya. Tidak hanya itu, beberapa bagian tubuhnya lecet dan ada yang mengeluarkan darah.
"Ini mengerikan." bisik Kei setelah melihat kondisi tubuhnya.
Dia masih menggunakan celana kolor dengan baju santai, tapi itu semua robek setelah melewati hal hal yang mengerikan. Tapi dia masih bersyukur, dia bisa melewati itu semua dengan keadaan utuh.
"Aku harus pulang. Sudah jam berapa ini?" Kei mengambil smartphone di saku, dan melongok. Pukul 22:46, sudah sangat larut bagi anak SMA seperti Kei.
"Semoga Ibu dan Yuna sudah tidur. Apa yang akan aku katakan ketika aku pulang dengan keadaan seperi ini di jam segini?" tanya Kei sambil berjalan tertatih tatih.
***
Kriett....
"Permisi...." Kei membuka pintu rumahnya perlahan. Dia sedikit bingung dan khawatir, bagaimana pintu rumahnya masih belum terkunci. Tapi begitu melihat isi rumah yang gelap, dia bisa bernafas lega.
"Sungguh ceroboh. Kenapa pintu rumah tidak dikunci?" tanya Kei pelan.
Pertama yang dia lihat adalah alas kaki di rak depan pintu. Rak itu penuh, jadi tidak mungkin ada yang keluar malam malam seperti ini. Dia segera mengunci pintu, dan melakukan semuanya tanpa suara.
Dia masih berjalan dengan menyeret kakinya, ketika dia berjalan menuju meja makan, untuk mengambil beberapa air.
Karena semua yang terjadi malam ini, semua syaraf Kei benar benar dalam keadaan waspada. Dia juga memiliki banyak perubahan dalam tubuhnya, yang bahkan tidak diketahui olehnya sendiri.
?!!
Saat sedang mengambil air, Kei merasakan ada yang menyentuh pundaknya. Dia benar benar terkejut, karena masih terbawa suasana Death Game barusan. Pikirannya masih siap siaga, dengan prinsip bunuh atau dibunuh.
Segera dia berputar mengambil tangan yang yang menyentuhnya.
("Tangan kiri?") batin Kei sedikit bertanya ketika merasa tangan yang menyentuhnya.
__ADS_1
Tiba tiba entah bagaimana dia mendapat gambaran apa
yang harus dilakukan. Dia menaruh tangan itu ke punggung, menguncinya sambil mencoba meraih tangan kanan, mencengkram erat sambil terus mendorong sosok itu ke tembok terdekat.
"T-tunggu!" sebuah suara wanita terdengar ketika Kei memutar tangan tadi ke bagian punggung.
"Katakan siapa kau. Aku tidak akan segan, kalau kau mencoba menipuku, aku akan membuatmu menyesal." kata Kei dengan dingin, menekan paha orang itu lebih jauh dengan lututnya.
Dalam posisi ini, tangan kanan orang itu dipaku tangan Kei di dinding, serta tangan kirinya dikunci. Tidak hanya itu, kalaupun orang itu bisa bergerak dengan kaki, Kei sudah mengganjalnya dengan kakinya. Dengan kata lain, itu seperti lilitan ular yang sudah mengenal mangsanya.
Orang itu merengkuh pelan. Tapi berkat itu, Kei tahu bahwa orang ini wanita.
"K-Ka-kakak! Kenapa tiba tiba? Aku Yuna, adikmu! Apa yang ingin kau lakukan padaku?" kata wanita itu, yang ternyata adalah Yuna, adik Kei! Kei terkejut mengetahui itu, dan segera mencari sakelar lampu. Dia menghidupkan itu, lalu tahu bahwa itu benar benar adiknya!!
Sedangkan Yuna terlihat malu dengan apa yang kakaknya lakukan padanya tadi, Kei terlihat bingung. Tapi beberapa saat kemudian, akal sehat Kei kembali seperti semula, sebelum dia masuk ke game itu.
"A-ahh, maafkan aku. Aku tidak bermaksud. Aku hanya sedikit bingung." kata Kei sambil terduduk. Dia menutup wajahnya sambil mendongak ke, menatap lampu yang terang. Kei menarik nafas panjang, dan meminum air yang sudah dia siapkan tadi.
"Itu tidak apa, tapi~" Yuna berhenti, mengamati kondisi Kei.
"Maafkan aku. Aku mungkin terlalu lelah. Aku akan istirahat ke kemar." kata Kei. Dia pasti berniat melarikan diri, setelah berbagai masalah yang dia buat!
"Tunggu!" Yuna menyentuh pundak Kei.
"Kau belum makan, bukan? Biar aku hangatkan dulu sayurnya, jadi tunggulah sebentar." kata Yuna.
Yuna lantas meninggalkan Kei yang hanya terdiam, terpaku menatap adiknya yang menjauh. Segera, perasaan bersalah mengalir ke hati Kei. Walau 2 tahun lebih muda dari Kei, dia sudah cukup dewasa untuk tidak menanyakan apapun pada Kei.
"Dia benar-benar seperti adikku, ya?" bisik Kei pelan.
"Kakak tadi bilang apa?" Yuna sedikit menoleh ketika sedikit mendengar bisikan Kei. Dia sedang mengangkat panci ke atas kompor saat itu.
Kei menggeleng pelan, tersenyum.
"Tidak. Tidak ada."
***
"Aku benar benar tidak mengerti. Dia pulang dengan keadaan mengerikan seperti itu dan tidak menceritakan apapun? Itu benar benar aneh!!" Yuna sedang bolak balik di kamarnya sendiri, kesal dengan Kei.
"Padahal aku sudah bersikap untuk tidak ingin tahu. Kata internet, jika tidak ingin tahu, lawan bicara akan merasa bersalah." kata Yuna lagi.
Itu menggelikan karena sifat aslinya benar benar berbeda dengan apa yang Kei pikirkan. Nyatanya, Yuna benar benar ingin tahu dengan apa yang terjadi pada Kei!
__ADS_1
Yuna mendengus kesal, lantas memikirkan apa yang terjadi tadi.
Yuna yakin, dia tidak akan semudah itu dipatahkan gerakannya. Untuk urusan fisik, Yuna percaya diri dia tidak akan kalah melawan Kei. Dan bisa dibilang, dia tahu dia lebih kuat daripada Kei.
"Tapi kenapa aku sama sekali tidak bisa bergerak saat ditekan seperti tadi? Itu terasa seperti dia tahu gerakan beladiri. Itu terasa seperti...." Yuna berhenti sesaat. Wajahnya juga berubah menjadi lebih serius.
"Dia terasa lebih kuat beberapa kali lipat dari biasanya?" lanjutnya.
***
"Hnnhggh.... Ini benar benar hari yang melelahkan. Setidaknya, besok Minggu, aku bisa istirahat." Kei sedang merebahkan tubuhnya ke kasur.
Dia melihat smartphone nya lagi. Kei sedikit bersyukur tidak ada notifikasi aneh disana. Dia melihat kontak milik pacarnya, Myan. Tapi sayangnya tidak ada pesan darinya. Memang terdengar menyedihkan, tapi benar.
Kei segera terbawa dalam lelahnya, membuatnya tertidur dengan cepat.
(Master bodoh. Dia tidak berusaha menghubungi ku sekalipun.)
Sebuah suara terdengar. Kei terkejut dan segera membuka mata dengan cepat. Tapi dia menemukan dirinya tidak di kamarnya. Dia sedang berada di sebuah tempat putih, yang sama sekali tidak ada bayangan yang menutupi lantai! Bahkan Kei tidak bisa melihat bayangannya sendiri!
Kei tidak bisa tidak melongo menyadari itu. Bagaimanapun, beberapa detik lalu dia masih berada di dalam kamarnya. Dia takut jika harus diteleportasi ke tempat yang aneh lagi.
"Apa ini? Mimpi? Apa ini yang disebut Lucid dream?" tanya Kei sambil berjalan pelan.
(Ini adalah ruang Player. Ini ruang pribadi yang bisa dibentuk sesuka hati oleh Master. Jangan sungkan untuk menggunakannya.) suara jernih itu kembali terdengar.
"Whaa!! Siapa disana?!! Aku peringatkan, aku tidak takut!!" teriak Kei sambil mengangkat kedua tangan, bersiap.
Walau dia bilang begitu, kakinya gemetar hebat sambil berusaha mempertahankan tangannya tetap di depan dengan beberapa sikap. Bahkan dia berusaha keras untuk tidak menunjukkan rasa takut!
(Saya adalah Sistem, Master.)
"Sis-, hah? Apa itu? Jangan bercanda denganku! Apa yang kau inginkan dariku?
(Saya adalah sistem yang dibuat untuk membantu seorang Player agar lebih mudah dalam memenangkan permainan. Dan saya adalah Sistem pribadi anda.) jelas suara yang menjelaskan bahwa dia adalah Sistem.
"Aku tidak paham. Permainan apa yang kau maksud? Dan apakah kau bisa menunjukkan diri? Aku lebih nyaman untuk berbicara dengan orang yang menunjukkan dirinya." jawab Kei.
Tidak ada jawaban dari suara itu, membuat Kei agak bingung apa yang harus dia lakukan sekarang.
(Sistem dapat mendapatkan wujud setelah berevolusi ke level 2. Sekarang anda memiliki 1 poin Evolusi. Level anda sudah direset. Tapi status dasar anda adalah status saat anda selesai memenangkan Tes.) kata sistem itu lagi.
"Aku agak mengerti, tapi aku juga tidak mengerti. Bisa kau jelaskan dari awal?"
__ADS_1
(Jika itu keinginan anda, Master.)