System: Death Game!

System: Death Game!
Bab 15: Jebakan yang Polos


__ADS_3

"Uhh. Aku merasa tubuhku lebih ringan dari biasanya. Ini agak aneh. Apa kau tahu ini, Yuki?" tanya Kei ketika dia sedang berlari mengelilingi taman.


(Itu adalah efek dari gulungan yang saya sarankan Anda buka, Master. Gulungan itu berasal dari seleksi, yang mana itu berisi pengalaman orang orang yang Master kalahkan. Dan yang Master buka itu adalah ilmu rahasia klan Morishiwa.) jelas Yuki.


Tiba-tiba, Kei yang sedang berlari itu melompat.


"M-M-Morishiwa?! B-Bukankah itu adalah klan yang sangat terkenal? Bagaimana mungkin?!!" teriak Kei tidak percaya.


Morishiwa adalah keluarga yang terkenal di tempat tinggal Kei. Bahkan jika ditanya, seluruh orang di kota pasti akan mengenal nama keluarga Morishiwa.


Secara, keahlian berpedang keluarga mereka nomor satu, dan selalu memenangkan semua pertandingan Kendo di berbagai usia, bahkan sampai ke tingkat Nasional!


Note: Kendo (Semacam olahraga menggunakan pedang di Jepang)


(Sepertinya, pria gila itu adalah anggota klan Morishiwa, Master. Dengan begitu, anda sekarang menguasai gerakan beladiri mereka.)


(Tubuh Master yang sekarang lebih kuat daripada tubuh pria itu, tapi Master masih dalam tahap pembiasaan. Beberapa gerakan bisa membuat cedera pada tubuh Master, jadi Master harus tetap berlatih.) kata Yuki.


Kei mengela nafas sedikit; "Aku senang sepertinya aku mendapatkan sesuatu yang bagus, tapi sepertinya ini akan menjadi mereporkan, ya?" katanya.


(Tenang, Master. Selama ada aku, semua akan terkendali!!) kata Yuki dengan sombong.


Itu membuat Kei sedikit tersenyum mendengar itu, mengingat kejadian pagi tadi. Tapi selama Yuki sudah kembali normal, itu susah cukup bagi Kei.


Kei melanjutkan untuk berlari, mengelilingi taman hingga matahari terbit. Saat itulah dia putuskan untuk kembali.


Hari senin, hari pertama setiap minggu. Hari yang banyak dibenci oleh orang-orang, dan orang-orang sering menyebutnya sebagai mimpi buruk hari Minggu.


Begitu juga dengan Kei, karena sekolah adalah hal yang kurang menyenangkan untuk nya, dan cukup keras disana.


Kei hanya sarapan seperti biasa, dimana ibunya berangkat sebelum mereka berdua sekolah. Tapi Kei tidak bisa berlama lama, karena dia harus mengantar adiknya ke SMP, baru dia bisa berangkat sekolah.


Jarak SMP Yuna tidak cukup jauh dari rumah, tapi itu jauh dari SMA Kei karena jalan nya yang berlawanan arah.


"Jaga dirimu baik baik!! Kakak akan menjemputmu pulang nanti!" kata Kei melambaikan tangannya pada Yuna yang sedang berjalan masuk ke sekolah. Saat itu masih pagi, jadi belum ada banyak orang di gerbang.


Yuna sedikit malu karena diantar keluarganya ke sekolah, jadi dia hanya diam sambil memalingkan muka. Tapi, dia tetap memberi sedikit lambaian tangan sebelum meninggalkan Kei, berlari ke kelasnya.


(Master. Masih ada banyak waktu untuk ke sekolah. Apa yang ingin Master lakukan?) tanya Yuki.


Kei berpikir sesaat, sambil melihat Yuna yang mulai menghilang, masuk ke gedung sekolah.


"Tidak ada yang harus aku lakukan. Hari ini ada ulangan, mungkin aku hanya akan belajar? Karena aku malas berada di kelas, mungkin aku akan cari tempat lain. Ke perpustakaan, atau ke atap sekolah?" jawab Kei.


(Master. Mendengar anda mengatakan itu semua dengan mudah membuat aku merasa kasihan.) tanggap Yuki dengan nada menangis.

__ADS_1


"Diam! Itu adalah waktu yang bagus, kau tahu! Aku sangat suka di perpustakaan, atau di atap sekolah! Itu sepi dan menenangkan!!" gerutu Kei sedikit berkelit.


Sementara itu, fokusnya berubah ke seorang anak yang sedang berlari


(Ya ya ya. Itu adalah alibi yang bagus. Katakan saja bahwa kau tidak punya teman bukan, Master?) tanya Yuki menyindir Kei. Tapi Kei tidak menjawab, dan hanya menatap kosong ke arah anak itu.


"Bahaya!!"


(Master! Apa yang-)


Kei berlari secepat mungkin. Dengan tubuhnya yang sekarang, kecepatannya berbeda dengan orang biasa. Itu mengejutkan orang orang di sekitarnya.


Tapi apa yang dia lihat adalah seorang anak yang sedang berlari menyeberang jalan yang ramai dalam kondisi lampu hijau.


Tidak ada yang melihatnya, ataupun menghentikannya. Hanya ada orang yang berteriak sambil menutup mata, menghindari kejadian mengerikan yang akan segera terjadi.


("Tolong sempatlah!!") hati Kei berteriak, ketika dia mengulurkan tangan, mencoba menggapai bocah itu.


TOONNN!!!!


Suara klakson truk yang terdengar menggema seperti bel kematian terdengar di samping Kei, mengatakan untuk Kei segera minggir dari hadapannya.


(Kei! Gunakan tangan kiri untuk tumpuan!!) Yuki berteriak dalam pikiran Kei, memberi arahan.


Tanpa ragu, Kei menurunkan tangan kirinya, membuatnya untuk tumpuan agar dia bisa melayang lebih jauh. Berkat itu, Kei berhasil mendorong dirinya mendekat ke anak itu, dan berhasil mendapatkannya.


Dia berhasil melompat ke pinggiran, sambil mengamankan kepala atau beberapa bagian tubuh lain yang berbahaya jika terbentur oleh kerasnya aspal.


Suara rem yang kasar terdengar, dan orang orang yang melihat itu tampak tidak percaya. Supir truk yang menyaksikan kejadian itu di depan matanya sendiri segera turun, menuju ke arah Kei.


"Hei, nak. Kau tidak apa?" tanya si sopir. Tidak hanya itu orang sekitar segera berkumpul di sekeliling Kei.


"Bukan masalah aku. Bagaimana dengan anak ini?!" jawab Kei, lalu memeriksa anak yang ada di pelukannya.


Anak itu bangun sesaat, dan menatap datar ke arah Kei da yang lainnya.


"Nana, tidak apa." jawabnya. Wajahnya yang terlihat tanpa emosi seperti kejadian tadi bukanlah apa apa. Dan sepertinya, dia juga sedikit tersenyum. Tidak ada yang tahu kenapa ekspresi nya bisa selatan itu, padahl hal barusan adalah hal yang membahayakan nyawanya.


Beberapa orang mulai mendatangi Kei, dan memberi pujian dan beberapa perawatan, sementara anak itu masih duduk di atas perut Kei. Dan tiba tiba, dia mengangkat tangannya. Otomatis semua yang berkerumun memusatkan perhatian ke arah tangan anak itu.


Klik!


Suara jentikan jari, dan cahaya terang seketika menyelimuti mereka semua!


"Apa ini?!!" Kei berteriak sesat, sebelum penglihatannya memutih. Dia mencoba mengucek mata sedikit, mencoba memulihkan penglihatan nya. Tapi apa yang dia lihat setelah itu adalah sesuatu yang mengejutkan.

__ADS_1


"Eh. Kenapa aku disini?"


"Aku harus kerja."


"Apa yang aku lakukan melamun disini?"


"Ahh, aku akan terlambat lagi! Beruntung bus nya berlum datang."


Semua orang berbicara pada diri mereka sendiri, dan masing masing dari mereka segera membubarkan diri!!


("Apa yang terjadi?! Mereka tidak melihatku lagi? Dan lagian, apa apaan cahaya tadi? Dan makan supir truk barusan! Bukankah dia datang untuk minta maaf?! Apa maksudnya ini?!!") teriak Kei dalam hati.


Dia mulai berdiri, dan melihat ke sekeliling nya yang berjalan dengan acuh. Begitu juga dengan anak kecil tadi, yang berjalan menjauh dari Kei tanpa dosa.


"Hei, Nana! Apa kau baik baik saja? Apakah ada luka?" tanya Kei menghentikan anak itu.


Anak itu terlihat terkejut, lalu menggerakkan tubuhnya, berbalik.


Terlihat sosok anak itu, menggunakan pakaian yang lebih cocok disebut gaun berwana biru, dengan topi baret indah yang diberi pita yang juga berwarna biru menutupi kepalanya.


Tingginya sekitar 1 meter, membuatnya terlihat seperti anak SD bagi Kei.


(Master! Hati hati! Dia menggunakan sihir penghilang ingatan barusan!!) teriak Yuki dalam pikiran Kei, mengingatkan Kei.


"Sihir? Itu berarti-"


"Kau. Tidak terkena efek dari sihir Nana. Kau adalah Player. Player, ditemukan." kata anak itu, yang namanya adalah Nana dengan nada dingin. Selain itu, ekspresi wajahnya yang datar juga melengkapi pembawaannya.


("Nada suara itu, intonasinya, sepertinya aku pernah mendengarnya!") pikir Kei.


Terjadi hening sesaat. Itu membuat Kei bingung, dan segera menggerakkan kepala ke sekeliling.


Kosong!!


Tidak ada seorang pun yang terlihat di sekitar, bahkan hewan pun tidak ada satupun yang lewat. Yang ada hanya lampu lalu lintas yang silih berganti menjadi merah, kuning, dan menjadi biru.


("Entah kenapa aku memiliki perasaan yang tidak enak tentang ini kau ta-")


(Master! Ini adalah tanda tanda akan terjadi PvP!!) teriak Yuki tiba tiba memberikan peringatan.


"Apa apan itu?! Aku tidak pernah memberi persetujuan tentang hal itu, kau tahu?!!" teriak Kei tidak terima.


PLOK PLOK PLOK!


Terdengar suara tepuk tangan yang berulang dari kejauhan. Tak urung, Kei segera menoleh ke arah suara tersebut, yang tak lain tidak bukan adalah seorang laki laki dengan jas coklat terbuka dengan kaos putih di dalamnya.

__ADS_1


"O-Orang itu-"


(Sudah pasti dia adalah Player!) teriak Yuki kesal dalam pikiran Kei.


__ADS_2