
"Ugh. Dimana aku?!" gerutu Kei ketika dia masih berusaha untuk bangkit setelah kejadian tadi. Tak disangka, dia masih berada di dalam kamarnya, tapi dalam keadaan yang redup. Sangat berbeda dengan biasanya.
Kei berusaha mencari saklar lampu, menghidupkan nya. Sayangnya itu tidak berfungsi walaupun Kei sudah menekannya berulang ulang. Oleh karena itu, dia beralih ke arah jendela.
Tapi ketika dia menyingkap tirai, dia terkejut.
"I-Ini, tidak mungkin!" Kei berteriak ketika dia membuka tirai, dan mendapati dunia yang dia lihat.
Ini adalah kota nya, tapi itu jauh berbeda! Kota ini seperti hancur karena sesuatu. Sedikit bangunan yang masih utuh, dengan tanaman yang tumbuh liar dimana mana. Tidak hanya itu, ada makhluk aneh yang bergerak, mirip binatang. Tapi Kei tahu itu bukanlah binatang yang dia pikirkan.
Cahaya bulan yang menerangi perlahan juga menambah kesan mencekam. Apalagi, awan awan yang berarak perlahan menutupi cahaya nya.
Saat itu, Kei baru menyadari. Kamar tidurnya benar benar hancur, berantakan dan tidak berbentuk seperti kamarnya yang dulu. Apapun itu benar benar tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tapi, melihat kondisi rumah yang mengerikan membuatnya ingat dengan keluarganya.
"Ibu dan Yuna?!!" seketika, Kei berlari keluar kamarnya, dan mengecek seluruh rumah sambil berteriak memanggil ibu dan adiknya.
Tidak ada yang menjawab panggilan itu, hanya ada suara desiran angin yang muncul. Itu hanya membuat Kei semakin panik.
"Tenang, Kei. Panik tidak akan menyelesaikan apapun. Kalau begitu, mari kita rela ulang dari awal." katanya.
Namun, sekuat apapun doa mencoba, dia benar benar tidak bisa tenang. Selain itu, dia yang tadinya duduk sekarang berjalan bolak balik sambil terus mengumpat.
"Sial! Apa apaan ini?! Aku ingat ketika tubuhku terasa tertarik, dan kesadaran ku hilang. Apa yang terjadi sebenarnya? Dan juga, apa yang terjadi dengan dunia ini? Apa ada suatu bencana?" kata Kei dengan khawatir.
Dia kemudian ingat, bahwa dia menyetujui untuk melakukan Tes Kelayakan. Dan seketika, muncul sebuah panel di depan wajahnya.
[Selamat datang, Individu No. 27. Sekarang Anda akan melakukan sebuah Tes, dengan memainkan sebuah permainan. Jika Anda bisa memenangkan permainan ini, maka Anda berhak mendapatkan Sistem.]
"Whoa!!" Kei terkejut ketika terdengar suara mekanis yang berdengung di kepalanya. Selain itu, sebuah tulisan tadi juga muncul, seperti menjelaskan perkataan tadi.
Kei segera paham, bahwa dalam semua permainan pasti ada kalah dan menang.
"Dan jika aku kalah?" tanya Kei pelan.
[Individu akan di hapus keberadaannya dari setiap dunia.]
Suara mekanis itu terdengar seperti menjawab pertanyaan Kei, tapi dengan nada yang datar ketika mengatakan sesuatu yang mengerikan.
[Akankah Anda bermain? (Yes) / (No)]
Kei menghela nafas melihat pilihan yang tersedia di depan matanya.
__ADS_1
"Paling paling ini adalah event yang dipaksakan, bukan?" Kei ingat dengan kejadian di kamarnya, ketika dia memilih (No) untuk pertama kalinya. Kei mengeluh sambil sedikit menunjuk tulisan Yes. Kemudian, panel itu menghilang, berganti dengan tulisan baru.
[Sisa waktu sebelum permainan dimulai: 4 menit 12 detik lagi. Berikut adalah peraturannya.]
Kei membaca tulisan dengan angka yang terus menghitung mundur itu. Dan dia menyadari.
"Game terdiri dari 29 pemain. Bertahanlah menjadi yang terakhir dan kau akan menang?" baca Kei sedikit bingung. Beberapa saat, dia tidak memahami apa maksud tulisan itu, tapi dalam beberapa detik kemudian, dia paham.
"Itu berarti aku harus mengalahkan 28 orang lainnya?!!" teriak Kei.
***
"Sial sial sial!!" Kei memekik pelan sambil terus berlari di sebuah gang kecil. Tanah yang dia injak bergetar, dengan getaran yang teratur.
"Aku sudah berusaha untuk menyanggupi nya, tapi!!" Kei bebelok di sebuah gang, dan meneruskan berlari.
Suara benda benda yang dihancurkan terus terdengar di belakangnya, sambil muncul suara suara marah. Getaran yang tadinya agak lambat juga semakin cepat, dan Kei juga semakin panik.
"Ini mustahil!!!" teriak Kei ketika dia berusaha berguling, menghindari lemparan puing seukuran galon dari belakangnya.
Kei sekarang sedang berlari dari monster besar bertangan enam. Dia tidak sengaja bertemu dengannya ketika sedang mengendap-endap saat menghindari Player lain yang ada di kota itu.
Tapi dia justru sial dan bertemu dengan monster ini di pelariannya.
"Tidak pernah ada yang bilang bahwa akan ada monster di dalam dunia ini loh!! Aku pikir ini hanyalah permainan "battle royale" yang memaksaku untuk menjadi yang terakhir bertahan, tapi ternyata aku terlalu naif!!" Kei berteriak sambil berlari seperti akan menangis.
Kei terkejut, tapi dia pernah mengalami ini sebelumnya.
Tidak, bukan saat di bus, melainkan di dunia ini. Dia pernah mengalami perasaan seperti ini sekali. Dan tidak terasa, sudut mulut Kei mulai naik.
Itu adalah sebuah pengumuman yang menampilkan posisi para Player lain dalam permainan.
Saat pengumuman itu terjadi, waktu tehenti, dan tidak ada yang bisa begerak dalam ruang itu. Itu mirip saat kecelakaan, dimana dia hanya bisa berbicara sambil melihat sekelilingnya menjadi hitam putih seperti dipermainkan.
("Bwahhh!! Entah bagaimana aku terselamatkan!! Tapi aku tidak bisa seperti ini untuk selamanya, bukan?") tanya Kei dalam kesunyian itu.
Dia melihat monster yang tidak bergerak di hadapannya, dan sedikit bergidik ngeri.
("Karena monster ini, tidak ada yang berani mendekat, kah?") tanya Kei pelan sambil menonton peta yang menunjukkan titik titik oranye yang bersinar. Itu adalah tanda untuk para Player lainnya.
Tanda itu sudah berkurang menjadi 14, menunjukkan bahwa ini benar benar Game Kematian.
("Humm, aku harus keluar dari situasi ini, dan menata ulang rencana ku. Adalah keuntungan bagaimana orang orang tidak mendekatiku. Tapi itu adalah sebuah ketidak sengajaan. Siapa yang menduga monster dunia ini di penuhi monster?!!") batin Kei berteriak.
__ADS_1
Dia ingat ketika dia sedang berjalan untuk bersembunyi, tiba tiba ada sebuah benda kecil berbentuk bola bergerak ke arahnya.
Jelas Kei takut, dan menendang bola hidup itu sekuat tenaga. Tapi siapa sangka, itu adalah monster yang akan meledak ketika mati, membuat posisi nya diketahui oleh monster besar bertangan enam ini.
("Tunggu. Monster bola?") Kei teringat ketika dia melihat setumpuk monster yang mirip di sebuah tempat sampah.
Saat itulah dia terpikirkan sebuah rencana, dan tepat saat itu juga, pengumuman yang diberikan Sistem selesai.
Kei tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dan segera berlari ke arah tong sampah besar berisi monster bola itu.
"Makan ini dasar bangsaad!!!" teriak Kei seraya melempar tong sampah itu sekuat tenaga. Setelah itu, dia segera berlari dan bersembunyi. Kei meringkuk, sambil menutupi kepalanya dengan tangan.
Monster itu marah ketika Kei melempar tong sampah itu, dan segera menangkap, menghancurkannya dengan keenam tangannya.
BOOMMM!!!
Ledakan hebat terjadi, membuat Kei terpental dari tempat dia meringkuk. Bahkan ledakan itu bisa didengar di seluruh kota.
Bisa dibilang, ledakan itu setara dengan ledakan 10 granat tangan yang dipadukan menjadi satu. Bahkan akan lebih masuk akal untuk mengatakan bahwa itu lebih mirip dengan bom.
"Ughh. Sialan~" Kei berusaha merangkak keluar dari puing puing ledakan yang mengelilingi nya.
Badannya serasa remuk, dengan baju yang robek di sana sini. Lebam juga terlihat banyak di seluruh tubunya, dan darah juga terlihat mengalir dari berbagai tempat.
[Anda mengalahkan Hekatonchiere. Mendapat skill: Soul Eater]
"Heh? Ada apa tadi?!!" Kei berteriak bingung ketika mendengar suara Sistem yang berkumandang di kepalanya. Dan lagi, itu mengatakan sesuatu yang tidak Kei mengerti.
"Skill? Apa itu? Apakah itu seperti kemampuan yang bisa kita gunakan?" tanya Kei pelan. Lalu...
"Soul Eater!!" teriak Kei keras keras.
Tidak ada apapun yang terjadi. Itu membuat Kei sangat malu setelah menyadarinya. Bahkan jangkrik pun tertawa melihat Kei menyanyikan skill seperti orang aneh.
"Apa yang aku pikirkan?!! Aku bodoh sekali!! Beruntung tidak ada yang melihat..." ucap Kei sambil mulai berjalan.
Keadaan tubuhnya benar benar tidak baik. Luka ada di sekujur tubuhnya. Tapi masih beruntung tidak ada beberapa tulang yang patah, membuat Kei masih bisa bergerak dengan baik.
"Humm, aku harus segera bergerak. 5 menit lagi, pengumuman lokasi akan segera tiba." Kei menyeret kakinya untuk bergerak menuju sebuah gedung.
Menurutnya titik itu hanya memberitahukan posisi, tapi tidak menjelaskan tinggi.
Itulah kenapa dia memilih pergi ke sebuah gedung, karena ini memiliki banyak lantai. Dia bisa mengecoh musuh sambil memulihkan diri sendiri.
__ADS_1
Dia tidak memiliki senjata, jadi dia mengikat beberapa monster ledak untuk berjaga jaga.
Mungkin hanya Kei yang memiliki ide absurd untuk menggunakan monster itu sebagai senjatanya, karena yang lain bahkan sudah sangat siap untuk ini.