
"YA!! HARUS BAGAIMANA LAGI!!!" teriak Kei sambil sedikit menitikkan air mata.
(Master...) suara kecil Yuki terdengar.
07:49.
"Harus bagaimana lagi?!! JANGAN BERCQNDA!!!" Kei berteriak kerasa sebelum akhirnya berbalik, dan berlari secepat yang dia bisa.
Yuki sedikit terkejut dengan itu tapi tahu itu pilihan Master nya.
"MANA BISA AKU BILANG "mau bagaimana lagi" DAN PERGI BEGITU SAJA?!! Tidak mungkin aku bisa mengatakan itu dengan tenang, ketika aku yang meninggalkan Yuna sendirian disana?!!" teriak Kei ketika berlari.
Walau orang orang memandangnya aneh, bahkan ada yang bersiap memanggil polisi, dia tidak peduli. Kei hanya memikirkan keluarganya sekarang.
"Dengan kata lain, aku yang bersalah penuh jika terjadi sesuatu dengan Yuna. Aku tidak akan bisa hidup dengan tenang jika itu terjadi." lanjut Kei.
(Tapi Master...)
"BERISIK!!! Kalau Death Game ini menyuruhku memilih salah satu, aku tidak akan menurutinya!! Aku akan menulis keinginan ku sendiri, dan menemukan pilihan ketiga!!!" kata Kei menyela Yuki.
Yuki dari suaranya sedikit terkejut, tapi ada nada kagum dari suaranya.
"Yuki. Apa kau tahu dimana lokasi Yuna sekarang?" tanya Kei.
(Tentu, Master. Aku mengetahui semua yang berhubungan dengan Quest, termasuk lokasinya dan beberapa hal lainnya. Serahkan soal navigasi padaku. Master fokus saja berlari!) jawab Yuki, terdengar semangat.
"Itu bagus. Bagaimana dengan keadaan Yuna? Kenapa dia tidak melawan?" tanya Kei.
Yuki segera menjelaskan keadaan Yuna sekarang, termasuk dia yang melawan 4 orang pria, dan salah satunya berbadan besar dan kuat. Itu membuat Kek paham kenapa Yuna bisa kalah dari mereka.
07:50
"Aku paham. Kalau begitu, aku tidak bisa apa apa ketika aku sampai. Yuki, apakah kau bisa membuatku bertarung?" Kei sedikit meringis.
(Ada sebuah skill yang membuat anda bisa bertarung tangan kosong, Master. Sayangnya anda tidak memiliki poin sama sekali)
Kei mendecak pelan, mendengar itu. Otaknya berputar cepat, ketika itu semua terjadi.
07:51
"Ahh! Yuki! Buka hadiah yang aku dapat saat Tes! Aku lupa belum membukanya!!" kata Kei. Sekarang dia sudah sampai di jalanan. Walaupun harus menabrak orang, dia tidak memperlambat larinya sedikitpun.
(Baik, Master. Posisi Yuna ada di dalam gang dibalik kayu itu, atau Master akan menunggu hadiah itu terlebih dahulu?)
"Kau tahu kita tidak punya banyak waktu untuk itu, bukan? Yuki, tetap buka hadiahnya. Dan jangan lupa bantu aku jika aku dalam kesulitan. Aku mengandalkan mu!" kata Kei.
***
("T-tidak! Apa yang harus aku lakukan? Aku harus melawan? Tidak bisa!! Aku tidak bisa!! Bagaimana ini? Tolong aku!! Siapapun!! Tolong aku!!")
Yuna menjerit dalam hatinya. Pelipis nya sudah basah akan air mata, dan jantungnya berdetak kencang, merasa takut.
Sementara itu, pria dengan bandana itu mulai tertawa, lalu memainkan tangan di perut Yuna, yang terus naik ke atas menuju sesuatu di sana.
__ADS_1
Krekkk.... But bug...
Suara kayu yang jatuh terdengar di depan gang, membuat semua orang segera menengok.
Terlihat Kei yang memasang wajah terkejut, tampak di luar gang, sedang menatap kemari!
Seketika, Yuna bernafas lega, karena kakaknya entah bagaimana datang. Tapi karena keadaan dirinya yang setengah tidak berpakaian membuatnya memalingkan muka. Tapi Kei menatap bingung, tapi kemudian menghela nafas.
"Maaf sepertinya aku mengganggu." kata Kei sambil melambaikan tangan.
"EHH?!"
"HEI KAKAK BODOH!! TOLONG AKU!!" teriak Yuna. Kei berbalik, lalu tertawa geli.
"Ohh! Orang itu kakaknya? Kalau begitu ini akan menarik untuk bermain denganmu di depan kakakmu sendiri!!" teriak pria ber bandana sambil mengikat kaki Yuna, mulai berdiri.
Orang itu mulai memanggil yang lainnya. Tapi mungkin berjaga-jaga sebab Yuna menghajar mereka, keempatnya mengambil pisau dari saku masing masing.
Yuna yang menonton itu terkejut dan sadar.
("Kakak tidak punya kemampuan beladiri apapun, dan kekuatannya juga tidak bagus. Ditambah mereka menggunakan pisau, tidak ada jalan lain selain kakak akan terluka atau parahnya kakak akan terbunuh!") pikir Yuna dalam hati.
"Kakak! Larilah saja dan panggil polisi! Kakak tidak akan bisa melawan mereka!! Kakak akan terluka!!" teriak Yuna sambil bangun dari posisi tidurnya.
"Lari atau selamatkan, aku harus melakukan yang mana?" tanya Kei dengan enteng.
Walau begitu, keringat dingin keluar dari tengkuk Kei. Dia sebenarnya takut dengan keempat orang ini. Tapi amarahnya ketika melihat keadaan Yuna membuat rasa takut itu hilang.
(Baiklah. Master lihat bambu 2 meter di sebelah Master? Gunakan itu sebagai tombak untuk menghalau orang orang itu mendekat. Gang ini adalah keuntungan untuk senjata yang panjang. Tapi berhati-hati karena senjata panjang juga sulit digunakan disini.)
("Jelaskan lebih mudah!!")
(Mudahnya, gunakan bambu itu untuk menjatuhkan orang orang ini dan gunakan [Soul Eater] untuk melemahkan mereka.)
Kei mendengar itu mengangguk paham, lalu tersenyum licik.
"Setelah itu, bawa Yuna keluar dan bunuh mereka, ya?" bisik Kei sebelum segera melompat ke samping, mengambil bambu panjang itu. Orang berbaju hijau berlari mendekat, tapi seperti rencana awal, Kei menyerang kaki orang itu dan menjatuhkan nya.
Bambunya juga mencegah itu jatuh, dan menggiring orang yang jatuh itu ke arah Kei, mendekati Kei yang sudah siap dengan tangan kanannya.
"[Soul Eater]!" kata Kei sambil mencekik orang itu. Orang berbaju hijau itu segera jatuh lemas dengan warna kulit yang pucat.
"Ohh!! Kau lumayan juga!!" kata pria berbadan kekar sambil berjalan, kini bersama dengan pria berbaju merah di sebelah kanan dan kiri.
(Master, putar bambunya.) Yuki juga memberi instruksi pada Kei.
Kei menurut, dan membuat bambu itu berputar untuk mengincar kepala dua dari mereka. Si baju merah tidak beruntung, dan kepalanya terkena putaran bambu itu. Itu membuatnya jatuh tak sadarkan diri.
Tidak berhenti sampai disitu, Kei mendorong lurus ke pria berbadan kekar itu, menghimpit lehernya dengan bambu di tangan kanan Kei.
"[Soul Eater]" Kei mengucapkan nama skill itu lagi, dan tangan kirinya memegang dahi pria itu.
(Master, belakang!) kata Yuki mengingatkan.
__ADS_1
Kei segera menghentikan skill nya, lalu berputar, menyabetkan bambu di tangannya sekuat tenaga kepada orang yang bersiap menyerangnya.
Tenaga Kei sudah berbeda dengan beberapa orang biasa, membuat bambu besar yang berat itu bahkan bisa diputar begitu cepat seperti tongkat kecil yang ringan.
Dan jelas, gaya yang dihasilkan Kei sangat besar.
Bambu itu mengenai rusuk pria dengan bandana itu, meremukkannya sekitar 4 tulangnya.
Yuna hanya terpana melihat Kei yang bertarung, tidak mengerti. Tapi semua itu dia abaikan, karena keadaan darurat yang membuat pikirannya tidak bergerak dengan baik.
Kei melanjutkan untuk mendekati orang terakhir yang dia pukul dengan bambu, mengecek keadaannya.
"ARGHHH!!" orang itu berteriak parau. Bagaimanapun, tulangnya hancur barusan, rasa sakit yang dia rasakan jelas luar biasa.
(Mereka berdua sudah tidak bisa bangun lagi. Master, ingat waktu!) kata Yuki mengingatkan Kei.
Kei dengan segera berlari ke arah Yuna, melepaskan ikatan yang ada di tangannya.
"Ka-" Yuna ingin menghambur ke pelukan Kei dengan air mata di wajahnya, tapi dengan segera Kei menghentikannya sambil sedikit membungkam Yuna.
"Yuna. Kita lakukan itu nanti. Apakah kau tahu dimana gedung dengan atap yang bisa dinaiki. Tentu yang terdekat dari sini? Aku butuh itu. Cepatlah." kata Kei dengan wajah khawatir.
Yuna tidak paham, tapi melihat wajah serius Kei dia menjawabnya.
"A-aku tahu tapi..."
"Itu bagus. Tolong larilah ke gedung itu. Oh ya. Pakai Hoodie milikku. Aku akan segera menyusulmu!" kata Kei sambil mulai melepas Hoodie yang dia pakai. Itu membuat Yuna memerah sesaat, tapi dia segera menggelengkan kepala.
"A-apa maksudmu?"
"Cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu!!" teriak Kei dengan khawatir, mendesak Yuna untuk cepat berlari.
("Apa apaan itu? Aku tidak mengerti, tapi sepertinya ini bena benar penting. Aku tidak berani untuk menyela atau apapun itu. Entah kenapa rasanya, nyawa seseorang dipertaruhkan disini.") batin Yuna sambil memakai hoodie itu cepat, dan membenarkan celananya.
Yuna segera berlari ke gedung yang dia maksud, dan menunggu kakaknya di depan gedung, khawatir kakaknya tidak tahu gedung yang dimaksud.
Berbeda dengan Kei, dia kembali fokus ke orang orang yang tergeletak di sekelilingnya.
07:55
"Baiklah. Mari kita selesaikan ini dengan cepat." Kei melanjutkan untuk menggunakan skill [Soul Eater] kepada orang yang pingsan, menghabiskan Soul Point mereka hingga 0. Itu membuat orang orang itu mati dalam keadaan kurus kering.
Kei sengaja menyisakan pria dengan bandana di akhir untuk menyaksikan itu semua karena dia masih sadar, walau badannya benar benar hancur karena pukulan bambu Kei tadi.
"Kau bangsad. Benar benar beruntung. Kau beruntung aku sedang terburu buru. Kalau tidak, aku akan menyiksa mu, seperti mematahkan setiap tulang di tubuh mu dan memecahkan biji biji mu." kata Kei. Agak terdengar terlalu kejam, tapi memang itu yang dipikirkan Kei saat pertama kali melihat orang ini menaiki Yuna.
"K-kau M-monster!!" jawab pria itu terbata-bata.
"Monster? Mungkin benar. [Soul Eater]." kata Kei mengakhiri percakapan singkat itu.
Dan segera, yang tersisa hanya mayat dan keheningan saja.
"Aku harus segera berangkat. Ini adalah pertaruhan. Aku bertaruh pada pilihan ku ini!" kata Kei, sambil mulai berlari.
__ADS_1