
"Kakak. Apakah kakak tidak pergi bersama pacarmu? Itu menyedihkan." kata Yuna menyindir Kei. Kei hanya tertawa garing, menyadari bahwa itu benar.
"Yahh, ambil sisi baiknya. Aku bisa membawamu jalan pergi, kan? Kadang kita pergi bersama juga tidak buruk." jawab Kei berusaha berkelit.
"Baiklah. Mari kita pikir begitu." kata Yuna. Mereka lantas menikmati parfait yang dihidangkan di kafe itu.
Entah bagaimana, mereka kembali untuk mencari parfait, dan beruntung nya, itu masih tersisa. Sebenarnya Kei ingin mengibur Yuna, oleh karena itu dia membawa Yuna mencari parfait itu.
Itu juga merupakan penebusan rasa bersalah Kei, karena dia telah meninggalkan Yuna tadi.
Terjadi keheningan sesaat, ketika mereka mulai diam. Yuna masih menggunakan jaket milik Kei, dan sekarang berusaha menutupi sosoknya dengan itu.
Benar saja, kejadian barusan pasti akan memberikan trauma pada semua orang, termasuk Yuna.
Walau begitu, Yuna berusaha menutupinya dari kakaknya.
Drtttt... suara handphone berbunyi. Itu milik Yuna, karena nada dering Kei tidak sesimpel itu.
"Wahh! Jadi ledakan besar tadi adalah ini??" kata Yuna dengan antusias. Seketika, Kei tersedak mendengar itu, dan hampir menyemburkan makanan yang ada di dalam mulutnya
"Le-le-ledakan apa??!!" tanya Kei dengan pucat.
(Master. Jangan terlalu gugup! Itu akan membuatmu ketahuan!!") Yuki segera menghubungi Kei lewat pikirannya.
("Lalu, apa yang harus aku lakukan? Aku menyerang sebuah stasiun besar, salah satu stasiun tersibuk di Tokyo loh!! Mana mungkin aku bisa tenang!!") hati Kei menjerit menjawab pernyataan Yuki.
Mengetahui itu, Yuki mengeluarkan suara seperti dia sangat lelah, dan mulai memberikan saran.
(Sekarang tarik nafas, turunkan bahu, dan bersikaplah seperti biasa. Jangan tunjukkan sesuatu yang aneh!!") teriak Yuki dalam pikiran Kei.
Kei mau tak mau mengikuti satu persatu perintah Yuki. Dia lantas bersikap seperti biasa, dan sedikit mendekat ke arah Yuna.
"Heh? Ledakan apa itu?" tanya Kei berpura-pura antusias.
"Ledakan yang menghancurkan sebagian Stasiun Shinjuku. Karena itu, beberapa kereta harus diberhentikan dan semua penumpang diturunkan. Belum diketahui siapa pelakunya, dan apa motifnya. Tapi perkiraan sementara, ini hanya tindakan terorisme."
"Tapi ada beberapa yang menyatakan, bahwa mereka melihat tombak hijau yang jatuh dari langit tepat setelah sebuah ledakan besar. Katanya itu seperti tombak yang mengerikan." kelas Yuna.
Kei yang mendengar itu hanya bisa meringis, tahu bahwa Death Bullet miliknya terlihat seperti itu.
__ADS_1
"Humm, bukankah itu stasiun yang sering ibu pakai? Bagaimana keadaan ibu?" tanya Yuna setelah menyadarinya.
Wajahnya segera khawatir, apalagi mengingat ibunya adalah orang yang sangat serius dengan pekerjaan nya, jadi tidak mungkin dia akan melewatkan kereta itu.
"Aku yakin tidak ada korban jiwa di dalam kejadian ini. Mungkin ada yang terluka, tapi tidak sampai meninggal. Coba kau baca lagi baik baik." kata Kei sambil menyorot beberapa kata dalam laporan itu.
"Tapi aku yakin, ibu pasti terlambat. Sepertinya ini adalah catatan terlambat ibu yang pertama, kah? Tapi aku yakin bosnya akan maklum jika ada kejadian sebesar itu." lanjut Kei tersenyum tenang.
Yuna membaca sekilas lalu menyahut: "Humm, kau benar. Sepertinya tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini." katanya.
"Tapi tetap saja, ini mengerikan. Kemarin bus, sekarang kereta. Kedepannya apa? Pesawat?" sambung Yuna dengan sedikit kesal
("Jangan katakan sebuah Flag seperti itu...") hati Kei berkata sambil tersenyum pahit.
Pasalnya, semua kekacauan ini berhubungan dengan sistem, dengan kata lain itu semua berhubungan dengannya. Kalau Yuna mengatakan bahwa selanjutnya adalah pesawat membuat Kei merinding bahwa dia harus melakukan sesuatu pada bandara mereka.
"Baiklah. Kita harus cepat. Itu kalau kau mau berkeliling dan bermain di Game Center. Apa kau ikut?" tanya Kei.
Yuna melihat tangan Kei yang terlulur padanya. Tapi dia benar bener tidak bisa mengabaikan rasa takutnya begitu saja. Dia menunduk ke bawah, dan memegang kedua tangannya yang gemetar.
"Khu Hu hu. Siapa sangka adikku yang bisa menghajar banyak laki laki sekarang jadi seperti ini." kata Kei sedikit bercanda.
Kei juga tahu, bahwa hal itu bukanlah hal yang dapat dibuat sebagai bahan bercanda. Tapi melihat adiknya terus seperti itu juga membuat Kei merasa tidak enak.
Dia lantas berdiri, berpindah ke tempat duduk Yuna. Dia merangkul bahunya, dan sedikit mengelus kepalanya.
"Kau bisa andalkan kakak. Kalau kau takut, kau bisa kau bisa memegang tanganku terus saat kita keluar. Bagaimana mengatakannya... sekali kali, andalkan lah kakak mu walau tidak berguna ini!" kata Kei seraya tersenyum.
"Hei, kakak! Hentikan! Aku bukan anak kecil!! Dan jangan dekati aku, dasar siscon!!" kata Yuna setengah berteriak sambil melempar tangan Kei di bahu nya.
Kei yang mendengar itu tertawa sedikit, dan mengangkat tangan, dan kembali ke tempat duduk nya.
Bagaimanapun, itu berhasil menghibur Yuna, membuatnya agak tersenyum. Dan sesuai dengan kata kata Kei, Kei membawa Yuna untuk bermain sebelum pulang, berputar di Game Center, dan mengelilingi mall untuk melihat lihat barang.
Pada akhirnya, Kei membelikan beberapa baju yang terlihat cocok untuk Yuna di beberapa toko baju.
Selama itu Yuna terus menggandeng tangan kakaknya, agar tidak terpisah jauh. Bahkan terkadang jika didekati beberapa pria penjaga toko, Yuna masih gemetar dengan itu.
("Aku merasa bersyukur telah membunuh mereka semua.") bisik Kei dalam hati.
__ADS_1
("Pikiran anda mulai berbahaya, Master.)
("Heh? Bagaimana? Bukankah kau biasanya berkata: "bagus sekali, Master anda membunuh mereka semua", atau mungkin " kerja bagus untuk permainan kejam anda". Kemana kau yang biasa?") kata hati Kei meneriakkan tanggapannya.
(Master. Anda memiliki banyak hadiah yang belum dibuka, termasuk poin yang belum dialokasikan. Saya menyarankan nya untuk membuka nanti.) Yuki tidak
("Ya. Aku juga agak penasaran dengan apa yang aku dapat.") pikiran Kei berbicara dengan Yuki sekarang.
***
"Terima kasih, kakak!!" kata Yuna dengan senyum ketika sudah sampai di halte, bersiap untuk pulang. Itu karena Kei memberikan beberapa hal yang sudah diincar Yuna sejak lama, seperti beberapa alat dan hal hal aneh yang tidak dimengerti Kei yang lainnya.
Kei tersenyum memandang Yuna, sementara dompetnya menangis karena itu. Memang, itu adalah uang yang dia kumpulkan dengan bekerja sendiri, tapi itu dia tabung untuk rencana nya bersama pacarnya.
Tapi pacarnya justru menolak untuk pergi, jadi dia menggunakan uangnya untuk Yuna terlebih dahulu.
"Baiklah. Ayo pulang, Yuna. Hari sudah hampir sore." kata Kei. Tangannya sekarang penuh, sebelah dengan beberapa belanjaan, dan sebelah lagi ditarik Yuna.
"Kamu juga harus berusaha untuk menjalani semua seperti biasa. Kamu besok sekolah kan? Tidak mungkin kamu sekolah dalam kondisi seperti ini."
"Atau mungkin kakak harus ikut ke sekolah, dan digandeng terus olehmu seperti ini?" lanjut Kei.
Raut muka Yuna seketika berubah, dan dia melepaskan pegangan nya di tangan Kei dengan cepat.
"Itu mengerikan. Maka, jangan lakukan itu." kata Yuna cepat.
"Ha ha ha! Kau tahu? Coba lihat sekelilingmu, dan kalau kau tanya, seperti apa mereka melihat kita. Pasti mereka akan menjawab bahwa kita terlihat seperti pasangan." jawab Kei sambil tertawa.
Itu membuat Yuna sedikit memerah, lalu menghela nafas.
"Ahh, baiklah baiklah! Aku akan berusaha. Mungkin aku bisa bersikap biasa di sekolah, t-tapi..." Yuna terlihat gelisah.
Kei sedikit mengangkat alis, dan Yuna melanjutkan.
"T-tolong antar a-aku ke s-sekolah. Aku benci mengakuinya, tapi a-aku masih tidak berani untuk keluar ke tempat tempat umum sendirian. J-jadi, tolong temani aku..." lanjut Yuna
Melihat itu, Kei semakin merasa bersalah. Dimana biasanya Yuna adalah orang yang berani, tapi karena kejadian tadi membuat mentalnya turun jauh.
"Ya ya ya. Aku mengerti." jawab Kei sambil tersenyum.
__ADS_1