
kekhawatiran ini dikemukakan alsy kepada Samuel kemarin sore.tapi Samuel menanggapinya dengan kalem.
"tenang sajalah.kalau dia macam-macam sama kamu,aku yang bertindak."
cemas hati alsy waktu itu. "Sam,aku enggak ingin kau berbuat ngawur.jangan sangkut pautkan hubungan pribadi ini dengan tempramenmu.aku enggak suka cara-caramu."
Samuel justru tertawa geli. "kau pikir aku akan membunuhnya?Oh,enggak bodoh aku,alsy.enggak sebodoh itu."
"lalu apa maksudmu akan bertindak?"
"aku akan menjelaskan kepadanya seberapa jauh hubungan kita.pokoknya aku enggak ingin dia cepat cemburu kepadaku dan marah-marah padamu hanya karena kecurigaannya terhadap diriku.semuanya harus terbuka.dengan begitu dia akan tahu siapa yang berjiwa besar."
alsy percaya Samuel sanggup melakukan niatnya.tapi apakah Samuel juga mempunyai jawaban untuk menghadapi tantangan yang diucapkan Willy tadi?apakah saat itu juga alsy bisa mendapatkan saran dari Samuel? tentu saja tidak.samuel tidak ada bersamanya.jadi ia harus menjawab tantangan itu dengan inisiatif sendiri.
hati-hati alsy berkata kepada Willy, "wil,aku tahu kau mencintaiku.aku berusaha sebaik mungkin menjadi perempuan yang dicintai seorang lelaki. tapi kalau cintamu membabi-buta dan kecemburuanmu kelewat batas,itu sama saja dengan membunuh kebebasanku. nanti jangan-jangan aku menggendong ayam jantan pun kau cemburu."
tak ada sahutan di bibir willy.ia menikmati makannya dengan santai.
di sela kunyahan demi kunyahan Willy menyahuti.
"sudah kukatakan padamu agar jauhi pemuda itu.kalau aku bilang begitu, berarti aku enggak suka melihat kamu bicara dengannya."
"iya.aku tahu! tapi dari segi pergaulan itu tidak mungkin kulakukan,wil.aku dan dia enggak punya masalah kok tiba-tiba aku harus menjauhinya.kan enggak logika itu namanya."
"buat saja masalah dengannya. bukankah paling mudah membuat masalah daripada menyelesaikannya? nah,ciptakan masalah apa saja supaya kau punya alasan untuk meninggalkan dia.beres!"
susah juga.agaknya Willy benar-benar antipati terhadap samuel.dan rasa antipatinya itu tidak bisa diajak kompromi lagi.alsy mulai tersudut dan bingung mengatasinya.
"sebenarnya apa yang membuatmu begitu cemburu terhadap dia?"
"naluri ku."
"nalurimu bagaimana?"
"naluriku mengatakan dia mencintaimu, dan dia lah yang membunuh Oscar."
alsy terkesiap.tercengang sejenak. makannya sampai berhenti.mata alsy memandang Willy lekat-lekat.tapi Willy tetap tenang seakan merasa puas melihat alsy tercengang oleh kata-katanya.
__ADS_1
"karena itu hanya naluri yang bicara, maka aku tidak berani membuat pernyataan didepan pihak berwajib," lanjut Willy.
"jahat sekali kau jika menuduh Samuel yang membunuh Oscar,"ucap alsy sengit.
"kubilang tadi naluriku yang mengatakan begitu."
"ya.nalurimu itu yang jahat."
Willy tersenyum sinis. "kau sakit hati? kau tak suka?"
"memang!"jawab alsy tegas.
"jadi kau lebih membela dia daripada mendukung naluriku?"
"karena dia belum tentu bersalah.kalau Samuel sudah pasti bersalah dengan berbagai bukti yang kuat,aku tidak akan membelanya."
"jadi... dia lebih berharga daripada diriku?"
"aku tidak berkata begitu."
"kau mengatakan naluri jahat,kan? berarti naluri dia enggak jahat."
"terserah apa katamu,wil.yang jelas aku enggak suka dengan cara berpikirmu yang ngawur itu!"
"aku atasanmu."
"aku enggak peduli."
"well...kalau seseorang tidak peduli lagi pada atasannya,berarti orang itu sudah enggak mau punya atasan.itu pertanda dia tak mau bekerja lagi.mungkin lebih memilih dipecat daripada terus bekerja. begitu,kan?"
"terserah apa keputusanmu! percuma saja aku membela diri.kau terlalu egois dan tidak bisa berpikir secara obyektif."
"Oke.akan kupertimbangkan putusan apa yang baik kulakukan untuk dirimu,"
kata Willy dengan nada tegas namun berkesan tenang.
malam mengalunkan simfoni sepi.alsy duduk merenung di depan cermin riasnya sambil sesekali memandangi bayangan dirinya di dalam cermin. namun, yang tergambar dalam benaknya adalah kepicikan seorang lelaki seperti Willy.
__ADS_1
muak sekali alsy mendengar perdebatan wilky tadi siang.tak pernah alsy membayangkan Willy akan bicara seperti anak-anak.sungguh tidak ada kesan dewasanya.padahal Willy sudah tiga kali menikah.tapi cara berpikirnya masih seperti anak belasan tahun yang sedang menginjak masa puber.atau, barangkali sikap seperti itu yang membuat ketiga istrinya minta cerai darinya?
Willy seperti tidak bisa membedakan antara hubungan pribadi dengan hubungan kerja.kecemburuan pribadinya disangkutpautkan dengan masalah pekerjaan,sehingga ia mengancam akan memecat alsy.Oh,alangkah bodohnya pria itu sebenarnya! sangat tidak profesional sikapnya dalam dunia bisnis.barangkali jika bukan karena warisan orang tuanya,Willy tidak akan sekaya itu.
"benar-benar picik! memuakkan!" geram alsy bicara pada dirinya sendiri di depan cermin.
alsy tidak tahu kalau Willy mempunyai strategi sendiri dalam menghadapi orang yang dicintainya.barangkali menurut pandangan umum memang kurang profesional.tapi menurut konsep hidup Willy itulah yang dinamakan strategi komunikasi batin.willy masih membutuhkan informasi detail mengenai sikap dan kepribadian perempuan yang ingin diambil sebagai istri.hal ini dilakukan karena ia tak mau untuk yang keempat kalinya.
mana tahu pula alsy kalau ternyata Samuel menghubungi Willy melalui telepon,sehari setelah alsy sengaja tidak masuk kantor dan mengadukan persoalannya kepada Samuel ketika pria tersebut mengembalikan mobil.
Willy mau menerima telepon itu karena Samuel beralasan mempunyai kabar buruk tentang alsy.
"katakan apa kabar buruk itu?!" desak Willy tak ramah.
"alsy murung.dia kecewa padamu!"
"itu bukan urusanku.itu urusan alsy sendiri.dan juga bukan urusanmu,bung!"
"kalau kau berurusan dengan alsy,itu berarti kau berurusan denganku.mengerti?!"Samuel agak kasar karena terpancing emosi.
"jangan coba-coba menggertakku.aku bukan anak kecil."
"sorry.aku tidak menggertakmu.aku hanya melakukan apa yang pantas kulakukan menurut jalan pikiranku."
"kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."
"besok aku datang menemuimu!" Samuel memutuskan telepon terlebih dulu.ini membuat Willy tertegun memikirkannya.tanpa sadar ia termakan gertakan Samuel.
empat hari alsy tidak masuk kerja.dia sengaja bertahan begitu sebelum ada instruksi agar masuk kerja.intruksi itu diharapkan datang dari Willy sendiri.ia ingin mendengarnya dari mulut Willy tanpa melalui seorang kurir.kalau sampai satu Minggu Willy tidak datang, alsy memutuskan untuk bekerja di perusahaan milik seorang teman yang sudah tiga kali menawarinya bekerja di sana dengan imbalan gaji cukup besar.
tepat hari keenam,ketika malam Minggu akan tiba,Willy datang menemui alsy di rumah.lelaki itu datang sebelum lewat tengah hari.
"kau membawa surat pemecatan diriku?"tanya alsy menantang lebih dulu.
Willy tersenyum lebar.lalu duduk sendiri tanpa menunggu dipersilakan.alsy memandanginya dengan sikap dingin yang dipaksakan.
"apakah kau sudah siap untuk bulan depan?"tanya Willy membuat alsy sempat bertanya-tanya di dalam hati.
__ADS_1
-- eps 10 end --