
Samuel menjadi serba salah.ia menggeram jengkel pada dirinya sendiri. menyesal sekali terhadap apa yang telah dikatakannya tadi.ia duduk di kursi lalu meraup wajahnya satu kali untuk membuang keresahan.dipandanginya orang-orang yang keluar masuk kantin depan.samuel mencoba mengalihkan perhatian.namun ia tak mampu melenyapkan bayangan tangis alsy. akhirnya Samuel menyusul ke dalam. dipandanginya wanita cantik yang berbaring di ranjangnya itu dengan wajah tertutup bantal.
pelan-pelan Samuel duduk di tepi ranjang.mulutnya masih tak mampu bersuara karena bibirnya gemetar dan lidahnya terasa kelu.bahkan untuk merabakan tangannya ke tangan alsy pun ia tak mampu melakukan.akibatnya ia hanya bisa diam saja.merenung lama di tepi pembaringan.
siang dibiarkan berlalu dalam keheningan.sebatang rokok ingin di hisapnya,namun tak jadi.sementara wajah alsy masih tetap ditutup bantal. tapi Isak tangisnya telah tiada.sekalipun demikian Samuel belum berani mengajaknya bicara atau menyentuh tubuh alsy sedikit pun.ia hanya duduk dan merenung.
setelah lama kemudian alsy membuka bantalnya. "tolong,ambilkan minumanku di depan,"dengan cukup parau ia berkata.
Samuel buru-buru mengambilkan minuman Coca cola yang kedinginan ya sudah berkurang.ia menyerahkan minuman itu kepada alsy yang sudah mengeringkan air matanya.samuel membantu mengangkat kepala alsy yang ingin menyedot Coca cola.ia lakukan dengan lembut,penuh pelayanan setia.
"mau kuambilkan yang lebih dingin lagi?"
alsy menggeleng.setelah menyedot minuman itu ia tidak lagi berbaring, melainkan duduk dengan bersandar pada dinding.kedua tangannya memeluk bantal yang telah basah.mata alsy masih berkaca-kaca,namun tak sebasah tadi.mata itu kini memandangi Samuel dari arah samping.samuel duduk dengan tak berani menghadap ke arah alsy.walau ia tahu alsy memandanginya, ia tak berani membalas pandang mata perempuan bergaun sutera kuning kembang-kembang itu.bahkan gerakan matanya tampak kikuk.
"Sam...."
"ya,"jawab Samuel tanpa berani memandang alsy.
"tataplah aku,Sam."
berat sekali kepala Samuel untuk menengok ke samping kanannya. bahkan jantungnya berdebar-debar. kepucatan kulit wajah itu tampak samar-samar.
"tataplah aku,Sam,"punya alsy untuk kedua kalinya.
Samuel memaksakan kepalanya bergerak ke kanan.kini ia memandang wajah alsy dengan sorot mata yang begitu redup,seakan tak mempunyai kekuatan untuk menatap bekas tangis di mata alsy.
"Sam,benarkah kau mencintaiku?"
Samuel diam.ditelannya ludah satu kali. pandangan matanya lalu diturunkan ke arah tepian kasur.tiba-tiba dagunya disentuh jemari alsy dan diangkatnya pelan.
"benarkah kau mencintaiku,Sam?"
"maafkan aku,alsy.lupakan kata-kataku tadi."
alsy justru menggelengkan kepala.
"tak ada yang bisa kulupakan dari dirimu,Sam."
__ADS_1
"harus bisa.bilamana perlu,lupakan semua tentang aku."
air mata alsy kembali merimbun. "jangan,sam.jangan paksa aku untuk melupakan kamu,"tuturnya dengan suara kian membisik.
wajah yang dipandangi itu kini diusap perlahan dengan jemari tangan.samuel semakin terjerat dalam keresahan yang menikam.ia tak bisa mengelakkan usapan lembut itu.maka,Samuel pun segera menggenggam tangan alsy yang satunya dengan debar-debar dalam dada menghentak kuat.
"alsy,jangan lagi berpaling padaku. jangan lagi pedulikan aku.nanti hancur rencanamu itu,alsy."
"aku enggak bisa,Sam.bahkan...aku enggak tahu harus bagaimana dengan Willy."
"apakah kau tidak mencintainya?"
"memang aku mencintainya,karena hatiku kosong oleh cinta dari siapa pun. namun kalau saja aku tahu begini,tak akan sempat tumbuh rasa cintaku kepada Willy."
Samuel menggelengkan kepala. "jangan begitu alsy.jangan kecewakan willy.dia sangat mencintaimu."
"jangan jual cintaku pada Willy,Sam."
"ak...aku tak mengerti maksudmu."
"kau mencintaiku,bukan?"
"tak bolehkah jika aku juga mencintaimu?"bisik alsy dengan genangan air bening mulai meleleh dari kelopak mata.
"ya,memang boleh.tapi kita tidak bisa hidup bersama,alsy."
"kenapa?kenapa begitu,Samuel?"
"kita berbeda nasib."
"siapa bilang?nasib kita sama. sama-sama yatim piatu dari kecil."
"memang.tapi nasib kita dihari-hari mendatang tak boleh sama.kau harus lebih jaya dariku,alsy.kalau kau hidup bersamaku,kau akan menderita karena kemiskinan.dan aku akan sangat kecewa jika melihatmu menderita.aku tak punya jaminan apa-apa untuk masa depanmu."
"Sam...,"alsy kian terharu.dipeluknya lelaki itu dalam tangis tanpa suara. didekapnya kuat-kuat.dan Samuel tak tahu harus membalas dengan cara bagaimana.
"alsy,jangan menangis,sayang.kau melukai hatiku dengan tangismu itu. jangan menangis,alsy...,"bujuk Samuel dengan gemuruh di dada yang kian memburu.
__ADS_1
susah payah alsy mengendalikan tangisnya.dihapusnya sisa air mata dengan telapak tangan.memang tak kering.namun Samuel memberanikan diri mengeringkan air mata itu dengan ujung selimut.
"kau harus menikah dengan Willy supaya mempunyai masa depan yang cerah.lupakan tentang cintaku. perkawinanmu dengan Willy tidak membuat aku berpaling darimu.kasih sayangku tidak akan berkurang sedikitpun.lakukanlah hal itu,alsy. percayalah.tak ada luka di hatiku jika kau menikah dengan willy.karena memang dialah pria yang pantas kau dampingi.bukan aku."
alsy menggeleng-gelengkan kepala. "sulit sekali untuk melakukannya,Sam."
"jalanilah dengan perlahan-lahan.toh aku masih bisa kau temui disini.jadi tak ada masalah lagi dalam perkawinanmu dengan Willy,bukan?"
"Sam...kau memberikan langkah yang amat sulit kulalui.aku seperti tak mampu melakukan.biarkan aku hidup menderita bersamamu,Sam."
"jangan,alsy.kau tak akan sanggup menghadapi kenyataan itu nanti."
"benarkah aku tak akan sanggup menghadapi kenyataan apa pun?"
...~~~~...
...~~~~...
sebulan terlewat sudah.selama sebulan ini alsy tidak bekerja.willy tidak mengijinkan alsy bekerja lagi.malah jika alsy mau ia boleh menempati rumah barunya.tapi alsy belum punya niat untuk menempati rumah itu.hatinya masih galau.
alsy tidak tahu hari itu sudah hampir dua jam Samuel menunggu kedatangan Willy dikantornya.samuel duduk di lobby khusus untuk tamu kantor.ia sendirian sambil melihat-lihat sebuah majalah tentang dunia model.
waktu brina datang membawa perlengkapan fotografinya,ia sempat menganggukkan kepala dan tersenyum kepada samuel.pria itu membalas ala kadarnya.kemudian brina masuk ke ruang kerjanya.samuel sendirian lagi dan agaknya masih harus menguras kesabaran untuk menunggu kedatangan Willy.sebab menurut bagian informasi Willy akan datang ke kantor agak siangan.samuel tetap menunggu karena punya harapan bisa bertemu Willy.
brina yang berambut cepak dan mengenakan celana panjang serta kemeja lengan panjang dari bahan jeans itu kembali muncul.melihat Samuel masih di situ brina tak jadi melanjutkan langkahnya menuju ke ruang sebelah. brina menyempatkan singgah di lobby tamu.
"menunggu alsy,ya?"sapa brina.
"bukan.menunggu Willy,"jawab Samuel dengan senyum.
"Ooo...,"brina berlagak tenang.tapi hatinya bertanya-tanya apa maksud kedatangan Samuel ingin menemui Willy.
"sudah ada janji sebelumnya dengan Willy?"
"sudah,"jawab Samuel berbohong.
majalah diletakkan.ia merasa sedang ditemani brina.samuel mencoba menghargai maksud baik brina.
__ADS_1
"sudah dengar kabar terbaru tentang perkawinan alsy dengan Willy?" tanya brina kepada Samuel.
--eps 13 end--