Tabir Cinta

Tabir Cinta
eps 8


__ADS_3

"aku tau kau sangat terpukul atas kematian oscar.tapi seorang lelaki tak baik kalau menampakan kesedihan hingga berlarut-larut.semua orang akan kembali kepangkuannya,demikian juga dengan oscar.jika kita terlalu hanyut dalam kesedihan,seakan-akan kita tidak merelakan apa yang diambil oleh yang maha kuasa.padahal kita tidak mempunyai hak apa pun terhadap semua isi dunia ini.bahkan terhadap raga kita sendiri.yang maha kuasa lah yang mempunyai semua itu."


langkah Willy cukup pelan.alsy terpaksa mengiringi dengan ayunan langkah yang sama.di gandengnya lengan Willy sementara lelaki itu lebih sering melangkah sambil menundukkan kepala.jarak mereka dengan mobil masih lima puluh meter lagi.


kini terdengar suara Willy berkata dengan sedikit parau.


"bukan kematiannya yang disesali.cara menuju kematian itu yang kusedihkan. tragis sekali."


"kematian adalah kematian.mengenai cara dan saatnya memang beragam.tapi semua itu suratan takdir yang bicara."


"yaah..."Willy menghempaskan napas. "memang benar apa katamu,alsy.tapi rasanya begitu sulit bagiku untuk membuang bayangan tentang saat-saat terakhir bersama oscar.kalau saja saat itu aku tahu ia berpamitan padaku bukan untuk pergi,akan kuberikan apa yang diminta olehnya.dia meminta sejumlah uang sebagai pinjaman..."


malam itu Willy sempat membentak Oscar. "duit melulu kau ini?!kapan kau hidup tanpa mengeluh soal duit?"


"ini untuk keperluan penting,Willy,"bujuk Oscar.


"keperluan penting apa? paling-paling buat booking perempuan dan foya-foya? eh,dengar,ya?pendapatanmu itu sudah cukup besar dibanding dengan orang-orangku yang lain.semestianya ku sudah bisa membeli rumah dan ganti mobil baru.tapi nyatanya kau tidak begitu.uangmu kau habiskan untuk membeli wanita!kalau enggak begitu,ya buat mabuk-mabukan."


"kau pernah bilang kalau hidup ini hanya satu kali.manfaatkan hidup sebaik mungkin.nikmati hidup seenak mungkin.dan..."


"memang.memang aku pernah bilang begitu.tapi kita mesti tahu takaran. enggak seenaknya begitu.kau punya kebutuhan.dan kau belum memenuhi kebutuhanmu itu.apakah itu namanya kau sudah menikmati hidup?belum!"


Oscar tampak kesal mendengar ocehan itu.lalu,ia berkata dengan wajah bersungut-sungut, "ya sudah kalau memang enggak dikasih pinjam!enggak perlu kau menggurui aku.aku berangkat sekarang."


"mau kemana kau ini sebenarnya,Os?!" seru Willy,karena Oscar sudah sampai di pintu keluar.


"kemana saja aku mau pergi,kau tak perlu tahu!"jawab Oscar dengan nada ketus.setelah itu ia menghilang dari hadapan Willy.terdengar suara mesin mobil menderu keras,seakan sebuah pertanda kemarahan hati oscar.mobil meninggalkan rumah Willy dengan suara derit ban yang mencicit.

__ADS_1


"jangan manjakan diri.nanti uangmu terkuras habis,"ujar Dorman yang kala itu berada di serambi depan dan melihat kepergian Oscar.willy diam saja mendengar komentar dorman.ia segera mengangkat telepon untuk menghubungi seorang kenalannya.tapi Dorman berkata lagi. "dia memang cukup pandai dalam bidang menegeman perusahaan,tapi rapuh untuk menegeman pribadinya."


"sebaiknya kau tidak perlu ikut mengatur dia dan aku.tutup mulutmu. aku bisa tambah pusing!"kata Willy sebelum menerima sapaan dari orang yang ditelepon.


Dorman hanya mengangkat bahu. kemudian melangkah menuju garasi melalui jalan samping.


"mau ke mana kau,man?!"seru Willy.


"ngeceng!"jawab Dorman seenaknya. Willy tak sempat berkata apa-apa lagi karena sudah harus bicara dengan orang yang diteleponnya.


itulah saat-saat terakhir Willy bicara dengan Oscar.pada pagi harinya,kira-kira pukul lima kurang,sebuah klakson mobil terdengar memanjang dan tiada henti-hentinya.klakson mobil itu berada di depan rumah Willy,seolah sengaja membuat bising supaya orang-orang terbangun dari tidurnya.


Willy tidak mendengar suara klakson itu karena kamarnya kedap suara.tetapi dua orang pelayannya mendengar dan terbangun.mula-mula mereka membiarkan suara klakson yang memanjang itu,tapi lama-lama risih juga.salah satu dari mereka melongo ke arah jalan depan rumah.ternyata mobil Oscar berada di depan pintu pagar.


"pasti dia mabuk!kalau enggak masa' membunyikan klakson untuk di bukakan pintu saja sampai sepanjang itu?" gerutu si pelayan.dengan sisa kantuknya Warjo berjalan menuju halaman untuk membukakan pintu pagar.


baru saja pak Kus memejamkan matanya kembali,ia dikejutkan oleh suara Warjo yang berteriak keras-keras, mengimbangi suara klakson yang masih berbunyi.mau tak mau pak Kus segera melompat keluar dari pos.


"Jo,ada apa sih?!"bentak pak Kus.


Warjo berlari ke arah pak Kus dengan mata tegang dan mulut tak bisa bicara. tangannya menunjuk-nunjuk ke arah mobil oscar.pak Kus sempat mengomel kepada Warjo walau akhirnya memeriksa mobil tersebut.dan ia jadi tersentak kaget,sama seperti Warjo tadi, ketika melihat kepala Oscar terkulai jatuh di stiran mobil.dahinya menekan pada bagian klakson.


sekalipun statusnya seorang satpam,tapi pak Kus shock juga melihat leher Oscar yang terkoyak dan berdarah. bagian dada serta pahanya basah oleh darah.itu terlihat dengan jelas stelah ia menyorotkan lampu senter ke dalam mobil.


suasana menjadi gempar.willy digedor oleh pak Kus,dan segera menjadi shock setelah mendengar laporan tentang kematian Oscar.


jelas Oscar bukan mati karena bunuh diri atau penyakit.oscar dibunuh seseorang.sipembunuh berhasil menikam leher oscar.agaknya itu dilakukan oleh si pembunuh dari belakang korban.

__ADS_1


analisa Willy maupun polisi yang menangani kasus tersebut mengatakan, besar kemungkinan Oscar telah membawa si pembunuh dari suatu tempat ke rumah.ketika mobil sampai di depan rumah,barulah si pembunuh melaksanakan niatnya.saat itu si pembunuh duduk di jok belakang. hingga ia bisa menarik kepala Oscar ke belakang dan menikam pisau keleher yang terbuka itu.setelah itu kepala Oscar sengaja dijatuhkan kebagian stir,tepat pada klakson,dan si pembunuh melarikan diri dengan cara keluar lewat pintu belakang mobil.dibagian pintu belakang itu terdapat noda darah yang masih segar.tapi tak ada sidik jari pelaku.


Dorman terkejut ketika pulang di siang hari dan mendapatkan rumah Willy penuh orang.ia sempat terbengong lama mendapat kabar Oscar meninggal dibunuh orang.wajahnya terlihat memancarkan dendam dengan bola mata memerah.lelaki agak pendek dari Willy dan sedikit gemuk itu menggeram di depan jenazah Oscar.ia berkata datar entah kepada siapa,yang jelas di sampingnya berdiri Willy dengan wajah duka.


"akan kucari pelakunya sampai ketemu. kubalas kematian ini!"


Jefri,seorang akuntan muda yang juga anak buah Willy menepuk-nepuk pundak Dorman. "tenang.tenang.kendalikan emosimu,man...!"


Dorman diajak duduk di kursi luar.napas Dorman terengah-engah dengan wajah pucat kemerah-merahan.


"siapa pelakunya kira-kira?" gumam Dorman saat Willy ikut duduk disampingnya.dorman duduk di antara Willy dan Jefri.


"mungkin teman Oscar dari tempat ia mabuk,"kata Jefri.


"apakah Oscar dalam keadaan mabuk?"


"polisi mencium bau alkohol dari mulutnya."


"bangsat!"geram dorman.lalu kepada Willy ia berkata, "jangan takut.aku akan segera menemukan siapa pelakunya. akan kubalas kematian teman kita itu!"


Willy tidak bilang apa-apa.bahkan mendengar kata-kata Dorman pun sepertinya tidak.namun Dorman terus menggeram sendirian dengan kedua tangan menggenggam kencang.


"bangsat juga pelacur itu!kalau saja dia tidak menahanku untuk bermalam di hotel,aku pasti bisa memergoki pelakunya saat ia keluar dari mobil oscar!"


buat Willy,kematian Oscar merupakan pengalaman hidup yang baru kali ini ia alami.seorang teman dekatnya mati terbunuh.


-- eps 8 end --

__ADS_1


__ADS_2