Tabir Cinta

Tabir Cinta
eps 6


__ADS_3

"cinta mempunyai satu tuntutan,yaitu rasa ingin memiliki dan tidak ingin kehilangan.obsesi sebuah cinta akan ke arah sana.jika ternyata dengan mudah kau menceraikan istrimu,berarti kau tidak mempunyai keinginan untuk memiliki selamanya,juga tidak merasa takut kehilangan belahan jiwamu itu.


"hmm... mungkin aku memang tidak mempunyai rasa cinta pada mereka," kalimat itu meluncur dari bibir Willy. "tapi aku mempunyai kadar kecemburuan cukup tinggi.aku merasa sakit hati dan marah jika melihat istriku berada dalam satu mobil dengan lelaki lain.apakah itu bukan cinta namanya?"


alsy menggeleng sambil tersenyum tipis. "itu hanya sebuah ego.jika ego lebih besar daripada cinta,maka ia akan menjadikan seseorang pencemburu besar.tapi jika cinta lebih besar daripada ego,ia akan menjadikan seseorang bersikap bijaksana dan penuh pengertian.


"mana yang paling di sukai oleh seorang wanita?"


"jelas wanita akan menyukai cinta yang lebih besar daripada ego!"jawab alsy dengan pasti.willy tersenyum lebar menanggapinya.


"kalau sekarang aku mempunyai rasa cemburu kepadamu,apakah itu ego atau cinta?"


sulit untuk menjawabnya.alsy sedikit bingung dan hanya bisa tersipu.ia di pandangi willy.dan hal itu hanya membuatnya semakin kikuk.


"jawab lah,"desak Willy. "itu ego atau cinta?"


"mungkin keduanya,"jawab alsy sambil tertawa renyah.


willy ikut tertawa.tampak ceria dan senang hatinya.keduanya sama-sama tenggelam dalam kebisuan. keduanya saling menyelami alam pikiran masing-masing seolah telah kehabisan bahan bicara.maka,mau tak mau ranjang pun menjadi sasaran mereka.


alsy berbaring lebih dulu setelah menguap satu kali.willy duduk di sofa samping ranjang.kedua kakinya di luruskan,diletakkan di atas ranjang. lampu terang di padamkan.kini lampu tidur berkap warna kuning cream itu yang dinyalakan.alsy mulai berdebar-debar.biasanya kalau cahaya lampu sudah temaram seperti itu, seorang lelaki akan segera mengawali kencannya.


dulu hal seperti ini pernah dialami alsy bersama John,mantan pacarnya yang sekarang sudah hidup bahagia dengan istrinya di australia.dulu John mulai mencumbunya jika lampu sudah temaram.


sekarang agaknya lelaki yang satu ini tidak seagresif john.barangkali terpengaruh oleh penampilannya sebagai lelaki elegan yang hidup serba eksklusif,sehingga Willy tidak buru-buru naik ke ranjang dan mencumbu alsy. pria itu malah menyalakan rokok.rokok putih tanpa cengkeh.sesekali sisa minumannya diteguk sedikit demi sedikit.


tapi alsy tahu mata pria itu selalu memandang ke arahnya.seakan Willy lebih suka memandangi alsy ketimbang harus memberikan rangsangan lain. alsy pun jadi serba salah.ia berusaha untuk tetap tenang walau hatinya gundah.


"Al...,"tiba-tiba terdengar suara Willy di sela keheningan. "apakah menurutmu aku harus menikah lagi?"


"itu tergantung kemauanku,"jawab alsy setelah berpaling menatap Willy dengan masih tetap berbaring.

__ADS_1


"kalau aku selalu menuruti kemauanku, aku yakin hidupku akan semakin menderita.mungkin Bisnisku bisa kacau. aku butuh pertimbangan dan pendapat orang lain,apakah aku harus beristri lagi atau tetap menduda begini?"


"kalau menurutku...,"alsy mulai berpikir dalam pengaruh kegundahan hati. beberapa saat kemudian ia baru meneruskan kata-katanya. "menurutku memang ada baiknya kalau kamu menikah lagi.dengan adanya seorang istri akan ada kendali khusus yang dapat membuatmu selalu mempertimbangkan langkah-langkah berikutnya.jangan kau anggap istri adalah kendala,melainkan suatu rambu-rambu yang bertugas mengingatkan langkah seorang suami."


"begitulah?"


"menurutku begitu!"jawab alsy tegas.


"lalu menurutmu...layakkah aku jatuh cinta?"


"cinta bukan milik satu orang,wil.cinta itu milik semua orang.tak peduli dia pengusaha atau gelandangan yang tidurnya di bawah kolong jembatan."


Willy manggut-manggut.ada senyum ceria yang menipis di mulutnya.alsy tahu senyuman itu lambang kepuasan dari jawaban yang ia harapkan.


"kalau aku ingin menikah,harus seperti apa wanita itu?"


"tentunya yang harus mengerti betul tentang pribadimu.hal itu akan dapat mencegah timbulnya perceraian yang keempat kalinya dalam perkawinanmu, Willy."


"ya.pasti begitu.timbulnya perceraian antara lain disebabkan karena kurangnya pengertian dari pasangan suami istri.perceraian masih bisa dihindari jika salah satu pihak mau mengerti dan bisa mengalah.tapi kalau keduanya sama-sama keras kepala, maka perceraian pun tidak bisa dielakkan lagi.selama ini kau mungkin sudah cukup mempunyai pengertian terhadap ketiga mantan istrimu.sayang, mereka belum mengerti dengan maksud baikmu."


sekali lagi Willy tampak puas dengan jawaban alsy.


"enak sekali bicara denganmu,alsy.ada banyak perempuan cantik seperti kamu, tapi tidak ada yang punya percakapan seenak kamu."


alsy sengaja tertawa lepas. "begitukah caramu merayu ketiga mantan istrimu dulu?"


"No!"jawab Willy cepat. "mereka justru sering membuatku muak kalau sudah bicara panjang lebar.'


tawa alsy hilang,tinggal senyuman.ia sudah tidak lagi memandang willy.alsy kini memandangi bantal yang bersarung biru saten.ujung bantal dibuatnya mainan dengan jari telunjuk.


Willy memadamkan rokoknya kedalam asbak.diteguknya sisa minuman sedikit. kemudian ia naik keatas ranjang dengan senyuman yang menawan.alsy kembali menatapnya seakan siap menerima sentuhan apapun dari pria itu.

__ADS_1


namun,Willy hanya berbaring di samping alsy.napasnya terhempas lepas.matanya memandangi langit-langit kamar.suara Willy kemudian terdengar pelan mirip orang menggumam.


"ya,istri...sepertinya aku memang harus beristri lagi.tapi...," Willy berpaling memandang alsy yang jaraknya sangat dekat. "menurutmu,perempuan mana yang pantas menjadi istriku,Al?"


"banyak yang pantas.tapi mungkin hanya satu yang terpilih,"jawab alsy tanpa berpikir lagi.


"bagaimana kalau aku memilih kamu?"


desir dalam dada alsy begitu kencang, sehingga ia gelagapan untuk beberapa saat.ia tak berani menatap willy.desir dalam dada itu terasa semakin mengiris jantung manakala tangan Willy mengusap rambut alsy.lembut sekali gerakannya.setiap sentuhan helai rambut dirasakan betul oleh Willy.


"memang benar apa katamu tadi.banyak yang pantas untuk di ambil istri.tapi cuma yang terpilih olehku, yaitu kamu.cuma...mungkin pilihanku itu kurang tepat bagimu.begitukah,alsy?"


"aku tidak tahu."


"mungkin kau merasa lebih tepat jika aku memilih perempuan lain,seperti brina atau arnis?"


"aku...aku tidak tahu."


"Hei!kenapa wajahmu jadi pucat.kenapa,alsy?"


"Ak...aku...aku tidak tahu,"semakin lemah jawaban itu.


ujung dagu alsy diraih Willy.matanya ditatap lekat-lekat oleh pria itu. "kau keberatan jika aku mengagumimu?"


pertanyaan itu kian mengeringkan mulut.alsy hanya menggeleng dengan mata menatap willy.willy tersenyum. pelan-pelan bibirnya ditempelkan ke bibir alsy.dilumatnya kehangatan itu.dan, alsy hanya pasrah dengan hati berdebar-debar.


waktu alsy ingin memeluk dan membalas kecupan itu,Willy telah lebih dulu berhenti.ia menarik wajahnya dan memandang alsy dengan senyum tetap mengembang.lalu Willy berkata dengan suara sangat lirih.


"jauhi lelaki itu,maka aku akan mengawinimu."


-- eps 6 end --

__ADS_1


__ADS_2