
"Hay! jangan melamun kalau sedang berjalan," tegur Oscar yang juga tengah menuju ke pintu lift. alay tersentak kaget mendapat teguran pelan itu.ia tersipu ketika ditertawakan oscar.
"sorry.aku tidak bermaksud mengagetkan kamu."
"memang. tapi kamu ingin membuatku jantungan," balas alsy dengan senyum yang tipis aja.
"mau langsung pulang?"
"iyalah... mau apa lagi kalau enggak langsung pulang?" alsy bergegas masuk ke dalam lift.mereka hanya berdua didalam lift itu.
"aku mau traktir kamu.bersedia?"
alsy mencibir. "aku bukan perempuan yang mudah ditraktir pria."
" sekalipun Willy yang menawarkan?"
mata alsy yang bundar menatap Oscar dengan perasaan tak suka. tapi Oscar justru tersenyum menggoda. alsy semakin jengkel saja pada pria berwajah imut-imut itu.
"kenapa kau sangkut pautkan dengan Willy?"
"O, aku enggak membawa-bawa dia!" elak Oscar buru-buru. "aku hanya memberikan suatu kemungkinan. dan semua itu bisa saja terjadi karena Willy naksir kamu."
"ah, tahi kucing!"
" benar! masa' kamu enggak merasa kalau dia sedang mengincar kamu?"
"aku enggak pernah berpikir tentang Willy."
"omong kosong!" sahut Oscar sambil tertawa.
"itu omong kosong yang sangat kosong!"
pintu lift terbuka.mereka berdua keluar. Oscar bertanya lagi ketika mereka akan berpisah arah
"bagaimana?kau menolak tawaranku, Al?"
"lain kali saja!" sahut alsy dengan tetap melangkah menuju mobilnya. Oscar tampak kecewa. namun segera melupakan hal itu.
__ADS_1
malam itu alsy tidak ingin pergi ke mana-mana. ia ingin menghanyutkan diri dalam lamunan di dalam kamarnya.
alsy tiba-tiba ingin sekali mempunyai rumah sendiri.ia jenuh ikut paman dan bibinya sejak usia 11 tahun, sejak ia menjadi anak yatim piatu yang tanpa memiliki adik atau kakak.
di rumah bibinya alsy mempunyai teman bicara yaitu irlan,saudara sepupunya,anak sulung dari paman dan bibinya.tapi irlan suka bicara ceplas-ceplos sehingga sering menyinggung perasaan alsy.kadang irlan bisa di ajak bicara,kadang tidak.
kadang dia bisa bersikap sebagai saudara,kadang seperti orang lain.dengan alasan-alasan tadi alsy jadi bosan tinggal di rumah tersebut.
barangkali dengan melangsungkan pernikahan alsy bisa cepat-cepat memisahkan diri dari keluarga paman dan bibinya.tetapi pernikahan bukanlah suatu pelarian dari depresi hidup.alsy sadar benar akan hal itu.rasanya ia perlu menahan diri untuk mendapatkan teman hidup yang dapat diajak berbagi rasa dalam suka dan duka.
Apalagi belakangan ini pamannya sering melirik nakal.jika tak ad bibi,sang paman terkadang menggunakan tangannya untuk berbuat jahil.ini membuat alsy semakin tak betah tinggal di sana.
memang gaya paman berbuat jahil dengan candaan yang wajar.namun di balik canda itu alsy menangkap ada niat busuk yang tersembunyi.ini sudah merupakan gejala negatif yang harus secepatnya dihindari.
itulah sebabnya hati alsy bertanya-tanya,apakah Willy pria yang layak dijadikan batu loncatan atas niatnya pindah dari rumah sang paman? apakah ia pantas bersuamikan Willy? apakah perkawinannya akan bisa abadi?
renungan itu harus terputus karena ada tamu lelaki yang mencari alsy. dahi alsy pun berkerut. benaknya menerka-nerka siapa lelaki yang datang di malam ini. apakah oscar penasaran dan tetap ingin mendesaknya untuk diajak pergi?
"Hay! kau rupanya.kapan pulang,Sam?" alsy sedikit terkejut mendapati siapa tamunya.
"dua hari yang lalu," kata Samuel.
"ada di rumah.mau ke sana? ambil sendiri dong."
"ogah! paling oleh-olehnya cuma cinderamata buat penghias bufet?" alsy berlagak cemberut. tapi ada sungging senyum yang tipis di bibirnya.
"oleh-olehku cuma dolar," jawab Samuel yang berbadan tegap. "maukah kau kuajak memanfaatkan dolar?"
"shopping maksudmu?"
"begitulah.kalau kau mau,aku minta ijin pada pamanmu.bagaimana? kamu enggak ada acara kan?"
Rasanya tawaran itu sukar ditolak. Samuel bukan orang baru lagi dalam kehidupan alsy. ia cukup lama mengenal Samuel,yaitu ketika Samuel masih tinggal bersama ayahnya.sekarang keadaan Samuel sama dengan dirinya. mereka tidak mempunyai orang tua lagi dan juga saudara kandung.
persamaan nasib itu membuat alsy lebih enak berteman dengan samuel.
hubungan mereka cukup akrab,kendati bukan dengan dasar cinta. Samuel dianggapnya teman sejak kecil sehingga kadang-kadang alsy merasa rindu jika lama tak bertemu.lelaki berkumis tipis dan beralis tebal itu juga dianggapnya sebagai kakak.alsy sering mengeluhkan masalahnya kepada samuel.tak heran jika mereka saling berbagi rahasia pribadi,sehingga di antara keduanya tidak ada lagi yang ditutup-tutupi.
__ADS_1
"kalau memang pamanmu punya kelakuan buruk seperti itu,berarti kau memang harus secepatnya meninggalkan rumah," kata Samuel di sela makan malam mereka di sebuah restoran berkelas.
"memang seharusnya begitu.cuma prakteknya sulit bagiku.aku harus punya rumah sendiri..
"tunggu, tunggu!" potong Samuel dengan cepat. "soal tempat tinggal kenapa kau anggap hal yang sulit? kau bisa tinggal di rumahku. ya, walaupun rumah kontrakan, tapi lumayanlah.bisa dijadikan tempat berteduh."
"bagaimana dengan pacarmu, si Mella itu?"
aku sudah berpisah dengannya," jawab Samuel pelan.
"jadi,kalau aku bergabung denganmu enggak akan ada yang cemburu?"tegas alsy.
"kalau toh ada, akan kujelaskan siapa dirimu sebenarnya sehingga kecemburuan itu akan hilang.
tenang sajalah.itu urusanku."
"ngomong-ngomong..," lanjut alsy setelah meneguk minumannya. "kau sudah punya cewek lagi,Sam?"
"cewek?"Samuel tertawa pelan dan pendek.ia melanjutkan makannya sebelum berkata. "cewek sih selalu ada.yang enggak ada rasa cinta."
" kenapa enggak jatuh cinta saja?kan perempuan itu bisa kau ambil sebagai istri.hidupmu tidak perlu berpetualang terus seperti sekarang."
"itu butuh pertimbangan yang matang," jawab samuel.ringan saja nada bicaranya. "punya istri kalau cuma bikin pusing ya percuma!"
buat Samuel,wanita tidak terlalu berharga di dalam hidupnya.alsy menilai begitu sebab ia tahu betul keadaan Samuel yang kebetulan punya wajah tampan.ketampanan yang jantan. Samuel banyak yang menyukai.dari sejak Samuel masih tinggal bersebelahan rumah dengan alsy,banyak cewek yang naksir padanya.tapi Samuel menanggapinya dengan main-main saja.
"kehadiran perempuan di dalam hati hanya akan membuat ruang gerakku terbatas.dan aku tidak mau hal itu terjadi."
"jiwamu memang aneh," gumam alsy.
"aku lebih suka bercinta dengan seorang pelacur.karena sekali bercinta, habis perkara.tidak ada masalah-masalah yang memusingkan otak dan tidak ada hal-hal yang mengekang ruang gerakku."
alsy memandangi Samuel dengan tersenyum.ia suka gaya hidup Samuel.ia pernah mencobanya,tapi ternyata selalu saja gagal.
"sebenarnya aku menyukai gaya hidupmu.cuma aku enggak bisa hidup seperti kamu.mungkin karena aku mempunyai naluri seorang wanita yang tentunya berbeda dengan naluri lelaki."
"bukan naluri yang bekerja,tapi otak," kata Samuel mengeringkan tangannya dengan serbet makan. otak lelaki lebih dominan menguasai gerik hidupnya ketimbang perasaan.kalau kita mengandalkan perasaan di dalam hidup, maka kita akan lebih banyak mengalami tekanan batin atau stres."
__ADS_1
-- eps 2 end--