
"itu yang sulit."kata alsy sambil meminum minumannya.
"sulit karena tidak melatih diri untuk menggunakan otak.kalau sudah terbiasa hidup dengan menggunakan otak,maka hal itu tidaklah sulit,al.hidup itu untuk dinikmati.bukan untuk menikmati.kalau hidup untuk dinikmati, kita makan nasi hanya pakai sambal pun rasanya cukup enak.tapi kalau menikmati hidup,kita dituntut untuk selalu bercukupan,selalu memenuhi tuntutan batin kita."
seorang lelaki berpakaian rapi dan tampak intelek sekali melintas di depan alsy.lelaki itu melihat alsy dan segera menyapanya dengan senyum keramahan.
"Hay!sedang santai juga kau?"
"ya.dengan siapa kamu?"
"Dorman dan Jefri,"lelaki itu menunjuk pada lelaki sebayanya yang duduk di meja dekat kasir.
"O,ya....kenalkan,ini kakakku.samuel namanya,"alsy memperkenalkan Samuel pada lelaki perlente itu.lalu kedua lelaki itu pun berjabat tangan.
"samuel."
"Willy."
"Rekan kerjanya alsy,ya?"tebak samuel
alsy buru-buru menjawab sebelum Willy menganggukkan kepala. "Willy adalah atasanku.dia bosku."
"Ooo..."Samuel manggut-manggut.
"cuma bos-bossan..,"canda Willy. "oke silahkan dilanjutkan.aku mau kesana dulu."
dengan lambaian tangan kecil Willy meninggalkan Samuel dan alsy.mata Samuel masih mengikuti langkah kepergian Willy.cukup lama.seperti ada yang terpikir dalam otaknya.alsy sampai melemparkan serbet makan untuk membuyarkan lamunan samuel.
"kamu kok seperti homo sih?melihat orang ganteng langsung saja diikuti oleh pandangan mata."
"apa benar dia bosmu?"Samuel tak mengacuhkan gurauan alsy
"ya.kenapa?"
"bukan pacarmu?"
"wow!itukah yang terpikir dalam otakmu tadi?"
"ya.soalnya dia ganteng dan...pasti kaya?"
"memang.tapi apa kau yakin aku tertarik padanya?"
"yakin.karena kau butuh suami seperti dia,"jawab Samuel seenaknya.
tapi hati alsy sedikit gelisah.jawaban itu punya kebenaran yang tersembunyi.dan kebenaran itu akhirnya dikatakan juga kepada Samuel.
Samuel memberi komentar setelah mendengar isi hati alsy.
"kalau kau masih menggunakan perasaan untuk menentukan langkahmu, maka selamanya kamu akan menjadi orang yang tidak pernah siap menghadapi persoalan.gunakan otak. pikirkan kalau dia memiliki suatu yang bisa menjamin masa depanmu.kenapa harus menunggu ada cinta yang tumbuh?cinta itu tidak perlu ditunggu.ia akan tumbuh dengan sendirinya kalau memang sudah waktunya."
__ADS_1
"jadi kau setuju aku menikah dengan dia?"
"sangat setuju."
alsy heran.tak jelas dengan maksud kata-kata Samuel.
lewat tengah hari Willy baru muncul di kantor.ia langsung masuk ke ruang kerjanya.sebantar kemudian memanggil alsy melalui telepon ruangan.alsy pun masuk ke ruang kerja yang lebih mirip ruang pribadi itu.
"bagaimana urusan dengan PT Alaska?"
"sudah tidak ada masalah lagi,"jawab alsy. "tadi juga kuterima fax dari Batam. pada dasarnya Singapura berkeinginan mengambil bagian dalam proyek kita ini."
"baguslah kalau memang begitu.O, ya... tolong catat.nanti pukul lima sore aku harus menghadiri pertemuan dengan tuan Liem di sari pasific.dan pukul tujuh malam aku harus menghadiri jamuan makan malam dari keluarga Mark gilbon di Hilton..."
alsy mengangguk.tangannya sibuk mencatat acara-acara tersebut.willy menarik napas ketika alsy menunggu kata-katanya.wajah pria tanpa kumis itu nampak menyimpan kegelisahan.
"ada yang mengganjal hatimu kelihatannya,"ujar alsy.
"Hmm...ya.masalahnya.keluarga gilbon belum mengetahui kalau aku sudah bercerai dengan istriku.mark berharap sekali aku datang bersama istri.ini agak merepotkan aku."
"mengapa tidak dijawab terus terang saja?"
Willy menggeleng."aku tidak ingin memperkuat penilaian negatif seseorang terhadap diriku.kalau mereka tau aku hidup tanpa istri lagi,maka keluarga Mark akan yakin dengan isu beberapa kolegaku yang mengatakan aku adalah lelaki homo."
"bukankah tempo hari kita sudah sepakat untuk tidak menghiraukan isu-isu semacam itu lagi?"
"ya.tapi ternyata sulit bagiku.aku dibayang-bayangi keresahan jika masih ada kasak-kusuk yang menyebutkan diriku pria gay.kalau selama ini aku sering bepergian dengan Dorman,karena dia bisa diajak berdiskusi tentang bisnis. ilmu bisnisnya cukup tinggi.aku perlu mencuri ilmu darinya."
"tepat.dan aku mempunyai gagasan untuk membawamu dalam perjalanan keluarga Mark gilbon.bagaimana?"
agak susah alsy memberikan jawaban. ia tidak langsung menyetujui.ada rasa kurang enak di hatinya.alsy malah kemudian menawarkan alternatif lain.
"bagaimana kalau kuminta brina untuk menemanimu?"
"brina?oh,no!dia terlalu genit.aku lebih suka didampingi wanita anggun seperti kamu.tapi kalau kamu keberatan,enggak apa-apa.enggak jadi masalah."
setelah menghela napas akhirnya alsy pun berkata, "oke.aku mau.tapi aku minta dijemput dari rumah.keberatan?"
senyum Willy mekar sambil menggeleng kan kepala.
"aku ingin tau sekarang.siapa sebenarnya lelaki yang tempo hari makan bersamamu?"
"Samuel maksudmu?" alsy memperjelas pertanyaan Willy.
"ya.samuel.aku ingin tahu sejujurnya.siap dia?"
"kakakku,"jawab alsy dengan tenang.
Willy tertawa pelan.ada kecurigaan di balik tatapan matanya yang lembut. "kalian tidak mempunyai kesamaan sedikitpun,"katanya. "baik dari wajah maupun postur tubuh.aku yakin dia bukan kakakmu."
__ADS_1
"dia memang bukan kakak kandungku.dia anak dari kakak ibuku."
"Ooo...,"Willy manggut-manggut,tampak lega.
"kalau hubungannya begitu aku baru percaya."
"apa ada masalah dengan Samuel?" tanya alsy.
"O,enggak.enggak ad.cuma aku khawatir kalau-kalau dia kekasihmu.dia akan cemburu melihat kita berhubungan dekat."
"pikirannya tidak terlalu picik."
"kuharap begitu.Hmmm...jadi nanti aku menjemputmu ke rumah.bagaimana kalau kusuruh Dorman yang menjemput?"
"mungkin aku akan pergi ke sebuah motel bersama dorman.begitulah kira-kira arti jemputan itu."
Willy tertawa panjang,agak terbahak. "oke,oke...aku sendiri yang akan menjemput istriku."
"calon istri!"ralat alsy sambil bergegas pergi keluar ruang kerja tersebut.
"ya,ya...calon istri.Eh,tunggu dulu!"
langkah alsy berhenti sebelum tangannya membuka pintu.ia berpaling. saat itu Willy mendekati seraya memandangnya dengan sorot mata yang memang mengagumkan.
"apa benar kata-kata 'calon istri' itu?" tanya Willy pelan.
"aku hanya bercanda,"alsy tertawa malu.
"padahal kuharap kau serius tadi."
"kadang-kadang sebuah canda bisa menjadi keseriusan,"jawab alsy yang cepat-cepat membuka pintu lalu keluar dari situ.
tepat ketika alsy keluar dari ruang kerja Willy,Oscar berjalan ke arah meja alsy. Oscar terlihat menyunggingkan senyum dengan telunjuk diacung-acungkan didepan wajah.
"nah,nah,nah...!ketahuan,ya?"Kata lelaki itu penuh curiga.
"apa yang kau anggap ketahuan itu?" alsy duduk di tempatnya.
"rambutmu kenapa acak-acakan? wajahmu pucat.pakaianmu pun lusuh. pasti ada apa-apa.pasti ada sesuatu yang habis kau lakukan dengan willy.iya, kan?"
"hmm...sorry,ya?!"alsy mencibir.
sambil tetap tertawa Oscar kembali berkata, "sudah bukan rahasia lagi.salah satu tugas sekretaris memang harus selalu siap melayani bos setiap saat."
"Eh,tolong jaga mulutmu!" hardik alsy merasa jengkel dengan kecurigaan yang sudah berubah menjadi tuduhan itu.
"O,tentu.rahasia ini tidak akan kusebarkan ke mana-mana.cukup aku saja yang tau apa yang telah kau lakukan dengan Willy di ruang kerjanya itu."
"kau pikir apa yang kami lakukan di dalam sana?otakmu terlalu banyak membayangkan perempuan,jadi selalu curiga pada suasana seperti ini.hmm... dasar otak mesum!"
__ADS_1
-- eps 3 end--