Tabir Cinta

Tabir Cinta
eps 12


__ADS_3

Samuel memperhatikan wajah alsy yang sejak tadi tampak murung. keceriaannya nyaris tak tersisa sedikit pun.samuel tahu ada ganjalan di hati alsy.karenanya, ia segera mendesak agar alsy segera menceritakan ganjalan di hatinya itu.


"aku gak suka melihat kamu murung. aku ingin kamu selalu ceria dan gembira.itulah kebahagiaanku,"kata Samuel di akhir desakannya.


"aku ingin membicarakan soal Willy," kata alsy mencoba untuk bisa bersikap baik.


"O,ya.willy.bagaimana dengan dia? apakah dia sudah berdamai denganmu?"


alsy tidak menjawab pertanyaan itu. malah dia ganti dengan pertanyaan. "sudah seberapa dekat perkenalanmu dengan Willy?"


"seberapa dekat?"Samuel tersenyum. "tidak terlalu dekat,"lanjutnya setelah menyalakan sebatang rokok filter.


"tentunya kau sudah tahu kalau Willy akan merencanakan perkawinannya denganku bulan depan."


"O,aku malah belum tahu.jadi kalian bulan depan mau menikah?wah,bagus itu!lebih cepat lebih baik,kan?"


mata alsy menatap Samuel dengan tajam.samuel jadi sedikit kikuk menghadapi wanita cantik itu.


"lebih baik bagaimana?"tanya alsy. "baik untuk siapa maksudmu?"


"ya tentunya untuk kalian berdua,dong!"


"belum tentu,"alsy menggeleng pelan.


Samuel mengerutkan kedua alisnya. "kenapa kau bilang begitu?bukankah kau akan menikah dengan pria kaya yang beruntung mendapatkan wanita secantik kamu?itu kan suatu timbal balik yang saling menguntungkan. apalagi kau mencintai dia dan dia mencintai kamu.tentu saja akhir yang paling baik dari semua itu adalah perkawinan."


"apa yang bisa diharapkan dari kawin paksa?"


"maksudmu!"Samuel mengernyitkan dahinya.


"Willy memang ingin mengawiniku bulan depan.tapi itu ia lakukan dengan sangat terpaksa."


"terpaksa?"keheranan Samuel makin jelas.


"ya.dia melakukannya karena desakan seseorang.ada orang yang mendesaknya dengan sebuah ancaman mati seperti oscar.orang tersebut adalah kau,Sam!"

__ADS_1


nada bicara yang semakin tegas itu membuat Samuel sedikit gugup.bingung untuk memberikan reaksi.senyum salah. tak senyum pun rasanya juga salah.


"Sam,kenapa kau mengancamnya?"


pertanyaan itu dilontarkan dengan nada pelan.tapi Samuel belum bisa cepat memberikan jawaban.ia hanya tersenyum tipis sambil memandangi bara api rokoknya yang dipermainkan.


"Sam,kenapa kau seperti menuntut perkawinanku dengan Willy?"


"apakah itu hal yang buruk?"


"ya!"jawab alsy tegas sekali. "buruk sekali menurutku.karena timbulnya hasrat Willy untuk mengawiniku bukan lantaran tuntutan hati nuraninya sendiri, melainkan karena desakan orang lain. apa indahnya perkawinan yang terjadi atas dasar sebuah ancaman?dia tidak akan menyayangiku dengan setulus hati.willy tidak akan merasakan hidupnya membutuhkan seorang istri yang dinikahi dengan resmi.yang ada dalam kesadarannya adalah mengawiniku demi untuk menyelamatkan dirinya dari ancamanmu.kalau sudah begitu,siapa yang menjadi korban?aku sendiri,Sam.aku!aku akan korban perasaan.batinku tertekan karena mempunya suami yang tidak memiliki ketulusan cinta di dalam hatinya."


asap rokok mengepul pelan.begitu santainya Samuel menikmati rokoknya. mata lelaki itu tak berani memandangi alsy.ia seperti sedang diadili karena kesalahan yang baru disadari.wajahnya tidak menampakan rasa protes.


"aku kecewa dengan sikapmu itu.aku malu pada Willy."


"aku...tidak bermaksud mengecewakan kamu.juga tidak punya niat membuatmu malu didepan willy.semua kulakukan karena aku tidak ingin lelaki itu mempermainkan kamu dengan kekuasaan dan kekayaannya.aku ingin dia memandangmu sebagai perempuan yang layak dihormati."


alsy menggeleng-gelengkan kepala dengan tetap memandang sekuel. seonggok kedongkolan terbayang lewat sorot matanya.kedongkolan itu tetap terpendam dalam hati untuk tidak meledak dalam curahan kemarahan. Samuel sendiri seperti sedang membendung perasaan menyesalnya.


"tak ada.tak ada yang kusembunyikan dalam hatiku untuk membuatmu celaka.sama sekali tak ada,alsy. percayalah.kalau aku mendesak Willy agar segera menikahinya,itu lantaran aku tidak ingin melihat kau kecewa dan sakit hati dipermainkan olehnya."


"mungkin kau punya maksud untuk menumpang hidup jika aku bisa menjadi istri Willy?begitu?"


"paling tidak begitulah tujuanku,"jawab Samuel tanpa malu-malu. "kalau kau menjadi istri orang kaya,sewaktu-waktu aku butuh bantuanmu berupa materi,kau pasti bisa membantuku."


"tanpa menikah dengan Willy aku masih bisa membantumu.kau butuh uang berapa?"


Samuel menggeleng.matanya tidak memandang alsy,melainkan kembali menatap ujung rokoknya.


"tidak!"kata Samuel cepat sambil menatap alsy. "jangan batalkan perkawinanmu.jangan,Al!"


"aku tidak suka menikah dengan pria yang terancam."


"Oke!oke akan kucabut ancaman itu.tapi jangan batalkan perkawinanmu, alsy."

__ADS_1


mata alsy sedikit menyipit seakan menaruh kecurigaan dalam tatapannya. alsy melihat ada maksud yang masih tersembunyi dalam hati Samuel.tapi ia bingung bagaimana cara mengoreknya.


"alsy,kumohon jangan batalkan rencana itu."


"begitu berharapnya kau.padahal menolak atau menerima perkawinan itu adalah hakku.punya wewenang apa kau sehingga mendesakku untuk mau menikah dengan Willy?"


"kau menganggap kita bersaudara, bukan?kau menganggap aku kakakmu. tak bolehkah seorang kakak mengharapkan adiknya menikah dengan orang kaya supaya hidupnya enak?"


"kakak yang picik akan berharap begitu," kata alsy sedikit ketus.samuel dia saja.wajahnya menunduk memandang ujung rokoknya lagi. "atau barangkali kau punya maksud licik di balik harapanmu ini?kau akan mudah merampok harta Willy jika kami sudah menikah.begitu?"


Samuel buru-buru menjawab. "bukan. bukan itu maksudku!"


"aku curiga dengan semangatmu menjodohkan aku dengan Willy."


"aku tidak akan merampok hartamu,alsy!percayalah! aku tidak akan tega melakukannya!"


"lalu apa alasanmu sehingga begitu bersemangat menjodohkan aku dengan Willy?apa?!"alsy meninggikan suaranya.


hening sejurus.kemudian Samuel menjawab dengan pandangan mata tertuju pada foto alsy di dalam figura.


"aku mencintaimu."


jawaban itu lirih saja.tapi bagaikan menggelegar di telinga alsy.mata alsy tidak berkedip memandang Samuel yang berjalan ke arah bufet,mendekati foto dalam bingkai.foto itu dirabanya pelan-pelan dengan ujung jemari.posisi Samuel membelakangi alsy.ia kemudian bicara dengan suara yang nyaris tidak terdengar.


"dari dulu aku mencintaimu.tapi dari dulu pula aku sadar siapa diriku, seberapa rendah kesanggupanku untuk membahagiakan kamu.semua kusadari betul.sehingga aku merasa tidak perlu jatuh cinta padamu secara terang-terangan."


Samuel memindahkan foto alsy.kini diletakkan dekat pada fotonya sendiri. foto itu bersandingan.samuel memandanginya dengan sebuah lamunan sendu.


"kalau aku mencintaimu dan merasa sayang kepadamu,aku tidak boleh mengecewakan kamu.aku harus bisa membahagiakanmu.tapi aku ditakdirkan hidup dalam serba kekurangan, sehingga tak akan mungkin bisa membahagiakan kamu.karenanya kuharapkan kau menikah dengan pria kaya itu supaya hidupmu bisa bahagia dan berlimpah keceriaan.cinta memang tidak harus memiliki.cinta adalah memberikan kebahagiaan dan kedamaian hidup pada orang yang dicintai...,"lalu Samuel berpaling memandang alsy. "aku merasa tak sanggup membahagiakanmu jika kau menjadi milikku.maka kubiarkan kau menjadi milik orang lain.karena aku tahu ada kebahagiaan untukmu disana. kebahagiaanmu itulah kasih sayangku dan juga kebanggaanku,alsy."


wajah wanita cantik itu tertunduk.hiruk pikuk anak-anak bermain diluar rumah tak terdengar olehnya.yang ada hanya selembar duka dan keharuan menutupi hati.alsy tak bisa menyingkirkan keharuan itu.ia tak bisa lagi membendung air mata.meski,dicobanya menahan kuat-kuat,tapi tetap saja meleleh dipipi.bibirnya digigit untuk menahan Isak.namun tetap saja dadanya terguncang karena sengal napas yang menghentak.


karena takut di lihat orang lewat dan malu berhadapan dengan Samuel,alsy berlari masuk ke kamar. di atas ranjang Kumal itu tangisnya pecah dengan membenamkan wajah dalam bantal.


-- eps 12 end --

__ADS_1


__ADS_2