TAK SEINDAH DUNIA ALYZA

TAK SEINDAH DUNIA ALYZA
Tentang Aku


__ADS_3

Aku melihat yang tak terlihat.


Aku mendengar yang tak terdengar.


Aku berkata yang tak ingin didengar.


Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan siapa diriku.


Namaku Alyza.


30 tahun usiaku saat ini.


Gelarku, Sarjana Ekonomi.


Secara fisik aku cukup ideal, dengan tinggi badan 170 cm dan bb 65 kg. Kulitku juga sawo matang.


Sepintas aku terlihat baik-baik saja.


Aku tinggal dirumah orangtua, bersama kedua saudaraku.


Satu laki-laki dan satu perempuan.


Aku tidak bekerja, tidak menikah, tidak punya 


penghasilan. 


Bahkan!


Kata orang-orang, yang sering ku dengar,  aku tidak punya otak!


Sepenuhnya aku tergantung kepada orang tua dan pemberian saudara, untuk semua kebutuhan tempat tinggal, makan minum dan pakaian.


"Lyza, ini tadi ikan goreng ada 2 mana?" 


Terdengar suara Tina, adikku.


"Sudah kumakan," jawabku santai.


"Loh, tadi kan kamu sudah makan, kenapa ini dihabisin juga!"


"Aku lapar!"


"Tapi kamu udah makan, trus ini aku  makan apa jadinya," Tina terlihat kesal.


Ahhh ... aku memang sudah makan setengah jam yang lalu.


Nasi sepiring penuh, satu potong ikan goreng, mie goreng, sayur, sambal. 


Tidak lupa kerupuk. 


Tapi aku lapar lagi.


Setiap kali aku lapar, aku harus segera makan, kalau tidak aku bisa pusing uring-uringan.


Marah-marah tanpa bisa dikendalikan.


Tidak peduli sampai berapa kali sehari harus makan, lima kali? Sepuluh kali?


Makin banyak makin baik.


Aku bisa istirahat dengan tenang.


Anto sedang menonton TV, kudekati dia.


Anto adalah abangku, usia kami terpaut 2 tahun.


Anto sudah memiliki istri dan dua orang anak yang masih kecil-kecil.


Raka usia 3 tahun dan Raisa baru berusia 1 tahun.


Kuambil remote dan mengganti Channel menjadi siaran TV kesukaan.


Siaran Berita di Mitra TV.


"Lyza, jangan diganti dong. Ini kan saya lagi nonton bola!" Suara Anto terdengar marah.


Terlihat siaran sepak bola sedang seru-serunya.

__ADS_1


"Mau lihat berita," jawabku.


"Tapi kan aku lagi nonton," Anto menjawab dengan suara keras.


"Aku mau lihat berita."


"Lysa, kembalikan remotenya!"


"Aku mau lihat berita!"


Aku tetap ngotot mau menonton TV.


Aku tidak peduli.


Aku sedang ingin menonton TV.


Entah ada berita apa hari ini, tapi aku tidak boleh ketinggalan berita.


Pernah sehari aku melewatkan siaran berita, ternyata banyak kejadian yang kulewati.


Semalaman akhirnya aku tidak bisa tidur.


Anto merebut remote dari tanganku dengan paksa.


Akupun menyerah.


Aku hanya ingin nonton  berita, di mana salahnya. Pikirku.


Segera aku kembali ke meja makan.


Kulihat masih ada mie goreng dan tumisan sayur sawi.


Ku ambil piring dan makan untuk yang ke lima kalinya.


Pukul dua siang.


Di luar sangat panas, badanku gerah.


Berkali-kali ganti baju tetap saja badanku basah.


Kunyalakan kipas angin di kamarku.


Kamarku ada di bagian belakang, dekat dengan taman.


Terdapat banyak pakaian yang kutumpuk begitu saja. Untuk apa kurapikan, bukankah nanti juga akan diambil lagi.


Pikirku sederhana.


Di atas tempat tidurku terlihat tumpukan buku.


Aku memang senang membaca terutama buku sejarah dan tentang pemerintahan.


Tanya saja siapa Menteri dari masa ke masa, aku tahu semua.


Atau nama-nama jalan di sekitar Jakarta, aku ingat walau pun sekarang sudah jarang jalan-jalan.


Kulihat diluar banyak sekali jemuran, sekitar satu jam lalu kakak iparku baru saja menjemur pakaian.


Cuaca masih sangat panas.


Kuangkat pakaian-pakaian itu satu persatu.


Kutumpuk di keranjang cucian.


Beres.


"Lyza, kenapa kamu angkat jemuran itu. Baru saja di jemur!" Teriak kakak iparku.


"Cuaca sangat panas begini, baru juga jam dua siang!"


Ahhh.... aku tidak mengerti. 


Kenapa semua yang kuperbuat disalahkan.


Pernah aku mencoba pergi dari rumah, tapi aku malah di bawa ke panti sosial oleh orang yang kutemui di jalan.


Lalu keesokan harinya aku diantar lagi kerumah orang tuaku.

__ADS_1


Aku tidak mempedulikan kata-kata kakak iparku.


Bagiku sama saja.


Aku mendengar tapi aku tetap tidak mengerti.


Kupandangi obat-obat yang harus kuminum setiap hari.


Ada banyak sekali, kadang mual.


Tapi katanya aku harus minum obat.


Agar aku stabil, agar aku bisa tidur.


🌱


"Alyza, di depan ada orang mau merampok," suara itu terdengar jelas di telingaku.


"Kamu harus menghalau mereka, kalau tidak, nanti mereka ambil Tv, kulkas dan semua barang berharga di rumah ini." Suara itu kembali terdengar.


Aku segera mengambil linggis yang selalu kusimpan di bawah kasurku dan bergegas ke depan rumah.


"Lyza, apa-apaan kamu bawa linggis begitu," mama meneriakiku.


"Ada perampok ma," jawabku setengah ketakutan.


"Gak ada Lyz, gak ada perampok!" Kata mama.


"Ada, Ma."


"Gak ada Lyza, simpan lagi linggisnya!"


Ahhh mama.


Mama sama saja, tidak ada yang mau mendengarku.


Dulu aku merasa semua indah, aku bebas.


Bahkan aku bisa menyelesaikan kuliahku hingga mendapat gelar sarjana.


Tapi lama kelamaan, aku selalu disalahkan.


Apa saja yang kuperbuat salah.


Bahkan ketika aku membantu mengangkat jemuran pun salah.


Papa sudah tiada, seandainya papa masih ada.


Mungkin papa bisa mengerti.


Pernah aku memberi permen kepada Raisa waktu usianya tiga bulan, aku dimarahi habis-habisan  oleh Anto.


Sampai-sampai aku bingung, kenapa salah.


Bukannya aku baik mau berbagi permen.


Atau ketika aku memberikan Raka minum soda waktu usianya belum satu tahun.


Akupun disalahkan.


Bukankah aku baik mau berbagi minumanku.


Entahlah, selalu saja salah.


Waktu aku membuang setengah mangkok cabai yang sudah dihaluskan dengan blender oleh kakak iparku, pun aku dimarahi.


Padahal aku berinisiatif membuang karena menurutku cabai itu sudah bau.


"Lyza, jangan tidur. Nanti perampok itu balik lagi," kembali suara itu terdengar.


Aku menahan kantuk yang mulai menyerang.


Aku harus bertahan.


Yaa!


Aku harus melindungi rumah ini dari para perampok.

__ADS_1


Pikirku.


__ADS_2