TAK SEINDAH DUNIA ALYZA

TAK SEINDAH DUNIA ALYZA
Tanggung Jawab


__ADS_3

🌴


"Kak, aku mau tidur di sini!"


Lyza terlihat di pintu kamar dengan membawa bantal, guling dan selimutnya.


Wajahnya memperlihatkan ketakutan yang amat sangat. Aku segera tahu, pasti ada sesuatu.


Pukul 3 pagi, aku baru saja tertidur karena si kecil agak rewel badannya panas.


Kamarku memang tak pernah di kunci, alasan Anto supaya Lyza tidak merasa ketakutan tidur di kamarnya sendiri.


Supaya Lyza tahu bahwa ketika dia takut, dia bisa datang kapan saja ke kamar kami.


Awalnya sulit kuterima, tapi setelah melihat bagaimana Lyza sering ketakutan bahkan berteriak-teriak histeris tengah malam di kamarnya, aku juga tidak tega.


"Kenapa Lyza gak tidur di kamar sendiri?" Tanyaku. Walau aku tahu jawabannya.


"Randy, Kak. Randy! Dia mau memperkosa aku!" Jawabnya dengan suara gemetar.


"Gak ada Lyza, gak ada. Udah kamu tidur lagi sana."


"Gak mau kak, gak mau! Randy sembunyi di atas!"


"Gak ada Lyza. Ayo ikut kakak!"


Iya, aku harus segera menenangkan Lyza, jangan sampai Anto terbangun.


Dengan menahan kantuk yang luar biasa, aku mengajak Lyza naik ke lantai dua, ku buka pintu kamar satu persatu. Melihat-lihat sampai di bawah kolong tempat tidur. Bahkan pintu-pintu lemari kubiarkan terbuka.


"Tu ... lihat! Gak ada kan. Udah Lyza tidur lagi!"


"Ada, kak. Randy sembunyi di plafon!"


"Lyza, gak bisa, Randy gak bisa ke plafon. Udah kakak tutup semua, mau lewat mana dia."


"Mungkin di pohon kak, yang di belakang rumah." Lyza tetap ngotot dengan pendapatnya.


Ya, nama Randy selalu hadir dalam hari-hari Lyza. Aku tidak begitu tahu pasti ceritanya bagaimana, tapi katanya Randy pacar Lyza waktu kuliah.


Kemudian Randy meninggalkan Lyza begitu saja, mungkin setelah melihat Lyza makin hari makin menunjukkan keanehannya.


Lyza termasuk anak pintar, sehingga walau terganggu tetap saja ia bisa menyelesaikan pendidikannya hingga sarjana.


Tentu saja dulu tidak separah sekarang ini.


"Pohonnya sudah di tebang Lyza. Ingat gak waktu kakak panggil tukang pohon buat nebang?"


Iya, aku terpaksa memanggil tukang tebang pohon, untuk menghabiskan pohon besar di halaman belakang, karena Lyza sering mengira Randy bersembunyi di sana.


Atau perampok!


Melelahkan memang ikut melakukan hal-hal yang tidak wajar, tapi yang paling penting bagiku, bagaimana kami semua tetap waras dengan adanya Lyza yang tidak stabil.


"Udah yukk tidur lagi, sebentar lagi pagi hari. Kakak harus segera bangun."


Lyza terdiam dan tetap mengikutiku.


"Aku tidur di sini aja kak." Lyza sudah menggelar kasur lipat, di pojok kamarku.


Aku memang selalu menyediakan kasur lipat di kamar, untuk Lyza kalau-kalau dia harus tidur dikamarku.


Ahhh sudahlah!


🌿🌿🌿


"Na ... tolong antar mama ke Kedoya, udah lama gak ketemu Tiara."

__ADS_1


Suara mama mertua membuyarkan konsentrasiku.


Tiara adalah adik kandung mama yang tinggal bersama suami dan anak-anaknya di Kedoya.


Di rumah kami sendiri, cukup sering mengadakan acara pertemuan keluarga.


Memang keluarga besar sangat menghormati keluarga Anto dan papa mama.


Tidak heran, karena katanya almarhum papa lah yang banyak membantu keluarga-keluarga yang lain.


"Iya, Ma. Mau berangkat jam berapa?"


Aku menghentikan sejenak kesibukanku di depan komputer, merapikan berkas-berkas dan segera bersiap-siap.


Mama memang hobby nya jalan-jalan, sendiri maupun ditemani.


Mengunjungi keluarga disini, keluarga di sana, jalan-jalan ke mall, atau bahkan sekedar ke pasar dekat rumah.


Entahlah, aku tidak heran bila Anto tidak merasa dekat dengan mamanya.


"To, mama minta uang lagi." Kata mama suatu hari kepada Anto.


"Loh, buat apa lagi ma? kemarin baru saya kasi dua juta!"


"Habis To, cuma dua juta bisa jadi apa!" Jawab mama dengan santainya.


Akhirnya Anto memberikan lagi sejumlah uang.


Aku diam saja, karena hak Anto memberikan uang pada mamanya.


Tapi perlahan-lahan kuingatkan Anto agar mengatur pemberian ke mama.


"Keadaan bisa berubah," kataku waktu itu.


"Sekarang mama perlu uang berapa tinggal kita kasih, nanti kalau keuangan kita susah bagaimana. Tidak selamanya uang lancar. Mama harus dibiasakan mengatur pemakaian keuangan."


Tentu baik sebenarnya, tapi jangan sampai kami kesulitan karena sifat mama.


Itu yang kutekankan!


Akhirnya Anto pun perlahan-lahan mengatur pemberian ke mama mertuaku. Sulit mengubah kebiasaan tapi bisa.


"Ayo ... Na. Berangkat nanti keburu siang."


"Iya, Ma."


Bergegas aku mengambil tas, kunci mobil dan sudah pasti anak-anakku harus ikut juga.


Sesampai di rumah tante Tiara, aku meninggalkan mama. Katanya mama mau menginap, jadi aku pulang saja.


Keesokan hari, belum juga siang. Ponselku berdering, bahkan aku sempat enggan untuk mengangkatnya.


"Na ... ini tante Ita, Bandung!"


Di seberang telepon terdengar suara Tante Ita, adik papa yang tinggal di Bandung.


"O iya tante, apa kabar!"


"Baik, Na. Na, ini mama ada di sini, tante kaget datang gak ngabarin dulu. Ini tante kebetulan mau pergi keluar kota juga. Bagaimana ya Na?"


"Apa tante antar ke Travel saja ya pulang ke Jakarta. Di rumah gak ada orang."


"Katanya masih mau jalan-jalan, tapi kalau gak ada nemanin bagaimana? Mama kan udah sering sakit juga!"


Tante Ita terdengar sangat khawatir.


Ya, begitulah mama. Terserah dia mau apa mau kemana. Rupanya pagi-pagi dari rumah Tante Tiara dia langsung ke Bandung.

__ADS_1


Aku memang memberinya uang cukup banyak waktu itu.


Itulah yang sering membuat Anto kesal, sifatnya yang semaunya saja. Padahal begitu banyak yang bisa dilakukan di rumah, tapi mama lebih senang jalan-jalan.


"Tante, titip mama dulu sebentar. Ini saya sekarang juga berangkat ke Bandung."


Saat itu juga kupacu mobil, bersama anak-anak dan Tina, menjemput mama ke Bandung.


Jawaban mama sederhana ketika aku menanyakan kenapa mama ke Bandung gak bilang-bilang.


"Cuma ke Bandung, dekat. Mama bisa sendiri!"


Ahh mama tidak pernah memikirkan bahwa kami mengkhawatirkan keadaannya.


Ya, hari-hari memang banyak kuhabiskan untuk mengurus keluarga Anto. Di sela-sela kesibukan pekerjaanku sendiri tentunya.


Aku tidak pernah mengeluh.


Bahkan aku bersyukur, aku memiliki banyak keahlian. Sehingga banyak pekerjaan yang bisa kulakukan dari rumah.


"Jangan pikirin yang di rumah," begitu aku sering berkata.


"Urus saja pekerjaan, kalau kamu harus pikirin urusan di rumah, nanti pekerjaan terganggu. Dirumah urusan saya."


Begitu yang sering kukatakan.


"Kamu bisa?"


"Bisa, udah tenang aja!"


Anto tidak perlu tahu bagaimana repotnya aku. Anto harus nyaman di rumah.


Pekerjaannya mengurus proyek sudah sangat menguras pikiran.


Anto memang emosional, apalagi kalau berhadapan dengan Alyza dan mama.


Anto masih sering menyalahkan papanya untuk semua yang terjadi pada Alyza.


Dia memang memperhatikan Lyza tapi dia juga sangat keras dalam memperlakukan Lyza.


Dibalik sifat kerasnya, Anto adalah lelaki lemah yang hanya berusaha menuaikan baktinya pada orang tua.


Dan juga menjadi pelindung bagi kami, aku dan anak-anakku.


Anto yang setiap bulan membuat rusak mobil karena tidak sabar bila menyetir.


Atau dengan sifat temperamentalnya yang sulit ditolerir.


Dia hanya lelaki yang kurang kasih sayang dari papa mamanya.


Haruskah aku marah? Dengan sifatnya yang keras.


Haruskah aku meninggalkannya karena ia tidak bisa melepaskan tanggungjawab terhadap keluarganya.


Tidak, aku selalu percaya, mutiara yang indah di dapat dari kedalaman laut.


Anto, lelakiku, yang bila emosinya sudah tak tertahan dalam perdebatan kami.


DIa lebih rela membanting barang berharga puluhan juta daripada memukulku.


Ya, dibalik semua keras kepalanya, bahkan tak pernah seujung telunjuknya pun mampir di pipiku dengan kasar.


Di balik raganya yang perkasa, hatinya banyak menyimpan luka.


Dia tidak meminta banyak, hanya ingin agar aku mengasihinya dengan tanpa tanya.


🌴

__ADS_1


__ADS_2