
🥀
"Lyza, mama sakit."
Hampir setahun sudah Lyza di panti rehabilitasi, selama itu pula aku bolak-balik menjenguk dia.
Hari ini, kembali aku datang, selain untuk melihat keadaan Lyza, juga untuk menjemputnya karena mama sakit.
Tidak ada ekspresi di wajah Lyza, biasa saja.
"Gak apa-apa."
Hanya itu, ya, hanya itu yang dikatakannya.
Aku mengajaknya pulang.
'Lyza, yukk kita jenguk mama. Sekarang masih di UGD."
"Ogah ahh!"
"Loh, kok ogah? Bentar aja. Kamu harus liat mama."
Mama harus dirawat di Rumah Sakit karena stroke. Kali ini keadaannya cukup mengkhawatirkan. Itu sebabnya aku sedikit memaksa agar semua keluarga berkumpul.
Termasuk Lyza.
"Gak mau, Kak. Biar aja mama mati!"
"Lyza, gak boleh ngomong gitu."
"Hidup juga buat apa, nyebelin."
Aku masih berusaha membujuk Lyza, tapi sepertinya sia-sia. Dia mau pulang tapi tidak mau menjenguk mama.
Hingga empat hari kemudian, mama meninggal dunia.
"Lyza, mama meninggal."
Air mata mengalir dipipinya. Tapi bibinya tersenyum.
"Syukurlah. Ada baju mama yang mau Lyza buang, tapi selama ini selalu dipakai mama."
Aku menatap dengan diam.
Tidak tampak raut sedih, sepertinya Lyza benar-benar kehilangan empati.
Aku tidak bisa berbuat banyak lagi.
Pengobatan hanya bisa menekan reaksi agresif Lyza, tapi tidak membuatnya kembali normal layaknya dulu di masa kecil.
***
"Kenapa ada tukang kerja."
Anto keheranan melihat beberapa tukang sedang bekerja.
"Saya yang panggil," jawabku.
Ya, aku sudah berpikir matang-matang. Papa sudah tiada, sekarang mama menyusul.
Aku harus mengurus Lyza sebaik-baiknya. Biarlah Tina dengan cara hidupnya sendiri, dia sudah dewasa. Tahu mana yang baik dan tidak baik.
Tetapi Lyza, dia bahkan tidak bisa membedakan hitam atau putih. Bagaimana mungkin aku membiarkan dia hidup dalam dunianya sendiri.
Bahkan anak-anakku akan terus bertumbuh, tetapi tidak dengan Lyza.
Dunianya tak kasat mata.
Lyza kubawa pulang, tapi terpaksa ada beberapa perombakan kulakukan pada ruangan di rumah.
Kamar Lyza terletak dibagian belakang dekat taman, sinar matahari menyinari taman sekaligus menjadi tempat Lyza menghabiskan waktunya.
Sebuah ayunan berwarna putih kutempatkan di depan kamarnya.
Beberapa pot berisi tanaman bunga kesukaannya, setiap berapa bulan sekali harus kuganti karena dicabut Lyza.
"Dicabut angin!"
Begitu katanya.
Sebuah kolam ikan kecil, lengkap dengan ornamen air mancur. Beberapa ikan berkeliaran, membuat Lyza tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
Aku mengajarinya memberi nama pada setiap ikan. Dia yang menentukan ikan yang mana bernama siapa.
Ikan yang tidak terlalu lincah diberi nama Cika, nama teman masa kecilnya.
Lalu ada Dian, ikannya gesit kesana kemari. Persis Dian, teman Sma. Banyak cowoknya, kata Lyza.
Masih ada beberapa nama lain lagi, dari nama guru sampai nama tetangga disematkan ke ikan-ikan tersebut.
Ada satu ikan yang menurut Lyza, paling galak dibanding lainnya, dinamainya Randy.
Aku diam saja.
Beberapa hari tukang bekerja akhirnya selesai juga. Sebuah pintu geser dari kaca tebal setinggi dua setengah meter sudah terpasang di antara area Lyza dan ruang tengah. Lengkap dengan kuncinya.
Sengaja terbuat dari kaca, bukan kayu atau bahan lain, agar aku bisa terus mengawasi Lyza dengan gampang.
Sehari-hari Lyza masih berbicara sendiri, tertawa, menangis, bergumam.
Teriakan tengah malam.
Histeris.
Mencaci-maki.
Tidak ada yang berbeda.
Setahun lalu juga sama.
Dua tahun lalu? Sama saja.
Bahkan bertahun-tahun sebelumnya.
Alyza masih tetap Alyza seperti pertama kali diperkenalkan kepadaku ketika aku menikah dengan Anto.
Apabila Lyza sudah tidak bisa dikendalikan, aku terpaksa menutup pintu kaca tebal itu dan menguncinya.
Seperti ketika seharian Lyza menggunakan pakaian yang sama, pakaian bau pesing.
Ya, Lyza memang sering pipis di tempat tidur atau di tempat duduknya.
Itu sebabnya aku menempatkan kamarnya paling belakang.
"Gak punya pakaian," jawabnya santai.
"Lyza ... ganti!"
"Pakaian kamu banyak sekali, ratusan," jawabku.
"Gak ada, Kak!"
Berjam-jam, tetap saja Lyza tidak mau mengganti pakaiannya.
Hingga sore menjelang.
"Lyza, masuk kamar. Jangan keruang tengah sampai kamu ganti pakaian!"
Ancamku.
Terpaksa!
Lyza pun masuk, kututup pintu kaca itu.
Lima menit kemudian, dia mengetuk, sudah berganti pakaian baru yang harum dan bersih.
Sama halnya ketika dia bersikap kasar ke anak-anakku, berbicara jorok dengan suara lantang, aku terpaksa mengunci pintu kaca sampai ku dengar dia tak bersuara lagi.
"Masih mau ngomong jorok?"
"Gak, Kak!"
Aku pun membuka pintu itu.
*
"Lyza, lihat hair dryer kakak?"
"Sudah kubuang, Kak."
"Loh, kenapa dibuang Lyzaa!"
"Gak bagus, warnanya putih. Harusnya warna pink atau hitam. Kemarin Lyza lihat di TV ada yang warna merah malahan."
__ADS_1
Aku menghela nafas panjang.
Kemarin sepatuku yang dibuang. Minggu lalu teflon, minggu sebelumnya tas kerja Anto.
Entahlah, besok apalagi.
"Sepatunya terlalu tinggi, nanti kakak bisa jatuh."
"Tasnya kurang gede, harusnya yang lebih gede supaya bisa muat macam-macam."
"Teflonnya sudah rusak, ada bintik-bintik."
Begitu jawabnya santai, ketika aku mempertanyakan kenapa dibuang.
Terbayang betapa senangnya orang yang menemukan sepatu Charles&Keith itu.
Apalagi yang menemukan teflon, satu set yang tentu saja berbintik karena terbuat dari marmer.
Sementara aku hanya bisa mengurut dada, menahan kesal yang tak ada ujungnya.
Akankah aku bisa bertahan? tentu saja bisa.
Aku percaya, dibalik semua peristiwa yang Tuhan ijinkan dalam hidup kita, selalu ada rancangan Tuhan yang indah.
Lyza memang menjadi beban yang berat.
Bagiku dan Anto.
Tapi dia juga yang akan menawarkan diri memijat punggungku, bila mendengar aku mengeluh capek pegal.
Walaupun dia tak pernah bisa membedakan pinggang punggung atau bahu.
Pijatannya apalagi!
Entah bagaimana menggambarkan rasanya. Tapi seringkali kubiarkan saja.
Lyza juga yang paling antusias apabila mendengar aku akan mengadakan suatu acara.
Ulang tahun baik aku, Anto dan anak-anak. Ulang tahun pernikahan.
Termasuk bila Hari Raya tiba.
Walaupun hampir semua pekerjaannya salah, kudiamkan saja.
Lyza tidak akan tidur hingga pagi menjelang. Takut kelewat.
Aku terpaksa memaksanya tidur.
Nanti tamu-tamu datang, gak ada yang bukain pintu, gak ada yang menyajikan makanan.
Begitu katanya.
"Kak, bangun!"
Jam dua pagi.
"Belum, Lyza. Masih lama, baru juga jam dua pagi."
Aku menarik selimut, mencoba tidur lagi.
Baru saja mulai mengantuk, Lyza kembali masuk kamar.
"Kak, bangun. Nanti tamu datang!"
"Lyza, baru jam tiga pagi. Udah ahh kamu tidur sana. Kakak mau bangun jam enam!"
Lyza tidak mau beranjak dari kamar. Tidak juga tidur. Dia hanya duduk menunggu di samping tempat tidur.
Takut aku tidak terbangun jam enam.
Katanya.
Aku tahu, dia akan terus duduk menunggu untuk membangunkanku.
Ahh ... Lyza!
Duniamu itu
*
(Marrieanne's)
__ADS_1