
🌴
(POV Alyza)
"Kebakaran melanda di sejumlah tempat di area Jakarta Selatan.
Api masih terlihat membumbung tinggi walaupun petugas pemadam kebakaran sudah berusaha memadamkan api sejak dua jam lalu."
Berita sore menayangkan peristiwa-peristiwa yang terjadi hari ini. Aku duduk di depan televisi, sambil memegang remote, sesekali mengganti-ganti chanel tv.
"Masih belum di ketahui penyebab pasti kebakaran tersebut, tetapi menurut saksi mata, terdengar ledakan yang sangat keras sebelum terlihat api menjalar dengan cepat. Perkiraan sementara, ledakan bersumber dari tabung gas."
Presenter terus-menerus membacakan berita, bukan hanya satu berita kebakaran tapi ada dua kejadian di lokasi yang berbeda.
Dan keduanya kemungkinan besar disebabkan oleh tabung gas, kebocoran atau semacamnya. Itulah yang kudengar.
"Lyza, kamu ke dapur!" Randy tiba-tiba berbisik.
"Buruan, lepasin selang gas. Harusnya selang gas di copot kalau kak Ina lagi pergi!"
"Aku gak bisa copotin!" Jawabku.
"Kalau susah, kamu paksa saja. Rusak gak apa-apa asalkan selang lepas dari tabung!"
Aku bergegas ke dapur.
Di rumah hanya ada mama waktu itu, sedang menonton tv di kamarnya sendiri. Mama tidak suka di ganggu, dia akan sibuk dengan segala aktifitasnya sendiri hingga lelah dan beristirahat.
Aku sendiri tidak pernah memasak jadi aku tidak mengerti urusan dapur. Sesekali aku membantu kak Ina, di suruh Anto, tapi tetap saja aku tidak mengerti banyak hal.
Bahkan aku juga tidak mengerti perbedaan antara garam dan micin.
Ketika kak Ina memintaku mengambilkan sayur sawi, ku ambil bayam.
Kak Ina meminta tempe ku ambil tahu.
Ketika kak Ina memasak sop Iga sapi. kumatikan saja apinya begitu melihat air mulai mendidih.
"Jangan dimatikan dulu Lyza, masak daging itu perlu waktu lama, apalagi kalau ada tulangnya."
Ahhhh aku betul-betul tidak mengerti.
Bahkan pernah, Anto membawa pulang ikan lele yang masih hidup, banyak sekitar 20 ekor, pemberian temannya yang punya kolam ikan lele.
Aku teringat enaknya pecel lele yang sering dibeliin kak Ina untukku, lalu aku berpikir untuk menggoreng sendiri ikan lele tersebut karena kak Ina lagi sibuk.
Aku sudah tidak sabar.
Kunyalakan kompor, siapkan penggorengan dengan minyak yang banyak, seperti yang biasa ku lihat waktu kak Ina menggoreng sesuatu.
Lalu kuciduk satu ekor lele berukuran besar menggunakan saringan, kucemplungin ke minyak goreng yang baru mulai panas.
Ikan lele tersebut meloncat keluar dan terus menggelepar hingga terselip di antara sebuah lemari besar, berat dan permanen di dapur dekat meja kitchen set.
Segera aku memberitahukan hal tersebut ke kak Ina, dengan susah payah dia mencoba mencongkel lele itu tapi tetap tidak berhasil.
Akhirnya kak Ina memanggil tukang untuk membongkar lemari itu.
Perlu waktu seharian untuk membongkar dan membetulkan kembali lemari itu.
Aku ingat kak Ina mengatakan bahwa lelenya harus dimatiin dulu, di bersihkan dulu, di bumbui baru di goreng.
Pusing aku mendengarnya!
Kenapa untuk makan lele saja repot sekali.
Apa yang kubuat ada aja salahnya.
__ADS_1
***
"Lyza lepasin selangnya!" Randy terus berbicara.
Aku sempat ragu, tapi Randy meyakinkanku bahwa selang gas yang terpasang bisa menyebabkan kebakaran.
"Tu ... kamu dengar tadi kan? Kebakaran karena tabung gas. Ayooo copot selangnya!"
Akhirnya aku mencoba mencopot regulator dan selang gas. Tentu saja aku tidak mengerti bagaimana mencopotnya, akhirnya kurusak saja sampai copot.
Beberapa jam kemudian.
"Lyza ... Lyza ...."
O kak Ina pulang, pikirku.
Aku diam saja, aku masih memikirkan berita kebakaran tadi.
"Lyza ... ini kok bau gas!"
Kak Ina segera berjalan menuju dapur, bahkan tidak sempat meletakkan tas terlebih dulu.
"Lyza, ini gas siapa yang lepasin. Sampai rusak begini!"
Iya, karena tidak mengerti caranya jadi kupukul-pukul saja regulatornya menggunakan ulekan cabai hingga pecah.
Lalu kutarik selangnya hingga copot.
Dan pasti rusak.
"Di suruh Randy, Kak!"
"Astaga, Lyzaaaa!"
Kak Ina terlihat sibuk membuka seluruh jendela dan pintu agar bau gas segera hilang.
Aku menangis, entahlah apa yang kurasakan.
Setiap hari aku kebingungan untuk melakukan apa yang benar atau sepertinya benar.
***
"Lyza, lampunya di matiin, udah jam 12 siang!"
Ya, aku tidak pernah mau mematikan lampu di area manapun. Kamar, ruang tamu, dapur, teras.
Buat apa, bukankah nanti begitu gelap juga dinyalakan lagi, kenapa tidak dibiarkan saja menyala sepanjang waktu.
Begitu jawabku selalu.
Bahkan aku jarang mematikan keran air, biar saja menyala terus, kenapa harus repot buka tutup keran.
Hampir setiap hari kak Ina masuk ke kamarku, untuk mematikan keran air, lampu dan Tv.
"Lyza, kopi kakak kamu minum lagi ya? Buat sendiri dong Lyz, belajar! Tinggal campur gula dan kopi tambahin air panas. Aduk. Gampang kok!"
Ahh ... ngapain repot. Aku pernah mencoba membuat kopi sendiri tapi tidak pernah seenak buatan kak Ina.
Akhirnya aku sering meminum kopi kak Ina, lalu supaya tidak ketahuan aku tambahin air lagi supaya tetap kelihatan penuh.
Tapi kak Ina selalu tahu apa yang kuperbuat.
"Gak, kak. Lyza gak pernah minum kopi kakak."
"Jangan suka bohong, Lyz. Itu lipstik siapa di cangkir, kakak belum pakai lipstik hari ini!"
Ya, kak Ina selalu tahu apa yang kuperbuat bahkan apa yang kupikirkan.
__ADS_1
Bahkan kak Ina punya nomor telepon semua keluarga tetangga atau teman yang mungkin aku datangi.
Katanya kepada Anto, buat jaga-jaga kalau Lyza pergi-pergi.
Pernah aku pergi, aku berjalan saja entah kemana.
Ketika aku menemukan ruko kosong, aku berteduh di depannya. Tanganku menggenggam nasi bungkus pemberian orang di jalan.
Jam 2 pagi, kak Ina juga yang menemukanku.
***
Hari menjelang siang, aku membereskan kamar sekadarnya.
Tanpa membawa satu pun barang, aku melangkah keluar rumah.
Di jalan, aku berpapasan dengan Anto yang baru pulang kerja.
"Lyza, kamu mau kemana?"
"Ke depan. Warung!" Jawabku sekenanya.
Anto memberiku sejumlah uang untuk jajan.
"Jangan lama," pesan Anto.
Aku diam saja dan melanjutkan perjalanan.
Pikiranku dipenuhi berbagai cerita.
Entah apa yang kuinginkan saat ini, tapi sepertinya terus berjalan lebih baik.
Kulangkahkan saja kakiku, melewati rumah satu persatu.
Dari satu gang ke gang lain.
Hingga ke jalan raya.
Tidak kupedulikan kendaraan yang lalu lalang, suara klakson motor mobil berkali-kali memekakkan telinga.
Tidak, siapa mereka siapa aku.
Dunia ini tidak seindah seperti yang sering digambarkan di film-film.
Yang kutahu, dunia ini terlalu bising, kadang terlalu sunyi.
Aku terus berjalan menuju suatu tempat.
Mungkin di sana aku bisa mengakhiri semua cerita.
"Selamat siang, Bu," pak polisi di hadapanku menyapa.
Ya, aku mendatangi kantor polisi.
Mungkin mereka bisa membantu, pikirku.
"Ibu ada keperluan apa? Bisa di bantu?"
Aku masih berdiri mematung.
"Bu, bisa saya bantu, Bu!"
Aku menarik nafas. Pikiranku kosong atau malah terlalu penuh.
Hitam atau putih, hujan atau panas, tidak ada yang jelas.
"Tolong bunuh saya, Pak. Bunuh saya!" Pintaku.
__ADS_1
🌴