
🌿
"Apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu mendorong pak Eko?"
Aku masih terdiam. Dari balik teralis, aku menyerahkan kartu ucapan ulang tahun. Tanganku gemetar, tubuhku lemas.
"Ini, Kak. Selamat ulang tahun."
"Terima kasih, Lyza."
Tangan kak Ina terjulur menggapaiku. Wajahnya sendu. Ingin aku memeluknya, tapi
aku tidak boleh keluar ruangan ini. Hanya bisa bersapa dari jendela.
Sampai aku stabil, terkendali.
"Lyza, kenapa kamu mendorong pak Eko? Kamu lagi menstruasi ya?"
Aku menangis. Iya, aku sedang menstruasi. Dan kak Ina tau, tiap kali datang masa haid. Aku sering hilang kendali.
Itu sebabnya menjelang maupun selama haid, kak Ina sering menemaniku.
Monster, penjahat, pemerkosa, perampok semua mengelilingiku.
Takut, panik.
Sebelum disakiti, aku sering menyerang duluan.
Ini bukan pertama kali terjadi.
"Lyza, tenangkan diri kamu. Tidak ada yang berniat jahat. Percaya kakak. Semua orang baik sama kamu Lyza."
"Ingat, waktu kamu mengejar tetangga dengan pisau dapur, tetangga itu cuma lewat. Gak ngapa-ngapain. Iya, kan?"
Aku masih diam.
Setahun lalu, saat itu, sedang haid hari ke dua, seorang tetangga melintas di depan rumah. Kak Ina sudah mengunci pagar, bahkan menyembunyikan kuncinya supaya aku tidak keluar rumah.
Tapi ketakutan mengalahkanku. Dari balik pagar, aku melihat sosok tetangga itu ingin menyakitiku, sehingga aku nekat meloncat pagar.
Aku harus menyerang duluan, sebelum jadi korban.
Bersusah payah memanjat pagar besi setinggi dua meter. Ujung pagar yang runcing melukai tangan dan kaki.
Di tangan kananku sebilah pisau dapur tajam kuarahkan.
"Saya bunuh kamu! Saya bunuh kamu!"
Aku berteriak-teriak mengejar bapak itu yang lari ketakutan. Bahkan tersandung batu jalanan.
Kak Ina, yang melihat pemandangan itu, segera berteriak dan membuka pagar seraya menarikku kembali.
Tetanggaku pucat, karena pisau sudah hampir menusuk punggungnya.
"Lyza, hentikan! Lyza."
__ADS_1
Tangannya memelukku erat.
"Dia mau memperkosa aku, kak. Aku harus membunuhnya terlebih dulu!"
"Tidak, Lyza. Tidak ada yang mau menyakiti kamu. Ayoo, masuk."
Selimut tebal dibalutkan keseluruh tubuhku yang menggigil.
Tangan gemetaran, tidak bisa kukendalikan.
Mata melotot, nafas tersengal-sengal.
Akhirnya, kak Ina memberiku obat tidur, dan membiarkan aku tidur dikamarnya.
Keesokan harinya. Kak Ina masih tetap mendampingiku, bahkan mengajakku jalan-jalan.
"Lyza, ikut yukkk ... kakak mau ke Bandung. Mau ya ...?"
"Udah lama gak jalan-jalan ke kebun strawberry. Pulangnya mampir beli tahu kesukaan kamu. Ehhhh ada wahana baru loh, kamu bisa main-main di sana."
Kami berangkat siang hari. Kak Ina, aku, Raka dan Raisa.
Aku memang senang segala sesuatu yang sifatnya kanak-kanak.
Bahkan tiap hari harus jajan permen dan es krim.
Sering, kalau kak Ina gak lihat, jajanan Raka Raisa kuambil juga.
"Kak, aku gak jadi ikut Bandung."
Di tengah jalan tol, aku berusaha menghentikan kak Ina. Aku mau pulang saja.
Katanya.
"Nanti aku dimarahi sama yang punya kebun strawberry!"
"Ngapain marah, coba. Kenapa marah?"
"Yaa ... dimarahi saja. Rusak kebunnya."
"Gak, nanti kakak ajari cara petik strawberry yang benar. Kalau perlu kita gak usah ke situ, ke tempat lain saja yang kamu suka."
Kami pun terus melaju.
Sepanjang jalan aku memeluk boneka beruang besar, warna pink, pemberian kak Ina. Dikamarku ada banyak sekali boneka, kecuali boneka dinosaurus, aku tidak suka.
Kata kak Ina, kalau aku takut, peluk saja boneka.
Boneka itu lucu dan baik.
"Kak, kalau aku mati, kakak mau menguburkan aku gak?"
Tiba-tiba aku bicara tentang kematian.
"Kenapa ngomong gitu. Ya pasti kakak urus kamu."
__ADS_1
"Kakak sedih gak, kalau aku dah gak ada?"
"Yaa, sedih lah Lyza."
"Kira-kira, mama dan Tina sedih juga gak?"
"Pasti, Lyza. Semua pasti sedih, kehilangan. Makanya kamu harus sehat ya, gak usah mikirin yang susah-susah. Kadang kakak marah juga buat kebaikan kamu, kalau bukan kakak yang ingatin kamu, siapa lagi coba."
Aku tertidur. Nyenyak sepanjang jalan.
Tidak ada ketakutan, hanya jalan panjang yang tak berujung.
Hingga, di sebuah rest area, kak Ina berhenti sejenak.
Parkir di depan restauran, kami memesan berbagai macam makanan.
Dengan lahap, aku menyantap hidangan di depanku. Aku boleh pesan apa saja yang kusuka, kata kak Ina.
"Kak, aku mau ke toilet bentar."
"Tu, di ujung." Kak Ina masih menyuapi Raisa.
Aku menuju toilet yang ditunjuk kak Ina. Kelihatan dari tempat kami duduk. Beberapa saat di toilet, tiba-tiba ada seorang ibu menanyakan di mana cari oleh-oleh. Aku mengantarkannya berkeliling, hingga aku lupa kak Ina ada di mana.
Hingga beberapa jam kemudian, kak Ina menemukanku tengah bersembunyi di balik sebuah pohon.
Aku ketakutan, kak Ina memapahku ke mobil dan melanjutkan perjalanan.
*
"Pak Eko, saya minta maaf. Betul-betul minta maaf atas apa yang Lyza perbuat." Terdengar suara kak Ina berbincang-bincang dengan pak Eko.
"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti, Lyza sulit dikendalikan. Hanya saja saya tidak menyangka dia akan menyerang saya."
"Untuk sementara dia kami pisahkan dari pasien lain, agar lebih terkontrol. Tentu saja kami akan memgawasinya ekstra ketat, bu Ina."
"Silakan, Pak. Lakukan saja prosedur yang terbaik buat Lyza."
"Ohya, apakah Lyza sudah mendapatkan teman di sini?"
"Ooo ... Sudah, Bu."
"Syukurlah."
"Sebenarnya jujur, Bu. Berdasarkan evaluasi kami selama beberapa bulan ini, Lyza tidak ada perkembangan. Depresinya hanya bisa ditekan dengan obat saja, tapi lebih dari itu masih belum ada hasil yang berarti."
"Saya menyampaikan ini, agar ibu memahami bahwa kondisi Lyza ini sifatnya bisa permanen. Tentu kita tidak memungkiri bahwa keajaiban mungkin saja terjadi. Semua atas kehendak Tuhan."
Pak Eko menghela nafas panjang.
"Dari semua pasien yang ada di sini, Lyza yang paling parah."
"Iya, saya mengerti, Pak."
Kak Ina memandangku. Penuh harap akan keajaiban dan bisa membawaku pulang.
__ADS_1
🌿
(Marrieanne's)