
🥀
(Pov Anto)
Ina duduk termenung di hadapan meja riasnya.
Matanya terlihat sembab.
Ya, aku tahu dia menyembunyikan tangisnya.
Ina memang tak banyak bicara.
Bila senang dia tersenyum.
Bila sedih dia menangis.
Bila marah dia masuk kamar.
Entahlah bagaimana hidupku bila bukan Ina yang menjadi istriku.
Berkali-kali kukatakan padanya :"Aku sangat beruntung memilikimu."
Aku gampang saja menikahi perempuan yang bisa menerima semua kekurangan kelemahanku, tapi di mana bisa kudapatkan wanita yang bisa menerima kekuranganku di tambah kekurangan keluargaku.
Tanpa mengeluh tanpa menuntut bahkan tidak pernah sekalipun ku dengar dari mulutnya kata-kata : "Pilih aku atau keluargamu!"
Tidak, Ina tidak seperti itu.
Malah akulah yang sering menyakitinya, baik dengan kesadaranku maupun diluar sadarku.
Kuakui, aku laki-laki yang temperamental.
Hampir setiap bulan mobilku masuk bengkel.
Nyerempet, nabrak, dan banyak lagi sebabnya.
Ina tanpa banyak tanya kenapa, langsung membawanya ke bengkel.
Bahkan, aku dan Ina seperti langit dan bumi.
Ketika aku memesan taksi dan taksi tersebut datang telat 5 menit dari jadwal, aku tidak segan membatalkannya, sementara Ina berpikir memesan taksi baru akan memakan waktu lebih dari 5 menit.
Jadi bukankah lebih baik menggunakan taksi yang telat 5 menit daripada memesan baru?
Begitu pertimbangannya.
Atau ketika aku memberhentikan begitu saja 7 orang tukang yang sedang kerja di rumah, karena aku emosi dengan pekerjaan yang kunilai lambat, diam-diam Ina mendatangi rumah kepala tukang membawa beberapa barang elektronik, pakaian anak-anak dan mainan, dari rumah untuk diberikan kepada istri-istri mereka.
Yaa, itulah Ina. Perempuan berhati malaikat yang sering kusakiti.
"Ma ... aku capek mau langsung istirahat!"
Kala itu aku baru pulang kerja.
Badanku letih sekali, di luar hujan sangat lebat.
Aku segera masuk kamar tanpa makan terlebih dulu.
"Iya, Pa."
Samar-samar ku dengar suara Lyza bicara dengan Ina.
Tentang makanan, tapi aku betul-betul letih.
Hingga sangat malas untuk bangun.
Terdengar suara motor dinyalakan, sepertinya Ina keluar rumah.
Ya, kadang-kadang kalau mau cepat, Ina lebih senang naik motor daripada mobil untuk beberapa keperluan yang tidak memerlukan waktu lama.
Beberapa jam kemudian setelah tertidur sangat nyenyak, perutku terasa lapar.
Ina segera menyambutku seperti biasa.
"Pa, ini makanannya sudah disiapkan. Makan deh."
Kulihat berbagai macam menu makanan sudah terhidang di meja makan.
Ada Ayam kecap, Ikan gurame asam manis, cap cay, mie goreng, cah kangkung, cumi tepung dan beberapa macam lagi.
Beberapa di antaranya sepertinya Ina beli di restaurant kesukaanku. Beberapa macam lagi dia yang masak.
__ADS_1
Ina pintar masak, aku lebih senang masakan Ina dari pada masakan ibuku.
Rasanya pas tidak berlebihan.
"Ini, udah saya beliin kesukaan papa," kata Ina sembari mengambilkan ikan dan cap cay.
Menuangkannya ke dalam piring dan menyerahkannya padaku.
"Ahh....lagi gak suka itu. Ini aja ayam kecap yang kamu masak!"
Sepintas kulihat kecewa dan marah di wajahnya.
Tapi aku terlalu letih dan lapar jadi tidak begitu mempedulikannya.
"Tadi kata Lyza kamu minta beliin ini."
"Gak ... gak ada," jawabku santai.
Beberapa saat kemudian, kusesali jawabanku.
Tapi terlambat.
Kulihat Ina sudah masuk kamar.
Aku meneruskan makanku, seperti biasa setiap kali makan, pasti Lyza mendatangiku.
"Boleh minta gak To. Mie sama ikannya?"
Katanya.
"Ya ambil aja."
"Ini siapa yang suruh beli makanan ini? Saya lagi gak suka!"
"Oooo kirain Anto mau?" Sahut Lyza sekenanya.
Ya, aku sudah hafal sifat Lyza, dia pasti sudah makan dan bersikap seakan-akan belum makan.
Bukannya aku tidak paham dengan kebiasaan Lyza, tapi aku betul-betul letih dengan semua tanggungjawabku sebagai kepala keluarga.
Sehingga kadang tidak sanggup bila harus mempermasalahkan hal yang sama terus menerus dari hari ke hari.
Lyza yang berbohong.
Lyza yang kasar kepada Ina.
Atau kebiasaan Lyza yang membuang barang-barang seenaknya.
Sepatu, tas, buku-buku berhargaku, bahkan perabotan.
Dan masih banyak yang lain lagi.
Seperti kali ini, aku tahu pasti Lyza yang buat ulah.
Dia yang mengatakan pada Ina bahwa aku minta di beliin makanan ini dan itu.
Padahal itu artinya Lyza yang sedang ingin makan makanan tersebut tetapi ia mengatakan kepada Ina seakan-akan akulah yang menginginkannya.
Agar Ina pergi membeli tentu saja.
Karena di rumah ini hanya Ina yang bisa mengendarai mobil dan motor.
Sementara Lyza dan Tina tidak ada satupun yang bisa.
Bukan pertama kalinya Lyza begini, dan Ina sering menurutinya karena Lyza menggunakan namaku.
Ina pun tidak mau menggangguku bila aku sedang istirahat karena dia tahu aku juga sangat lelah.
Apalagi Ina juga sering melihatku memarahi Lyza, terlalu sering malah.
Kadang bahkan Ina yang menyadarkanku.
***
Ya, Lyza memang beban terberatku.
Sangat tidak mudah.
Masa kecil kami hidup dalam kemewahan.
Tapi sifat ayah juga sangat keras.
__ADS_1
Aku dan Tina bisa mandiri dan berhasil dalam pendidikan dan pekerjaan.
Tapi tidak dengan Alyza, walaupun dia berhasil menyelesaikan pendidikan hingga sarjana, tapi aku bisa melihat kejiwaannya mulai terganggu sejak ayah pensiun dan hidup kami tidak bisa semewah sebelumnya.
Tapi di balik semua itu, memang sifat Alyza sejak kecil berbeda.
Egois, semua harus memperhatikan dia, apa yang dia mau harus di turuti, malas mengerjakan sesuatu.
Tapi ketika uang melimpah tentu saja hal itu tidak terlalu masalah.
Tidak terasa mengganggu.
Di rumah juga banyak asisten rumah tangga, mobil ada beberapa lengkap dengan supirnya.
Sementara ibu sangat sibuk dengan semua kegiatannya. Rapat ini itu, ketua organisasi A atau B, belum lagi arisan ke sana kemari.
Hampir-hampir kami tidak punya waktu bersama-sama.
Aku bahkan lebih dekat dengan pengasuhku daripada ibu.
Mungkin itu sebabnya, kami tumbuh menjadi anak yang tanpa empati.
Aku yang temperamental dan Alyza yang terganggu kejiwaannya karena tidak kuat menanggung tekanan.
Ina sangat mengerti bagaimana sulitnya aku mengurus keluarga.
Di masa tuanya ibuku tetap saja egois, hanya mengurus diri sendiri.
Bahkan terhadap anak-anakku pun ia tidak peduli.
Sementara terhadap Lyza, aku sudah mencoba berbagai cara untuk membantunya.
Pernah kumasukkan dia ke rumah sakit jiwa, berbulan-bulan tidak ada perkembangan. Bahkan sangat mengganggu pasien lain, tidak peduli berapa banyak uang sudah kukeluarkan tetap saja tidak ada perbaikan.
Akhirnya aku membawanya pulang.
Bulan berikutnya, kutitipin dia di panti rehabilitasi dengan biaya 4 juta sebulan, tapi sama saja.
Akhirnya aku memilih merawat Lyza di rumah, Ina pun tidak pernah protes.
Bahkan Ina lah yang mengambil banyak tugasku dalam merawat Lyza.
Ia yang paling peduli.
Dia tidak pernah berhenti berharap agar Lyza sembuh, normal kembali, bekerja dan suatu hari bisa memiliki suami dan anak.
Pernah Lyza tidak pulang sampai malam.
Ina keliling kesana kemari mencari Lyza, sampai akirnya pukul 2 pagi Ina menemukan Lyza sedang meringkuk di depan sebuah ruko kosong, mengigil sambil memegang bungkusan makanan sisa.
Ina membawanya pulang sambil menangis.
Ya, itulah Ina. Hatinya terbuat dari berlian.
Akulah yang bodoh seringkali tidak menyadari betapa beruntungnya aku mendapatkan dia.
Tapi aku sudah berjanji kepadanya, akan terus belajar berubah, yang aku tahu tidak mudah bagiku sendiri untuk melakukannya.
***
Selesai makan, aku menuju ruang tamu untuk menonton TV.
Di teras kulihat jas hujan. Basah.
Berarti tadi Ina naik motor hujan-hujan untuk membelikanku makanan.
Sementara aku tidur nyenyak.
Aku tahu aku telah mengecewakan hatinya.
Hatiku tergerak untuk masuk ke kamar.
Dari pintu kulihat sosok mungilnya yang duduk diam membelakangiku.
Pelan, kulangkahkan kakiku, kupeluk ia yang mematung di depan meja rias.
"Nanti kumakan makanan yang kamu beli tadi yaa."
Ina mengangguk. Air matanya hampir luruh namun disembunyikan.
Ya, Ina selalu tahu.
__ADS_1
Ada banyak kesalahan di rumah ini, tapi ia juga tidak mau menambah bebanku.
🌿