TAK SEINDAH DUNIA ALYZA

TAK SEINDAH DUNIA ALYZA
Aku Berinisiatif


__ADS_3

🌴


"Lyza, kenapa kabelnya di potong!"


Terdengar suara kak Ina gusar.


Aku tidak mengerti, bukankah kabel itu mengganggu. Kenapa dibiarkan saja, kan bahaya bisa nyetrum kalau dilewati.


"Takut kesetrum, Kak," jawabku.


"Ya tinggal kamu lewati saja, gak bakalan kesetrum. Gimana si kamu, ini kan lagi tunggu tukang listrik datang. Sekarang kakak harus beli kabel gulung lagi!"


"Justru kamu potong malah bisa nyetrum ... aaahhh !"


Kak Ina terlihat kesal sekali.


Ahhh ... aneh. Begitu saja marah.


Kalau memang perlu, bukannya tinggal beli saja lagi.


Gampang begitu!


"Coba kamu pergi beli kabel gulung sana, bisa gak?"


Ahh...mana aku mau beli-beli begitu.


Itu kan bukan pekerjaanku.


"Kamu deh jalan ke sana ke toko depan. Kakak lagi banyak banget ini kerjaan!"


Iya, memang kak Ina lagi banyak sekali pekerjaan. Ku lihat tumpukan kertas di meja kerjanya. Kak Ina bekerja sendiri, punya usaha sendiri, tapi proyeknya banyak.


Dia pintar, cantik, rajin, tapi aku gak suka.


Karena aku sering membuat repot kak Ina, aku jadi sering di marahi Anto.


Tapi kak Ina tidak pernah meminta Anto untuk membawaku ke rumah sakit, kak Ina juga gak tega katanya kalau melihatku di tempat lain.


Kak Ina baik sekali. Sangat sabar, tapi aku tetap tidak suka.


"Ada apa ini ribut sekali?"


Anto yang baru saja datang ikut menimpali suara kak Ina.


"Ini, kabel gulung di potong Lyza. Lagi ada tamu kan di atas, stop kontak diatas mati semua. Mcb nya turun, lampu mati juga. Panggil tukang juga belum datang. Mana saya lagi sibuk begini!"


Ina mencoba menjelaskan kepada Anto.


Pusing aku mendengarnya.


"Lyza, kamu sekarang juga pergi ke toko material di ujung gang sana. Beli kabel gulung!"


Anto segera menyuruhku.


Kadang aku berani membantah tapi kadang juga tidak.


Anto galak tapi juga baik. Dia menggantikan semua peran papa di rumah.


Aku segera mengambil uang dari tangan Anto dan berlalu.


"Jangan sampai salah! Lyza ... Kabel gulung. Ini bawa contohnya, beli yang seperti ini."


"Iya," jawabku.


Aku mengingat-ingat apa yang dikatakan Anto.

__ADS_1


Jangan sampai salah, nanti aku dimarahi lagi.


Aku bergegas menuju toko material langganan kami. Cukup jalan kaki melewati beberapa rumah, tidak begitu sulit.


Di jalan aku berpapasan dengan beberapa orang tetangga.


"Tante Rina ... Lyza mau beli kabel gulung ke toko material," kataku.


"Ooo iya Lyza. Hati-hati ya di jalan," kata tante Rina sembari meneruskan langkahnya.


Tante Rina tetangga beberapa rumah jaraknya dari rumah kami.


Orangnya baik, sering menegur. Sesekali dia memberiku kue-kue.


Rumah kami berada di komplek yang cukup ramai.


Tetangga juga beragam.


Ada yang mau menjawab bila ku tegur, tapi kebanyakan justru menghindar atau pura-pura tidak melihat.


Entah kenapa, kadang terpikir olehku bahwa


mereka itu orang-orang jahat.


"Pak, beli kabel gulung yang seperti ini," kataku kepada ko Aceng.


Dia pemilik toko material terbesar di komplek tempat tinggal kami. Karyawannya juga banyak.


"Ooo habis, Mba."


"Model itu udah lama gak jual."


"Ooo gitu," jawabku.


Tanyaku sambil menunjuk bohlam lampu merk Sinar.


"Ini empat puluh ribu."


"Ya, beli itu."


Kuserahkan uang seratus ribu di tanganku, setelah menerima kembalian aku segera menuju arah pulang.


Di warung pak Rudy aku berhenti sebentar.


"Pak beli permen, kerupuk, teh botol dingin sama bakpia. Ehh itu tambah roti bantal."


Segera aku membayar jajananku, dan pulang.


"Kak, kabel gulungnya gak ada. Habis. Ini Lyza beliin bohlam."


"Ini uang kembaliannya seratus empat puluh ribu!"


"Aduhhh kenapa malah beli bohlam sih ... Lyzaa! Kan gak ada pesan suruh beli bohlam. Kalau gak ada kabel ya udah pulang aja, ngapain beli yang lain!"


"Trus ini berapa harga bohlam?"


"Empat puluh ribu, Kak."


"Ini kenapa kembaliannya cuma seratus empat puluh ribu, mestinya kan seratus enam puluh ribu. Tadi kan bawa uang dua ratus ribu!"


"Yang dua puluh ribunya Lyza pakai jajan, Kak."


"Tadi pagi bukannya udah di kasi sepuluh ribu!"


"Iya, udah abis kak. Tadi beli baso lewat."

__ADS_1


"Kenapa kamu ambil lagi!"


Kak Ina kelihatannya kesal sekali. Ahh sudahlah. Aku mau makan saja. Tadi ku lihat di meja makan ada gado-gado, perkedel, bakwan. Pasti enak sekali.


Entah kenapa aku salah melulu, padahal aku berinisiatif.


Katanya di atas mati semua lampu. Jadi aku beliin bohlam. Dimana salahnya?


Bingung.


Tapi sering juga aku di puji karena menurutnya aku benar.


Seperti ketika ada air minum tumpah di lantai, aku segera mengambil lap kering dan mengepelnya.


Atau ketika aku di suruh membeli buah di toko dekat rumah, bahkan aku bisa nawar harga buah dua puluh satu ribu sekilo menjadi dua puluh ribu.


🌿🌿🌿


"Hallo ... iya ... iya ... iya. Tante Eva."


Diujung telepon terdengar suara tante Eva.


"Lyza, Anto ada di Rumah?"


"Gak ada tante, lagi pergi!"


"Pergi kemana? Lama gak?"


"Gak tahu, Tante. Gak bilang tuh!"


"Oo oke. Lyza, tolong bilang Anto ya, besok acara syukuran di rumah tante jam tujuh malam. Ajak mama juga datang."


"Kalau bisa datang lebih awal supaya bisa ngobrol-ngobrol sebelum yang lain ramai datang."


"Gak usah bawa apa-apa. Datang aja."


Masih banyak lagi yang dibicarakan tante Eva di ujung telepon.


Aku pun mengiyakan setiap perkataannya.


"Lyza nanti ikut aja ya," tante Eva melanjutkan.


"Iya, Tante," jawabku sembari menutup telepon.


"Jangan lupa disampaikan ya, Lyza."


"Iya, Tante. Nanti Lyza sampaikan. Daahhhh dahhhhh."


Akupun menutup teleponnya.


Terdengar suara langkah kaki mendekat.


"Siapa yang telepon, Lyza?"


Anto terlihat berjalan menuju ruang tamu. Dia baru selesai mandi sepertinya.


"Ooo, itu orang salah sambung!"


"Loh ... tapi sepertinya lama tadi ngobrolnya?"


"Tau tuh. Salah sambung!"


"Ooohh ...." Anto pun berlalu.


🌴

__ADS_1


__ADS_2