
"Braaakkkk."
Terdengar suara pintu di buka paksa, sepertinya ada orang masuk ke kamar di lantai dua.
Ada dua kamar di lantai atas, di salah satu kamar Anto, menggunakannya sebagai tempat menyimpan barang-barang yang jarang digunakan.
Sedangkan satu kamar lagi digunakan sebagai kamar tamu.
Dirumah ini memang Anto dan Ina, istrinya, yang mengatur semuanya.
Ya, memang ketika papa memutuskan pensiun dini sepuluh tahun lalu, Anto harus mengambil alih semua urusan keluarga kami.
Waktu itu Anto belum menikah, terpaksa harus kerja apa saja sambil kuliah untuk memenuhi kebutuhan kami.
Bahkan untuk makan minum dan biaya rumah tangga, Anto yang bertanggungjawab.
Uang pensiun papa tidak seberapa, dibanding dengan kebutuhan kami yang sangat besar.
"Lyza, bangun!"
"Buruan, bangunin Anto, perampok ada di atas!" suara itu terdengar begitu jelas.
Suara itu adalah suara yang selalu berbicara denganku.
Itu adalah suara Randy.
Randy selalu berbicara denganku, mengatakan berbagai macam hal.
Dari pagi sampai malam, aku terus berbicara dan bicara.
Apabila ada orang di dekatku, aku berbicara seperti bergumam.
Supaya tidak ketahuan apa yang kubicarakan.
"Mmmmmmmmm ... mmmmmmm.......mmmmmmmm."
Begitulah suara yang terdengar.
Apabila melihat wajahku di cermin, terlihat mulutku seperti monyong, berbicara tapi tidak mengeluarkan kata-kata.
Wajahku juga terlihat seperti perempuan jahat bermulut pedas.
Terus menerus.
Jangan tanya berapa lama.
Sambil makan pun aku bisa terus bergumam.
Ketika aku melihat tidak ada orang, barulah kata-kata ku keluarkan.
"Dasar tetangga bodoh, mestinya rumah di cat putih, bukannya cream. Jelek. Selera nya murahan," begitulah aku berkata-kata.
"Bagus banyak orang mati, ngapain bikin penuh isi bumi aja."
"Bodoh, **** si Anto, kawin sama perempuan gak becus."
Apa saja kukatakan, memaki, mencaci, mencela, tidak ada hal yang bagus di mataku.
Aku bahkan sering membicarakan Anto sebagai lelaki bodoh yang menikahi perempuan seperti kak Ina.
Bukannya banyak perempuan lain yang lebih kaya, yang punya harta melimpah, yang bisa memberiku uang banyak.
Aku bergegas ke kamar Anto.
Pintu kamarnya tak pernah di kunci, karena katanya supaya gampang kalau aku ada perlu.
Aku tidak peduli walaupun kak Ina sering memperlihatkan ketidaksukaannya.
"Anto bangun! Bangun! Ada rampok di atas."
"Bangun"
"Aduhhh ... Lyza apaan sih kamu," Ina terbangun kaget.
"Ada rampok di atas."
__ADS_1
"Gak ada! udah tidur sana kamu. Berisik aja!"
"Anto, bangun," aku tak peduli. Aku tetap membangunkan Anto.
"Kenapa sih, Lyz?" Anto akhirnya terbangun.
"Di atas ada rampok, mau ambil barang-barang. Nanti kita semua juga mau di bunuh!"
Kak Ina, yang jengkel segera turun dari tempat tidur dan keluar kamar.
"Ayo, kamu ikut saya ke atas!"
"Takut ahh," tentu saja aku tidak berani.
"Ayoooo," kak Ina tetap memaksa.
Ya, aku tahu.
Seperti tiap kali aku bertingkah seperti ini, kak Ina lah yang akan mengambil alih.
Karena Ia tahu Anto gampang marah.
Kalau tidurnya terganggu, bisa -bisa Anto marah sepanjang hari.
Tapi aku tidak pernah peduli.
Aku terpaksa mengikuti langkah kaki kak Ina, sambil membawa linggis di tanganku.
Pukul dua pagi ketika itu.
Diluar tidak terdengar suara apapun.
Selain suara berisik dari kamar atas.
"Mana ... mana rampoknya!"
"Tadi ada kak, aku dengan suara pintu di dobrak!"
"Iya, mana ... ?"
Kami sama-sama memperhatikan kamar yang rapi, bahkan tidak ada tanda-tanda ada orang masuk.
Aku tahu, kak Ina kesal!
Ini bukan pertama kalinya aku mengatakan aku mendengar sesuatu tapi kenyataannya tidak ada.
Sudah sepuluh kali? Tidak, ratusan bahkan ribuan kali.
Kak Ina sudah sangat hafal dengan kebiasaanku.
"Sudah, tidur," perintah kak Ina.
Aku pun segera masuk kamar.
Masih dengan tidak puas, aku betul-betul mendengar suara itu.
"Mmmmmmmm ... mmmmmm ... mmmmmmm."
Aku mencoba berbaring.
Tapi Randy terus mengajakku berbicara.
Sepertinya Ia pun tidak puas, karena kami tidak menemukan perampok itu.
Randy ... iya, Randy!
Ia adalah kekasihku ketika kuliah dulu.
Aku sangat mencintainya, tapi entah kenapa dia meninggalkanku begitu saja.
Waktu itu semester empat.
Kuliahku masih berjalan lancar.
Antolah yang meneruskan pembiayaan kuliahku.
__ADS_1
Entah kenapa, karir papa sebagai pejabat negara padahal bagus.
Tapi papa malah memutuskan pensiun dini, entah mengapa papa harus pensiun secepat itu.
Keuangan kami jadi sangat terganggu.
Aku lahir dalam kemewahan, ketika aku kecil, bahkan kemana-mana kami harus selalu didampingi supir pribadi papa.
Bahkan kami tidak pernah naik motor, tidak boleh kata papa.
Pernah mama naik becak, pulangnya mama di tampar papa.
Papa sangat otoriter.
Anto sering dipukulnya bila tidak menuruti perintahnya.
Pernah Anto menolak disuruh papa membelikan rokok pukul sepuluh malam, jalan kaki cari warung.
Anto langsung dipukulnya.
Ya, terhadap Anto papa memang lebih keras. Mungkin karena anak laki satu-satunya.
🌱
"Pa, aku mau belajar vokal," kataku pada papa suatu hari.
"Tidak boleh, tidak usah," jawab papa.
Papa selalu menentukan apa yang boleh dan tidak boleh.
Tererah papa saja.
Kadang kami dibuat bingung dengan sikapnya, bisa baik sekali, tapi bisa juga semau-maunya.
"Lyza, mama kamu kemana kenapa lama sekali!"
Sering papa marah-marah untuk suatu alasan yang buat kami juga menjengkelkan.
Tapi kami tidak pernah berani menjawab, karena kemarahan papa bisa menjadi-jadi apabila terlihat kami seperti menentangnya.
"Mungkin belum selesai urusannya. Pa," jawabku.
Ya, begitulah papa.
Dia menitipkan mama beli ini itu, tapi dia juga yang marah-marah karena mama tidak segera pulang.
Makin hari aku melihat mama makin pendiam, mungkin banyak makan hati dengan sikap papa.
Di lain waktu apabila papa merasa senang, Ia bisa bersikap baik sekali kepada kami.
Ahhh...entahlah harus bersikap bagaimana.
🌴
"Selamat siang. Mba," terdengar suara di luar.
Rupanya ada orang mau antar paket.
"Ini betul rumahnya pak Anto? Ini mau antar paket."
"O, bukan," jawabku.
"Tapi ini alamatnya sesuai. Mba."
"Bukan, gak kenal," jawabku.
Terlihat kebingungan di wajah sang kurir.
Aku tidak peduli.
Aku tidak kenal yang namanya Anto, kenapa cari di sini.
Pikirku.
Beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Lyza, udah ada orang antar paket blum?"
"Gak tau," jawabku.