
πΏ
(Pov Ina)
"Lyza, nanti ada tukang kerja mau benerin atap ya, kalau mereka datang kamu bukain pintu."
"Tukangnya yang kemarin ngecat dapur, ada tiga orang. Kamu ingat kan orangnya?"
"Iya kak Ina. Ingat kok."
Di ruangan dapur banyak sekali kaleng-kaleng cat. Bekas kemarin dan masih banyak yang utuh berbagai warna.
Rencananya aku akan mengecat ulang seluruh ruangan di rumah ini supaya lebih nyaman.
Ya, aku memang sedang merenovasi rumah mama, sudah habis hampir dua ratus juta, tapi gak selesai-selesai juga.
Sebenarnya sayang uang sebanyak itu, tapi apa boleh buat.
Di rumah ini sudah ada 4 kamar. Kamar mama, kamar Alyza dan Tina, kamar ku dan satu lagi kamar anakku.
Tapi makin hari makin sulit untuk tinggal satu rumah satu dapur.
Mama juga tidak mau pindah ke rumahku, padahal lebih luas.
Yaa maklum saja, namanya orang tua pasti lebih nyaman di rumah sendiri.
Sementara papa mertuaku sebelum meninggal, sudah mengingatkan berkali-kali agar Anto mengurus mama dan adik-adiknya.
"Mama tidak pedulian. Mama gak bakalan bisa urus Alyza." begitu selalu kata papa.
Jadilah suka tidak suka kami pindah ke rumah mama dan sesekali pulang ke rumah kami sendiri.
Sebagai jalan keluar, aku bermaksud menambah beberapa kamar dan membuat dapur sendiri.
Jadi mama mau masak apa terserah dia.
Dan aku mau masak apa juga terserah aku.
Kamar mandipun masing-masing di kamar, jadi aku tidak perlu sering marah-marah karena Lyza sering pipis di lantai kamar mandi bukannya di kloset.
Selesai pipis malas nyiram, sedangkan aku paling benci kotor dan bau.
Tv pun sudah ku belikan buat masing-masing di kamar.
Satu di ruang tamu, bahkan satu lagi di ruang makan.
Total sampai ada lima tv di rumah.
Apa boleh buat, aku dan Anto bekerja habis-habisan untuk membiayai cara hidup kami yang ikutan stress.
Bersyukurnya, semakin aku keluar banyak uang demi kebaikan bersama, semakin banyak proyek yang harus ku tangani.
Melelahkan!
Tentu saja, sangat melelahkan.
Tapi aku selalu berprinsip, apapun yang menurut suami yang terbaik kuikuti.
Di mana anak-anakku berada, di situ aku ada. Sekalipun rasanya bagai di neraka.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Aku harus menghadapi orang sakit setiap hari.
Rasanya lebih enak mengurus orang sakit lumpuh, dari pada orang stress.
"Kak, Ac nya matiin dong. Bayar listrik kan mahal!" kata Alyza suatu hari ketika aku sedang istirahat siang bersama anakku.
Aku diam aja. Kesal. Bukankah aku dan Anto yang bayar listrik di rumah ini. Aku mau pakai ac dua puluh empat jam sehari juga tidak masalah.
Kenapa ribut pikirku!
Ketika aku keluar kamar, tiba-tiba Alyza memukul kepalaku dengan gagang pisau.
"Pulang sana kamu. Ngapain tinggal di sini. Kamu kan punya rumah sendiri!" teriaknya.
Waktu itu kami baru beberapa minggu pindah ke rumah ini.
Ya Tuhan, kalau aku belum punya anak, rasanya aku sudah pasti akan minta cerai dari Anto.
Bukannya bersyukur kami mau mengurus dia dan mama, malah kurang ajar sekali.
Tapi aku diam, kembali ke kamar dan menangis.
Tidak, kata mamaku aku harus baik kepada mertua dan ipar. Seperti apapun sifat mereka. Jangan melawan jangan membalas, yang penting suami kamu memperhatikan kamu.
Ya, aku sudah berjanji kepada ibuku.
Aku akan memperlakukan ibu mertua bagaikan ibu kandungku.
Dan ipar-ipar seperti halnya saudara kandungku.
π΄π΄π΄
"Pokoknya sebelum tukang selesai kakak pasti sudah di rumah!"
"Iya, Kak."
Aku segera berangkat bersama anak-anakku.
Kemanapun aku pergi, aku harus membawa serta anak-anak.
Tidak ada pengasuh.
Capek tiap kali ganti-ganti pengasuh, dan yang paling aku khawatirkan apabila ada orang-orang yang pernah bekerja denganku lalu sakit hati dengan perlakuan orang di rumah.
Lalu mereka berbuat jahat terhadap anak-anakku.
Tidak!
Aku harus menjaga anak-anak ekstra. Apa boleh buat.
Keadaanku sulit, tapi aku selalu percaya, bahwa tiap orang harus memikul batunya sendiri-sendiri.
Mungkin ada orang yang nyaman dengan tumah tangganya, hanya mengurus suami dan anak, tapi bingung hari ini makan apa besok makan apa.
Atau ada yang makan minum cukup, mertua ipar baik, tapi menikah bertahun-tahun belum juga dikaruniai momongan.
Bahkan ada yang harta melimpah, mertua ipar sangat baik, anak-anak lengkap laki perempuan komplit sehat cantik cakep, tapi suami punya perempuan lain, istri juga punya laki-laki lain.
Dengan semuanya itu, haruskah aku mengutuk hidupku.
__ADS_1
πΏπΏπΏ
"Bagaimana pak, sudah selesai betulin atapnya."
Jam empat sore aku sudah di rumah dan segera mengecek pekerjaan tukang.
"Belum, Bu. Belum kepegang sama sekali!" Jawab pak Budi.
"Loh...masak dari pagi kerja bertiga gak selesai juga, itu kan cuma ganti beberapa genteng yang bocor sama perbaiki talang air!"
Aku agak emosi menjawabnya.
Aku lagi capek sekali, sepanjang jalan macet.
Mana anak-anakku ramai sekali di mobil.
"Trus bapak kerjain apa aja ini!"
"Anu bu, ngecat ruangan dapur."
"Loh... bukannya dapur udah selesai kemarin. Saya kan suruh bapak perbaiki atap, kenapa ngecat dapur lagi?"
"Ini bu di suruh bu Lyza. Katanya cat dapur yang kemarin cream gak bagus. Dia maunya ganti warna putih, jadi kami cat warna putih bu."
"Kan saya yang atur pak kenapa bapak dengerin Lyza. Saya yang bayar bapak!"
"Harusnya bapak telepon saya dulu!"
"Maaf bu. Bu Lyza nya ngotot bu, kami pikir sudah bicara sama ibu."
Pak Budi kelihatan takut sekali. Kasihan juga melihatnya.
Ahh aku kesal sekali.
Tapi di satu sisi, pak Budi pun tidak salah sepenuhnya.
Karena selama kerja di rumah, aku tidak pernah membicarakan tentang sifat Lyza dan sifat mama.
Aku tidak mungkin bilang ke mereka bahwa Lyza sakit mental. Gak bisa.
Selama ini aku selalu melindungi keluarga suamiku dari pandangan negatif orang lain.
Aku tidak mau orang-orang meremehkan mertua dan iparku.
"Lyza! Ini kenapa kamu suruh tukang ngecat ulang dapur. Bukannya kemarin udah bagus rapi cat cream, gak gampang kotor!"
"Gak bagus cream kak. Bagusan putih!" jawabnya enteng sambil melahap sepiring penuh makanan.
Entah sudah berapa banyak ia makan, biasanya jam segini minimal sudah delapan kali.
"Kamu gak bisa asal begitu dong Lyz. Mikir gak kamu berapa harga cat, ini habis tiga kaleng. Belum bayar tukang bertiga, belum waktunya habis percuma!"
"Ahh kak paling berapa sih. Sejuta dua juta. Ambil aja lagi di Atm!" jawabnya enteng.
Arrgggggghhhhh, sabar-sabar!
Aku menarik nafas panjang-panjang.
πΏ
__ADS_1