
🌿
Suasana di kantor Polisi saat itu ramai sekali. Aku bahkan tidak duduk, ada sedikit perasaan takut melihat banyaknya petugas berseragam yang berlalu-lalang.
Tapi aku tidak boleh mundur, mudah-mudahan ada yang berbaik hati membantuku di sini.
Keheranan tidak dapat disembunyikan dari wajah pak Polisi dihadapanku. Mungkin belum pernah mereka kedatangan orang sepertiku, entahlah, aku merasa aneh.
Beberapa orang tampak berbincang-bincang, sebagian berbisik, sesekali melirik kearahku.
Entah apa yang mereka bicarakan, aku tidak mendengarnya.
"Bu, ibu kenapa?"
"Tolong bunuh saya, matiin saja saya, Pak!" Jawabku lagi.
"Ibu kenapa bicara begitu?"
"Iya, saya minta di bunuh saja. Kepala saya pusing, Pak!"
Pak polisi masih terus bertanya ini dan itu yang aku tidak mengerti apa maksudnya.
"Randy ganggu saya terus, Pak!"
"Randy? Siapa Randy, Bu?"
"Mantan pacar saya waktu kuliah, Pak!"
"Sekarang ada di mana Randy?" Tanya pak polisi semakin penasaran membuatku pusing.
"Itu, pak. Di situ dia ngumpet!' Jawabku asal. Tanganku menunjuk ke arah sebuah pohon di halaman kantor polisi.
"Tidak ada siapa-siapa di situ, Bu!"
"Tu, sekarang udah pindah ke atas genteng." Jawabku lagi.
Pak Polisi terlihat jengah, mereka mulai berbicara makin serius.
Mungkin dikiranya aku main-main tapi aku benar serius.
"Ayo, ibu ikut saya. Saya antar ibu pulang!"
"Gak mau, Pak. Randy tahu rumah saya."
"Saya gak mau pulang. Matiin aja saya, Pak!"
Lagi-lagi aku berusaha meyakinkan mereka.
"Ya sudah. Sekarang ibu ikut saya. Saya antar ke tempat lain."
Sebuah mobil polisi sudah menunggu di halaman, dengan pintu sudah terbuka.
Aku di suruh masuk, tanpa bertanya lagi aku ikuti saja perintah pak polisi.
Sepanjang perjalanan kembali aku mencoba mengingat-ingat semua kejadian yang pernah kualami. Kenapa sampai aku seperti ini.
Ketika masih kecil, kami hidup dalam kemewahan. Tetapi papa mama hampir tidak punya waktu di rumah, sibuk dengan pekerjaannya.
Kami lebih dekat dengan asisten rumah tangga atau supir.
__ADS_1
Papa sangat keras, bahkan cenderung otoriter. Semaunya. Awalnya mama dan kami menurut saja apa kehendak papa, tapi lama kelamaan, mama dan aku mulai berontak dalam diam.
Sementara Anto dan Tina masih bersikap biasa saja.
Kami mulai bersikap takut di depan papa tapi di belakang cuek saja.
Bahkan, ketika papa sakit, mama juga terlihat tidak peduli bahkan sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Aku sendiri merasa malas kalau harus mengurus papa, bukan apa-apa, bahkan dalam keadaan sakit pun papa masih sering marah-marah.
Hanya Anto dan kak Ina yang rutin mengurus papa. Membawanya bolak balik ke rumah sakit, hingga bertahun-tahun.
Mama dan aku bahkan tidak pernah menjenguk papa yang di rawat di rumah sakit selama sebulan sebelum tutup usia.
Entahlah, kami bersikap masa bodoh saja.
*
Sekitar satu jam perjalanan dengan mobil polisi, kami sampai di sebuah tempat yang tidak aku kenali.
Terdengar pembicaraan pak polisi dengan petugas jaga.
Sepintas ku lihat ada tulisan Dinas Sosial di pintu masuk, tapi aku tidak begitu memperhatikan.
Setelah terlibat pembicaraan dengan petugas, akhirnya aku ditinggalkan bersama beberapa orang lain.
Ada seorang bapak tua, pakaiannya lusuh robek-robek. Wajahnya terlihat kotor sekali.
Ada juga seoarang ibu, umur paruh baya, menenteng banyak sekali plastik.
Entah apa isinya, yang jelas bau.
Dan ada beberapa orang lagi, masing-masing berbicara sendiri-sendiri. Kadang tertawa, kadang diam, kadang juga menangis.
Kami semua di kumpulkan di suatu ruangan, lalu di antar ke kamar terpisah laki-laki dan perempuan.
Sebelumnya, kami diberikan baju ganti yang sama modelnya. Tentu saja kami di suruh mandi terlebih dahulu.
Malamnya, kami makan bersama. Kami diperlakukan dengan baik, beberapa orang mencoba berbicara, mengajak mengobrol tapi aku tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka.
Katanya kami harus istirahat, karena besok akan diantar pulang.
Ahh... Kenapa juga harus pulang. Pikirku!
Nanti Randy mengusikku lagi.
Sempat terpikir olehku, pasti saat ini kak Ina sedang mencariku ke sana sini, berkeliling dari satu komplek perumahan ke komplek perumahan lainnya.
Menelepon keluarga satu per satu, bahkan menyisir toko demi toko, dengan harapan bisa menemukanku.
Ada rasa kasihan, ingin pulang saja, tapi aku tidak mengetahui jalan pulang. Ahh sudahlah, katanya besok mau di antar pulang. Aku tunggu saja sampai besok.
Aku tertidur dengan nyenyak.
*
"Lyza, kamu kemana aja!" Teriak kak Ina.
Benar saja, kak Ina terlihat sangat cemas.
__ADS_1
Aku diantar oleh beberapa petugas Dinas Sosial ke rumah, awalnya mereka sempat meragukan ketika aku menunjukkan alamat rumah. Bahkan salah satu petugas enggan turun, dan ngotot supaya aku menunjukkan alamat yang benar.
Kak Ina mempersilakan bapak-bapak itu masuk dan berbincang-bincang. Ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani, begitu yang ku dengar.
Bahkan, petugas meminta kak Ina untuk di foto bersama petugas dan aku.
Sebagai bukti bahwa Dinas Sosial sudah menyerahkan aku kepada keluarga. Begitu katanya.
Tidak terlihat mama, Tina maupun Anto di rumah.
Aku yakin, mereka sibuk dengan urusannya sendiri.
Hanya kak Ina, ya, kak Ina yang selalu ada.
Aku ingat, dalam kesalnya, Anto sering mengatakan agar aku bersyukur. Bersyukur dan bersyukur.
"Kamu harus bersyukur, Lyza!"
"Ina sudah sangat pengertian, mau menerima kamu dan mama yang seperti ini. Coba kalau perempuan lain, bisa-bisa saya sudah di tinggal pergi, Lyza!"
"Mau sampai kapan kamu jadi beban saya!"
Tapi aku tidak pernah peduli dengan perkataan Anto, yang ada di pikiranku hanya bagaimana makan enak tidur nyenyak.
Apakah aku salah, di mana salahnya.
Pernah waktu papa masih hidup, aku mendengar Anto marah pada papa.
"Karena papa yang terlalu keras, mama jadi masa bodoh dengan kami, Pa. Lyza bahkan sampai terganggu kejiwaannya. Sekarang mereka semua jadi beban saya!"
Iya, sejak awal aku di anggap terganggu, Anto lah yang membawaku ke psikolog.
Kata dokter, aku mengidap skizofrenia.
Yaitu gangguan mental yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Penderita biasanya tidak dapat membedakan imajinasi dari kenyataan yang ada serta tidak dapat menafsirkan realita secara normal. Penderita juga memiliki pikiran dan perilaku yang tidak lazim yang dapat mengganggu fungsi (aktivitas) kehidupan sehari-hari. Penanganan seumur hidup dibutuhkan oleh penderita agar dapat mengendalikan gejala-gejala yang dialami.
Begitu penjelasan dokter yang merawatku.
Tentu saja, aku tidak mengerti maksudnya.
"Ini bukan soal uang, saya sanggup membiayai mereka, tapi rumah tangga saya jadi terganggu, Pa. Sangat terganggu!"
Papa hanya diam saja, penyakit stroke membuat papa sulit bicara. Hanya tangannya saja yang memberi kode apabila ia menginginkan sesuatu.
Bahkan untuk membantah Anto pun ia tidak sanggup.
Setelah papa tiada, aku pun tetap sama. Tidak ada perubahan bahkan semakin parah.
Aku semakin sering berbicara sendiri, merusak barang-barang, menangis, berteriak.
Kak Ina membelikanku TV buat di kamar. Katanya supaya Anto tidak terganggu kalau lagi nonton di ruang depan.
Setiap hari aku selalu nonton berita, terutama berita kriminal dan politik. Aku juga senang nonton sinetron. Apalagi kalau ada adegan marah-marah, paling ku suka.
Kak Ina sering mengingatkanku, agar mengganti siaran yang baik di tonton. Tapi aku tidak suka.
"Lyza ... lyza ... bangun!"
🌿
__ADS_1
(Marrieanne)