
🌿
"Kamu baik-baik ya di sini. Supaya bisa cepat pulang."
Aku tak menghiraukannya.
Kak Ina tidak bisa menyembunyikan kesedihan di wajahnya.
"Besok kakak ke sini lagi liat kamu. Janji? Janji ya kamu baik-baik saja."
Aku tidak menjawab, pandanganku kosong.
Kemarin aku masih bisa makan tidur sepuasnya, sekarang pasti dibatasi. Obat bertambah banyak.
Berat badanku sekarang sudah hampir 85 kg.
Setiap beberapa kali sebulan, kak Ina membelikanku pakaian baru.
Kak Ina ingin sekali aku menikah, punya anak. Belum terlambat katanya. Tapi aku juga harus berusaha memperbaiki diri.
Terutama aku harus berusaha untuk tidak berbicara atau mendengar Randy.
Randy jahat, jangan di dengar.
Bahkan kak Ina mengajarkanku agar menciptakan tokoh imajinasi yang baru, orang baik.
Tapi belum berhasil, masih selalu Randy yang menguasai hari-hariku. Dengan suara-suara jahatnya.
"Kamu cantik, Lyza. Pintar. Bantu kakak ya, coba kamu gak usah dengerin Randy. Kalau dia bicara kamu diam aja. Bisa?"
Begitu kak Ina sering berkata. Kadang aku heran, kenapa kak Ina masih tetap sabar menghadapiku.
Ya, kak Ina memang banyak sekali membantuku. Bahkan aku menjadi ketergantungan, kadang sengaja buat ulah supaya mendapat perhatiannya.
Ketika aku berbicara sendiri, kak Ina sering menengahi.
"Lyza, tolong buang sampah ya. Selesai buang sampah jangan lupa cuci tangan. Buangnya di dalam tong sampah, jangan di luarnya."
Tak lelahnya kak Ina mengingatkanku, ya, aku memang sering membuang sampah di luar tong sampah.
Jijik kalau harus melongok ke bak sampah.
Aku akan berbicara terus menerus.
Lagi dan lagi, makin lama makin kencang.
__ADS_1
Bukan hanya itu, bicaraku makin kasar.
Tiap kali pula kak Ina menginterupsi supaya aku berhenti berbicara dan teralihkan dengan sesuatu yang lain.
Bukan hanya berbicara, tapi aku juga sering melakukan sesuatu tanpa kusadari sepenuhnya, bahwa perbuatanku tidak menyenangkan bagi orang lain.
Bahkan sangat mengganggu.
Seperti ketika suatu hari, datang seorang tetangga marah-marah.
"Ehh ... Bu. Tolong ya Lyza di urus. Masa dia masuk ke rumah saya terus pipis di teras. Sekarang siapa yang bersihin!" tetangga itu berteriak. Wajahnya merah padam.
Kak Ina berusaha menenangkannya seraya minta maaf.
Ya, aku memang pipis di teras rumah bu Ita. Kebetulan aku mau ke warung dan ku lihat pintu pagarnya terbuka, aku kebelet mau pipis.
Aku tidak berpikir bahwa hal itu bisa membuat marah bu Ita.
Hanya perkara pipis kenapa ribut, bukankah tinggal di siram, selesai.
Di lain waktu, rumah tetangga beda gang, rumah pak Yudi, mengalami musibah kebakaran. Api menghanguskan sebagian rumah, untungnya tidak menyebar ke rumah lain.
Aku, spontan mengatakan kepada orang-orang bahwa yang membakar rumah pak Yudi adalah pak Tono, tetangga sebelah rumah. Randy yang membisikkan padaku.
Kepada setiap orang yang lewat aku mengatakan hal yang sama.
Mungkin saja pada waktu itu Ia sedang merencanakan pembakaran tersebut.
Pikirku.
Sedang menghabiskan makan siang, aku mendengar ribut di luar. Ada apalagi.
Ternyata pak Tono mendatangi rumah kami mencariku.
"Lyza mana?"
"Lyza sedang makan, Pak."
"Suruh keluar dia. Apa-apaan menyebarkan berita bahwa saya yang membakar rumah pak Yudi!"
Amarahnya tak terbendung, seandainya aku yang langsung ditemuinya entah apa yang terjadi.
"Pak Tono, maafkan Lyza, dia asal bicara. Tolong dimaklumi, semakin hari dia semakin sulit dikendalikan."
Begitu ku dengar kak Ina mencoba menenangkan. Mencoba memberi pengertian.
__ADS_1
"Tapi saya tidak terima, bu Ina. Saya di tuduh membakar rumah pak Yudi. Kalau ada orang lain yang percaya bagaimana, Bu. Tidak semua orang paham bagaimana Lyza."
"Iya maaf, Pak. Nanti saya akan temui warga dan menjelaskan."
Pak Tono berlalu meninggalkan kak Ina. Omelannya terdengar sepanjang jalan.
*
"Kira-kira berapa lama kondisi Lyza seperti ini terus, Pak. Apakah ada alternatif pengobatan lain yang bisa dilakukan, obat yang lebih baik."
"Untuk sementara kami sudah memberikan obat dan terapi yang terbaik ibu. Kesembuhan memang tidak ada jaminannya, yang paling penting sebenarnya pendampingan dari keluarga inti. Kalau tidak ada perhatian ekstra, akan sulit ada perbaikan."
Kak Ina masih berusaha mencari jalan terbaik buat perawatanku. Aku yakin, dia tidak akan pernah tenang selama aku di sini.
"Saya mengerti, ibu sudah menjelaskan ke saya mengenai keluarga Lyza. Jadi memang yang paling baik Lyza di sini saja untuk sementara waktu."
"Baik, Pak. Ini kontak saya sewaktu-waktu ada hal yang perlu dibicarakan."
"Saya tidak tenang." Lanjutnya menghela nafas.
Sebulan, dua bulan hingga memasuki enam bulan. Aku masih di panti rehab, setiap beberapa hari sekali kak Ina datang. Kadang bersama Anto kadang sendiri. Sementara mama belum pernah sama sekali berkunjung.
Tina? Pernah satu kali.
Aku tidak peduli!
Hari ini kak Ina datang lagi, dari kejauhan aku melihat ia menangis. Jalannya tergesa-gesa.
Raut wajahnya tampak khawatir.
Aku hanya bisa menyapanya dari balik jendela berteralis. Ditanganku kupegang erat sebuat kartu ucapan, buat kak Ina yang berulang tahun minggu lalu.
Ada beberapa hiasan di atasnya.
Hasil karya kami di panti, di sela-sela terapi, kami di ajari bagaimana berkarya sederhana.
Katanya untuk mengalihkan pikiran negatif.
"Lyza, apa yang kamu lakukan?"
Aku hanya diam memandang kosong.
Kemarin aku menyerang salah satu petugas, aku mendorongnya hingga tersungkur.
Mungkin itu sebabnya kak Ina datang!
__ADS_1
🌿
(Marrieanne's)