TAK SEINDAH DUNIA ALYZA

TAK SEINDAH DUNIA ALYZA
Kedatangan Tamu


__ADS_3

🌿


"Beneran tadi gak ada yang antar paket?"


Anto masih berusaha menanyaiku soal paket itu.


"Gak tahu. Gak ada!"


Entah kenapa Anto ngotot begitu. Aku jadi pusing.


Hanya soal paket, apa pentingnya. Pikirku.


"Katanya mau diantar jam segini. Ya sudah, nanti dengar-dengar kalau ada orang panggil di depan."


"Atau kamu tunggu aja deh di depan, di ruang tamu. Katanya pasti diantar hari ini."


"Iya," jawabku santai.


Aku segera ke meja makan. Mengambil berbagai macam lauk pauk yang ada di meja makan. Aku tahu kak Ina belum makan, ikan goreng tinggal satu potong.


Kuambil saja.


Aku lapar sekali, waupun baru satu jam yang lalu makan tapi aku masih lapar.


Selesai makan, aku melihat roti tawar masih utuh satu bungkus.


Masih banyak, aku segera membuat roti bakar dengan isi selai strawberry.


Ehhmmmm enak sekali.


Kenyang, aku masuk kamar. Naik ke atas kasur dan tidur.


🌿🌿🌿


Keesokan harinya.


"Apa kabar, Lyza?"


"Baik," aku menjawab tante Rosa dengan semangat.


Siang itu, kami kedatangan tamu.


Tante Rosa, adik papa yang tinggal Surabaya.


Katanya mau menginap beberapa hari.


Jarang ada tamu di rumah, kalaupun ada, aku seringkali tidak boleh ikut ngobrol.


Tapi walau di larang, aku tetap saja duduk di kursi pojok atau di lantai.


Mendengarkan dan menimpali pembicaraan Anto dan tamunya.


"Kamu gimana, sehat?"


"Iya, sehat."


"Masih suka pusing-pusing?"


"Masih, tapi minum obat terus."


"Udah lama ya tante gak kesini. Ada banyak artis yang cerai. Si Dudi tetangga kita dulu anaknya udah wisuda .... kem ..... " aku tak bisa meneruskan ucapanku.

__ADS_1


Tante Rosa bicara lagi.


"Iya iya ... tante sibuk, ini juga gak bisa lama, paling tiga hari."


"Lyza udah jalan kemana aja?"


"Gak kemana-mana, paling ke toko dekat rumah. Ketua RT nya dah ganti. Tanaman rumput di lapangan udah di potong ... me ...."


"Ooo iya. Gitu ya. Lyza minum obat berapa macam sekarang?"


"Ada tiga macam. Minumnya pagi siang malam. Kalau gak minum gak bisa tidur. Jokowi lagi kunjungan ke Jawa Timur, katanya ... emh...."


"Iya iya." Tante Rosa masih berusaha ngobrol dengan Lyza.


"Eh Lyza udah tahu ya, om Tito sudah meninggal ya minggu lalu?"


"Iya tahu. Dikasi tahu sama mama. Di bunuh si Randy dia ... kata ...," ucapanku segera di potong tante Rosa.


"Gak ... om Tito sakit udah lama. Lambung. Lyza gak boleh berpikiran begitu."


"Kata Randy begitu tante, dia yang matiin om Tito."


Ahh mengapa tidak ada yang mau percaya kalau aku bicara.


"Kamu jangan dengerin si Randy, yaa ... !"


"Dirumah suka bantu-bantu mama gak?"


"Iya bantu. Lyza udah bisa nyapu, buang sampah, masak nasi juga bisa.


Nasinya gak enak, gak tahu merk apa, kadang Lyza buang kalau lagi nyuci beras. Bawang merah harganya naik. Kemarn Lyza jalan-jalan ke toko baju, yang jual gak bolehin Lyza beli. Tetangga ujung motornya baru. Permen lolipop ada rasa bubblegum juga sama strawberry ... men ...."


Aku segera beranjak. Padahal aku masih sangat ingin ngobrol.


Katanya banyak Menteri yang mau di ganti. Harga beras naik. Kemarin tetangga sebelah bongkar rumah, tukangnya banyak. Berisik sekali.


Dan masih banyak lagi. Tapi sepertinya tante Rosa gak begitu tertarik mendengar omonganku.


Aku segera mengambil piring, masih banyak makanan di meja makan.


Kalau ada tamu, kak Ina pasti masak banyak.


Kesempatan, aku bisa makan sepuluh kali hari ini.


Belum termasuk jajan.


Iya aku wajib harus jajan. Tiap hari Anto memberiku uang jajan sepuluh ribu.


Kalau aku mau bantu-bantu kerja, sering di kasi lebih.


Ayam goreng satu potong, cap cay, acar, mie goreng, sambal, kerupuk.


Ada minuman es buah juga.


Pukul satu siang.


Aku makan yang ke enam kalinya hari ini.


Selesai makan dan minum es buah, aku segera mencari Anto.


"To, aku belum dapat uang jajan hari ini," kataku.

__ADS_1


"Nanti aja dulu, itu juga lagi banyak makanan," jawab Anto.


"Tadi aku udah bantu buang sampah," kataku ngotot.


"Ya nanti aja deh, baru juga jam berapa, kerjain yang lain aja dulu."


Anto terlihat kesal. Ya, kadang memang Anto marah kalau aku minta uang jajan.


Tapi kalau Anto tidak mau memberi, biasanya aku ambil sendiri dari dompetnya.


Biarin aja, nanti juga hilang marahnya.


Anto selalu mengurusku, mungkin karena dia anak laki satu-satunya.


Pernah dulu aku di antar ke rumah sakit khusus orang sakit.


Heran, kenapa aku di antar ke tempat orang aneh seperti itu.


Banyak orang suka tertawa sendiri, bicara sendiri, kadang nangis.


Gak jelas.


Sepertinya mereka gila.


Enam bulan aku di tinggal bersama mereka, entah berapa banyak uang yang di bayarkan Anto. Tapi katanya banyak, biayanya mahal.


Sudah termasuk makan minum dan biaya pengobatan.


Aneh, kenapa Anto harus buang-buang uang seperti itu.


Setelah enam bulan, aku di bawa pulang.


Katanya Anto tidak tega melihatku di sana.


Aku pun senang.


Bisa pulang dan makan tidur sepuasnya.


🌴🌴🌴


"Aduh ... !"


Kakiku tersandung kabel.


Kulihat ada kabel gulung yang di colokkan ke stop kontak di bawah dekat ruang tamu.


Kabelnya di tarik sampai ke lantai dua. Melewati tangga.


Sepertinya lampu di atas mati, ada mcb yang turun, begitu biasa ku dengar kak Ina bicara.


Entah apa sebabnya, aku pun tidak mengerti.


Jadi sementara pakai kabel gulung dari bawah, sambil menunggu tukang listrik datang.


Aku segera mengambil gunting.


Kupotong kabel itu.


"Mengganggu saja. Nanti aku kesetrum," pikirku.


🌴

__ADS_1


__ADS_2