
π΄
Dua hari kemudian.
Anto mendatangiku dan bertanya.
"Lyza, kenapa kamu tidak bilang kalau tante Eva mengundang kita kemarin?"
"Ini saya ditanyain kenapa gak datang?"
Aku diam saja. Pura-pura tidak mengerti.
"Lyza, katanya tante Eva telepon kamu!"
"Gak ... tante Eva bohong. Gak ada nelepon Lyza," aku berkilah.
Lagipula, apa sih pentingnya datang ke acara syukuran begitu. Buang-buang waktu saja.
"Aaaahhhhhrrrrgggggh," Anto terlihat kesal.
"Udah kebiasaan kamu berbohong!"
Ya, Anto pasti di salahkan karena tidak datang bersama mama.
Ahh terserah.
Aku mau makan.
"Jangan makan lagi, baru jam dua siang udah tujuh kali makan!"
"Sebentar-sebentar makan, sebentar-sebentar makan!"
Ya, aku tahu. Kalau Anto lagi kesal pasti dia mulai ngoceh ini itu.
"Kamu kerja juga enggak, menghasilkan uang enggak, bantu di rumah juga gak bisa benar,
Udah paling enak hidup kamu. Lyz!"
Begitu yang sering ku dengar.
Aneh, bukannya Anto dan kan Ina sudah punya banyak uang, kenapa aku harus kerja cari uang!
Aku makan sebanyak apapun, kulihat kak Ina tidak pernah kesulitan membeli beras sayur dan lauk pauk.
Kukembalikan piring yang sudah ditanganku.
Tidak apa-apa, aku pura-pura menuruti perkataan Anto.
Ketika aku lihat Anto masuk kamar, segera aku ambil piring dan cepat-cepat mengambil nasi dan lauk pauk.
Secepatnya aku membawa makanan itu ke kamar dan menutup pintu.
Aku makan dengan lahapnya.
Selesai makan aku mengambil minum.
Air di galon terlihat hampir habis.
Ahh biarin, nanti biar mereka yang angkat galon.
Aku minum banyak sekali, aku ingat kak Ina sering mengeluh air cepat sekali habis dan aku tidak pernah mau angkat galon.
Iya sehari segalon udah pasti habis, dan setengah galonnya aku yang minum.
Kak Ina sampai menyediakan empat dispenser air minum, di ruang tamu, di ruang makan, di kamarnya dan di dapur.
Katanya biar gak tiap hari angkat galon.
Mau bagaimana lagi, memang aku haus terus. Kalau tidak minum, mulutku kering sekali bisa pecah-pecah bibirku.
Setengah jam kemudian, kulihat Anto keluar kamar.
Aku pun ikut keluar kamar. Kusembunyikan piringku.
"Lyza, ini nasi habis. Masak dulu!" Kata Anto.
"Iya."
Aku segera menyiapkan rice cooker dan memasak nasi.
Dulu selalu ada asisten rumah tangga, dan babby sitter.
Tapi udah dua tahun terakhir kak Ina tidak mau punya lagi.
Capek katanya. Ganti ganti terus.
__ADS_1
Iya, akulah penyebabnya.
πΏπΏπΏ
"Ehhhh kamu mau maling motor yaa!"
"Emmm gak tante Lyza, saya di suruh ibu panasin motor," jawab mba Rini.
"Gak mungkin, ibu lagi pergi, pasti kamu mau maling motor!"
"Gak tante, saya disuruh ibu!"
"Katanya selama ibu bapak pergi, motor harus di panasin tiap pagi. Ini juga panasinnya cuma di teras gak di bawa keluar."
Mba Rini masih tetap dengan pembelaannya.
Ahhhh aku tidak percaya. Pasti dia mau maling.
Kuambil ember kosong, ku pukul kepalanya.
Tidak berapa lama, ku dengar mba Rini menelepon kak Ina sambil menangis.
Dia mengadu katanya aku menuduhnya mau maling motor, aku memukulnya dengan ember.
Katanya mau berhenti kerja, mau pamit.
Ahhh terserahlah.
Ketika kak Ina mendapatkan pengasuh baru pun sama, hanya bertahan dua hari.
"Lyza ini mana makanan kok habis semua!"
"Bukan Lyza kak, itu si Dini yang habisin!"
Kak Ina diam, aku tahu dia tidak percaya.
Keesokan harinya juga sama. Ketika semua makanan kuhabisin, aku bilang yang habisin mba Dini.
Rupanya mba Dini mendengar perkataanku.
Keesokan harinya dia pamit berhenti.
Setiap kali ada pengasuh atau asisten rumah tangga yang baru, paling hanya bertahan sebulan.
Padahal kak Ina selalu memberi gaji lebih tinggi dari tetangga. Kalau mba tetangga di gaji satu setengah juta sebulan, maka mba di rumah di gaji dua juta.
Belum termasuk uang makan lembur dan sebagainya.
Pernah Anto komplain kenapa uang gaji pekerja di rumah selalu lebih mahal di banding orang lain, kak Ina mengatakan supaya pada betah, kan Lyza begitu sifatnya. Kasian yang kerja, katanya.
Aku tidak mengerti, toh tetap saja pekerja di rumah ganti-ganti terus.
Bahkan uang pulsa, shampo sabun. Kak Ina memang baik sekali, tidak tegaan sama semua orang. Bahkan kalau aku buat ulah, jarang di laporkan dengan Anto.
Gak mau bikin ribut katanya kasihan Anto beban pikirannya udah banyak.
Kalau ada barang yang rusak olehku, kak Ina buru-buru memperbaikinya atau membeli baru, sebelum ketahuan Anto.
Memang papa selalu wanti-wanti ke Anto, bahwa kalau papa sudah meninggal, Anto harus urus keluarga dengan baik.
Itu sebabnya Anto pun sering memberi pengertian kepada kak Ina supaya memaklumi saja semua sifatku.
Dasar wanita bodoh!
π΄π΄π΄
"Lyza, ini nasinya gak matang. Kamu gimana sih hampir tiap kali disuruh masak tombolnya gak dipencet. Bagaimana bisa matang!"
Terdengar suara Anto gusar.
Ditangannya terlihat piring, dia bersiap-siap mau makan.
Ahhh aku salah melulu.
Memang kalau masak nasi, aku jarang memencet tombol cook, bukannya sudah di colokkan ke listrik pikirku.
Kenapa repot sekali.
Enakan aku tidur aja. Ngantuk!
Kuambil obat-obatan setumpuk di dekat tempat tidurku.
Minggu depan sepertinya akan habis. Artinya aku harus ke dokter lagi.
Ya, sebulan sekali memang aku harus mengunjungi dokter.
__ADS_1
Tapi aku tidak pernah mengerti apa yang dibicarakan Anto atau kak Ina dengan dokternya.
Pokoknya aku harus rutin minum obat, itu selalu pesan dokter yang menanganiku.
Kalau aku lupa minum obat atau lagi malas.
Aku gampang marah.
Bukan cuma marah, aku juga bicara kotor, dan jorok.
Entahlah, semua perkataan muncul begitu saja di kepalaku dan harus kukeluarkan.
Aku juga sering berharap Anto menceraikan kak Ina, supaya Anto bisa menikah lagi dengan perempuan lain yang lebih kaya.
Aku mau minta di beliin mobil.
Memang kak Ina baik sekali, tapi aku tidak suka.
Entah kenapa Anto tidak menikah dengan Santi, Santi pengusaha kaya, memang umurnya lebih tua dari Anto. Tapi kan uangnya banyak. Pikirku.
πΏπΏπΏ
"To, anak gadis tetangga ujung gang cantik sekali," kataku siang itu.
"Kamu ceraikan saja Ina. Kawin lagi!"
"Lyza! Berani kamu bicara begitu lagi. Saya antar kamu ke panti rehab. Mau kamu?" Anto terdengar gusar.
Bukan sekali-sekali aku bicara begitu.
Aku diam. Entah kenapa Anto tidak suka dengan perkataanku.
Bukannya Anto sering kesal, kalau melihat anak-anaknya berisik atau berantakin mainan.
Kalau cerai dengan kak Ina dan menikah lagi dengan yang gadis kan enak, gak repot ada anak.
Pemikiranku sederhana, dan pintar menurutku.
"Kak Ina pulang aja ke rumah orang tua kakak. Ngapain di sini tinggal sama Anto," kataku suatu hari kepada kak Ina.
"Lebih cantik Santi dulu di banding kakak."
Ku lihat kak Ina mau marah tapi di tenangkan Anto.
Kak Ina pun diam.
Ahh biarin saja. Anto kan saudara kandungku. Kak Ina orang lain.
Sebenarnya Anto dan Ina sudah punya rumah sendiri, bahkan lebih besar dari rumah ini.
Dan lebih bagus.
Tapi ketika papa meninggal, papa berpesan supaya Anto mengurus mama dan aku.
Dan mama tidak mau pindah ke rumah Anto, akhirnya Anto lah yang mengalah pindah ke rumah mama.
Semua kebutuhan kami Anto yang tanggung.
"Lyza, kamu lihat sepatu olahraga saya?" Tanya Anto.
"Yang Nike warna merah!"
"Ooo udah Lyza buang!"
"Kenapa di buang, Lyza!"
"Kotor. Ada tanahnya!" jawabku.
Iya, memang kulihat sepatu itu kotor sekali. Bukannya repot kalau harus bersihin kotorannya.
"Harusnya kamu bantu bersihin. Bukannya di buang!"
"Itu saya beli dua juta. Kamu main buang aja. Sekarang kamu ke tempat sampah, cari sampai dapat!"
Ahh kan bisa beli lagi yang baru. Yang masih bersih, pikirku.
Aku pun menuruti perintah Anto.
Pura-pura melongok ke arah tong sampah di depan rumah.
Tentu saja sudah tidak ada, tadi begitu ku buang, ku lihat ada pemulung datang dan segera membawa sepatu itu pergi.
"Mmmmmmmm ..
... mmmmmmm ......mmmmmmmmmm,"
__ADS_1
π΄