
🥀
"Lyza, bangun!"
Suara Randy mengangguku.
Padahal aku baru mau tidur.
"Tu, denger, kak Ina ribut sama Anto."
Aku mencoba menajamkan telinga.
Iya benar kata Randy, terdengar suara kak Ina dan Anto bersahut-sahutan. Belum pernah ku dengar suara kak Ina sekencang ini.
"Kalian harus mikir, lihat Liza! Makin hari makin parah!"
Hening, aku mencoba mengintip dari balik pintu. Terlihat mama, Anto dan Tina sedang berkumpul di ruang depan. Di depan mereka, kak Ina berdiri mondar mandir. Sepertinya sedang marah.
"Kalau kalian masa bodoh, terserah. Saya akan angkat kaki dari rumah ini. Saya bawa anak-anak saya. Mereka makin besar, harus saya prioritaskan!"
"Saya tidak bisa urus Lyza terus menerus sementara kalian cuek saja!"
Kak Ina menangis.
Mama diam saja, di tangannya terlihat camilan kacang goreng.
Tina, sibuk dengan hape nya.
Tina memang tidak peduli denganku. Bahkan Tina jarang di rumah, semaunya.
Kadang seminggu baru pulang, ada saja alasannya. Pergi dengan teman, banyak kerjaan. Entah apa yang di lakukannya di luar sana. Katanya, dia dan temannya ada bisnis event Wedding Organizer.
Entah apa artinya.
Tapi pernah ku dengar kak Ina menegur Tina.
"Tina, kamu jangan pergi-pergi terus dong. Bantuin saya urus di rumah. Lihat Lyza, makin hari makin gak karuan."
"Berapa penghasilan kamu, sebulan sepuluh juta juga gak sampai. Tetap saja kamu minta kakak untuk berbagai keperluan kamu."
Tina diam saja.
__ADS_1
Iya, baginya urusannya sudah cukup banyak, buat apa repot denganku. Toh ada kak Ina.
"Sabar, Ina. Sabar."
Terdengar suara Anto, beradu dengan tangisan kak Ina.
"Jangan sabar terus. Saya tidak mau sabar lagi. Kesabaran saya membuat kalian ngelunjak.
Sekarang saya tidak peduli, kalian mau lebih banyak di rumah atau saya pergi!"
"Ina, besok kita antar Lyza ke panti rehab saja."
"Ya terserah bagaimana, saya sudah lelah. Sekarang prioritas saya anak-anak. Lebih baik Lyza terlantar daripada anak-anak saya tidak terurus!"
Ina menangis tak henti. Aku tau, Ia menangis karena tak sanggup memilih antara aku dan anak-anaknya.
Sementara mama, dengan cueknya berkata.
"Ya sudah. Anto besok antar Lyza. Mama gak ikut, mama capek."
Beberapa saat kemudian, mama berlalu masuk kamar. Kalau bukan tidur, mama pasti nonton.
Ya, itulah mama. Baginya hidup hanya untuk dinikmati. Dulu waktu kami kecil, walaupun sibuk tapi mama tidak cuek. Tetap mau berkomunikasi bila di rumah walau sekadarnya.
Tapi lama kelamaan, sikap mama berubah. Terutama semenjak papa mulai sakit, papa makin kasar seenaknya.
Cacian, makian, lemparan barang membuat mama makin hari makin tidak peduli.
Sepertinya hati mama kehilangan empati, bertahan bersama papa dan tak bisa berbuat banyak.
*
"Lyza, siapin barang-barang kamu."
Keesokan harinya, Anto membawaku kembali ke sebuah panti rehab. Dulu aku pernah di sini beberapa bulan, sekarang aku harus kembali le sini.
Aku tidak membantah, aku lelah. Dimanapun sama saja pikirku.
"Mmmmmmmmm ... Mmmmmmmm ... Mmmmmmm."
Di panti ada banyak sekali orang yang sama denganku. Mereka berbicara sendiri, ada yang meringis, cengengesan, menyeringai.
__ADS_1
Ada yang marah-marah, nangis, tertawa.
Melihat mereka aku merasa aneh. Tapi katanya aku juga sama seperti mereka.
Entahlah.
"Ada banyak juga yang baru datang, Bu."
Aku mendengar petugas berseragam berbicara dengan Kak Ina dan Anto.
"Yang itu," telunjuknya mengarah pada seorang pemuda tampan usia 20 an.
"Baru di antar sebulan lalu. Orang tuanya pengacara terkenal."
Terlihat sang pemuda memainkan sampah plastik di hadapannnya. Sesekali wajahnya murung, lalu tertawa.
"Nah, kalau yang itu baru lulus kuliah. Nilainya bagus. Pintar dia. Orang tuanya pengusaha terkenal kaya raya. Sebenarnya belum begitu bermasalah, hanya sesekali bicara sendiri, masih bisa di terapi di rumah saja. Tapi orang tuanya gak mau urus, sudah lima bulan di sini."
Wanita itu cantik, tidak terlihat keanehan di wajah maupun tingkah lakunya.
Kalau tidak mendengar penjelasan dari petugas, tidak akan ada yang percaya.
"Kalau Lyza ini memang sudah parah, pak. Sudah membahayakan diri sendiri dan orang lain. Seharusnya dari sejak dulu dia tetap di rawat di sini.
Yaa, walaupun sulit sembuh tapi paling tidak keadaannya tidak bertambah parah!"
Anto mengangguk-angguk.
"Nah. Bapak lihat yang laki-laki itu. Usianya 40 tahunan. Dia bahkan pernah jadi pegawai negeri, tapi kemudian pisah dengan istrinya hingga dia stress. Keluarga membawanya ke sini dua bulan lalu."
Ina terlihat berkeliling, memastikan tempat baruku nyaman.
Dia juga berusaha ngobrol dengan beberapa petugas dan penghuni.
Aku diam saja.
Kali ini aku nurut saja. Entah untuk berapa lama.
Aku tau, kemarahan kak Ina bukan hanya karena aku pergi meninggalkan rumah dan tidak ada satupun yang peduli.
Tapi, karena kemarin aku memukul Raka menggunakan mobil mainannya.
__ADS_1
🌿
(Marrieanne's)