
Seorang gadis sedang mengepak semua buku-buku yang bertebaran di lantai kamarnya. Terlihat keceriaan di setiap tingkahnya, meskipun peluh membasahi kening dan matanya. Hari ini adalah hari terakhir gadis itu mengikuti Ujian Nasional di sekolahnya.
Keyakinannya akan kelulusan, membuatnya semangat membersihkan kamarnya yang sudah seperti perpustakaan hancur tersebut. Benar! setiap hari tiada waktu terlewatkan tanpa membaca buku pelajarannya.
Gadis itu terkenal kutu buku di sekolahnya, meski prestasinya sangat bertolak belakang dengan penampilannya namun tak serta membuat teman-temannya menghargai kepintarannya.
Dean Amora, nama gadis itu terkenal di satu sekolah tersebut sebagai gadis centil yang suka tebar pesona kepada guru-guru muda, apalagi guru laki-laki. penampilannya memang sederhana, namun wajahnya yang putih, mulus tak berjerawat ditambah dengan body yang aduhai membuat teman-temannya selalu berfikir negatif terhadapnya. Ya, meskipun itu hanya sekedar anggapan mereka, namun beberapa murid menganggap itu adalah kebenarannya, dan tak urung mereka memandang sebelah mata pada Dean.
Ada yang beranggapan bahwa ia menggoda guru-guru laki-laki agar nilainya dinaikan bahkan diluluskan. Apalagi guru olahraga yang bertubuh kekar selalu terlihat dekat dengan Dean saat mapel olahraga.
Pak Suji si guru olahraga memang memiliki karakter yang penyayang dan ramah, meski bertubuh kekar namun ia tak pernah sekalipun bersikap dingin, baik itu kepada guru lain ataupun kepada setiap murid. Namun, bagi beberapa murid menolak untuk menganggap kedekatan itu sebagai bentuk yang lumrah terjadi. Hanya dikarenakan ke-irian dan ketidakmampuan mereka dalam menyaingi prestasi Dean, membuat mereka melempar tuduhan-tuduhan yang tak pernah sejatinya terjadi.
Dean adalah salah satu anak yang memiliki segudang prestasi sejak masa SMP dulu hingga sekarang. Dean juga terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Meski bukan konglomerat, ayah Dean adalah salah satu Staf di Kejaksaan Negeri di kotanya sekarang, dan ibunya merupakan Pensiunan Polwan.
Ayah dan Ibu terpaut usia yang cukup jauh, Pak Radja ayahnya berusia 22 tahun dan Bu Amoy ibunya berusia 29 tahun saat menikah dahulu. Sekarang adalah tahun pertama ibunya dalam masa pensiun di umur 58 tahun, sedang ayahnya masih tetap bekerja.
Dean adalah anak tunggal dikeluarganya, Dean sangat ingin merasakan memiliki saudara. Namun takdir berkata lain, sang ibu baru bisa memilikinya setelah berkali-kali keguguran. 11 tahun penantian akhirnya hadirlah Dean di dalam rahimnya dan bisa bertahan sampai melahirkan. Meski perjuangannya selama mengandung Dean tidaklah mudah, ibunya dan ayahnya sangat menikmati dan bersyukur akan kehadirannya.
Setelah melahirkan Dean, ibunya pun divonis dokter memiliki masalah dengan rahimnya sehingga diharuskan tindakan pengangkatan rahim. Hari bahagia kelahiran Dean juga merupakan hari paling menyakitkan bagi orang tuanya. Mereka berharap akan diberikan kesempatan untuk diberikan keturunan lagi, namun takdir Tuhan tidak berkata demikian. Mereka hanya bisa bersyukur karena masih diberi kesempatan memiliki anak meskipun hanya satu anak saja.
Dari itulah Sang ayah sangat memanjakan Dean, begitu pula ibunya. Dean tumbuh dalam kasih sayang yang berlimpah, meski begitu dia tak pernah dididik untuk menjadi anak pemalas dan sombong. Kebaikan dan ketulusan hati orang tuanya membawanya menjadi gadis yang ramah, ceria dan baik hati serta penuh kasih sayang. Hal itu yang membuat Dean begitu dikagumi oleh guru-gurunya.
Namun, tetap saja dibalik kesuksesan dan prestasinya selalu ada yang mengganjal di hati Dean. Yaitu "kekasih", setiap teman-temannya bergosip dikelas, selalu saja mereka membanding bandingkan gaya pacaran maupun keromantisan kekasih mereka. Dean juga ingin merasakan hal itu, namun entah apa yang membuat Dean belum juga menemukan orang yang membuatnya merasakan debaran itu.
Semenjak SMP Dean sangat menantikan debaran-debaran kecil yang seperti teman-temannya jabarkan. Namun tak kunjung ada, malah perasaannya terkesan datar kepada semua teman laki-lakinya. meskipun Dean menyukai ketampanan teman lelakinya, tak merubah hatinya menjadi berdebar maupun gelisah sedikitpun.
__ADS_1
Menurut analisa Dean, teman-temannya hanya menunjukan sikap yang memang seharusnya ditunjukan kepada sesama teman. Tidak ada yang berlebihan, meskipun mereka berkata jatuh cinta atau berpacaran, Dean tak melihat perbedaan itu. Dean merasa cinta orang tuanya tetaplah nomor satu, tiada tandingannya.
Hingga di satu kejadian tiba-tiba membuatnya merasakan debaran kecil. ya, Dean menganggap itu hanyalah debaran kecil awalnya. Namun, di setiap Dean memikirkan peristiwa itu membuat jantungnya semakin berdentum tidak karuan seperti malam tadi.
***flashback
Deg!
"Pelukan itu, wangi mint nafasnya, mata coklat itu, kenapa aku selalu memikirkannya Oh Tuhan!!! bisakah jantung ini bersahabat, oh... aku mohon jantung, jangan keluar dulu, tunggu dulu aku selesai ujian ya! nanti aku nggak bisa fokus belajar, kenapa sih datangnya pas mau ujian akhir ini, kenapa nggak dari kemarin kemarin aja!! HAH... bikin ribet dah nih jantung, please! kerja sama Oke!!!" ucap Dean di depan cermin. Dean hanya bisa garuk-garuk kepala memikirkan peristiwa yang dialaminya dua hari yang lalu.
Dean berharap esoknya akan lebih baik dari hari ini, berharap tidak ada lagi getaran-getaran aneh di jantungnya.
"Arrrrghhh, memikirkannya membuat hari-hari ku terbengkalai, oh buku... tunggu aku!!" Dean bergegas kembali membaca pelajaran yang akan di ujiankan besok. Sungguh Dean merasa lelah dengan yang dirasakannya saat ini.
***flashback end
Hari ini Dean sangat bersemangat hingga ia bangun subuh sekali. Hari ini adalah hari terakhir ia mengikuti ujian akhir, ujian yang akan mengubah hidupnya berubah dari remaja menjadi dewasa.
Dean berfikir setelah ia lulus nanti maka ia akan dianggap dewasa oleh orang-orang sekitarnya. semua buku-bukunya disusunnya rapi-rapi di raknya kembali. Dean selalu membiasakan kerapian kamarnya sebelum ia pergi keluar rumah.
Pagi ini Dean diantar oleh ayahnya, kebetulan Pak Radja mengambil cuti tahunan untuk seminggu kedepan. Sang ayah sangat ingin menghabiskan waktu jalan-jalan bersama dengan keluarga kecilnya. Dean mengatakan kepada ayahnya bahwa nanti sepulang dari ujian akan pergi ke perpustakaan daerah dulu, untuk mengembalikan buka yang ia pinjam.
Pak Radja awalnya ingin menjemput anaknya itu sepulang ujian nanti, namun ia lupa bahwa ada beberapa berkas yang harus iya perbanyak untuk sidang besok pagi. Akhirnya ia meminta Dean agar menyusulnya saja nanti sepulang ujian ke Kantornya, berhubung perpustakaan daerah yang dikatakan Dean dekat dari kantornya.
Sebelumnya Pak Radja tak pernah sekalipun meminta Dean untuk menyusul ke kantornya, karena Pak Radja tak ingin anaknya terlalu lelah jika harus menunggunya bekerja. Pak Radja memang memiliki loyalitas dan integritas yang tinggi terhadap pekerjaannya. Maka dari itu, ia tak ingin membebankan pekerjaan kepada temannya, jika ia ingin cuti maka ia harus menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu agar tidak membebankan kepada rekan-rekannya nanti.
__ADS_1
"Nanti telepon ayah kalau sudah selesai ujiannya ya sayang!, ayah akan menunggu di depan kantor agar kita pulang sama-sama." Ujar Pak Radja.
"Baik ayahku sayang!!" Seru Dean setelah mencium dengan takzim punggu tangan ayahnya dan melambaikan tangannya menjelang ia masuk gerbang sekolahnya. Senyum itu tak pernah luntur di bibir si gadis manis itu.
Hingga tibalah waktu pulang ujian, Dean dengan senyum 45 keluar dari ruang ujiannya dan segera mencari angkot untuk sampai ke perpustakaan. Rencananya ia akan berjalan saja dari perpustakaan ke kantor ayahnya nanti, karena sejatinya jarak kantor ayahnya dan perpustakaan hanya 200 meter kurang.
Setibanya di perpustakaan Dean segera mengantarkan buku yang telah selesai dipinjamnya dan ia mulai berjalan menyusuri trotoar menjelang kantor ayahnya. Setelah kurang lebih 5 menit berjalan sampailah Dean di depan kantor ayahnya. Dean segera menghubungi ponsel Sang ayah.
Pak Radja yang menerima telepon dari Dean sangat senang dan segera keluar dari ruang kerjanya menuju pelataran luar kantornya. Nampak sang anak tersenyum ke arahnya dari arah parkiran sambil melambaikan tangannya.
"Ayah!!!" seru Dean
Pak Radja melambaikan tangannya membalas seruan anaknya. Pak Radja sangat senang melihat anaknya tersenyum riang, itu artinya hari terakhir ujian ini dilalui dengan baik oleh anak gadis kecilnya itu.
Pak Radja bersyukur sampai saat ini sang anak tak pernah mengecewakannya, dan ia berjanji akan menjaga anaknya dari apapun yang akan menyakiti hati anak gadisnya itu.
Tetapi di saat sang anak akan menghampirinya, kejadian naas terjadi, senyum Dean yang indah berubah jadi teriakan histeris yang memekakkan telinga orang disekitarnya.
Pak Radja tidak lagi bisa mendengar apa yang terjadi disekitarnya, karena saat itu penglihatan Pak Radja mulai mengabur dan seketika semua gelap, tangan yang tadinya membalas lambaian tangan anaknya terhempas ke bawah, mengiringi tubuhnya yang terasa sakit di bagian perutnya, sehingga membawa tubuh Pak Radja merosot kelantai.
"Ayah!!!! Ayah!!!! bangun Ayah!!! tolong!!!! "kejadiannya sangat cepat, Dean berteriak histeris, Dean hanya melihat tajam ke arah laki-laki paruh baya yang terlihat frustasi dengan hal yang diperbuatnya, yang tadinya berdiri di belakang ayahnya. Entahlah kenapa ia merasa dunia sekejam ini padanya.
"Toloooongg!!! Raungan Dean kembali terdengar setelah ia merasakan tangannya hangat terkena cairan merah dari balik punggung ayahnya. Dean menangis tak karuan menjelang Ambulans datang, setelah ambulans mendekat Dean pun tak kuasa menahan syok nya dan berakhir tidak sadarkan diri di atas tubuh sang ayah.
Semua yang hadir di teras kantor saat itu jika tak kalah syok melihat kejadian naas yang begitu singkat tadi.
__ADS_1