Takdir Kejam Cinta

Takdir Kejam Cinta
Baik-Baik Saja


__ADS_3

Siang itu cukup terik, Rayan dan keluarganya masih berdiri di halaman depan Pengadilan tersebut. Keluarga Rayan mencoba menabahkan Rayan, meski bukan hukuman seumur hidup, tetapi sama saja. Pak Sugeng pun juga sudah agak renta, tidak tahu apakah ia akan bertahan hidup di penjara nanti.


Rayan yang malas mendengar ceramah dan khotbah keluarganya hanya bisa memasang wajah datarnya. Perasaannya sedikit was-was.


Entah apa yang Rayan pikirkan, ia masih memandang mobil tahanan yang akan melaju membawa pak Sugeng ke penjara. Hingga ia melihat gelagat aneh dari seseorang yang mendekatinya.


Rayan tidak mengenali wanita tersebut, dari postur badannya terlihat seperti perempuan menurut Rayan. Kejadiannya begitu cepat, Rayan melihat perempuan tersebut mengeluarkan benda dari saku celananya.


ZZEEEEP!!!


Ternyata Rayan masih punya reflek yang bagus, Rayan menghindar begitu saja ke arah samping. Tetapi Yusna yang tidak memiliki ancang-ancang untuk menusuk Rayan, tidak bisa menyeimbangkan badannya dan akhirnya tusukan tersebut salah sasaran.


Pria paruh baya yang berada dibelakang Rayan dan membelakangi Rayan menjadi sasaran tusukan Yusna. Pisau yang sudah menancap di punggung pria itu ditariknya kembali oleh Yusna.


Pria paruh baya yang tak lain adalah Pak Radja sudah jatuh ke lantai. Yusna ketakutan, ini bukan yang diinginkannya. Sungguh ia bodoh, hatinya dibutakan amarah. Saat itu juga ia berusaha kabur.


CCIIIITTT!!!


BRAAKKS!!!


Naas, saat ia berlari keluar pekarangan pengadilan, Yusna tidak melihat ada mobil minibus yang sedang melaju. Yusna yang berniat menyebrang dengan cepat tidak memperhatikan kondisi jalan saat itu.


Akhirnya Yusna terpental ke depan dan terguling di aspal panas akibat hantaman mobil minibus yang mencoba mengerem kendaraannya itu. Namun mobil minibus tersebut tidak bisa langsung berhenti, malah sempat melindas kaki Yusna yang tergeletak di depannya.


Semua orang terkejut dengan kejadian tersebut, petugas Ambulans terdekat pun segera datang. Yusna langsung dikabarkan meninggal di tempat saat itu juga. (AZAB orang iri dengki 😱)


Di sisi lain di halaman gedung pengadilan seorang gadis sedang menangisi keadaan ayahnya yang tidak sadarkan diri. Gadis itu meraung di samping tubuh ayahnya.


"Ayah!!!! Ayah!!!! bangun Ayah!!! tolong!!!! "kejadiannya sangat cepat, Dean berteriak histeris.


Dean hanya melihat tajam ke arah laki-laki paruh baya yang terlihat frustasi dengan hal yang diperbuatnya, yang tadinya berdiri di belakang ayahnya. Entahlah kenapa ia merasa dunia sekejam ini padanya.


"Toloooongg!!! Raungan Dean kembali terdengar setelah ia merasakan tangannya hangat terkena cairan merah dari balik punggung ayahnya.


Dean menangis tak karuan menjelang Ambulans datang, setelah ambulans mendekat Dean pun tak kuasa menahan syok nya dan berakhir tidak sadarkan diri di atas tubuh sang ayah.


Semua yang hadir di teras kantor saat itu jika tak kalah syok melihat kejadian naas yang begitu singkat tadi.


Rayan masih terkejut dengan yang dilihatnya. Perempuan yang akan menusuknya tadi yang sudah terlebih dahulu kabur, sekarang sedang menjadi tontonan warga sekitar karena baru saja tertabrak minibus yang lewat.


Sedangkan di hadapannya saat ini, seorang gadis dengan seragam SMA tergeletak pingsan di atas tubuh seorang pria paruh baya yang dipanggilnya AYAH.

__ADS_1


Pria paruh baya tersebut merupakan korban penusukan salah sasaran. Seharusnya ia yang menjadi korban, namun karena Rayan menghindar maka jadilah pria paruh baya itu sasarannya.


Rayan masih belum bisa mengucapkan apapun, apalagi ia melihat gadis itu sempat menatapnya tajam kearahnya. Entah apa yang dipikirkan gadis tersebut.


Rayan masih enggan berkomentar, meski keluarganya yang ikut menyaksikan hal tersebut sudah ribut-ribut di halaman itu karena ikut syok dengan kejadian itu.


***


Saat ini Pak Radja dan Dean di bawa ke rumah sakit, Dean tersadar dari pingsannya, namun masih linglung dengan keadaan sekitarnya saat itu. Ia meminta tolong pada perawat disampingnya menghubungi ibunya menggunakan handphone nya.


Buk Amoy yang sedang menyiram tanaman di siang itu mendapat teriakan dari dalam rumah. Mbok Dar tergopoh-gopoh menghampiri nyonya di rumah itu sambil memegang handphone majikannya.


"Buk... ibuk... ibuk...!!!" Teriak mbok Dar mencari majikannya.


"IYAAA MBOOK..." balas Buk Amoy dengan senyum lebar.


Pembantu dan majikan itu sudah seperti layaknya sahabat. Buk Amoy yang baik hati sangat senang memiliki pembantu seperti Mbok Dar ini yang periang ini.


Buk Amoy dan Mbok Dar juga sering pergi belanja bersama. Tak jarang Buk Amoy sering mengerjai pembantu kesayangannya itu.


Mbok Dar itu ibarat letusan gunung Api 🤣, jika ada yang mengejutkannya maka iya akan latah berkali-kali.


"Buk..., hape ini toh berisik dari tadi buk, saya lihat ternyata dari neng Dean buk.." Mbok Dar menjelaskan alasannya berteriak.


"Sini Mbok.." Sahut Buk Amoy


"Hallo sayang...!" Buk Amoy menjawab telepon tersebut


"Maaf buk, ini saya perawat rumah sakit YX yang sedang membawa suami dan anak ibuk menuju rumah sakit... anak ibu tadi pingsan jadi, meminta kami untuk menghubungi ibuk, berhubung sekarang anak ibuk sedikit pusing pasca sadar dari pingsannya..." ucap perawat tersebut


"Rrruu... Rruuu.. Rrumah Sakit? Ada apa sus, kenapa suami dan anak saya di bawa ke rumah sakit..? " tanya buk Amoy dengan wajah yang terlihat tiba-tiba memucat.


"Nanti akan kami jelaskan di rumah sakit buk, silahkan ibuk menyusul ke rumah sakit YX, oh.. ini.. anak ibu mau bicara!" balas perawat tersebut.


"Hiks...Hiks.. Maaa... Dean takut, Maaa.... hiks... hiks.. cepat kesini maa!!" tangis Dean pecah saat berbicara di telepon dengan ibunya.


"Iya sayang... Tunggu mama yaa, mama segera kesana" jawab Buk Amoy yang menahan tangisnya, agar anaknya sedikit tegar disana.


"Mbok, kita ke rumah sakit sekarang...!!" ucap Buk Amoy tegas namun tersirat kesedihan.


"Ya buk..." Mbok Dar tidak bisa menerka apa yang sedang terjadi saat ini. Buk Amoy yang jarang sekali menangis, sekarang terlihat sesegukan menahan tangisnya sambil bersiap ke rumah sakit.

__ADS_1


***


Di Rumah Sakit.....


Sudah dua jam Pak Radja ditangani oleh tim medis. Buk Amoy yang duduk dengan Dean menanti di depan ruang operasi dengan wajah cemas dan juga bersedih.


Disana juga hadir Rayan dan keluarganya, mereka sungguh tidak menyangka akan ada kejadian seperti ini. Ayah Rayan yang turut hadir saat sidang tadi pun turut ikut ke rumah sakit.


Ayah Rayan, Pak Rozi duduk di samping Dean sambil ikut menenangkan Dean yang masih terlihat sedih dan syok.


"Sabar ya nak, kita tunggu saja.. sebentar lagi pasti dokternya keluar, Bapak yakin ayah kamu akan baik-baik saja.." Dengan halus dan lembut Pak Rozi memberi semangat kepada Dean sambil menepuk-nepuk pelan bahu Dean.


"Iya Pak, terima kasih atas semangat nya... hikss..." saut Dean


"Dean.. kita berdoa saja semoga papa baik-baik saja ya.." Buk Amoy menenangkan anaknya dengan lembut.


"Ayah pasti baik-baik saja buk, ayah kan sudah berjanji akan membawa kita pergi liburan buk, bahkan ayah juga sudah mengambil cuti.. hiks.... hiks..." jawab Dean lirih.


"Iya sayang... ya sudah... sekarang kamu sholat dulu gih sana, biar mama di sini dulu.." pinta Buk Amoy.


"Tapi Dean mau nunggu ayah, maa... " ucap Dean.


"Eeehhh... nggak boleh gitu, sholat nggak boleh ditinggalin sayang, Tunaikan dulu ibadah wajib Dean ya sayang... kan ayah bilang kemaren, kalau ayah paling seneng liat Dean habis sholat.. " Bujuk Buk Amoy


"Iya maa, Dean mau sholat dulu terus berdoa semoga ayah diberi keselamatan..." Ucap Dean yang mulai terdengar semangat.


Buk Amoy menganggukkan kepalanya. Dean pun berdiri dari kursi tunggu dan berjalan menuju mushola rumah sakit tersebut.


Rayan yang sedari tadi hadir di sana hanya berdiri agak berjarak dan hanya diam sebagai penonton. Rayan tidak serta Merta menunjukan simpatinya seperti ayahnya.


Rayan pergi ke toilet sebentar, ia ingin mencuci mukanya. Sedari tadi pagi rasanya baru ini ia merasa gerah. Saat akan memasuki pintu toilet laki-laki, Rayan mendengar Isak tangis di toilet perempuan di sebelahnya.


Rayan yang merasa gerah menulikan pendengarannya, mungkin ada seseorang yang kehilangan keluarganya di rumah sakit ini, itulah anggapan Rayan.


***


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2