
#POV RAYAN
---Dean in the House---
"
TOK TOK TOK!!!
"Assalamu'alaikum" terdengar suara seseorang dari luar kamarku
Aku tidak mengerti, mengapa Papa masih saja mencoba memanggil psikolog untuk membantu masalahku. Aku hanya ingin sendiri saat sekarang ini.
Aku hanya ingin mengenang kebersamaan ku dengan istriku tercinta, mengapa Papa tidak bisa mengerti.
"Pergiiii!!!" Ujarku
Saat aku akan turun dari kasur, tidak sengaja aku menyenggol figura foto Rahima dengan keras.
KLENTANG!!! Figura foto itu jatuh, retak tak berbentuk. Aku mengeluarkan foto Rahima dari bingkai foto tersebut. Kembali aku menangisi wajah istri tercintaku di tepian ranjang.
KLEKK!!!
Bunyi kunci pintu kamarku terbuka, mungkin Papa memberikan kunci cadangan pada orang itu. Aku tidak ingin siapapun memasuki kamar ini.
Tiba-tiba aku mendengar suara itu lagi. Suara gadis sombong saat di musholla rumah sakit kemarin.
"Ya Tuhan.. kamar ini tidak layak huni lagi." Ucapnya
"KELUAAAR!!" Hardikku tanpa melihatnya, aku yakin itu pasti dia. Gadis sombong dan sok tau itu.
Aku tetap duduk melantai di samping kasurku tanpa menghiraukannya dan aku tetap menenggelamkan wajahku ke lutut.
Sepertinya gadis itu mencoba memungut serpihan kaca tersebut. Terdengar ia meminta tolong Bik Sur mengambilkan sapu dan pengki untuk membersihkan kekacauan kamarku.
__ADS_1
"JANGAN LANCANG LO! ini kamar gue, gue bilang KELUARR!!! hardikku tak terima akan kelancangannya.
"Kak, maaf aku lancang, bukankah dengan seperti ini Kak Rahima bakalan sedih di atas sana Kak!" Ucapnya
'Apa!!! Atas dasar apa gadis ingusan ini ikut campur masalah ku? Kenapa dia berani sekali! Persetan dengan Adab dan kesopanan!' Aku membatin
"Bukan Urusan Lo, sekali lagi gua bilang KELUAR!!!" bentak ku.
Saat ini aku mulai menengadahkan wajahku ke arah gadis itu dan menatapnya tajam. Tebakan ku benar, gadis itu adalah si bocah sombong itu.
Aku masih memberinya tatapan tajam, tetapi dia tidak terintimidasi sama sekali. Gadis ini terlihat cukup tangguh kupikir.
Sesaat aku berfikir, aku merasa pertemuanku dengannya bukan hanya saat kejadian kemarin saja. Namun, entahlah aku tidak begitu mengingatnya.
"Hhhh... ya sudah, aku kesini cuma mau bilang sama kakak, Bik Sur nggak masak lebih hari ini, karena Papa sama Mama kakak mau ngajakin aku pergi jalan-jalan, OH iya, Bik Sur juga ikut!" Ucapnya seperti mengejekku.
Ada apa dengan ekspresi nya itu, aku tidak mengerti dan tidak memahami tingkah dan pola perilakunya. Dan yang ia katakan tadi cukup mengusik cacing-cacing perutku. Kenapa jadi dia yang menguasai orang tuaku?
'Si*l*n! Gue makan apa ntar? masa gue makan garam?' batinku.
"Kalau mau makan, ya sekarang! Mumpung Papa sama Mama kakak lagi siap-siap, mumpung Bik Sur belum ganti baju!" Ujarnya
Sebenarnya aku bukannya marah pada keluargaku, tidak ada alasan bagiku untuk marah kepada mereka. Aku hanya belum bisa menerima kenyataan saat ini.
Aku hanya tidak ingin mereka menganggap aku cengeng. Sedari dulu aku tidak pernah menangis di depan keluarga ku, aku yang selalu ceria terlalu takut untuk terlihat lemah.
Saat Kak Zita dan Kak Roza meninggal waktu itu aku masih berumur 6 tahun. Papa dan Mama menjadi pribadi yang berbeda. Mereka tidak lagi tersenyum setelah kejadian itu, aku selalu melihat mereka menangis.
Saat Zeed adikku masuk rumah sakit barulah Mama dan Papa sadar jika mereka masih memiliki anak lain, bukan hanya Kak Zita dan Kak Roza.
Kak Bian juga merasakan hal yang sama denganku saat itu. Hanya saja Kak Bian adalah anak yang dengan mudah mengungkapkan perasaannya. Dia sedikit berubah menjadi pembangkang saat di Sekolah saat itu.
Sejak saat itu, aku tidak ingin menjadi kelemahan kedua orangtuaku. Namun, satu hal yang baru aku sadari. Kenyataan ditinggalkan orang yang sangat kita sayangi itu memang sepedih ini.
__ADS_1
Aku menjadi paham, bagaimana kondisi Papa dan Mama saat itu. Mungkinkah aku bisa lepas dari belenggu sakit dan kerinduan ini.
HHHH!!! Aku hanya bisa menghela nafasku berat.
"BIK SUURR... BIK...!!! teriakku
"Siap Den, mau dimasakin apa Den?" Jawab Bik Sur cepat, dan baru kusadari jika sedari tadi ia menguping dari balik pintu kamarku.
"Capcay sama Udang Saos bik!" Ucapku lebih sedikit tenang.
"Siap Den!" Seru Bik Sur
Saat aku turun ke bawah dan menuju dapur, terlihat Bik Sur baru selesai menghidangkan masakan di atas meja makan.
Aku melihat Mama sedang duduk di ruang keluarga, aku masih belum bisa memperlihatkan kesakitan ku. Aku masih memasang wajah datarku.
Saat aku terduduk di kursi meja makan. Aku menyadari gerak gerik Mama yang seakan-akan ingin mendekatiku, dan benar saja, Mama mendekatiku dan tiba-tiba memelukku.
Aku masih saja enggan menatap dan menghadapkan wajahku kepada Mama. Mama seperti menatap lekat wajahku, ia meraba rambut, pipi dan kumis ku yang mulai kubiarkan tumbuh di wajahku.
Setetes air Mama jatuh di tanganku. Ingin aku memeluk Mama saat ini juga, namun aku belum siap. Aku takut Mama melihat aku yang lemah ini.
'Maafkan anakmu Maa!!!' Ucapku dalam hati.
.
.
.
#POV RAYAN END
.
__ADS_1
.
.