Takdir Kejam Cinta

Takdir Kejam Cinta
Menantu


__ADS_3

Dua hari kemudian.....


Dean susah bersiap-siap untuk menginap di rumah Rayan, meski statusnya sebagai perawat Buk Sita namun hatinya masih terlalu takut untuk setiap saat bertemu Rayan.


Dean menyadari perasaannya tidak bisa ia kubur selamanya, Dean sudah menyadari jika nantinya hanya ada luka yang akan ia dapat dengan perasaannya ini.


Dean memutuskan untuk menghadapi masalah hatinya dengan tenang. Sekarang ia hanya harus berfokus pada kesehatan Buk Sita terlebih dahulu, setelah itu barulah ia memikirkan bagaimana perasaannya pada Rayan.


Saat ini Dean tidak tau seperti apa hari-hari yang akan dilaluinya di rumah Rayan. Ia masih dengan polosnya berpikir jika hatinya akan semudah itu untuk bersahabat dengan logikanya.


"Mama nggak bisa ngantar kamu sayang, nggak apa-apa kan?" Ucap Buk Amoy


"It's oke mamaku sayang" Dean


"Ayok Dean sayang!" Pak Radja


"Ayah duduk aja, Dean bisa kok nunggu taksi di depan, walaupun dokter bilang ayah udah boleh beraktifitas biasa, tapi ayah masih harus banyak istirahat" Ucap Dean lembut


"Ayah kamu ini kan nggak pernah mau pisah barang se jam aja sama kamu Dean, kamu telat pulang 5 menit aja udah cemas setengah mati dia nya" Ujar Buk Amoy


Dean yang awalnya sudah bertekad tidak akan menangis akhirnya luluh juga. Dean memeluk ayahnya dengan erat.


Tak berselang lama, taksi pesanan Dean pun datang. Dean berpamitan dengan mencium tangan kedua orang tuanya.


Dean mendorong kopernya menuju taksi yang sudah menunggunya. Saat taksi mulai berjalan, Dean melambaikan tangan kepada Mama dan Ayahnya.


"Mama berharap Dean akan baik-baik saja Yah".


"Ayah juga begitu Ma, Dean belum pernah berpisah dari kita untuk waktu yang lama sebelumnya"


"Mama berharap ini akan membuat Dean menjadi pribadi yang lebih dewasa lagi, dan Buk Sita juga bisa pulih secepatnya"


"Buk Sita itu sebenarnya pingin Dean jadi Menantunya Ma.."


DEG!!!


"Maksud Ayah apa?" Buk Amoy terkejut mendengar penuturan suaminya

__ADS_1


"Semalam Pak Rozi menghubungi ayah, dia menanyakan terkait keberangkatan Dean hari ini, hhh" Pak Radja menghela nafasnya berat


*** Flashback on


Pak Radja sedang membuat teh untuk menemaninya menonton malam itu. Dering handphone di meja makan membuyarkan konsentrasinya membuat teh.


Pak Radja mengangkat panggilan tersebut,


"Assalamu'alaikum" Pak Radja


"wa'alaikumsalam Pak Radja, maaf saya mengganggu malam-malam begini"


"Iya, tidak apa-apa Pak Rozi, ada apa Pak?"


"begini Pak, saya mau bertanya apakah Dean benar-benar bersedia untuk menemani dan menjadi perawat pribadi Istri saya Pak"


"Sebenarnya kalau Dean nya tidak keberatan sama sekali Pak, tapi disini saya yang sedikit bertanya Pak, kenapa bapak memilih Dean untuk menjadi perawat pribadi Istri Bapak? Saat ini saya rasa tidak susah mencari perawat pribadi Pak? maaf jika pertanyaan saya membuat Bapak tersinggung"


"Tidak, tidak apa Pak Radja, sebenarnya alasannya adalah karena Istri saya terlanjur menyayangi Dean, Pak Radja.


Mungkin ini terlalu cepat, maaf sekali lagi Pak Radja, tapi Istri saya sudah kerasaan dengan Dean Pak, saya pun tidak menampik bahwa saya juga memikirkan hal yang sama dengan Istri saya.


Saat pertama bertemu Dean, saya langsung sayang dengan Dean, Pribadinya yang hangat membuat kami sedikit demi sedikit melupakan kepahitan lama.


Sekali lagi saya minta maaf Pak Radja, bukan maksud ingin memanfaatkan kebaikan Dean, tapi memang itulah nyatanya.


Jika Pak Radja berkenan, maka saya akan menjadikan kesempatan ini sekalian untuk mendekatkan Dean dengan anak saya"


Pak Radja sedikit terkejut dengan hal yang disampaikan Pak Rozi tersebut. Pak Radja memilih tidak banyak berkomentar.


"Untuk saat ini, saya mengizinkan Dean sebagai perawat Buk Sita, Pak Rozi. Saya mohon agar putri saya bisa menjalankan tugasnya dengan baik di sana.


Terkait dengan keinginan Pak Rozi barusan, saya tentunya meminta pendapat dulu dengan Istri saya...


Hmmmm, tapi kalau boleh tau, Pak Rozi berniat menjodohkan anak saya dengan anak Bapak yang mana?"


"Rayan Pak..."

__ADS_1


DEG!!


Pak Radja menekuk wajahnya bimbang, ia sendiri tahu bagaimana anaknya memendam rasa pada Rayan. Ekspresi wajah Pak Radja Antara senang dan sedih,


Jika Rayan telah berhasil move on dari istri pertamanya, tentu akan mudah menjodohkannya, apalagi Dean pasti menyetujuinya dan akan sangat senang


Namun jika Rayan belum menyelesaikan masa lalunya dengan baik, Pak Radja Takut anaknya akan terluka nantinya.


"Beri kami waktu berfikir Pak Radja, kami akan mempertimbangkan terlebih dahulu Pak, Dean putri semata wayang kami Pak, tentu kami ingin yang terbaik untuk Dean"


"Baik Pak Radja, terimakasih sudah mau mempertimbangkannya"


Obrolan itu berakhir dengan menyisakan banyak kebimbangan di hati Pak Radja maupun Pak Rozi.


***Flashback Off


"Mama terserah Dean aja Yah, Dean memang putri kita satu-satunya, tapi untuk rezeki, jodoh dan maut tentunya sudah di atur oleh Tuhan Yah" ujar Buk Amoy bijak


"Mama nggak sedih apa?"


"Sedih lah Yah, Dean bahkan belum menyelesaikan wisudanya, tapi sudah ada yang berniat menjadikannya menantu, cita-citanya juga belum kesampaian Yah,


Mama juga takut jika nantinya Dean belum dewasa menyikapi rumah tangga, ditambah lagi kita baru mengenal keluarga mereka Yah,


kita lihat saja dalam waktu dekat ini Yah, semoga anak kita baik-baik saja di sana"


"Semoga ya Ma!" Doa Pak Radja


.


.


.


.


Maaf baru bisa Update, Otak Noni lagi buntu zayyeennkk🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2