Takdir Kejam Cinta

Takdir Kejam Cinta
Mungkinkah Takdir


__ADS_3

#POV DEAN


'Bismillah ya Allah, kuatkan hamba-Mu ya Allah' ucapku dalam hati.


Selesai sholat aku membereskan mukenah dan menggantungnya kembali. Aku mencoba menyemangati diriku dan selesai sholat tadi membuat hatiku sedikit tenang.


Hari ini adalah hari yang paling menyesakan bagiku. Untuk pertama kalinya aku melihat ayahku terluka. Selama ini ayah selalu menjagaku agar tidak terluka sama sekali.


Ayah sangat menyayangiku, bahkan ketika pertama kali aku jatuh dari sepeda sewaktu kecil dahulu ayahku begitu cemas. Sekarang aku yang berada di posisi itu, ayah yang sangat kucintai terluka di depan mataku.


Aku berdoa pada Tuhan, semoga ayah diberi kekuatan dan keselamatan. Jujur aku belum dan tidak sanggup jika harus kehilangan ayah. Ketika aku mengetahui alasan penusukan tersebut adalah karena salah sasaran, aku begitu geram dan marah.


Penusukan terjadi karena orang yang menjadi tujuan utama penusukan tersebut menghindar tepat waktu. Hingga ayah yang berdiri di belakang orang tersebut menjadi korban salah sasaran.


Ingin aku melampiaskan kemarahanku pada pria tersebut, namun rasa marahku tertahan dihatiku, ketika aku melihat pria tersebut adalah DIA.


Ya, DIA. Dia adalah pria yang menjadi cinta pertamaku. Aku yakin rasa yang aku miliki saat ini adalah 'Cinta'. Aku merasakan debaran, keringat dingin, bahkan detak jantungku meningkat saat mengingat kenangan singkat kami waktu itu.


Mungkinkah ia bisa menyadari gadis yang ia peluk waktu di Halte dua bulan yang lalu adalah aku. Meski ia tidak melihat wajahku, entah mengapa aku berharap ia tahu bahwa itu aku.


*** FLASHBACK


---Dua bulan yang lalu.---


"Duh, kok lama ya? Biasanya jam segini bus udah pada nongol deh." Ucapku


"Iya dek, emang lama hari ini, mungkin lagi ada demo dek". Ucap wanita muda di sampingku yang sama terlihat resah menunggu bus datang.


"Iya kak, mana panas banget ni siang, kan aku lapeerrr...". Keluhku .


Kakak itu tertawa mendengar keluhanku.


"Nah.. itu kak, bus nya datang!" Seruku


"Iya, Ayo!" Ucap wanita itu.


"Duh, kayaknya bus itu penuh deh". lagi-lagi aku mengeluh


"Bisa jadi banyak yang turun di sini dek, semoga saja ya!" Harap wanita tersebut.


Dan benar saja, saat bus tersebut hampir mendekati halte kami, terlihat dari pintu masuk bus itu sudah ramai yang ingin turun.


Ada beberapa eksekutif muda yang juga akan ikut berdesakan turun dari bus itu. Inilah yang kusuka saat menanti bus di halte yang satu ini. Area perkantoran sangat banyak di sekitar sini.


Pemandangan eksekutif muda yang tampan dan cantik-cantik. Suatu hari aku ingin seperti mereka. Ya, cita-citaku tidak muluk-muluk sih.


Jadi pegawai kantoran seperti mereka sepertinya keren, mendapat Gaji hasil keringat sendiri. Menghabiskannya dengan bersenang-senang dengan keluarga.


Teman-temanku bertanya kenapa aku tidak ingin menjadi Polwan seperti mamaku. Jawabannya simpel, tanggungjawab nya sama negara bosku.


Aku rasanya tidak sanggup mengemban tugas seperti mamaku. Meskipun mama terlihat santai saat di rumah. Namun aku tau pundak itu selalu lelah karena memikul tugas negera tersebut.


"Dek, Ayo.. jangan ngelamun.. tuh bus udah hampir dekat, nanti kamunya ga siap lagi! ntar jatuh kedorong sama yang turun dek!" Lamunanku buyar setelah ditegur oleh wanita di sebelahku tadi.


"Eh iya kak, terimakasih udah ngingetin kak.." Ucapku.


Dan benar saja, penumpang bus yang berhenti di depanku sangat banyak yang ingin turun. Semua laki-laki berbadan tinggi.


BLIIIZZZZ!!!


Pintu bus terbuka.


Benar kata wanita tadi, aku tidak siap, badanku terdorong sedikit kebelakang. Aku ingin berbalik badan ke belakang dulu agar tidak jatuh terjengkang ke belakang.


Namun, belum saja berbalik, keseimbangan badanku hilang. Hingga dalam posisi miring aku terjatuh. Aku menutup mata tidak siap dengan kenyataan.


'Pasrah sudah aku Tuhan...' batinku.


Beberapa saat kemudian, aku merasa badanku tidak begitu sakit, hanya pinggang sedikit kebas.


Setahuku lantai halte tersebut adalah semen keras. Apakah dalam sekejap aku sudah terbang ke awan.

__ADS_1


'Tidaaaak... jangan tuhan, jangan sekarang..' teriakku dalam hati.


Namun, saat ini aku malah merasakan hangat, empuk, dan entahlah. Aku sendiri bingung kenapa rasanya seperti ini.


Kenapa aku seolah mendengar bunyi DUG DUG DUG ya. Dari mana?


"Dek.. Dek.. Dek... Hei dek bangun dek..!!"


Suara maskulin itu terdengar merdu sekali, lembut, terdengar nada cemas dalam suaranya. Dan apa ini? Mengapa wangi sekali?


'Apakah ini malaikat-Mu Tuhan..?'


Aku perlahan membuka mata, dan...


DEG!!! DEG!!! DEG!!!


'Jantungku... rasanya ingin meledak, tampan sekali malaikat ini Oh Tuhan..'


Aku melihat seorang pria dewasa di depan mataku, jarak wajahnya sangat dekat denganku. Nafas wanginya membuatku sedikit melayang.


"Dek.. kamu tidak apa-apa kan? Ayo coba berdiri." Pintanya


Perlahan kesadaran ku mulai kembali. Dan apa ini? posisiku sama sekali tidak estetik, menurutku.


Aku berada dalam pelukannya dalam kondisi badan miring ke ke kanan. Pipi dan telinga kananku berada di depan dada bidangnya. Pria itu menahan tubuhku dengan posisi lutut bersimpuh.


Aku mencoba kembali menguasai diriku.


"Eh... iya.. maaf kak, tadi kurang hati-hati akunya." Ucapku


Posisi ku masih dalam pelukan si pria dewasa ini. Aku betah lama-lama kalau jatuhnya ke pelukan pria hangat ini.


'Duh.. mikir apa sih aku? masih bocil juga... lulus aja belum, Oh Tuhan, inikah namanya Cinta.. Oh inikah Cinta, terasa bahagia saat jumpa, dengan dirinya...' batinku yang tiba-tiba serasa bernyanyi.


"Dek, Ayo bangun..!" Sahut pria itu


DEG!!! lagi-lagi suara merdu itu membuyarkan lamunanku.


"Sama-sama, tidak apa-apa, lain kali hati-hati ya dek!" Ucapnya dengan lembut.


Aku pun dibantunya berdiri. Pinggangku memang terasa sedikit sakit. Tetapi masih bisa untuk di bawa berjalan, mungkin setiba di rumah aku minta tolong Mbok Dar untuk memijitnya sedikit.


Setelah aku berhasil berdiri, dia pun pamit pergi.


"Kakak pergi dulu ya!" lanjutnya sambil memasang senyum manis. Sepertinya dia juga bagian dari orang yang turun dari bus tadi.


Hatiku meleleh, mencair, mungkinkah ini yang teman-temanku rasakan saat jatuh cinta.


Kalau benar, sungguh rasanya aku tidak sanggup. Bisa mampus aku lama-lama kalau berada di dekatnya.


Jantungku tidak bisa berdamai dengan situasi dan kondisi. Rasanya jantung ini seperti akan melompat.


'Huh.. lebay juga aku.. Ppfffftttt.' Aku senyum-senyum sendiri.


Mungkin jika orang melihatku mereka akan berpikir aku sudah tidak waras setelah jatuh tadi.


Tapi bolehkah aku berharap, suatu saat kami akan betemu lagi. Mungkinkah ada pertemuan kami selanjutnya.


"Haaaah.... mana busnya udah pergi lagi, nunggu lagi deh."


Akhirnya tak lama bus selanjutnya datang. Namun, kali ini aman. Tidak ada drama jatuh cinta, Eh.. jatuh-jatuhan lagi.


Hari-hari selanjutnya aku jadi kepikiran pada pria itu terus. Sesekali aku mencoba untuk menunggu di depan halte tersebut pada jam yang sama.


Dua bulan berlalu, namun tidak pernah sekalipun aku bertemu lagi dengannya


*** FLASHBACK OFF


Saat ini aku menepis semua perasaanku padanya. Saat ini ayahku lebih penting dari apapun.


Aku sempat melihat wajahnya sekilas saat di depan ruang operasi ayah tadi. Tidak ada lagi raut wajah seperti dua bulan yang lalu, saat aku pertama dan terakhir aku melihatnya.

__ADS_1


Meski ia berada sedikit berjauhan dari kami, tapi aku tahu jelas sorot mata itu. Tidak ada lagi kelembutan di sana, sorot matanya terlihat lelah dan menyiratkan luka.


Keluarga pria itu mendampingi aku dan ibu menunggu operasi ayah. Mereka menunjukan simpati yang tulus, terlihat berbeda dengan pria itu.


Pria itu terkesan menjauh dari keluarganya. Entah apa yang membuat pria hangat itu berubah dingin seperti itu. Aku yakin banyak hal yang merubahnya dalam dua bulan ini.


Seusai menggantung mukenah pada tempatnya, aku berjalan ke pintu masuk musholla ini. Pintu musholla ini hanya satu di bagian samping dan berada di tengah-tengah antara shaf laki-laki dan perempuan.


Aku sedikit melirik pada shaf laki-laki. Aku melihat hanya ada seorang pria yang sedang khusyuk berdoa.


DEG!!!


Pria itu dia, dia yang sedang ku coba singkirkan dari pikiranku saat ini. Aku mencoba berdamai dengan jantungku. Ya, lagi-lagi jantungku tidak bersahabat.


Aku memutuskan untuk kembali ke ruang operasi ayah. Namun, suara maskulin itu menghentikan semua duniaku. Keluhnya pada Sang Pencipta mengusik pendengaranku.


"Kenapa Engkau mengambilnya begitu cepat dariku Ya Allah..., belum sempat aku membahagiakannya, Engkau telah memanggilnya.. Hiks.. Hiks... inikah keadilan-Mu Ya Allah!!!" terdengar suara lirihnya yang begitu menyayat hatiku.


Entah kenapa aku juga ingin ikut menangis melihat dan mendengar tangisannya itu. Namun ketika mengingat kejadian di pengadilan tadi aku tiba-tiba menjadi kesal.


'Kenapa, Kenapa kakak menjadi seperti ini, jika kakak kehilangan seseorang maka berdoalah untuk kebaikannya di atas sana...' batinku


Seperti ada dorongan entah dari mana, aku malah mengatakan sesuatu yang bertolak belakang dengan hatiku


"Dia lebih bahagia di sisi-Nya, dari pada bersama pria sepertimu.." Ucapku


DEG!!!


'Duh.. jantungku.. bekerjasama lah!!!' lirihku dalam hati.


Ditatap seperti aku masih saja berdebar, padahal ia menatapku tajam.


Seketika ia menghentikan tangisnya, menoleh ke arahku. Dilihatnya aku yang sedang berdiri di tepi pintu masuk musholla.


Pria itu sedikit terkekeh, senyum sinis yang ia berikan mampu menjungkirbalikkan duniaku.


'Mungkin dia benar-benar tidak mengenalku, salahkah aku berharap Oh Tuhan... Kembalikan senyum manis malaikatku' batinku


"Apa Lo liat-liat? Ganggu orang sholat aja Lo.." Ucapnya cetus.


Ternyata dia memang tidak mengingatku, dan dia sudah berubah 360 derajat. Sekarang dia adalah pria yang judes dan bahasanya pun sudah berubah.


Tetapi perasaanku seperti tidak ingin menyerah pada sisi kelembutan yang ia tutupi, aku seolah tertantang untuk mengembalikan senyum itu.


Padahal saat ini ayahku sedang berjuang di meja operasi sana, di sini aku malah sempat-sempatnya memikirkan cara mengembalikan senyumannya.


'Duh.. Otak.. Kemana engkau pergi.. HOOUUWOOOO...'


Aku sedikit menggeleng kepalaku, kenapa disaat-saat seperti ini otakku buntu. Akhirnya aku mengakhiri perdebatan ini dengan sedikit nasehat untuknya.


"Yang patut anda sesali saat ini adalah ucapan anda barusan tuan.., anda merendahkan Tuhan, Tuhan tau yang terbaik untuk umat-Nya, yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, begitupun yang buruk menurut kita bisa jadi baik menurut Allah, anda boleh menangis tetapi anda jangan menyalahkan TAKDIR..., permisi!!! Assalamu'alaikum...!" Balasku lirih dengan wajah yang sedikit ku buat datar.


'Ya Tuhan... Apa yang barusan aku katakan, jangan sampai ia membenciku, pupuslah harapan ku untuk bersamanya' gumam ku.


Mungkinkah Tuhan menakdirkan kita bertemu di saat yang indah dan berpisah di waktu yang salah, sehingga tidak ada alasan untuk kita bisa bersama seterusnya? Mungkinkah Takdir seperti itu? Hanya Tuhan yang tahu.


.


.


.


.


.


#POV DEAN END


.


.

__ADS_1


__ADS_2