
Pak Radja sudah dipindahkan ke bangsal inap bagian bedah. Dean dan Buk Amoy saat ini sudah bisa sedikit lega melihat Pak Radja yang sudah sadar pasca operasi tadi.
Pak Radja yang tidur sedikit menelungkup, mulai bergerak untuk memiringkan tubuhnya ke samping. Dean membatu ayahnya bergerak.
Buk Amoy bersyukur memiliki anak yang baik hati dan lembut seperti Dean. Dean terlihat telaten mengurus ayahnya yang sedang sakit. Ia tiba-tiba teringat kata-kata Pak Rozi di depan ruang operasi tadi.
'Dean terlihat sangat sayang sekali dengan ayahnya, Dean juga terlihat seperti anak yang sopan, Saya jadi rindu dengan anak saya'. Pak Rozi
'Maaf pak, sebelumnya, memang anak bapak kemana?' Buk Amoy
'Tuh.. yang tadi berdiri menjauh dari sini, mungkin sekarang dia sedang keluar, anak saya adalah sasaran utama dari penusukan tadi, yang digantikan suami Ibuk.' Pak Rozi
'Loh, kok rindu Pak? Wong anaknya ada disini.' Ucap buk Amoy sedikit heran
'Ia memang di sini, tetapi hatinya sudah dibawa pergi istrinya, sudah satu bulan kepergian istrinya, yang ia lakukan hanya merenung di kamar dan tidak lagi ada berkomunikasi dengan kami, terkadang dia berteriak emosi di kamarnya, terkadang ia terdengar menangis, kami bahkan sudah mencoba membujuknya, tetapi dia tidak lagi menghiraukan kami, dia seperti menganggap kami tidak ada lagi sebagai keluarganya, kehilangan istri membuatnya menjadi Rayan yang asing bagi kami.' Keluh Pak Rozi
'Apa sudah dicoba untuk diterapi pak, maaf maksudnya bukan apa-apa, tapi bukankah kalau seperti itu berarti emosi dan mentalnya sedikit terganggu' Saran Buk Amoy.
'Ibuk benar, tetapi bagaimana caranya bisa diterapi kalau keluar kamar saja ia tidak mau, jam berapa ia makan pun kami tidak tahu, setiap hari saat sore dia pergi keluar rumah, entah kemana kami juga tidak tau, saat kami mendatangkan psikolog, dia selalu menolak untuk konsultasi, hari ini saja dia ikut bersama kami karena ada sidang putusan untuk pelaku pembunuhan istrinya, hhhhhah... melihat Dean, saya seperti melihat Rayan yang dulu, mereka sama-sama lembut.' Jawab Pak Rozi
"Maaa..? Kok mama ngelamun, ini looh.. suami tercinta mama sudah bangun, sudah bisa senyum, sudah bisa cubit Dean juga, hehehe..." Kelakar Dean yang sedang memeluk ayahnya, lamunan Buk Amoy terhenti.
Pak Radja yang melihat tingkah laku anaknya menjadi tambah semangat untuk lekas pulih. Ia memeluk sayang putrinya, berterimakasih kepada Tuhan karena dikaruniai anak yang sangat penuh kasih sayang ini.
"Ah, nggak kenapa-kenapa kok sayang, mama cuma salut sama anak mama ini, kelembutan dan rasa sayang kamu membuat mama terharu sayang" lirih Buk Amoy dengan air mata tertahan
"Ih, mama ih, sekarang nggak boleh sedih-sedihan lagi, sekarang kita harus tersenyum supaya ayah cepat sembuh, dan bisa pulang ke rumah lagi, Iya nggak Yah..?" Ucap Dean sambil meninggikan sedikit bed ayahnya agar ayahnya lebih berasa nyaman.
"Iya sayang, Ayah kamu ini pasti sekarang udah kangen kasur di rumah tuh..." Ucap Buk Amoy tersenyum mendekati suaminya.
Senyum cantik Buk Amoy tetap selalu pujaan bagi Pak Radja. Ia merasa beruntung, meski dulu ia pernah di olok oleh teman-temannya bahwa istrinya lebih tua darinya. Kenyataan sekarang istrinya masih tetap cantik di usianya yang sudah tua.
Ketika kita mencintai seseorang dengan hati yang tulus. Apapun kekurangan pasangan kita akan selalu menerimanya dengan lapang dada.
"Maa, untung yaa, kamu udah pensiun, kalau engga pasti aku masih deg deg an sampe sekarang, kamu itu udah kepala lima tapi masiiiih saja indah dan cantik di pandang." Rayu Pak Radja yang sudah bisa membuka suaranya.
"Nah.. udah sembuh inii... buktinya gombalannya jalan lagi." Celetuk Buk Amoy
"Hahahaha..." tawa mereka kompak sore itu.
Bagi Pak Radja, Buk Amoy tidak pernah berubah semenjak dahulu. Buk Amoy adalah wanita yang tegas namun memiliki kelembutan yang alami.
Kalau orang bilang, cinta itu buta. Benar, Pak Radja awalnya tidak suka dengan wanita yang berprofesi sebagai Abdi Negara, cita-citanya adalah menikahi wanita rumahan.
__ADS_1
Pak Radja meskipun ia tidak setampan teman-temannya, namun fans nya tentu juga tidak kalah banyak dari teman-temannya.
"Jika di ingat saat-saat pertama kita bertemu itu lucu ya maa!" Ucap Pak Radja.
"Duh, Yah, Jangan dibahas, malu anak kita udah segede ini Yah..!" Balas Buk Amoy
"Emang gimana Yah? cerita dong...!" pinta Dean dengan puppy eyes nya.
Tentunya mereka masih akan tersipu malu akan kejadian saat itu.
***FLASHBACK
---29 Tahun yang lalu---
Radja bertabrakan dengan Amoy saat di depan perpustakaan daerah di kota YX.
Radja yang sedang terburu-buru mencari buku untuk bahan skripsinya yang deadline beberapa minggu lagi. Sedangkan, Amoy hanya sedang iseng mengunjungi temannya yang sedang dinas di Perpustakaan tersebut, berhubung jam dinas Amoy sudah selesai.
Mereka hanya bersitatap sebentar, Radja memandang tidak lazim pada Amoy dikarenakan Amoy sedang memakai seragam dinasnya. Setelah itu mereka sama-sama memasuki perpustakaan dan menyibukkan diri masing-masing.
Amoy diminta temannya untuk menggantikan sebentar konter tempat peminjaman karena temannya ingn ke toilet sebentar. Ia berpesan jika ada yang meminjam atau mengembalikan buku disuruh tunggu sebentar sampai ia kembali.
Tak lama kemudian Radja datang membawa 3 buku ke konter peminjaman. Ia melihat Amoy yang sedang duduk sambil bermain handphonenya. Merasa ditatap, Amoy melihat ke depan dan mendapati Radja yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Radja yang nyatanya tidak menolak pesona wanita cantik pun sempat terlena dengan senyuman indah Amoy. Sampai saat Amoy memanggilnya dengan sebutan "DEK",
"Dek.. mau minjem buku apa? mohon tunggu sebentar ya, petugasnya sedang ke toilet." Ucap Amoy penuh kelembutan tetapi juga tegas. Senyum indah selalu terpasang di wajahnya.
DEG!!!
"Ah? Apa? Saya mau minjam buku kak, bukan mau tanya toilet." Sergah Radja yang takut kedapatan terpesona.
Amoy hanya tersenyum menanggapi kelucuan Radja saat itu. Sudah hal yang wajar bagi Amoy, mendapatkan tatapan yang seperti itu dari pengunjung saat ia berada di Pos nya.
Radja yang langsung jatuh hati saat itu seakan termakan omongannya. Singkat cerita Radja selalu mencari cara agar bisa mengenal Polwan Cantik itu.
Nasib baik berpihak kepadanya, Sang Polwan cantiknya belum ada yang meminang. Selepas sidang skripsi ia mengutarakan niatnya kepada keluarganya.
Keluarganya pun menyetujui niat baik Radja, karena semasa remaja Radja memang tidak pernah neko-neko dalam pergaulan, dan Radja selalu serius dengan apa yang dikatakannya.
Sampailah saat ia wisuda beberapa minggu setelah sidang skripsinya selesai. Dengan pakaian lengkap wisuda ia membawa keluarganya ke tempat kerja Amoy.
Amoy tidak pernah menyangka ia akan dilamar di depan para koleganya oleh seorang laki-laki yang baru beranjak dewasa. Para koleganya beberapa ada yang berseru kegirangan dan ada juga yang menatap cemburu.
__ADS_1
Amoy yang memiliki senyuman manis dan indah itu tentunya menjadi rebutan dari rekan-rekannya yang masih lajang. Tetapi entah mengapa sampai saat ini Amoy tetap tidak bisa tersentuh atau berbalik menyukai salah satu dari temannya.
"Amoy Cahyani, Will You Marry Me?" Ucap Radja dengan yakin.
Amoy yang melihat itu tentu sangat syok dan juga sedikit tersipu. Baru kali ini ia melihat laki-laki yang begitu gentleman. Meskipun terlihat masih sangat muda, namun ia begitu berani dan punya percaya diri.
"Apa yang kamu punya, sehingga kamu berani melamar saya sekarang ini?"
Pertanyaan Amoy mendapatkan pelototan oleh rekan-rekannya. Mengisyaratkan Amoy memberi harapan pada bocah laki-laki di depannya.
"Bismillah, Saya punya Akal Pikiran, Saya punya Agama, Saya punya hati, dan yang paling penting, saya juga punya keluarga yang saya hormati dan tidak akan mengecewakan mereka." Ucap Radja dengan tegas dan semakin tampak keyakinan dalam tatapan matanya.
Entah apa yang dipikirkan oleh Amoy, ia mengatakan sesuatu dengan sangat pasti dan tegas,
"Temui ayahku, jika iya setuju maka aku juga setuju!"
"Baiklah, kalau begitu sekarang kita ke rumah kamu, saya pastikan ayah kamu setuju, Bismillah." Ucap Radja semangat
Semua rombongan dari keluarga Radja sangat antusias setelah melihat gadis pujaan hati Radja adalah seorang wanita yang cantik dan juga tegas.
Mereka tidak menyangka bahwa selama ini Radja yang sangat tidak menyukai segala sesuatu yang berbau abdi negara malah termakan omongannya sendiri.
"Kemakan tulah anakmu paa!" bisik ibu dan ayahnya Radja.
Setelah melewati drama yang singkat itu akhirnya merekapun menikah. Orang tua dari Amoy ternyata sangat bijak, melihat keberanian dan ketegasan Radja, mereka yakin anaknya akan bahagia.
***FLASHBACK OFF
"Waaaah,, Ayahku ternyata sangat keren! Empat jempol deh untuk Ayah, Hehe!!! Seru Dean setelah mendengar kisah mama dan ayahnya.
Panggilan Dean kepada kedua orang tuanya memang berbeda. Ayah dan Mama memang tidak selaras, bukankah kalau Ayah itu pasangannya Ibu atau Bunda, lalu Mama itu pasangannya Papa?
Tetapi memang begitulah keluarga Dean, sang ayah memang lebih senang dipanggil Ayah sedangkan sang ibu lebih nyaman dipanggil Mama.
.
.
.
❤️👍 dan koment ya zaayyeeenkkk
.
__ADS_1
.