
Sudah tiga hari Pak Radja di rawat pasca operasi, Dean senang akhirnya mereka bisa berkumpul lagi di rumah. Dean juga tidak lagi memikirkan pria idamannya itu, Rayan Ardana.
Tadi malam Buk Amoy sempat membahas tentang Pak Rozi, dari situ Dean tahu nama pria itu adalah Rayan Ardana. Menurut Dean namanya memang keren, tapi sifatnya tidak keren.
"Dean, apa kamu tidak mau menerima tawaran Pak Rozi." Tanya ayahnya.
Pak Radja sudah mengetahui permintaan dari Pak Rozi, karena Buk Amoy langsung menceritakan maksud dari permintaan Pak Rozi pada suaminya tadi malam, setelah dokter menyatakan suaminya sudah boleh pulang hari ini.
"Ayah tidak memaksa jika kamu tidak mau, mereka sepertinya adalah orang-orang baik, dari yang mamamu ceritakan seperti nya mereka hanya merindukan anak perempuan mereka.."Ucap Pak Radja
"Iya Yah, Dean juga tau, kata papa kemarin itu, Kak Zita dan Kak Roza adalah anak perempuan kesayangan mereka, namun Allah memanggil mereka begitu cepat saat kecelakaan waktu kecil, sekarang tinggal Kak Bian dan Kak Zeed, dan jugaaaa.... Si hari Raya..." Ucap Dean terhenti karena di sela ayahnya
"Huuus, kamu ini.. Rayan itu lebih besar dari kamu, kamu juga harus sopan sama dia, anak ayah nggak boleh ngomong gitu lagi yaa" tegur Pak Radja
"Hehehe.." Dean hanya menyengir
"Jangan terlalu membenci, nanti malah cinta, benci dan cinta itu tipis sayang" ucap Buk Amoy
"Ih mamaa, Dean nggak pernah benci sama si Rayan itu, malah suka banget maa, dulu kan dia pernah nolongin Dean waktu jatuh di depan halte." balas Dean jujur
"Nah itu berarti dia anak yang baik sayang!" ujar Buk Amoy
"Tapi sekarang dia udah beda maa, dia bukan lagi Rayan yang dulu yang pernah nolong Dean, semenjak istrinya meninggal dia berubah." lanjut Dean
"Iya, mama tau, makanya Pak Rozi minta kamu supaya ngasih semangat sama istrinya Pak Rozi, setelah Rayan berubah menjadi seperti sekarang ini Buk Sita juga jarang keluar kamarnya, ia makin bersedih karena merasa Rayan sudah tidak lagi menganggap mereka sebagai Orang tuanya." jelas Buk Amoy
"Besok deh, Dean coba main ajh dulu ke rumah mereka, liat situasi gitu.. hehehe, kondusif nggak buat Dean." Jawab Dean sedikit menerawang
'Duh Kak Rayan kalau liat aku di sana senang atau badmood ya?' Dean menepuk jidatnya, 'Ya elah, ya jelas badmood lah dodol garuuut, aku kan kemaren sok sok an ketusin dia' banyak yang menjadi beban dipikiran Dean saat ini.
"Liat situasi atau liat Kak Rayan??" goda Buk Amoy
"iih mamaa, udah ah, kita siap-siap pulang dulu, ntar kesorean mamaku zayyank." Tukas Dean.
Sore itu Pak Radja kembali ke rumah tercintanya. Bebas dari makanan rumah sakit, Pak Radja sudah banyak rencana balas dendam untuk perutnya.
Buk Amoy pun sama, mereka memilih untuk menjaga Pak Radja dengan stay di rumah sakit, karena maksimal penunggu pasien di rumah sakit adalah 2 orang.
Mereka menyantap dengan lahap makan cepat saji yang sudah terbentang di meja makan mereka. Balas dendam pada perut lebih menyenangkan dari pada balas dendam pada sesama manusia. Berat di DOSA.
***
Pagi ini Dean sudah siap-siap untuk ke rumah Pak Rozi. Semenjak 3 hari yang lalu Dean sudah tidak lagi masuk sekolah karena memang ada jadwal libur menjelang pengumuman kelulusan.
"Ayaaaah, Mamaaa..." Teriak Dean dari depan pintu kamarnya,
"Dean pamit dulu ya mau ke rumah Papa Rozi, Assalamu'alaikum." Ucap Dean menyalami kedua punggung tangan orang tuanya.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Pak Radja dan Buk Amoy
"Hati-hati ya sayang naik Bus nya, sampai di sana kamu kabari mama ya sayaaang." Ucap Buk Amoy sedikit berteriak, melihat Dean yang sudah hampir sampai di pagar rumah.
Dean menoleh ke arah rumahnya, dan menjawab dengan mengangkat tangannya sambil memberi isyarat dengan simbol 'OKE'. Senyuman gadis itu seakan tidak akan pernah luntur.
***
PRANGG!!!
Suara benda jatuh menghentikan langkah Dean untuk mengetuk pintu rumah mewah dengan 2 tingkat dan bernuansa minimalis modern itu.
__ADS_1
BRRAKK!!!
Selanjutnya Dean mendengar hantaman suara benda keras. Sangat keras sekali sampai terdengar keluar rumah itu.
'Si Rayan bikin ulah kali ya?' batin Dean.
TOK TOK TOK!!!
"Assalamu'alaikum.." Dean mengetuk pintu dengan sedikit bertenaga
Tidak ada sahutan, Dean kembali mengetuk pintu rumah tersebut. TOK TOK TOK!!!
"Assalamu'alaikum.."
Masih juga belum ada sahutan dan juga tidak ada yang membukakan pintu masuk rumah itu.
Dean berniat mengetuk sekali lagi, namun terhenti ketika melihat ada tombol "Pencet Bell di sini" di sebelah kanan atas pintu rumah tersebut.
"Huh.. kok aku jadi katrok gini ya? Hee, hehe.." tawa Dean terputus-putus.
TENGG NONGGG!!!
Akhirnya Dean memencet bell tersebut, dan langsung beberapa detik kemudian pintu itu pun terbuka, Pak Rozi lah yang langsung membukakan pintu untuk dean.
Dalam penglihatan Dean saat ini adalah isi rumah tersebut sangat mewah menurutnya. Orang tuanya tidak akan membuang-buang uang untuk hal-hal seperti ini.
"Assalamu'alaikum." Ucap Dean tidak lupa memberi salamnya.
"Wa'alaikumsalam." balas Pak Rozi
Dean yang melihat pak Rozi membukakan pintu, langsung mencium takzim punggung tangan pak Rozi.
"Hehe, iya Pa, rencananya tadi Dean mau ngajak ayah sama mama ke sini, tapi kata mama, ayah belum boleh banyak bergerak, sekedar yang ringan-ringan saja dulu Paa.." jawab Dean.
"Oh gitu, ya sudah, tidak apa-apa, yang penting kamu sudah mau datang saja papa sudah senang, kamu mau minum apa nak, biar papa minta bik Sur buatkan." tawar pak Rozi
"Air putih saja Pa, Dean haus.." ucap Dean sambil nyengir
"Ya sudah duduk dulu nak!"
"Bik Sur, bik.. bik Sur..!" panggil pak Rozi
"Iya tuan" bik Sur langsung gercep mendengar panggilan majikannya
"Bik, tolong ambilkan air putih untuk minum nak Dean ini ya bik, saya mau ke kamar dulu mau bangunin si Nyonya." Pinta pak Rozi
"Baik tuan." bik Sur langsung menuju dapur untuk mengambilkan segelas air putih untuk tamu tuannya.
"Ini Non, minumnya, ada lagi yang bisa bubuk bantu Non?" tanya bik Sur
"Enggak bik, makasi banyak bik." Dean
"Sama-sama non, jangan sungkan, permisi... saya kebelakang dulu!" bik Sur
Dean menjawab dengan anggukan kepalanya. Akhirnya segelas air putih melegakan rasa hausnya, setelah panas-panasan naik angkot.
Kenapa naik angkot? karena ternyata jarak rumah Dean dan Rayan cukup jauh dan Bus hanya bisa berhenti di perempatan depan.
Dean mengira jarak dari perempatan menuju rumah Rayan dekat. Namun ekspektasinya runtuh setelah bertanya kepada warga, untuk sampai ke rumah Rayan lebih baik naik angkot.
__ADS_1
Berbekal alamat yang sudah di share lock ibunya, Dean bertanya pada supir angkot. Supir angkot yang sulit membaca maps di Handphone malah sedikit membawanya berkeliling karena ragu-ragu.
Syukurlah, sopir angkot tersebut adalah bapak-bapak yang baik hati, mau membantu Dean menemukan alamat yang dituju. Meski kantong Dean sedikit bolong karena berat di Ongkos. (kasihan Dean, udah panas-panasan, dikerjain pasti tuh, UUPS 🤭🤭)
"Dean, kamu Dean?"
Suara lembut keibuan itu menginterupsi lamunan Dean. Dean menoleh ke asal suara. Dean melihat seorang Wanita yang sudah tidak muda lagi namun masih cantik, tetapi matanya begitu lelah dan terlihat sembab.
Wanita itu sedang dipapah oleh pak Rozi.
'Mungkinkah ini ibunya kak Rayan?' batin Dean
"Eh, Iya nyonya, saya Dean." jawab Dean sambil mencium punggung tangan Ibuk tersebut.
"Kok nyonya, panggil mama saja nak, masa' kamu manggil suami mama ini Papa, sedangkan mama kamu panggil Nyonya" lirih buk Sita, Istri dari Pak Rozi dan ibu dari Rayan
"Baik mm..ma" Ucap Dean sedikit ragu
"Kalau tidak panggil bunda saja, mama dengar kamu memanggil ibu kamu dengan panggilan mama, jadi.. dari pada kamu bingung, kamu manggil mama dengan sebutan Bunda saja, gimana?" buk Sita
"Boleh,, baiklah bunda" Ucap Dean dengan senyuman yang lagi-lagi menyejukkan hati.
Benar kata suaminya, Pak Rozi. Dean adalah gadis yang bisa membawa keceriaan, kelembutan dan sopan santunnya membuat hati buk Sita menghangat.
Sudah lama ia merindukan kasih sayang anak perempuannya. Akhirnya dengan melihat kelembutan Dean, rasa hangat itu kembali bisa dirasakan buk Sita.
Meski anak-anaknya menyayanginya dan memberi kasih sayang yang berlimpah, perasaan rindu pada anak perempuannya begitu besar.
Saat Rayan membawa Rahima calon istrinya dulu ke rumah, buk Sita juga merasakan kehangatan seperti ini. Maka dari itu, ia langsung merestui hubungan anak dan calon menantunya waktu itu.
Namun Rahima lebih disayang Tuhan. Begitu cepat ia pergi meninggalkan keluarganya, sehingga banyak yang bersedih akan kepergiannya.
Saudara laki-laki Rayan ada dua orang, yang satu Bian, tua dua tahun dari Rayan, yang satu lagi Zeed, setahun lebih muda dari Rayan. Bian dan Zeed juga sangat menyukai kehangatan Rahima.
Sekarang Bian sedang membatu menghendel firma hukum milik keluarga mereka yang sedang di abaikan oleh Rayan. Sedangkan Zeed sedang sibuk menjalani program S2 nya.
Kesibukan mereka ditambah kondisi Rayan yang tak kunjung membaik, membuat mereka jarang pulang ke rumah. Mereka juga merindukan kehangatan Rayan dalam keluarga. Rayan selalu bisa menghidupkan suasana jika sedang berkumpul-kumpul dengan keluarga.
Setelah asik bercerita tentang keluarganya buk Sita meminta Dean agar makan siang bersama di rumah ini. Dean tidak bisa menolak ajakan buk Sita, sedari tadi buk Sita selalu tersenyum menceritakan kelakuan-kelakuan lucu anak-anaknya, termasuk 'si hari Raya'.
"Ayo sayang kita ke dapur!" ajak buk Sita
"Yuk Bun.." jawab Dean, menimbulkan senyuman di wajah buk Sita
Sudah lama rasanya Pak Rozi tidak melihat senyum istrinya itu. Seharian di kamar, istrinya lebih memilih tidur dan melamun di balkon. Kadang hanya menonton televisi dengan siaran yang selalu ditukar-tukarnya selang beberapa detik.
Syukurlah keputusannya untuk meminta bantuan Dean tidak salah. Meski kejadiannya baru satu bulan berlalu, namun rasanya sudah sangat lama sekali tidak ada kehangatan yang menyatukan keluarganya.
.
.
.
.
❤️👍 dan komen nya zaayyeeenkkk...
.
__ADS_1
.