Takdir Kejam Cinta

Takdir Kejam Cinta
Makan Garam


__ADS_3

Dean mengira kalau Rayan akan ikut turun untuk makan siang bersama namun ternyata hanya harapannya saja. Dari cerita Buk Sita, Rayan akan keluar kamar kalau semua orang sudah masuk kamar.


Tidak bisa dipastikan pukul berapa Rayan akan keluar kamar, namun masih bisa dipastikan jika Rayan masih tetap mengisi perutnya.


"Mungkin kak Rayan belum siap berbagi dukanya Bun, tidak mungkin kak Rayan melupakan Bunda dan Papa." Bujuk Dean


"Entahlah Dean, Bunda sedih jika Rayan terus-terusan seperti ini." Buk Sita


"Bunda harus semangat ya, Papa, Kak Bian, Kak Zeed masih membutuhkan kasih sayang Bunda, untuk Kak Rayan.. nanti Dean coba ngomong sama dia." Saran Dean


"Jangan nak, nanti kamu malah jadi sasaran emosinya. Papa saja sudah mati kutu menghadapi anak satu itu." Usul Pak Rozi


"Kan yang penting dicoba Paa.., Boleh ya Bun?" tanya Dean lagi


"Baiklah, tapi kamu ditemenin bik Sur ya nak, Bunda masih cemas dengan emosi Rayan yang tidak terkontrol itu." Ucap Buk Sita


"Okee..." Seru Dean, dengan senyuman lebarnya.


Setelah selesai makan Pak Rozi memanggil Bik Sur untuk menemani Dean naik ke kamar Rayan di atas. Dean yang masih belum bisa mengkondisikan jantungnya sempat menyesali perkataanya tadi.


Bagaimana mungkin Dean bisa menenangkan orang yang terganggu mentalnya, ia bukanlah psikolog yang mengerti cara beradaptasi dengan pasien-pasien seperti Rayan ini.


'Bismillahirrohmanirrohim..' batin Dean


TOK TOK TOK!!!


"Assalamu'alaikum" Ucap Dean


"Pergiiii!!!"


DEG!!! jatung Dean berdebar mendengar suara itu.

__ADS_1


KLENTANG!!!


Bunyi benda jatuh terdengar dari dalam kamar Rayan.


"Astaghfirullah." Ucar Dean dan Bik Sur serentak


"Non, yakin mau bicara sama Den Rayan, bibik saja nggak berani Non." Bik Sur


"Dean yakin bik, lagian Kak Rayan nggak mungkin bunuh orang kan bik?" yakin Dean


"Ya sudah, ini kunci kamar Den Rayan Non, Bibik tunggu di depan pintu ini saja ya Non." Bik Sur


"Okey bik..." Selalu dengan senyumannya


KLEKK!!!


Bunyi kunci pintu kamar terbuka, Dean membuka pintu kamar itu perlahan. Benda pertama yang terlihat oleh Dean adalah bingkai foto yang kacanya sudah retak, tanpa foto.


"KELUAAAR!!" Hardik Rayan


Terlihat Rayan sedang duduk melantai di samping kasurnya, tangannya menahan kedua lututnya ke dada. Rayan menyembunyikan wajahnya ke lutut.


Dean mencoba memungut serpihan kaca tersebut, ia meminta tolong Bik Sur mengambilkan sapu dan pengki untuk membersihkan kekacauan itu.


"JANGAN LANCANG LO! ini kamar gue, gue bilang KELUARR!!!


"Kak, maaf aku lancang, bukankah dengan seperti ini Kak Rahima bakalan sedih di atas sana Kak!" Ucap Dean


"Bukan Urusan Lo, sekali lagi gua bilang KELUAR!!!" bentak Rayan


"Hhhh... ya sudah, aku kesini cuma mau bilang sama kakak, Bik Sur nggak masak lebih hari ini, karena Papa sama Mama kakak mau ngajakin aku pergi jalan-jalan, OH iya, Bik Sur juga ikut!" Ucap Dean bohong

__ADS_1


'Si*l*n! Gue makan apa ntar? masa gue makan garam?' batin Rayan


Dean melihat ekspresi wajah Rayan yang terlihat bingung, hanya bisa tersenyum dalam hatinya.


'Seneng juga godain Kak Rayan, hihihi.. bakalan betah aku.' Batin Dean


"Kalau mau makan, ya sekarang! Mumpung Papa sama Mama kakak lagi siap-siap, mumpung Bik Sur belum ganti baju!" Ujar Dean menggoda Rayan


"BIK SUURR... BIK...!!! teriak Rayan


"Siap Den, mau dimasakin apa Den?" Jawab Bik Sur yang sedari tadi menguping dari balik pintu


"Capcay sama Udang Saos bik!" Ucap Rayan yang mulai lembut.


"Siap Den!" Seru Bik Sur


Setelah Bik Sur selesai memasak, Rayan turun keluar dari kamarnya. Melihat anaknya keluar dari kamar, terbit seulas senyum di wajah Buk Sita.


Meski Rayan memasang wajah masam, namun merupakan sebuah kemajuan bagi keluarganya. Karena saking rindunya, Buk Sita yang sedang duduk di ruang keluarga tidak sanggup menahan langkahnya. Buk Sita mendekat ke arah Rayan yang sudah duduk di meja dapur.


Buk Sita memeluk anaknya yang wajahnya sudah tidak terawat itu. Ia menatap lekat wajah anaknya. Rambut yang sudah sedikit panjang, kumisnya yang dulunya tidak pernah dibiarkan terlihat sekarang malah sangat subur di wajah anaknya itu.


Ia mengusap wajah anaknya. Setetes air matanya jatuh, namun Rayan masih enggan melihat wajahnya. Tatapan Rayan masih saja kosong.


Rayan bukannya tak ingin kembali berbaur dalam keluarganya, sebenarnya ia hanya belum siap menghadapi kenyataan ditambah ia juga tak ingin terlihat menangis di depan keluarganya. Rayan tidak pernah menunjukan sisi lemahnya sejak dulu.


Rayan adalah pribadi yang hangat, pandai bergaul, suka bersosialisasi bahkan selalu menjadi tempat curhatan kakak dan adiknya.


Tetapi Rayan juga pribadi yang paling susah berbagi rahasianya, apalagi masalah pribadinya. Keluarganya mengetahui hubungan Rayan dan Rahima pun baru beberapa bulan sebelum mereka memutuskan menikah.


Kapan dan bagaimana mereka bertemu, tidak ada satupun keluarganya yang tahu ceritanya. Mereka percaya Rayan tidak akan salah menetapkan pilihan hatinya.

__ADS_1


Mereka yang terlihat ceria dan selalu menebar senyuman, tak selamanya mereka bahagia, terkadang banyak duka dan kesedihan bersembunyi dibalik tawanya.


__ADS_2