
"Assalamu'alaikum" Ucap Dean memasuki rumah Rayan
"Wa'alaikumsalam" jawab Pak Rozi dan Buk Sita yang sudah menunggu kedatangan Dean.
Buk Sita langsung memeluk erat Dean, seolah tak ingin Dean pergi jauh.
"Gimana Bunda, bunda udah baikan?"
"Gimana mau baikan sayang, kamunya baru datang sekarang, Bunda Rindu" Jawab Buk Sita Kembali memeluk Dean
Dean mengusap pelan punggung Buk Sita, Pak Rozi yang melihatnya ikut terharu.
"Masuk dulu Dean!" Pak Rozi
"Iya Pa" Dean
BRAKK
Baru saja Dean melangkahkan kaki menuju ruang tengah, terdengar bunyi pintu yang ditutup dengan keras.
"Ya Tuhan, apa itu Bun?" tanya Dean
"hhhh, pasti itu Rayan sayang." ujar Buk Sita
Buk Sita menceritakan bahwa selama dua hari ini, Rayan sama sekali tidak makan di rumah. Bahkan selalu pulang larut malam.
Dean saat ini sedang menata hatinya untuk Rayan. Dari hati terdalam ingin sekali ia menghibur Rayan. Namun, Dean sadar bahwa ia bukan siapa-siapa bagi keluarga ini dan tak berhak ikut campur dengan hidup Rayan.
Pak Rozi menunjukan kamar tamu untuk peristirahatan Dean, yang mana berada di lantai satu tepat di bawah kamar rayan.
Setelah itu Pak Rozi dan Buk Sita mempersilahkan Dean untuk beristirahat terlebih dahulu. Nanti jika Buk Sita memerlukan bantuan Dean, Buk Sita akan memanggil Dean.
Kamar Buk Sita dan Dean tidak begitu jauh, hanya terpisah oleh ruang keluarga yang lumayan besar.
Selepas keluarnya Pak Rozi dan Buk Sita dari kamar Dean, ia hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam.
Dean menimbang kembali, apakah keputusan ini merupakan hal yang tepat baginya. Sampai saat ini Dean masih belum bisa menghilangkan Rayan dari fikirannya.
Dean bermonolog sendiri, bernarkah ia akan bisa bekerja dengan baik dan tenang sementara hatinya juga terluka melihat Rayan yang sedang berduka.
Hari pun mulai gelap, Bik Sur mengetuk pintu kamar Dean. Seharian ini hanya di isi oleh cerita dari Buk Sita tentang kakak beradik itu. Sedangkan Pak Rozi berangkat ke kantornya setelah kedatangan Dean.
Dean yang baru menyelesaikan ritual mandinya membuka pintu kamar yang ia kunci dari dalam.
"Iya Bik" Dean menyembulkan kepalanya sedikit dibalik pintu
"Sebentar lagi waktunya makan Non, Non Dean diminta Ibuk untuk makan malam bersama"
"Oh iya, baik Bik, sebentar lagi Dean menyusul Bik" Ucap Dean
"Baik Non"
Tak lama setelah itu Dean menyusul ke ruang makan. Masakan yang dimasak oleh Bik Sur sangatlah banyak dan menggugah selera Dean.
Dean melihat makanan tersebut dengan mata melotot, membuat Pak Rozi dan Buk Sita tertawa kecil melihat tingkah Dean.
"Ayok Dean, jangan hanya dipandangi saja sayang, dimakan dong sayang" Ucap Buk Sita membuyarkan lamunan Dean
"Eh, Iya Bun" Dean malu dengan tingkah absurd nya sendiri.
__ADS_1
"Kita tunggu Bian dan Zeed dulu ya Dean!" ujar Pak Rozi
"Oke Pa." balas Dean
TOK TOK TOK!! bunyi pintu rumah yang diketuk.
Bik Sur berjalan pelan ke depan rumah, membukakan pintu untuk tuan muda di rumah ini. Sudah seminggu lebih Bian dan Zeed tidak pulang ke rumah.
Bian dan Zeed menjalankan firma hukum yang sempat terbengkalai akibat kemalangan yang terjadi pada saudara mereka, Rayan.
Bian dan Zeed bukannya tidak ingin pulang ke rumah. Mereka memilih tidur di Kantor karena saat ini ada beberapa kasus yang akan mereka tangani.
Kasus ini sebenarnya adalah kasus-kasus lama yang sebelumnya ditangani oleh Rayan. Sudah satu bulan lebih kasus tersebut tak tersentuh.
Berhubung Rayan masih belum bisa mengendalikan emosi dan fikirannya, mereka memilih mengambil kasus tersebut menggantikan Rayan.
Jangan tanyakan Rayan kemana selama ini. Meski Rayan selalu datang ke kantor setiap hari, namun yang dilakukannya hanyalah duduk di ruangannya sambil menatap album fotonya bersama mendiang istri.
Tanpa menghiraukan berkas-berkas yang sudah menumpuk di mejanya. Rayan mendatangi kantor hanya sekedar untuk mencari kesibukan saja, meski kesibukannya hanyalah sekedar menatap album foto.
"Assalamu'alaikum, malam Ma, Pa" Ucap Bian dan Zeed sembari menyalami tangan kedua orang tuanya
"Wa'alaikumsalam, Bian, Zeed, Kita makan malam dulu ya sayang, setelah itu ada yang mau Mama sama Papa bicarakan" Buk Sita
"Iya Ma," Bian
Sepanjang makan malam tidak ada terdengar suara selain bunyi denting sendok makan. Keluarga ini menjaga adab saat makan malam bersama.
Sebenarnya Dean sedikit canggung, karena di rumahnya ia sangatlah berisik saat makan malam. Banyak hal lucu yang diceritakannya saat makan malam dengan orang tuanya.
Dean saat ini sangat menghargai adab dan kebiasaan orang-orang di rumah ini.
Mereka sedikit heran dengan Dean yang entah sejak kapan sangat akrab dengan kedua orang tua mereka.
Setelah makan malam selesai, Buk Sita, Pak Rozi, Bian dan Zeed terlebih dahulu menuju ruang keluarga. Sementara Dean masih mengumpulkan piring-piring kotor dari atas meja.
Setelah selesai mengumpulkan piring-piring tersebut Dean membawanya ke tempat cuci piring. Namun, Bik Sur menghentikannya. Bik Sur mengatakan kalau ia yang akan mencuci piring tersebut.
Bik Sur tau bahwa Dean bukanlah hanya sebagai perawat majikannya di rumah ini. Buk Sita sempat curhat dengan Bik Sur tentang keinginannya bermenantukan Dean.
"Biar Bibik saja Non, Non lebih baik menyusul Ibuk dan Bapak ke ruang tengah"
"Biar Dean saja Bik, Dean juga biasa nyuci piring kok sehabis makan di rumah. Meski ada Mbok Dar di rumah Bik" Ujar Dean sungguh-sungguh
"Bukan gitu Non, tadi Ibuk pesan kalau Non sebaiknya segera menyusul karna ada yang akan Ibuk dan Bapak bicarakan Non"
"Oh begitu, baiklah Bik, Dean ke depan dulu Bik, Maaf ya Bik Dean nggak sempat bantu" Dean mencuci tangannya yang sempat terkena sabun cuci piring tersebut
"Nggak apa-apa Non, Jangan sungkan Non"
Dean sedikit tidak enak pada Bik Sur. Meskipun Bik Sur adalah pembantu di rumah ini, namun tetap saja, Dean jugalah sama dengan Bik Sur yang statusnya sama-sama pembantu.
Bedanya Bik Sur mengerjakan urusan rumah sedangkan Dean membantu proses kesembuhan Buk Sita.
Bik Sur sendiri juga merasakan kebaikan dan ketulusan di diri Dean. Ia senang akhirnya majikannya mendapatkan teman untuk berbagi cerita dan kesedihan.
'Semoga Non Dean, bisa membawa kembali keceriaan di rumah ini, Aamiin Ya Allah' Batin Bik Sur
Sesampainya Dean di ruang tengah, Dean mendapat tatapan yang sulit di artikan dari Zeed.
__ADS_1
Dean mendudukkan dirinya di kursi yang kosong.
"Nama kamu Dean?" Tanya Bian
"Iya Kak"
"Berapa usia kamu?" Tanya Zeed
"17 tahun kak, Juli besok masuk 18 kak"
"Wah muda sekali yaa, apa kamu sudah lulus sekolah?"Tanya Zeed lagi
"Sudah kak, mungkin dua minggu lagi Dean wisuda kak"
"Dapat juara nggak?" Tanya Zeed yang nadanya sudah mulai melembut dan sedikit terdengar antusias
"Alhamdulillah Kak, Juara 3 Kak"
"Wah, pinter dong, terus mau nyambung kuliah dimana Dean?" Bian ikut menimpali
"Rencana nya mau ngambil bidang kesehatan Kak, tapi belum tau mau mendaftar ke kampus mana"
"Wah, bagus itu sayang, Papa mendukung sekali jika kamu mengambil bidang kesehatan, pribadi kamu yang lembut sangat cocok dengan bidan kesehatan. Papa yakin jika pasien kamu nanti pasti lekas sembuh semuanya" Ujar Pak Rozi
"Aamiin, Pa. Tapi Dean masih bingung milih kampusnya Pa" Balas Dean
"Zeed, nanti kamu tolong carikan kampus yang bagus buat Dean kuliah ya, sekalian kamu tanya syarat-syarat nya." Ujar Buk Sita antusias
"Oke Ma" Jawab Zeed dengan riang
Dean yang menyadari sedari tadi dia di interogasi oleh kakak beradik itu akhirnya menghela nafas. Ia sempat berfikir bahwa Bian dan Zeed tidak suka dengan kedatangannya.
Entah apa yang diceritakan Buk Sita sebelumnya sehingga, suasana mencekam di ruang makan tadi berganti dengan suasana hangat di ruang keluarga ini.
Bian dan Zeed sebenarnya juga senang dengan kehadiran Dean di rumah mereka. Kehadiran Dean sedikit mengobati rindu mereka pada Saudara perempuan mereka yang telah pergi.
Keceriaan Dean menjadi pengganti rasa lelah mereka di kantor tadi. Rencananya untuk saat ini dan seterusnya Zeed akan tinggal di rumah, sedangkan Bian masih akan tinggal di kantor untuk beberapa hari selanjutnya.
.
.
.
.
.
Maaf ini karya pertama Noni ya zayyeennkk, 🙏 mohon komentarnya yaa, jangan lupa ❤️dan👍nya
Oh iya, Penyakitnya Buk Sita itu memang bukan penyakit parah ya zayyeennkk, tetapi lebih ke Penyakit umur ditambah dengan kondisi batin nya yang sedikit tertekan dan stress akibat anak kesayangannya (Rayan) berubah.
Jadi disini Dean lebih ke asisten pribadi sebenarnya, agar Buk Sita ada teman dan sedikit mengurangi stress nya
Mohon dukungannya ya zayyeennkk
.
.
__ADS_1