
Tiga jam lamanya Royyan dan Nadhiirah pergi jalan jalan meninggalkan rumah. Dan sekarang mereka baru sampai di depan rumah kang Hatim.
“Mang, ini sedikit buat beli rokok!” Royyan menyalami mang Agus dengan di tangannya di tempelkan uang serratus ribu, karena dia gak enak kalua hanya lima puluh ribu setelah bepergian sekian lamanya.
“Ah gak usah a!” kata mang Agus yang mana dirinya juga gak enak harus Nerima dari Royan, karena dirinya juga akan menerima gajih dari Ustadzah Zahra.
“Gak papa mang! Sedikit!” kata Royyan.
“Ya sudah, makasih ya a!”
“Iya sama sama mang! Maaf ya sudah merepotkan!”
“Ih gak papa a! Itu sudah tugas mang!”
“hheh iya ya mang! Ya sudah, sekali lagi makasih ya mang! Saya turun dulu!” kata Royyan.
“Iya a, itu bawaannya mau mang bawain?” tanya mang Agus.
“Ah gak usah mang! Cuman segini kok! Saya bawa sendiri aja!”
“Ooh iya atuh a!”
“Ya sudah, saya turun dulu ya mang! Makasih ya mang! Assalamu’alaikum!”
__ADS_1
“Wa’alikumussalam!” jawab mang Agus. Kemudian Royyan turun diikuti oleh Nadhiirah. Setelah itu, Mang Agus langsung membawa mobil teh Zahra kembali ke garasi nya.
Royyan dan Nadhiirah langsung masuk ke dalam rumah yang di sambut lansung oleh umma Hana dan Ulfah yang sedang berada di ruang keluarga.
“Assalamu’alaikum!” kata Royyan sambil masuk ke dalam rumah dan langsung menghampiri umma nya dan langsung mencium tangan umma nya, dan kemudian tangan Royyan di salimi oleh adik bungsunya. Tentunya semua tindakan Royyan diikuti oleh Nadhiirah selaku istri dan menantu yang baik.
“Kang Iyan dari mana?” tanya Ulfah yang jarang bicara itu.
“Hm? Itu euh kang Iyan dai pasar!”
“Oh!” Ulfah menanggapi jawaban kakak nya itu dengan satu kata dua huruf dan nada bicara yang datang tanpa ekspresi.
Umma Hana yang melihat itu hanya geleng geleng kepala sambil tersenyum melihat anak perempuannya uang super cuek yang kana kakak kakak kang Hatim, mirip persis seperti kang Hatim kecil.
“Aduh kenapa repot repot Nadh!”
“hheh, gak papa umma! Ulfah mau?”
“Mau!” kata Ulfah.
“Ini!” Nadhiirah memberikan sepotong martabak itu pada dik iparnya.
“Makasih kak!” kata Ulfah setelah menerima martabak itu yang kemudian dia makan.
__ADS_1
“Enak?” tanya Royyan.
“kalau gak enak gak akan Ulfah makan kang!” jawab Ulfah dengan datar bahkan tanpa melirik sedikitpun. Lagi lagi membuat umma Hana dan Nadhiirah menahan tawa nya yang di sembunyikan dalam senyuman.
“Aku mau ke atas dulu umma ah!” kata Royyan.
“Hm!” kata umma Hana yang menahan tawa karena dia mengerti keadaan Royyan saat ini.
Tanpa kata kata apa apa lagi, Royyan langsung pergi menaiki tangga menuju lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya.
“Emm, umma Nadhiirah mau nyusul kang Royyan dulu ya!”
“Ah iya nak! Tenangkan dia ya!” kata umma Hana.
“hheh iya umma!” kata Nadhiirah. Yang kemudian lekas pergi menyusul kang Hatim meninggalkan umma Hana dan Ulfah di ruang keluarga berdua.
“umma! Ulfah mau di tes juz dua puluh!” kata Ulfah setelah kakak kakaknya pergi.
“Hmmm, boleh! Coba sini qur’an nya!” jawab umma Hana, lalu Ulfah memberikan qur’an kecil yang dia pegang sedari tadi pada umma nya.
“Tapi umma, Ulfah mau di tes nya di kamar ya?! Disini malu!” kata Ulfah.
“ya sudah ayo kalau gitu!” jawab Umma Hana, kemudian mereka berpindah tempat ke kamar umma Hana.
__ADS_1